Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Bergerak Cepat


__ADS_3

Hallo semua author kembali lagi......Jangan lupa ya untuk like dan komennya. Karena cuma like kalian yang buat author jadi semangat. Jadi terus dukung author ya. Terima kasih untuk kalian yang tetap setia dengan cerita Revan dan Sierra☺️.


Sierra menatap koper Revan yang ada didepannya. Seketika rasa sedih seperti menyelimuti hati Sierra. Rasa kehilangan seperti memenuhi pikiran Sierra. Dan rasa takut seperti menghantui Sierra.


Sejujurnya Sierra tidak ingin Revan pergi meninggalkannya. Sierra tidak ingin Revan menjauh darinya. Sierra ingin Revan selalu berada disampingnya. Dan Sierra ingin Revan selalu menemani hari-harinya karena saat ini hati Sierra sudahlah milik seorang Revan.


Namun meskipun begitu, Sierra tidak mau menjadi wanita yang egois. Sierra tidak mau menjadi wanita yang menuntut Revan. Dan Sierra tidak mau menjadi wanita yang menyulitkan Revan. Sierra ingin menjadi wanita dewasa yang tidak akan pernah menyusahkan Revan tetapi bisa membantunya.


Sierra pun melirik kearah Revan sejenak. Ia memperhatikan wajah tampan Revan yang saat ini sedang disibukan dengan ponselnya. Sebuah senyum kesedihan pun terukir diwajah Sierra.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu Sierra? Kamu tidak ingin saya pergi?". Tanya Revan yang sudah meletakan ponselnya dan menatap Sierra lekat.


Sierra mengelengkan kepalanya. Ia berusaha menutupi perasaannya. Berusaha memendam isi hatinya. Sierra ingin menunjukan kepada Revan bahwa saat ini ia baik-baik saja.


"Tidak Revan. Aku hanya kagum saja dengan ketampananmu itu. Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila denganmu dan rela melakukan apa saja".


Revan tertawa. Lalu Revan mengelus rambut Sierra dengan lembut. "Haha. Kamu tenang saja Sierra. Walaupun banyak wanita yang ingin bersama dengan saya tapi hanya kamulah wanita yang saya miliki saat ini".


Wajah Sierra pun merona. Entah mengapa mendengar ucapan manis Revan itu membuat hatinya berbunga-bunga. Membuat Sierra merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


"Aku harap kamu bisa menepati kata-katamu itu Revan".


Revan menganguk yakin. "Tentu saja. Saya akan tepati kata-kata saya. Karena saya adalah lelaki yang selalu memegang ucapan dan bertanggung jawab".


Sierra tersenyum. Lalu Sierra mencium pipi Revan dengan lembut. Perkataan tulus Revan itu membuat Sierra semakin mencintainya. Membuat Sierra semakin tergila-gila dengannya. Dan membuat Sierra semakin ingin memiliki Revan seutuhnya tanpa adanya batas waktu.


"Ini adalah hadiah dariku karena kamu sudah membuat hatiku sangat senang". Ucap Sierra dengan malu sambil menundukan wajahnya.


Revan yang awalnya diam karena keterkejutannya itupun langsung memegang dagu Sierra dengan lembut yang membuat tatapan Sierra kini hanya tertuju pada Revan.


"Tapi bagi saya hadiah itu masih kurang Sierra. Ingatlah kamu yang menggoda saya duluan".


Revan langsung mendekat kearah Sierra dan mencium bibirnya dengan lembut. Sierra pun membulatkan matanya. Ciuman ini terasa begitu tiba-tiba. Dan sungguh Sierra tidak pernah berniat untuk menggoda Revan. Sierra mencium Revan karena Sierra merasa tersentuh dengan ketulusan Revan. Bukannya menginginkan ciuman yang panas seperti ini.


Sierra pun berusaha melepaskan ciuman Revan. Berusaha mendorong Revan untuk menjauh. Namun Revan malah semakin mempererat pelukannya. Revan semakin memperdalam ciumannya yang membuat Sierra terhanyut dalam ciuman intens itu.

__ADS_1


Namun disaat mereka sedang larut dalam ciuman itu, suara dering ponsel Revan pun terdengar. Dengan terpaksa Revan segera menghentikan ciumannya dan mengambil ponselnya. Revan pun menatap ponsel itu dengan tajam.


"Lagi-lagi Vino. Lagi-lagi Vino. Mengapa lelaki bodoh ini selalu saja merusak kegiatanku. Selalu merusak suasana. Sepertinya aku harus mencari asisten baru untuk menggantikan lelaki bodoh ini!". Keluh Revan dengan kesal.


Sierra yang mendengarnya pun langsung tertawa. Lalu Sierra menggengam tangan Revan dengan lembut.


"Haha lebih baik kamu pergi sekarang Revan. Kasian asisten Vino pasti sudah menunggu kamu lama. Jarang-jarang loh ada asisten yang sangat pengertian dan sabar seperti asisten Vino".


Revan menatap Sierra tajam. Aura dingin Revan pun mulai terasa. Membuat Sierra langsung merinding.


"Apakah sekarang kamu sedang membela Vino, Sierra? Kamu tidak mau teman lelakimu itu saya pecat?". Ucap Revan penuh penekanan


Sierra yang tau bahwa saat ini Revan sedang cemburu pun langsung menggengam tangan Revan. Sierra tidak mau masalah ini menjadi sebuah kesalahpahaman. Karena jika Revan sudah cemburu maka akan sulit sekali untuk membujuknya.


