
Wanita dengan penampilan yang dapat membuat siapapun menoleh kepadanya. Sedangkan ia tengah bersiap menunjukkan penampilannya yang sempurna itu, kepada pria yang ia sukai sekaligus atasannya.
'Kenapa tuan muda lama sekali? Padahal hari ini kan kita ada pertemuan dengan karyawan lain yang bekerja dalam pembangunan hotel di kota ini. Tapi kenapa beliau belum turut mempersiapkan diri? Apa perlu ku bangunkan?' Batin Cika yang merasa gelisah.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu itu dapat Leo dengar. Dengan segera ia membuka matanya yang masih terpejam.
"Siapa?" Gumamnya.
Dengan segera ia bangun dari tidurnya. Namun ia tak mendapati wanita yang menemaninya berjuang semalam.
"Wanita itu.. Berani sekali dia meninggalkan saya sendiri disini sebelum saya bangun." Ujar Leo saat ia melihat tak ada jejak dari Lia.
Dengan segera ia mengenakan kemeja dan celananya asal saja. Dan segera ia membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa?" Tanyanya dingin.
Sedangkan Cika yang di beri pertanyaan hanya dapat diam mematung.
Bagaimana tidak. Ia seakan mendapatkan jatah sarapannya saat ini juga. Terutama saat ia melihat penampilan urak-urakkan Leo yang tidak rapih seperti biasanya.
Wajahnya yang masih nampak mengantuk, serta rambut acak-acakkan dan juga kerah kemejanya yang tidak terkancing sempurna.
Membuatnya nampak seksi sekaligus menggoda bagi mata Cika yang melihatnya sedari tadi. Hingga ia tak menyadari jika air liur mengalir di sela bibirnya.
"Eh. Maaf, tuan muda. Ini perihal masalah pembangunan hotel, tuan. Ha-hari ini anda ada jadwal meeting dengan karyawan yang bekerja dalam proyek pembangunan kali ini." Ujar Cika yang menundukkan kepalanya.
"Kenapa tidak menggunakan panggilan saja? Sampai membuat saya terbangun." Sahut Leo kemudian.
"Oh. Ma-maaf tuan muda. Tadi saya sudah mencoba menghubungi anda. Tapi anda tidak kunjung mengangkatnya." Balas Cika yang kemudian mendongakkan kepalanya, menatap Leo yang menyederkan bahunya di kisen pintu kamar miliknya.
Pemandangan yang sangat sayang untuk di lewatkan. 'Ya ampun. Jantungku, kuatkanlah dirimu.' Batin Cika dengan mendekap dokumen pada pelukannya semakin erat. Guna mengurangi gugup yang ia rasakan.
"Iya. Saya akan bersiap. Sebelum itu, tolong buatkan kopi untuk saya." Titah Leo sekali lagi pada Cika.
"Oh. Baik, tuan muda Leo." Jawab Cika seraya memasuki kamar milik tuan mudanya dengan hati gembira.
Sedangkan dari sudut pandang orang lain yang melihat keduanya, nampak seperti sepasang kekasih.
Hingga Lia dan Feri yang kebetulan baru saja hendak meninggalkan hotel tersebut, melewati lorong kamar Leo dan berpapasan.
__ADS_1
"Selamat pagi, tuan muda Leo. Kebetulan sekali anda ada di sini. Kami hendak meninggalkan kota ini dan kembali ke kota A. Tapi.. sepertinya anda sedang sibuk ya, sepagi ini. Maaf jika mengganggu." Ucap Feri dengan pandangannya yang teralihkan oleh keberadaan Cika di dalam kamar Leo.
"Benar. Sepertinya tuan muda Leo cukup sibuk pagi ini." Sahut Lia yang turut melihat keberadaan Cika di ruangan tersebut.
"Dia hanya membuat kopi." Ujar Leo dengan menunjuk Cika tanpa membalikkan badannya.
Ia kini hanya berfokus pada Lia yang menggunakan syal di lehernya. Leo sadar betul jika terdapat tanda pada leher Lia atas perbuatannya semalam.
Hingga membuatnya menyeringai, "saya rasa cuaca hari ini tidak begitu dingin. Tapi kenapa nona Lia menggunakan syal? Apakah anda sakit?" Tanya Leo usil, dengan hendak menyentuh dahi Lia.
Tapi keinginannya terhenti saat tangannya di tahan oleh Feri. Untuk sesaat ia merasa kesal atas perlakuan Feri padanya.
"Mohon jaga tangan anda, tuan muda Leo. Nona Lia ini, dia sudah menikah. Jangan membuatnya merasa tidak nyaman." Kata Feri dan segera keduanya melepaskan tangannya masing-masing.
