Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Kebebasan


__ADS_3

Sierra sedang asik menonton drama korea diruang kerjanya dengan beberapa snack yang sudah Ia persiapkan diatas meja.


Sesekali Sierra tertawa terbahak-bahak saat menonton drama yang dibintangi oleh aktor kesayangannya itu. Sesekali pula Sierra mengeluarkan berbagai ocehannya yang dipenuhi dengan rasa kesal.


Bahkan air mata pun tidak luput membasahi wajah Sierra ketika Ia melihat aktor yang dipuja-puja itu harus meninggal diakhir drama. Sierra pun segera menghapus air matanya itu dengan tissue yang tidak lupa sudah dipersiapkan juga olehnya.


"Wah drama korea memang benar-benar hebat. Paling bisa menguras emosiku seperti ini. Dram apa lagi ya yang bakal aku tonton selama seminggu ini". Ucap Sierra dengan tangan kanan yang sibuk mencari film-film lainnya sedangkan tangan kirinya sibuk mengambil cemilan dan melahapnya.


"Ternyata tidak ada Revan dikantor ini memang benar-benar indah. Aku bisa melakukan apapun sesuka hatiku. Tidak ada kerjaan, punya banyak waktu luang, bisa makan sepuasnya dan bisa nonton drama korea tanpa henti. Bahagianya hidupku ini". Oceh Sierra dengan tangan yang tanpa henti memasukan beberapa cemilan kedalam mulutnya.


Namun disaat Sierra sedang menikmati kesenangannya itu, suara dering ponsel Sierra pun terdengar. Dengan cepat Sierra langsung mematikan film yang sedang dilihatnya. Lalu Ia mengambil ponsel yang berada didalam tasnya itu dengan jantung yang berdegup begitu kencang.


Sierra seperti tertangkap basah sedang melakukan kesalahan yang membuatnya menjadi salah tingkah. Namun Sierra bisa bernafas lega ketika Ia melihat nama yang muncul dalam panggilan itu bukanlah Revan melainkan Karin, sahabatnya. Sierra pun langsung menjawab panggilan itu.


"Hallo Karin. Kamu apa kabar?". Tanya Sierra dengan ramah.


"Ah kamu benar-benar sombong Sierra. Mentang-mentang sekarang udah jadi sekretaris bos jadi gak pernah makan siang bareng kita-kita dan ngumpul bareng". Ucap Karin panjang lebar.


Sierra pun tersenyum. "Tidak Karin. Bukan maksudku seperti itu. Hanya saja karena pekerjaanku yang banyak, aku jadi lebih sering makan dikantin kantor".


"Ah itu hanya alasanmu saja Sierra. Pokoknya hari ini kamu harus ikut makan siang bareng kita. Aku gak mau tau dan kamu juga gak boleh nolak. Mumpung direktur Revan lagi pergi dinas pasti kamu punya banyak waktu luangkan?".


"Iya-iya baiklah aku ikut makan siang bareng kalian. Nanti ketemu di lobby aja ya pas jam istirahat".


"Nah gitu dong. Akhirnya bisa ketemu Sierra lagi. Kita tunggu ya nanti pas jam makan siang". Ucap Karin senang.


"Oke Karin sampe bertemu nanti ya".


"Sampai bertemu nanti Sierra".


Panggilan itu pun terputus. Lalu Sierra merebahkan tubuhnya sejenak dikursi kerjanya. Ingatan Sierra kembali saat pertama kali Ia bekerja diperusahaan ini. Sierra yang awalnya hanya bekerja sebagai seorang admin biasa karena baru saja lulus dari kuliahnya.


Namun selang 3 bulan, Sierra pun mendapat kabar bahwa Ia diangkat menjadi sekretaris direktur itu, karena sekretaris yang biasa bekerja dengannya berhenti secara tiba-tiba dan perusahaan membutuhkan seorang pengganti secepatnya.


Sierra yang mendapatkan kabar baik itupun merasa sangat bahagia. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Ia bisa dipromosikan untuk jabatan yang tinggi seperti itu. Dan tentunya yang membuat Sierra sangat bahagia adalah karena gaji yang akan didapatkan lebih besar sehingga Ia bisa secepatnya melunasi hutang-hutang ayahnya.


Tetapi ternyata semua itu tidaklah benar-benar membahagiakan untuk Sierra. Karena banyak beberapa rekan kerjanya bahkan teman Sierra yang merasa iri dengan kenaikan jabatan Sierra itu.


