
Sierra sudah membawakan segelas teh hangat sesuai yang diperintahkan oleh Revan. Sierra pun segera membuka pintu ruangan direkturnya itu dan melangkah masuk kedalamnya.
Namun langkah Sierra pun langsung terhenti ketika ia melihat Revan yang sedang asik berciuman dengan wanita penggoda itu, Jeni. Bahkan ciuman itu terlihat begitu dalam dan juga intens membuat Sierra tanpa sadar menjatuhkan gelas yang sedari tadi dipegang olehnya.
Revan yang mendengar suara pecahan gelas itu langsung melepaskan ciumannya. Lalu Revan menatap kearah Sierra yang sudah terdiam didepan ruangannya. Revan pun mencoba berjalan mendekati Sierra. Namun langkah Revan langsung dihentikan oleh Jeni.
“Kamu mau kemana Revan? Jangan pergi kemana-mana," ucap Jeni yang sudah melingkarkan tangannya dilengan Revan dengan manja.
Sierra masih saja terdiam. Masih mematung. Ia tidak bisa mengeluarkan suara ataupun berjalan pergi dari ruangan itu. Tubuhnya terasa kaku. Bahkan otaknya juga seakan tidak bisa berpikir. Ia terlalu kaget dengan kejadian yang baru saja dilihatnya.
Memang ini bukanlah pertama kalinya Sierra melihat Revan bersama dengan seorang wanita. Bahkan bukan pertama kalinya Sierra melihat Revan bermesraan dengan wanita didalam ruangannya.
Hampir setiap sebulan sekali Revan akan mengganti pasangannya. Dan selama itu pula banyak wanita yang silih berganti datang ke perusahaan ini untuk bertemu dengannya.
Namun hanya saja situasi sekarang ini sangatlah berbeda. Ini adalah pertama kalinya Sierra melihat Revan yang sedang berciuman dengan seorang wanita. Dan Sierra melihatnya disaat ia sudah menjadi kekasih Revan walaupun bukanlah kekasih seutuhnya.
“Kenapa kamu tidak ketuk pintunya dulu? Masuk," perintah Revan.
Sierra masih diam ditempatnya. Walaupun Revan sudah menyuruhnya untuk masuk kedalam, tapi entah mengapa langkah Sierra terasa berat untuk berjalan kesana. Bahkan Sierra juga tidak sanggup menatap wajah Revan yang saat ini berada didepannya. Hingga Sierra pun memilih untuk menundukan wajahnya.
“Maafkan saya direktur," kata Sierra dengan suara yang pelan namun masih bisa terdengar.
“Saya bilang masuk ya masuk! Kenapa kamu masih diam saja disana!" ucap Revan yang sudah menatap Sierra dengan lekat.
__ADS_1
“Maafkan saya direktur karena sudah mengganggu kegiatan anda. Anda bisa melanjutkannya kembali. Saya pamit pergi,"
Sierra baru saja ingin pergi meninggalkan ruangan itu namun dengan cepat Revan sudah memanggil namanya kembali membuat Sierra segera menghentikan langkahnya.
“Sierra berhenti! Saya bilang berhenti!" Revan memberikan perintah untuk kedua kalinya. Sierra yang sudah tau sifat Revan yang tidak suka dibantah maka memilih untuk membalikan badannya lagi. Kali ini Sierra sudah berhadapan dengan Revan kembali.
“Revan biarin saja wanita murahan itu pergi! Kenapa kamu malah menahannya. Ayo kita lanjutkan lagi kegiatan kita yang belum selesai," kata Jeni yang sudah memeluk tubuh Revan dari belakang.
“Lepaskan pelukanmu itu Jeni!" Revan mencoba melepaskan tangan Jeni dari tubuhnya namun Jeni yang keras kepala masih saja tidak melepaskan tangannya dan malah semakin memeluk Revan dengan erat.
Sierra yang sedari tadi memperhatikan keduanya pun hanya bisa menarik nafas yang dalam. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat Revan yang saat ini sedang bermesraan dengan Jeni.
“Jeni aku bilang lepaskan! Cepat lepaskan!" kali ini Revan mulai membentak. Bahkan Revan sudah melepaskan tangan Jeni dari tubuhnya dengan kasar. Jeni yang terkejut hanya bisa terdiam sambil menatap Revan dengan bingung.
