Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Nona Sierra


__ADS_3

"Anda sudah selesai dengan sarapannya nona Sierra?" tanya seorang lelaki yang menyadarkan Sierra dari pikirannya.


Sierra pun menatap kearah lelaki tersebut. Lelaki yang ternyata adalah sosok Vino yang sudah berada tepat disampingnya. Sierra segera bangun dari duduknya dan menatap Vino.


"Kenapa kamu bicara formal sekali denganku? Kamu tidak seperti biasanya asisten Vino," keluh Sierra.


"Sebaiknya anda tetap duduk saja nona Sierra. Jangan terlalu lama berdiri agar kaki anda cepat sembuh,"


"Astaga mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan aku lagi? Sungguh menyebalkan,"


"Saya akan menjawab pertanyaan anda asalkan anda duduk dahulu. Kalau anda berdiri seperti ini direktur Revan pasti akan memarahi saya,"


Sierra berdecak kesal. Lalu Sierra segera duduk dikursi makannya kembali. Ia langsung menatap Vino dengan tajam.


"Sekarang aku sudah duduk. Kamu bisa menjawab pertanyaan aku tadi,"


"Baik nona Sierra. Sudah sepantasnya saya berbicara formal dengan nona Sierra karena saat ini nona Sierra adalah orang yang special bagi direktur Revan. Sangat tidak sopan jika saya berbicara seperti biasanya," Vino menjelaskan.


Sierra memutar bola matanya. Sungguh ia sangat tidak suka dengan cara bicara dan sikap Vino yang berubah kepadanya. Sierra merasa seakan ada jarak diantara dirinya dengan Vino yang membuat Sierra menjadi tidak nyaman. Sierra lebih nyaman dengan sikap Vino yang seperti biasanya. Yang layaknya rekan kerja dan juga teman bagi Sierra.


"Tapi aku tidak nyaman dengan dirimu yang seperti ini asisten Vino. Dan tolong jangan memanggilku dengan sebutan nona. Jabatan kamu lebih tinggi dariku. Jadi tidak sepantasnya aku mendapatkan panggilan seperti itu," protes Sierra.


"Mohon maaf nona Sierra saya tidak bisa melakukannya. Anda adalah kekasih direktur Revan jadi saya harus memperlakukan anda dengan sopan," tolak Vino dengan tegas.


"Sungguh berbicara denganmu sama saja seperti bicara dengan robot!"


Sierra menghembuskan nafas kesal. Saat ini ia tidak ingin berdebat. Sierra tahu meskipun ia bersikeras menolak pasti Vino akan tetap pada pendiriannya mengingat betapa patuhnya Vino pada sosok Revan. Sierra pun tidak ingin membuang-buang tenaganya untuk masalah seperti ini.


"Nona Sierra bisakah anda memberikan saya nomor telpon para rentenir itu? Saya akan menyuruh mereka datang kesini untuk membereskan masalah hutang nona," kata Vino langsung pada intinya.


"Ah baiklah. Akan aku berikan,"

__ADS_1


Sierra mengambil ponselnya dan memberikan sebuah nomor kepada Vino. Dengan cepat Vino pun langsung menyimpan nomor yang diberikan oleh Sierra.


"Baiklah nona Sierra saya akan mengurus masalah ini. Anda bisa beristirahat dan jika membutuhkan bantuan anda bisa memanggil saya,"


"Ya ya ya baiklah," ucap Sierra tidak peduli.


"Saya pamit pergi nona Sierra. Jika masalah sudah selesai saya akan mengantar anda pulang," Vino membungkukan tubuhnya lalu berjalan pergi meninggalkan Sierra. Sierra pun hanya bisa menatap kepergian Vino dengan canggung. Sungguh ia tidak terbiasa dengan perlakuan Vino yang berbeda seperti ini.


Sierra hanyalah kekasih mainan Revan jadi tidak sepantasnya Sierra di istimewakan. Tidak sepantasnya Sierra di angung-agungkan mengingat dirinya hanyalah orang biasa dan tidak memiliki apa-apa seperti sosok Revan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku hanya sendirian di rumah sebesar ini," keluh Sierra sambil berjalan kearah ruang tamu dengan langkah terpincang-pincang.


Setidaknya Sierra harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosanannya. Dan setidaknya Sierra harus menonton sesuatu untuk membuang kejenuhannya.


Setelah beberapa jam kemudian, Vino pun datang menghampiri Sierra kembali. Sierra yang melihat kedatangan Vino hanya melirik sekilas lalu mengalihkan tatapannya ke acara televisi yang sedang dilihatnya.


