Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Salam Perpisahan


__ADS_3

Matahari masih menunjukkan cahayanya yang terang benderang, waktupun masih berjalan.


Tapi nampaknya kedua insan yang telah memadu kasih dan melepas rindu itu, kini saling memandangi satu dengan yang lain.


Sepertinya keduanya enggan untuk segera beranjak dari ranjang, tempat dimana mereka sebelumnya telah melakukan kegiatan dewasa yang luar biasa.


"Kenapa mas Leo melihat saya seperti itu?" Ucap Lia saat menyadari Leo menatapnya begitu intens.


"Kenapa memangnya? Apa ada larangan saya melihat istri saya sendiri?" Kata Leo dengan mengelus pipi Lia.


"Eh. Nggak ada, sih. Tapi saya kan jadi malu." Imbuh Lia dengan membenamkan wajahnya di dada bidang dan kekar milik sang suami.


Disana Lia merasa nyaman dan tenang. Ia dapat mendengar detak jantung Leo dengan jelas.


Serta aroma khas Leo yang membuat Lia ingin mencium dada itu. Tak dapat menahannya lagi, Lia pun mencium pelan dada itu.


Dan jelas saja hal tersebut membuat Leo rerkejut, ia pun menurinkan pandangannya dan memberi kecupan pada bibir Lia.


"Sepertinya kamu lebih sensitif dari sebelumnya." Ucap Leo dengan senyum jahilnya.


"Tidak. Bukan begitu. Saya.. saya hanya rindu." Kata Lia dengan menundukkan wajahnya.


"Saya juga." Kata Leo dengan mengecup dahi lebar Lia sebelum akhirnya memeluk tubuh mungil sang istri.


"Besok saya akan pergi ke kota B. Saya harap kamu tidak macam-macam, salama saya pergi kesana." Ucap Leo dengan mencubit pelan ujung hidung Lia.


Membuat Lia mengaduh dan segera menatap sang suami.


"Saya tidak akan macam-macam disini. Sungguh. Tapi, dengan siapa anda kesana? Dan ada urusan apa anda kesana?" Kata Lia dengan memberikan pertanyaan bertubi-tubi.


"Dengan sekretaris pribadi karena ada masalah disana. Saya jelaskan pun sepertinya kamu tidak akan paham." Jawab Leo yang masih memeluk Lia dalam dekapannya.


"Berduaan saja?" Tanya Lia.


Leo pun hanya diam dengan menganggukkan kepalanya.


"Sekretaris pribadi anda seorang wanita?" Tanya Lia sekali lagi.


Dan Leo pun mengangguk juga.


"Huh." Merasa cemburu, Lia pun segwra menepis Leo dan beranjak dari ranjangnya.


"Mau kemana? Kemarilah. Saya masih ingin memelukmu." Ungkap Leo dengan mencengkram pergelangan tangan Lia.

__ADS_1


"Saya mau mandi. Rasanya panas!" Seru Lia dan bergegas meninggalkan Leo seorang diri, dengan perasaan heran kepada Lia yang telah memasuki ruang kamar mandinya.


"Kenapa lagi wanita itu? Apa ada yang salah?" Gumam Leo pelan dan merebahkan tubuhnya, seraya menutup kedua matanya.


Guna menghilangkan lelah setelah bermain dengan Lia dari pagi hari tadi.


Tapi sepertinya perasaan untuk beristirahat itu pun buyar seketika, tepat ketika suara panggilan dari ponselnya berdering.


Segera saja ia matikan, setelah mengetahui itu panggilan dari sekretaris pribadinya.


Tak berselang lama, panggilan itu pun muncul kembali dan dengan terpaksa ia mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?" Ucap Leo dingin.


"Maaf menggagu tuan muda. Tapi kita ada sedikit kendala perihal beberapa karyawan yang di kirim ke kota C. Apakah anda dapat segera kembali ke kantor, tuan muda." Kata seorang wanita di balik panggilan itu.


"Baiklah. Saya akan segera kesana." Ujar Leo dan segera mengenakan setelan jasnya, serta mengenakan dasinya dengan rapih.


Tak tertinggal pula, ia merapihkan rambutnya yang nampak acak-acakkan dengan menghunakan jarinya.


Melihat dirinya yang telah memiliki seorang istri, tak mengurangi rupanya yang terlihat seperti seorang model.


Ia menunggu sejenak, hanya sekedar untuk menyampaikan salan perpisahan kepada ssang istri.