"Tidak Revan bukan itu maksudku. Aku hanya mengatakan kebenarannya saja. Karena memang benarkan asisten Vino selalu setia di sampingmu dan tidak pernah mengkhianatimu? Dia selalu pengertian dan bersabar".


Revan mengembuskan nafas kesal. Kini tatapan Revan sudah lembut seperti sebelumnya. Tidak penuh dengan amarah dan rasa cemburu seperti sebelumnya.


"Baiklah kali ini saya setuju dengan ucapanmu Sierra. Karena Vino memang orang yang baik. Kalo gitu saya pergi dulu. Ingat jangan lupa dengan janjimu untuk selalu menghubungi saya dan menjaga jarak dengan Leon".


"Aku akan selalu mengingatnya Revan. Kamu hati-hatilah dalam perjalanan".


Revan tersenyum. Lalu Revan mencium kening Sierra dengan lembut dan mengelus rambutnya dengan penuh kehangatan.


"Cepatlah selesaikan pekerjaanmu disini. Dan segera kembali bersama saya".


Sierra mengangukan kepalanya dengan senyum malu-malu. Setelah itu Revan segera membawa kopernya dan berjalan keluar dari kamar itu.


Kini Revan sudah benar-benar pergi meninggalkan Sierra seorang diri. Sierra pun menarik nafas yang panjang.


"Ya tuhan mengapa hatiku terasa begitu sedih? Mengapa hatiku menjadi sakit? Dan mengapa aku jadi orang serakah yang menginginkan Revan selalu bersama denganku". Ucap Sierra sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa.


Namun tidak lama dari itu suara dering ponsel Sierra pun terdengar. Sierra segera mengambil ponsel itu dengan semangat. Berharap bahwa Revan yang menghubunginya dengan membawa kabar baik.


Tetapi ternyata harapan Sierra itu hanyalah sia-sia. Karena yang mengubungi Sierra saat ini adalah nomor asing yang tidak dikenal olehnya. Bukanlah nomor Revan yang ia tunggu-tunggu. Dengan malas Sierra pun menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Hallo selamat pagi. Dengan siapa saya berbicara?". Ucap Sierra seadanya.


"Sierra.....ini aku Leon".


Sierra terdiam. Ia menurunkan ponselnya sejenak. Sungguh Sierra tidak tau apa yang harus dilakukannya. Haruskan Sierra memutuskan panggilan itu begitu saja?.


"Hallo Sierra. Apa kamu bisa mendengar suaraku?". Tanya Leon kembali.


Sierra menarik nafas yang dalam. Sepertinya Sierra tidak boleh memutuskan panggilan ini begitu saja. Karena bagaimanapun juga keberhasilan proyek ini ada ditangan Sierra. Dan mau tidak mau Sierra harus bekerjasama dengan Leon untuk mensukseskan proyek ini. Jadi tidak sepantasnya jika Sierra mengabaikan Leon begitu saja.


"Ah iya Leon. Ada apa kamu menghubungiku?". Sierra membuka suara.


"Apa kamu sudah sarapan Sierra? Bagaimana jika kita sarapan bersama?".


"Maaf direktur Leon aku tidak bisa. Aku berurusan denganmu hanya untuk masalah pekerjaan saja bukan untuk masalah pribadi".


"Tetapi sarapan ini juga untuk pekerjaan kita Sierra. Karena aku ingin membahas masalah pekerjaan denganmu".


"Sebaiknya kita membahas pekerjaan setelah kamu selesai dengan kegiatan sarapanmu direktur Leon. Karena aku tidak bisa menemani direktur Leon"


"Apakah kamu menolakku karena Revan, Sierra?".


"Masalah ini tidak ada hubungannya dengan direktur Revan. Jadi aku mohon agar direktur Leon bisa sedikit dewasa dan membedakan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi".


Leon terdiam. Sierra pun merasa puas dengan ucapannya. Ucapan yang bisa menolak Leon dengan tegas dan membatasi perilaku Leon agar berhubungan dengannya untuk masalah pekerjaan saja. Bukan untuk masalah pribadi. Karena bagaimana pun juga Sierra tidak ingin mengecewakan Revan yang sudah mempercayainya.


"Baiklah jika itu maumu. Kita akan bertemu diperusahaan nanti jam 10 pagi untuk membahas proyek ini. Dan siapkanlah dokumen-dokumenmu itu".


"Tentu saja direktur Leon aku akan melakukannya. Kalo begitu sama bertemu nanti.


Sierra pun langsung memutuskan panggilannya. Sungguh Sierra tidak menyangka bahwa Leon akan bergerak secepat ini. Leon akan bertindak tanpa ragu. Dan Leon akan mendekati Sierra setelah Revan pergi meninggalkannya.


Sepertinya apa yang diucapkan oleh Revan benar. Bahwa Leon bukanlah sembarang orang. Leon bukanlah orang yang mudah. Karena Leon mempunyai begitu banyak keberanian. Leon mempunyai kekuasaan yang membuatnya tidak kenal takut. Sierra pun harus berhati-hati dan menjaga jarak dengan lelaki itu agar ia tidak membuat masalah untuk dirinya sendiri.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2