
Leo membuka pintu yang terutup tirai tersebut. Menampilkan sosok wanita yang ia rindukan saat ini.
"Kenapa melihat saya seperti itu?" Tanya Leo saat ia mendapati sorotan mata yang tajam dari kedua mata coklat milik Lia.
"Masuklah." Titah Leo pada Lia. Tapi sepertinya Lia enggan untuk menuruti perintah sang suami padanya.
"Kenapa beridiri saja? Saya bilang masuk." Ucapnya sedikit tegas. Membuat Lia terperanjat kaget namun ia masih enggan masuk dan hanya menatap Leo dengan wajah masamnya.
Membuat Leo naik pitam dan menarik tangan Lia namun ditepis oleh Lia.
"Jangan sentuh saya. Bukankah anda lebih menikmati jika bersama dengan wanita itu?" Ujar Lia seraya ia kembali berusaha melepaskan cengkeraman tangan Leo.
"Apa maksud perkataanmu barusan?." Balas Leo yang tak mengerti maksud perkataan Lia padanya.
"Fikir aja sendiri. Saya lelah. Saya ingin tidur. Selamat malam." Ucap Lia dengan entengnya.
Awalnya Lia tak ingin menganggap artikel yang ia baca kemarin. Namun rasa cemburunya lebih peka dari biasanya.
Sekuat tenaga, Lia menahan air matanya tak terjatuh dari ujung matanya. 'Saat ini bukan waktunya untuk menunjukkan sisi lemahku. Aku harus kuat.' Batin Lia yang berusaha tegar.
Hingga ia kembali sadar dan teringat pada siapa ia berbicara seperti itu saat ini. Sang tuan muda Leonardo NusaJaya, pria dengan segala kekuasaannya.
Namun rasa khawatirnya lenyap saat suara berat dari pria itu menyadarkannya.
"Entah apa yang kamu fikirkan. Tapi saya tidak seperti itu." Ucap Leo yang seakan mengetahui isi hati Lia.
Lia yang tidak ingin terpancing emosi berusaha berfikir yang rasioal. Ia pun bermaksud meninggalkan Leo dan beranjak tidur.
"Yasudah kalau begitu. Saya mau tidur dulu." Ucap Lia dengan membalikkan tubuhnya.
Namun tangannyasegera di cengkeram oleh Leo hingga membuatnya tertarik kearah Leo dan mendarat tepat dibagian dada Leo, memperlihatkan dada bidangnya yang mampu membuat siapapun tergoda oleh pesonanya.
"A-apa yang anda lakuakan? Tolong lepaskan saya." Pinta Lia dengan memalingkan wajahnya mengarah tirai di sebelahnya.
Sedangkan Leo semakin menghimpit tubuh Lia, di dinding kamar miliknya itu. Lia yang terhimpit, dapat mencium aroma segar dari tubuh pria yang telah menjadi suaminya itu.
"An-anda mau apa?!" Pekik Lia saat Leo semakin mendekatkan wajahnya kearah Lia.
"Diamlah." Kata Leo dengan mencengkram kedua tangan Lia dan mengangkatnya keatas kepala Lia hingga menjadi satu.
__ADS_1
"Anda-" Perkataan Lia terputus, tepat saat bibir Leo menyatu dengan bibirnya.
Leo semakin memagut bibir ranum milik Lia, ketika Lia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sang tuan muda yang terasa lebih liar dari sebelumnya.
"Uhh.. mas.. uuhh.. Leo.." Ucap Lia tersengal-sengal di antara pagutan mereka.
Saliva mereka menyatu dengan lidah keduanya saling beradu, di dalam rongga mulut keduanya secara bergantian.
Seakan tak ingin memberi ampun kepada sang istri, Leo pun tak melepaskan pagutannya.
'Ada yang berbeda dengan mas Leo. Biasanya dia tidak seperti ini sebelumnya.' Batin Lia ditengah-tengah pagutan mereka.
Hingga Lia melepaskannya secara sepihak karena tak kuasa menahan nafasnya lebih lama lagi.
"Apa-apaan anda? Tiba-tiba melakukan hal seperti ini?" Ujar Lia di tengah-tengah ia mengatur nafasnya.
"Memangnya ada yang salah? Kamu kan istri saya." Ujar Leo berharap dapat menyakinkan hati sang istri akan perasaannya.
Tapi sepertinya hati Lia telah terluka sejak kedatangannya di kota B ini. Lebih tepatnya, ketika ia melihat artikel yang menjelaskan secara detail kebersamaan Lia dengan sekretaris pribadinya.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan artikel yang menjelaskan tentang kedekatan anda dengan wanita itu?" Kata Lia dengan membalas tatapan tajam sang tuan muda di hadapannya.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa yang kamu lakukan dengan pria itu?" Tanya Leo.