Namun sepertinya, Leo tak dapat bersabar menanti sang istri. Terlebih lagi, ketika panggilan itu terus mengganggu kesabarannya menunggu Lia sedari tadi.


Meninggalkan Lia di sana seorang diri dengan mengangkat panggilan tersebut.


"Iya. Ini saya segera kesana!!" Hardik Leo dengan tegas. Membuatnya segera melajukan mobilnya, melesat di dalam gang tersebut, hinggan hilang dalam lajunya di antara jalan raya yang ramai oleh kendaraan lainnya.


***


Lia memang sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi. Ia ingin tahu apakah tuan muda Leo akan tetap menunggunya atau akan meninggalkannya.


Tapi suara mobil yang menyala dan mwlaju meninggalkan kediaman Lia, membuat Lia segera keluar dan melihat tidak ada sosok yang telah memberinya rasa hangat beberapa saat yang lalu.


"Ternyata, mas Leo sudah pergi. Padahal aku ingin memeluknya dari belakang dan menutup matanya. Bukankah itu romantis? Tapi kenapa dia pergi tanpa pamit dulu denganku?" Ucap Lia yang kini merasa lemas.


Ternyata memang benar. Jika ia merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.


Seperti pernikahannya seorang diri, ia pun merasa hanya dirinya lah yang jatuh cinta. Sedangkan tuan muda Leo tidak memiliki perasaan seperti itu padanya.


"Ya sudahlah. Mungkin dia sibuk." Ucap Lia mencoba positif saja.

__ADS_1


Ketika ia ingin merapihkan ranjangnya yang sudah tak bernentuk lagi, ia melihat secarik kertas tergeletak di atas sebuah buku miliknya.


-Saya harus kembali bekerja. Jangan lupa makanannya di makan.-


Wajah Lia yang di tekuknya sedari tadi, langsung saja cerah merona setelah membaca isi dari kertas tersebut.


"Semoga anda baik-baik saja disana, di jalan maupun di pekerjaan. Jangan anda risaukan saya yang ada disini, saya akan menunggu anda." Ucap Lia seraya memeluk kertas tersebut, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang masih acak-acakkan itu.


***


Sesangkan di kediaman Leonardo NusaJaya, Eneng nampak canggung dengan suasanya bersama Sari kali ini.


Merasa tak nyaman, Eneng pun segera menghampiri Sari dan berniat menjelaskan.


"Sar. Bisa kita bicara sebentar?" Kata Eneng tanpa sentum di wajahnya.


Biasanya Eneng selalu berekspresi bahagia. Tapi kini, sepertinya hal itu tidak akan terjadi.


"..." Sari pun hanya memgikuti Eneng dalam diam.


Ia masih merasa sebal dan bete atas perlakuan Eneng kepadanya.


"Ada apa?" Ucap Sari ketus.


"Sini. Duduk dulu." Kata Eneng dengan menepuk-nepuk sebuah kursi dari kayu yang terletak di dapur.


"Kamu marah ya sama aku?" Ucap Eneng blak-blakkan.


".." Sari hanya diam dan enggan untuk menjawab.


"Hhh.. Baiklah, aku nyerah. Ia deh aku ngaku. Aku memang suka sama Irfan. Puas kamu." Ungkap Eneng dengan wajah memerah.


Sedangkan Sari yang mendengar itupun segera tersnyum lebar dan memeluk Eneng.


"Naahh. Gitu, dong. Kenapa juga kakak harus sembunyiin dari aku. Bukannya kamu sudah menganggap aku sebagai keluargamu sendiri? Harusnya kamu juga lebih terbuka dong, kak." Kata Sari dengan senyum mengambang di wajahnya yang masih belia.


Sedang Eneng yang di buat malu oleh Sari pun, menatap tak percaya pada bocah di depannya ini.


"Huh. Bikin orang merasa bersalah aja." Ucap Eneng, dan diiringi gelak tawa Sari yang berhasil membuka kedok Eneng.


Keduanya pun tertawa riang, seolah tak ada yang terjadi pada mereka.


Sedangkan tanpa mereka sadari, Irfan yang sedari tadi berada di luar dapur dapat mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Hhh.. Ada-ada aja." Ucapnya dan berlalu meninggalkan kedua orang itu, dimana mereka kini tengah di omeli habis-habisan oleh mbok Yem.


Bersambung..


__ADS_2