
***Halloo semuanya......author kembali lagi. Maaf ya author lama up nya karena ada beberapa hal yang terjadi. Tolong dukungannya dengan like, komen, dan vote author biar selalu semangat. Makasih untuk kalian semua dan tetap setia membaca yaa.....
Happy Reading***................
Revan tersenyum puas saat melihat Sierra pergi dengan wajah kesalnya. Revan yang memang mempunyai hobby menggoda Sierra, selalu senang jika Sierra mulai menunjukan ekspresi gugup dan ketakutan ketika berada didekatnya.
Bahkan rasa senang Revan bisa berkali-kali lipat jika Sierra sudah terlihat sebal dan kesal dengannya. Revan pun terus memberikan senyuman kemenangannya itu tanpa henti.
Jujur saja saat ini Revan sangat bahagia dengan kehadiran Sierra. Revan yang memang sepanjang hari merindukan Sierra sangat menanti-nantikan kedatangan wanita yang menarik perhatiannya itu.
Revan ingin secepatnya bisa melihat wajah polos Sierra yang memenuhi otaknya setiap waktu sebelum Revan bisa benar-benar menjadi gila karenanya.
Revan pun merebahkan tubuhnya sejenak disofanya. Pikiran Revan mulai liar dengan membayangkan bagaimana wajah Sierra setelah mandi nanti.
Apakah rambut basah Sierra akan benar-benar menarik Revan? Apakah baju tidur yang akan Sierra kenakan akan menggoda Revan? Revan pun mulai memikirkan semua itu.
Namun saat Revan sedang disibukan dengan pikirannya, suara bell pintu kamar Revan terdengar. Revan pun langsung tersadarkan. Ia segera bangun dari duduknya itu dan berjalan kearah pintu kamarnya lalu membukanya.
Saat itu terlihat sosok Vino yang menggunakan pakaian casual sudah berada didepan kamarnya dengan membawa trolli yang berisi berbagai makanan yang dipesan oleh Revan.
"Selamat malam direktur Revan maaf menganggu. Ini adalah makanan pesanan anda". Sapa Vino dengan hormat.
"Masuklah Vino".
Revan membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan berjalan masuk kembali kedalam kamar itu dengan Vino yang mengikutinya dari belakang.
Dan disaat itupun terlihat sosok Sierra sudah selesai dengan kegiatan mandinya sedang memperhatikan kedua lelaki itu.
"Asisten Vino kamu datang lagi?". Ucap Sierra dengan gembira.
Revan yang melihat kegembiraan Sierra itu pun langsung memberikan tatapan tajam kepada Vino. Dan Vino yang menyadarinya hanya menundukan wajahnya.
"Dia dateng cuman nganterin makanan kita. Kenapa kamu harus sesenang itu". Revan kesal.
"Ah saya senang karena ada orang lain yang menemani kita direktur". Jawab Sierra polos.
"Memangnya kita mau ngapain sampe harus ada yang nemenin segala!".
"Bukankah jika banyak orang lebih bagus direktur? Pekerjaan bisa cepat terselesaikan dan kita bisa makan bersama juga".
"Sierraa! Kamu benar-benar ya!". Kini suara Revan mulai meninggi. Bahkan Revan mulai memberikan wajah penuh amarah dan menatap Vino semakin sinis.
Vino yang mengetahui situasi saat ini tidak baikpun memilih untuk secepatnya pergi dari kamar itu. Vino tidak ingin menambahkan masalah untuk dirinya. Apalagi jika harus berurusan dengan direktur perusahannya itu.
"Direktur Revan, nona Sierra. Saya pamit pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Kalian bersenang-senanglah. Dan selamat menikmati hidangan kalian". Vino membungkukan tubuhnya dan langsung berjalan pergi meninggalkan kamar itu.
Sedangkan Sierra hanya bisa menatap kepergian Vino dengan tatapan sedih. Kini Sierra pun hanya bisa menerima nasibnya bahwa Ia akan benar-benar berdua dengan Revan didalam kamar ini.