"Pria siapa? Pak Feri maksudnya? Saya punya alasan tersendiri untuk hal itu." Jawab Lia dengan mendongakkan kepalanya lebih tinggi sedikit.
"Munafik sekali, kamu!! Menuduh saya dengan wanita lain, tapi kamu sendiri bermain dibelakang saya." Ujar Leo yang merasa kecewa dengan jawaban Lia barusan.
"Saya tidak ber-" Kembali ucapan Lia terpotong oleh pagutan Leo, dimana kini pagutan itu lebih liar dari sebelumnya.
"Kamu milik saya, dan selamanya akan seperti itu!!" Seru Leo dengan kembali memagut bibir Lia dengan panas.
Lia yang mendengar perkataan Leo barusan merasa seperti melayang, terlebih dengan cumbuan Leo yang kian menyusuri lekuk jenjang lehernya.
Membuatnya mendesah, namun apa daya ia tak dapat melakukan apapun. Karena kedua pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Leo, seakan ia terbakar oleh birahi yang menggebu-gebu.
"Uuhh.. aahh.. unghh.. mas.. Leo.. sudah.." Ujar Lia yang kian lemas oleh rangsangan dari Leo.
Tapi bukannya berhenti, Leo semakin ganas melakukan kegiatannya itu tanpa mengenal ampun kepada Lia.
__ADS_1
Merasa kurang nyaman, Leo pun mengangkat pantat Lia dan menaikkan tubuhnya kedalam pelukannya. Seraya berjalan menuju ranjang hangat tempat yang akan menjadi kebebasannya, tanpa melepas pagutannya dengan Lia.
Hingga saliva mereka terputus saat ciuman panas itu terlepas. Menyisakan warna kemerahan disana dan juga tanda kepemilikan Leo di area leher Lia.
Teringat akan perkataan Angga beberapa hati yang lalu, Leo kembali menyeringai dengan mengambil dasinya yang tergeletak di kursi yang tak jauh dari ranjangnya.
"Mau apa dengan dasi itu, mas?" Tanya Lia yang merasa heran dengan gelagat Leo.
"Memuaskanmu." Bisik Leo tepat di telinga Lia, dengan memberi gigutan kecil disana.
Membuat Lia bergidik sesaat sebelum akhirnya ia merasakan kedua tangannya di ikat menjadi satu oleh dasi tersebut.
"Malam masih panjang, biarkan saya memuaskan mu dengan permainan saya." Kata Leo seraya membuka piyamanya dan menunjukkan bentuk tubuh idaman kaum hawa.
"Mas." Panggil Lia di tengah acara Leo membuka kancing baju milik sang istri.
"Hm? Apa sayang?" Tanya Leo dengan menatap wajah memerah sang istri.
"Pelan-pelan, ya." Ujar Lia dengan wajahnya yang nampak menggemaskan bagi Leo.
Membuat Leo kembali menangkap bibir ranum milik Lia yang manis seperti stroberi. Kemudian beralih ke area telinga Lia dan membisikkan kalimat yang membuat Lia malu bukan main.
"Tidak. Saya tidak akan Pelan-pelan, karena malam ini, saya akan memuaskanmu. Istriku." Bisik Leo dengan sekali tarikkan, ia menyibakkan piyama sang istri, dan memperlihatkan tubuh mulus Lia yang tak mengenakan dalaman apapun.
"Kamu sengaja menggoda saya, ya?" Kata Leo kepada Lia. Dan tanpa ba-bi-bu, ia menjamah seluruh tubuh snag istri dengan penuh gairah.
Hingga Lia tak dapat menahan diri untuk tak dapat menahan desahannya, di setiap sentuhan yang di berikan oleh Leo.
'Kenapa mas Leo semangat sekali malam ini?' Batin Lia yang telah terangsang sepenuhnya.
Hingga tibalah saatnya untuk keduan insan itu, melakukan ritual wajib mereka sebagai sepasang suami istri yang sah.
Suara ******* Lia yang tak karuan menggema diruangan itu, membuat Leo semakin beringas memainkan ritme gerakannya.
Guna memndapatkan kenikmatan untuk keduannya, ia benar-benar bekerja keras untuk malam ini. Hingga keduanya saling mendapatkan puncak kenikmatannya.
Keduanya tertidur dalam dekapan yang tak enggan untuk mereka lepaskan meaki sejenak. Hingga pagi menyongsong, mereka berharap kedepannya tidak ada yang dapat memisahkan mereka kecuali maut.
Bersambung..
__ADS_1