Jeni yang seakan tau jika saat ini Revan sedang marah pun hanya bisa menuruti perkataannya tanpa membantah sedikitpun. Jeni langsung berjalan pergi meninggalkan ruangan itu sambil menatap Sierra tajam seakan penuh dengan kebencian.
Sierra yang mendapatkan tatapan itu hanya melirik Jeni sekilas sebelum akhirnya ia menatap kembali kearah Revan. Kali ini mereka sudah bertatapan satu sama lain. Revan pun berjalan mendekat kearah Sierra.
“Kenapa kamu keras kepala sekali? Saya sudah memberikanmu perintah tapi kamu masih saja melawannya. Mana janjimu tadi pagi yang bilang akan menuruti apapun yang saya katakan?" tanya Revan kesal.
Sierra hanya bisa menghembuskan nafas panjang sambil menundukan wajahnya. Jujur saat ini ia masih tidak ingin bertatapan dengan Revan. Karena jika Sierra menatap wajah Revan, maka bayangan Revan yang sedang asik berciuman dengan Jeni tadi seperti teringat kembali dan Sierra tidak ingin mengingat kejadian yang menyakitkan hatinya itu.
“Kenapa kamu tidak menjawab? Saya sedang berbicara denganmu Sierra bukan dengan patung!” Revan semakin kesal.
__ADS_1
“Maafkan saya direktur. Saya tidak akan mengulanginya lagi," Sierra membuka suara.
Revan langsung memegang dagu Sierra seperti biasanya membuat tatapan Sierra langsung mengarah kepada Revan.
Sierra pun berusaha mengalihkan tatapannya namun dengan cepat Revan segera memegang wajah Sierra dengan kedua tangan yang membuat tatapan Sierra hanya tertuju kepada Revan seorang.
“Jika sedang berbicara maka tataplah mata orangnya. Jangan malah menundukan wajahmu. Apakah kamu tidak ingin bertatapan dengan saya?”
Sierra langsung menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukan maksud saya seperti itu direktur. Saya..saya hanya malu jika bertatapan dengan anda." Sierra memberikan alasan supaya Revan tidak salah mengartikan dan semakin kesal. Revan yang seakan mempercayai ucapan Sierra pun tersenyum. Lalu Revan menggenggam tangan Sierra.
“Ayo kita pulang. Kamu sudah terlalu lama menungguku," Revan mulai berjalan pergi. Sedangkan Sierra hanya mengikuti langkah Revan secara perlahan dan sedikit terpincang-pincang. Kaki kanan Sierra yang terkilir masih terasa sangat sakit sehingga membuat Sierra harus berhati-hati.
“Kakimu kenapa?” tanya Revan yang kini sudah menghentikan langkahnya dan menatap kearah kaki kanan Sierra.
“Tidak apa-apa direktur. Tadi hanya terkilir sedikit karena jatuh,"
Revan diam sejenak. Lalu tanpa disangka Revan mulai mengangkat tubuh Sierra dengan kedua tanggannya membuat Sierra langsung berada didalam pelukan Revan. Revan sudah menggedong Sierra layaknya seperti pengantin wanita.
“Tidak perlu menggendong saya direktur. Saya masih bisa berjalan. Saya baik-baik saja. Tolong turunkan saya," pinta Sierra. Ia sangat kaget dengan tindakan Revan yang sangat tidak terduga ini.
“Diamlah. Jangan banyak berbicara. Atau kamu mau saya tutup mulut kamu itu dengan bibir saya?”
Sierra langsung menutup mulutnya itu dengan kedua tangan. Sedangkan Revan yang melihat kelakuan Sierra hanya tersenyum sambil melanjutkan langkahnya menuju lift. Revan pun menekan tombol G yang merupakan tempat dimana mobil mewah Revan terparkir.
__ADS_1
Selama perjalanan itu, Sierra pun hanya bisa menundukan wajahnya. Ia tidak berani menatap kearah Revan ataupun melihat sekelilingnya. Sierra takut jika ada karyawan lain yang melihatnya saat ini. Sierra tidak mau ada gosip buruk yang muncul tentang dirinya dan juga Revan mengingat Revan sudah memberikan peringatan kepada Sierra untuk merahasiakan hubungan mereka.