Sejak itulah Sierra pun dikucilkan oleh banyak orang dan hanya Karin lah yang tetap berada disisinya hingga saat ini. Itulah yang membuat Sierra tidak mempunyai banyak teman dikantornya dan lebih memilih untuk makan siang sendirian dari pada bersama-sama orang yang membencinya.

__ADS_1


Sierra pun menarik nafas yang dalam. Tanpa terasa kini waktu sudah menunjukan waktu makan siang. Sierra pun segera bangun dari duduknya dan berjalan kearah lift untuk bertemu dengan Karin beserta teman-temannya itu.


"Ayolah Sierra kuatkan dirimu. Kejadian itu sudah sangat lama dan mereka pasti sudah melupakannya". Sierra berusaha menguatkan dirinya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama kini Sierra pun sudah berada di lobby perusahaannya itu. Terlihat Karin dan juga beberapa temannya sudah berada disana sambil berbincang satu sama lain.


Karin yang melihat kedatangan Sierra dari kejauhan melambaikan tanggannya. Sierra pun tersenyum dan ikut melambaikan tanggannya hingga akhirnya kini Sierra pun sudah berada diantara mereka.


"Sieerrraaa......akhirnya kita bisa bertemu juga". Kangen banget aku sama kamu". Ucap Karin yang kini sudah memeluk Sierra dengan erat.


"Iya Karin. Aku juga kangen sama kamu". Sierra membalas pelukan Karin.


"Karin ayo jangan berlama-lama disini. Nanti restorannya keburu penuh kita gak dapet tempat". Ucap seorang wanita berambut pendek.


"Ah iya benar. Maaf ya Ika jadi menunggu lama. Ayo Sierra kita makan yang banyak siang ini".


Karin menggandeng tangan Sierra dan mulai berjalan pergi. Sedangkan wanita yang dipanggil Ika itu hanya menatap keduanya sinis seakan tidak suka. Sebelum akhirnya wanita itu ikut berjalan pergi dibelakang Karin dan juga Sierra.


Kini Karin, Sierra beserta teman-teman yang lainnya pun sudah tiba direstoran pilihan mereka. Mereka mulai memakan berbagai jenis hidangan kesukaannya sambil berbincang-bincang.


Sierra yang merasa asing dengan suasana itupun lebih memilih untuk memakan hidangan itu dalam diam. Ia tidak ingin menjadi orang yang sok kenal dan sok akrab dengan orang lain setelah kejadian yang menyakitkannya itu.


Sierra mengelengkan kepalanya. Lalu Ia pun tersenyum. "Tidak Karin. Aku hanya sedang menikmati makananku saja". Sierra beralasan.


"Tapi kamu juga makan sedikit sekali Sierra. Apakah makanan ini tidak sesuai seleramu?".


"Tidak Karin. Semua makanan ini sangat enak. Aku saat ini sedang diet jadi mengurangi porsi makanku".


"Mungkin Sierra memang tidak terbiasa makan dengan kita semua. Sierra kan sudah menjadi sekretaris direktur beda kalangan dengan kita yang bekerja tanpa jabatan apa-apa". Kali ini wanita yang bernama Ika itu ikut berbicara sambil tersenyum mengejek.


"Ika maksudmu apa bicara seperti itu? Sierra bukanlah orang yang begitu. Sierra tidak pernah melihat seseorang dari apapun apalagi jabatan". Karin mulai kesal.


"Karin kenapa kamu selalu saja membela Sierra? Jelas-jelas Sierra langsung menghindari kamu dan kita semua setelah naik jabatan. Dia tidak pernah mau berkumpul bersama kita lagi dan seakan tidak kenal dengan kita semua".


"Cukup Ika. Kata-katamu sudah keterlaluan. Kamu berbicara tanpa bukti apapun". Kali ini Karin mulai bangkit dari duduknya dan Sierra yang awalnya memilih untuk diam pun akhirnya ikut bangun dari duduknya itu.


"Udah Karin cukup. Kamu gak perlu membela aku lagi. Lebih baik aku saja yang pergi. Maaf sudah mengganggu acara makan siang kalian".


Sierra mulai bersiap untuk pergi namun disaat itu, suara dering ponsel Sierra terdengar. Sierra segera mengambil ponsel yang berada disaku celananya itu lalu menyipitkan matanya ketika melihat nama Vino muncul dalam panggilannya.