"Benar tuan. Saya sudah menikah. Saya harap suami saya tidak menganggap masalah seperti ini adalah masalah besar baginya." Ucap Lia yang menyadari tatapan tak suka yang di layangkan oleh Leo pada atasannya.
"Hah! Maaf atas kecerobohan saya." Sahut Leo dan segera masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan Cika yang telah selesai menyiapkan kopi untuk Leo pun segera meninggalkan kamar tersebut.
"Silahkan di nikmati kopinya, tuan muda. Saya pamit undur diri. Sebentar lagi kita akan ke wilayah proyek pembangunan hotel NusaJaya. Sebaiknya anda segera bersiap diri." Ujar Cika dengan membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.
Sesaat sebelum Leo memasuki kamarnya, ia berbalik dan menatap Lia dan berkata, " sebelum pergi, sebaiknya kita breakfest bersama. Tunggu saya sebentar." Ucap Leo yang mengalihkan pandangannya dari Lia ke arah Feri.
"Bagaimana? Apakah tuan Feri bersedia dengan tawaran saya?" Tanya Leo.
Awalnya Feri hendak menolak, tapi karena Leo terus memaksa, ia pun menyanggupinya.
"Baiklah jika anda memaksa, tuan muda Leo." Jawab Feri dan di balas senyuman oleh Lia.
"Tapi tuan muda, bagaimana dengan pertemuan proyek anda?" Tanya Cika.
"Tunda 1 jam lagi." Jawab Leo enteng.
"Tapi, tuan-" Belum usai Cika bicara, ia segera mengatupkan bibirnya saat Leo menatapnya dingin dengan aura membunuh terpancar darinya.
"Baiklah, tuan." Sahut Cika pasrah.
***
"Silahkan menikmati hidangannya." Ucap seorang pelayan dari hotel tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Lia dan Cika bersamaan.
Hingga keduanya saling bertatapan. Merasa janggal, keduanya memalingkan wajahnya kesembarang tempat.
Mereka berempat pun menikmati hidangan yang tersajikan di meja bundar besar tempat mereka menyantap seluruh makanan pagi mereka.
Setelah selesai breakfest, Feri dan Lia pun pamit undur diri.
"Terimakasih atas kerjasamanya. Saya sangat berharap, kedepannya kita dapat bekerjasama Seperti ini di kemudian harim Kami harus pamit undur diri dulu." Ucap Feri dan membungkukkan tubuhnya, diikuti oleh Lia dan di balas Leo san juga Cika.
"Semoga hari anda menyenangkan." Balas Leo dengan menjabat tangan Feri dan juga Lia.
Wanita bernama Adelia itu tersentak kaget, saat ia merasakan sensasi menggelitik di area telapak tangannya. Saat ia berjabat tangan dengan Leo. Ternyata keusilan jari Leo yang menggelitik telapak tangannya.
Hingga Lia segera menepis tangan sang tuan muda, dan hal itu membuat beberapa pasang mata melirik kearah mereka.
Tak tertinggal Feri dan Cika yang cukup merasa curiga atas gelagat keduanya semenjak kemarin.
"Ada apa, Lia? Kenapa kamu tidak sopan kepada tuan muda?" Tanya Feri.
"Oh tidak pak. Hanya saja tadi tangan saya pegal. Maafkan saya pak. Maafkan saya, tuan muda Leo." Sahut Lia.
"Yasudah. Sebaiknya kita segera bergegas." Ucap Feri dan berjalan mendahului Lia.
Sedangkan Lia membututi di belakang Feri tanpa menyadari jika Leo menyusul kepergian mereka. Tepat di belakang keduanya.
Feri dan Lia menggunakan lift yang berbeda dengan yang di gunakan oleh Leo dan Cika. Tentu saja keberadaan mereka tidak diketahui oleh Lia dan Feri.
Hingga tiba saat lift milik Leo terbuka, ketika ia menyusuri jalan berlorong dan melewati sebuah tikungan, ia melihat pemandangan yang seharusnya tudak ia lihat saat ini.
Dimana sang istri, Adelia. Tengah di peluk erat oleh pria yang ia ketahui sebagai atasannya, Feri.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung...
Halo teman-teman semuanya~~😆
Maaf aku kemarin nggak ada update karena aku merevisi ulang beberapa bab yang lalu. Terutama di bagian di mana Cika tidak jadi memberi ramuan pemberian Sinta kepada Leo. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Aku sayang kalian~~ 😁🙏
Buat kalian, jaga kesehatan selalu ya. Karena tidak ada hal yang paling indah selain kesehatan kalian..😊🤭
__ADS_1