__ADS_1
"Haruskah kamu sesedih itu hanya karena Vino meninggalkan kita? Kamu mau bersama dengan Vino? Sana pergi dari sini dan pindah ke kamarnya". Ucap Revan sinis.
Sierra yang menyadari bahwa saat ini Revan sedang marah pun hanya bisa menundukan wajahnya. Walaupun Sierra tidak tahu apa yang jadi penyebab kemarahan Revan, tetapi Sierra lebih memilih untuk diam agar tidak menambah masalah dan yang terpenting Sierra tidak akan diusir dari kamar ini.
"Kenapa kamu masih diam saja? Sana susul Vino lelaki idaman itu!". Ucap Revan kembali yang sudah mengalihkan pandangannya kearah tv didepannya.
"Direktur Revan bukan itu maksud saya. Sungguh. Saya tidak pernah menganggap Vino adalah lelaki idaman saya". Sierra membuka suara.
Revan mengerut keningnya. Lalu Revan menatap Sierra kembali dengan tajam.
"Lalu apa maksud dari ekspresi sedihmu itu ketika Vino pergi meninggalkan kita".
"Hhmmm saya tidak sedih direktur. Hanya saja..hanya...". Sierra tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Sierra pun menatap Revan dengan ragu.
"Sierra sini". Revan menepuk sofa disampingnya.
Sierra pun menuruti. Dia berjalan menghampiri Revan dan duduk tepat disamping Revan. Revan pun langsung memeluk Sierra dengan erat. Pelukan rindu yang sedari tadi Revan rasakan.
"Jangan pernah melihat lelaki lain Sierra. Lihat saya saja. Jangan membuat saya marah". Kini suara Revan mulai melembut.
Bahkan Revan mulai mengelus rambut panjang Sierra dengan penuh perasaan. Segala amarah Revan seakan hilang begitu saja saat Ia melihat adanya kesedihan diwajah Sierra.
"Maafkan saya direktur". Ucap Sierra pelan namun masih bisa tetap didengar oleh Revan.
Revan pun tersenyum. Lalu Ia melepaskan pelukannya itu. Ia menatap wajah Sierra dengan lekat.
Sierra pun memberikan senyumannya. Bahkan kini Sierra sudah menatap Revan lekat seperti yang Revan lakukan.
"Sierra bisakah kamu berjanji kepada saya? Berjanji untuk lebih menjaga jarak dengan Vino. Dan berjanji untuk merubah cara panggilanmu untuk saya".
"Merubah panggilan bagaimana direktur?". Sierra bingung.
Revan yang melihat kebingungan itupun menggenggam tangan Sierra dengan lembut. Lalu Revan menciumnya sekilas yang membuat mata Sierra membulat.
"Merubah panggilan dengan lebih akrab dengan saya. Tidak terlalu formal seperti sekarang. Karena bagaimana pun juga kamu adalah kekeasih saya saat ini".
"Lebih akrab seperti apa direktur?". Sierra masih belum mengerti.
"Iya jangan panggil dengan sebutan direktur tetapi panggil Revan saja. Gunakan bahasa aku, kamu bukan saya, anda. Apakah kamu mengerti?".
Sierra mengganggukan kepalanya. "Saya mengerti direktur Revan".
Revan pun menyipitkan matanya. Baru saja ia menjelaskan tetapi Sierra seperti mengabaikan ucapannya begitu saja.
"Kalo kamu mengerti kenapa masih saja menggunakan bahasa itu!". Revan kesal kembali.
"Ah iya maafkan aku direktur Revan. Oh tidak maksudku Revan. Aku membutuhkan waktu untuk terbiasa. Mohon berikan aku waktu".
__ADS_1
Revan menghembuskan nafas panjang. Jujur saja Revan sangat kesal dengan penggunaan bahasa Sierra kepada Revan. Apalagi panggilan Sierra yang menyebutnya direktur.