Entah mengapa Sierra merasa malas dengan Vino yang tidak asik seperti biasanya. Sosok Vino yang kaku hampir sama dengan sosok direkturnya yang bernama Revan itu.


"Sekarang saja. Aku sudah tidak nyaman disini,"


Sierra segera mematikan televisi dengan remot yang dipegang olehnya. Lalu ia bangun dari duduknya dan mulai berjalan keluar yang dibantu oleh Vino dengan memegang tangannya.


Kini mereka berdua pun sudah berada didalam mobil dan menuju kearah rumah Sierra. Selama perjalanan itu Vino tidak bersuara sedikitpun yang membuat Sierra sesekali melirik kearahnya.


"Astaga bagaimana mungkin ada orang yang seperti patung begini? Orang yang nyatanya bisa bicara tetapi malah diam saja seperti bisu? Benar-benar membosankan," keluh Sierra didalam hati.


"Asisten Vino bolehkah aku bertanya sesuatu?" Sierra yang sudah tidak tahan pun berusaha memecahkan keheningan.


"Tentu saja boleh nona. Silahkan tanyakan saja,"


"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku adalah kekasih direktur Revan saat ini?" Sierra penasaran.

__ADS_1


"Karena direktur Revan membawa anda ke rumahnya. Itu berarti anda adalah orang yang special baginya,"


"Jadi semua wanita yang pernah bersama Revan selalu dibawa kerumahnya?" Sierra menyelidik.


"Tidak. Hanya anda saja,"


Sierra terdiam. Ternyata Sierra wanita pertama yang dibawa oleh Revan ke rumahnya. Padahal awalnya Sierra berpikir jika semua kekasih Revan pasti pernah dibawa ke rumah itu. Tapi ternyata pikiran Sierra itu salah. Sierra sudah salah menilai Revan.


"Lalu kenapa kenapa sikapmu juga berbeda asisten Vino? Kamu seakan menjaga jarak dan menjauh dari aku?"


"Karena direktur Revan tidak suka jika kekasihnya berbicara akrab dengan lelaki lain. Direktur Revan juga tidak suka jika kekasihnya dekat dengan lelaki lain. Karena itu saya harus melakukannya nona Sierra. Saya tidak ingin direktur Revan marah dengan saya,"


"Memangnya kalau Revan marah akan seperti apa?" Sierra semakin penasaran.


"Direktur Revan bisa saja membunuh dan menghancurkan orang yang membuatnya marah. Jadi saya sarankan lebih baik mulai sekarang anda sedikit berhati-hati dan menjaga jarak dengan lelaki manapun agar tidak ada orang yang menjadi korban direktur Revan," Vino memperingatkan.


Mendengar ucapan Vino entah mengapa tubuh Sierra langsung merinding. Sierra seakan diingatkan kembali dengan tatapan dingin dan tajam Revan saat mengetahui Sierra yang melihat foto-foto tampan artis Korea dan bersikap akrab dengan temannya yang bernama Alvin. Pantas saja wajah Revan terlihat sangat kesal bahkan seakan ingin membunuh. Kini Sierra tau apa yang jadi penyebabnya.


"Nona Sierra sepertinya kita sudah sampai di rumah anda. Apakah benar ini rumah anda?"


Sierra pun disadarkan dari lamunannya. Sierra segera melihat kearah luar yang memang sudah berada tepat didepan rumahnya.


"Iya benar ini rumahku. Terima kasih asisten Vino sudah mengantarku pulang,"


Sierra tersenyum dan membuka pintu mobil tersebut. Namun sebelum Sierra benar-benar turun dari mobil itu, Vino mengingatkan Sierra kembali.


"Sebaiknya anda mengingat kata-kata saya nona Sierra. Anda harus menjaga jarak dengan lelaki manapun dan jangan terlalu ramah dengan lelaki lain. Apalagi memberikan senyuman anda kesembarang orang,"


"Iya asisten Vino aku mengerti. Terima kasih,"


Sierra langsung turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumahnya. Entah mengapa Sierra merasa kesal saat mengetahui kenyataan pahit ini. Kenyataan bahwa hidupnya akan benar-benar terkekang karena sosok Revan. Hidupnya akan dipenuhi dengan berbagai aturan dan juga larangan karena harus bersama dengan Revan. Sierra pun hanya bisa merelakan segala kebebasan yang dulu dimilikinya.

__ADS_1


__ADS_2