__ADS_1


"Asisten Vino? Ada apa dia menghubungiku? Apa ada sesuatu yang terjadi?". Ucap Sierra didalam hati sambil menjawab panggilannya dengan ragu.


"Hallo asisten Vino selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?". Sapa Sierra seperti biasanya.


Saat Sierra menyebut nama Vino terlihat teman-temannya itu langsung terdiam dan memusatkan perhatiannya kepada Sierra. Sierra pun merasa semakin tidak nyaman.


"Nona Sierra sepertinya anda harus menyusul kami datang kesini. Direktur Revan membutuhkan anda untuk membantunya mengurus beberapa dokumen".


"Apa? Aku harus menyusul kesana? Kapan?". Karena kaget, tanpa sadar Sierra meninggikan nada suaranya yang membuat perhatian teman-temannya semakin tertuju padanya.


Bahkan bukan hanya temannya saja tetapi para pengujung direstoran itupun ikut menatap kearah Sierra. Sierra pun tersenyum malu.


"Iya nona Sierra. Saya sudah memesankan tiket pesawatnya sore ini. Jadi lebih baik sekarang nona Sierra pulang kerumah dan bersiap-siap".


"Tapi biasanya kan aku gak pernah ikut kalo direktur Revan ada perjalanan dinas".


"Saat ini direktur Revan membutuhkan anda untuk membantu tugas-tugasnya nona Sierra. Jika ada yang ingin ditanyakan anda bisa langsung menghubungi direktur Revan sendiri".


"Ah iya baiklah aku mengerti. Terima kasih asisten Vino atas informasinya".


"Terima kasih kembali nona Sierra. Nanti akan saya kirimkan untuk tiket pesawatnya".


Panggilan itu pun terputus. Dan Sierra menghembuskan nafas panjang. Pikirannya mulai disibukan dengan perjalanan dinasnya itu yang membuat Sierra tidak sadar bahwa saat ini teman-temannya masih memperhatikannya dalam diam.


"Kalian lihatlah. Masa seorang sekretaris harus ikut perjalanan dinas segala. Pasti ada sesuatu yang terjadi diantara Sierra dan direktur Revan. Sierra pasti sudah menggodanya". Ucap Ika yang memecahkan keheningan.


"Aku rasa sih begitu. Karena gak mungkinkan orang yang dulunya cuman kerja admin biasa eh tiba-tiba bisa langsung naik jabatan jadi sekretaris direktur. Pasti Sierra sudah menjual tubuhnya itu". Kali ini seorang wanita berambut panjang yang berada disamping Ika ikut berbicara.


"Sudah cukup. Jaga ya ucapan kalian. Kenapa sih kalian selalu saja menuduh Sierra yang tidak-tidak? Kalian iri dengan Sierra?". Karin mulai geram.


"Karin sudahlah. Kita gak perlu berdebat dengan orang-orang yang sirik seperti itu. Cuman buang-buang tenaga aja. Yasudah aku pamit pergi ya Karin dan semuanya. Aku harus bersiap-siap untuk perjalanan dinasnya".


Sierra senyum sekilas kearah Karin lalu mulai berjalan pergi meninggalkan restoran itu. Saat sudah berada diluar restoran, tangis Sierra pun langsung pecah begitu saja. Segala emosi yang sedari tadi dipendam olehnya seakan keluar begitu saja bersama dengan tangis yang membasahi wajahnya.


"Astaga ini benar-benar menyakitkan. Kenapa mereka selalu saja berpikiran yang buruk tentangku? Kenapa mereka selalu saja menuduhku yang tidak-tidak? Aku hanya membutuhkan seorang teman yang bisa membuatku berbagi keluh kesah tapi kenapa itu harus sulit sekali". Ucap Sierra dengan isak tangisnya sambil berjalan kearah kantornya kembali untuk mengambil tas dan juga beberapa berkas.


Sierra pun tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya yang sedari tadi memperhatikannya karena tangisnya itu. Sierra sudah terlalu lelah dengan pandangan semua orang. Sierra sudah terlalu lelah dengan pemikiran orang-orang tentang dirinya. Dan Sierra sudah terlalu lelah untuk bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa. Sierra bukanlah orang yang benar-benar kuat seperti itu.


__ADS_1


******


__ADS_2