Entah mengapa Revan merasa seperti ada jarak antara dirinya dengan Sierra seakan Revan bukanlah kekasihnya. Dan rasa kesal Revan semakin bertambah ketika ia menyadari keakraban Sierra dengan Vino dan cara bicara sierra yang menunjukan kedekatan diantara mereka.
Karena itulah Revan sangat emosi ketika melihat wajah bahagia dan sedih Sierra tadi yang ditunjukan untuk seorang Vino bukanlah untuk dirinya.
"Baiklah saya akan memaafkan kamu. Tapi ada syaratnya". Revan tersenyum jahil.
Sierra membulatkan matanya. "Syarat? Syarat seperti apa?". Tanya Sierra ragu.
Revan berfikir sejenak. Sebenarnya Revan ingin membuat Sierra menciumnya tetapi Revan khawatir keinginannya itu diluar batas dan membuat Sierra semakin menjaga jarak darinya.
Karena itulah Revan harus bijak membuat keputusan yang bisa menguntungkannya tetapi tidak membuat Sierra menjauh darinya.
"Hhmmm bagaimana dengan memanggil saya sayang?". Revan seperti mendapatkan ide yang brilian.
Mata Sierra pun semakin membulat. Bahkan wajahnya mulai terlihat memerah. Revan yang melihatnya pun semakin tergoda. Semakin ingin melakukan tindakan nakal kepada wanita yang ada dihadapannya ini.
"Kenapa masih diam saja? Kamu tidak mau memanggil sayang? Kamu lebih memilih pergi dari kamar ini dan tinggal bersama Vino?".
Sierra menggelengkan kepalanya. Lalu Sierra pun menatap Revan dengan malu-malu. "Iya baiklah akan aku lakukan".
Sierra pun menarik nafas yang dalam dan menatap Revan. "Revan sayang?". Ucap Sierra lembut dengan wajah yang semakin memerah seperti tomat.
Revan pun tersenyum senang. "Iya Sierra sayang?". Revan memberikan tatapan menggoda.
Sierra pun mengipaskan tangan diwajahnya. Revan yang sedari tadi memperhatikan terus memberikan senyumannya. Sungguh ekspresi Sierra saat ini benar-benar menarik baginya.
Sierra bagaikan anak muda yang sedang kasmaran dan malu-malu. Sierra seperti wanita polos yang sedang jatuh cinta. Revan pun tidak pernah melihat ekspresi seperti ini dari wanita manapun dan hanya Sierra lah yang benar-benar menunjukannya dan membuat Ia sangat tergoda.
"Direktur Revan. Maksudku Revan bagaimana jika kita makan? Jujur saja aku sudah sangat lapar". Sierra memegang perutnya.
Revan yang mendengarnya pun langsung tertawa. "Haha baiklah ayo kita makan. Saya tidak akan membuat sayangku ini kelaparan".
Sierra tersenyum malu-malu. Bahkan wajahnya mulai terlihat memerah kembali. Revan pun mencubit pipi Sierra dengan lembut. Setidaknya hal kecil inilah yang bisa Revan lakukan untuk menghilangkan rasa gemasnya kepada wanita yang ada dihadapannya ini.
Sierra yang mendapatkan cubitan itupun langsung memegang pipinya. Dia tidak marah ataupun menolak. Dan Revan yang tidak ingin melakukn tindakan lebih jauhpun memilih untuk mengambil berbagai makanan dan memberikannya kepada Sierra.
"Makanlah yang banyak sampai kamu benar-benar kenyang".
Sierra pun tersenyum "Terima Kasih Revan".
Sierra mulai mengambil piring makanan yang berisi steak daging lalu memakannya dengan lahap. Revan yang memperhatikannya pun tersenyum.
Bahkan walaupun sedang makanan pun wanita ini tetap terlihat cantik dan menggoda. Itulah yang sedang dipikirkan oleh Revan saat ini.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1