
Perhatian yang diberikan Lia kepada Feri cukup membuat Leo merasa cemburu. Leo pun menekuk kedua alisnya yang tanpa ia sadari, Cika sedang mengamatinya.
"Ehem. Sepertinya, tuan Feri dan nona Lia memiliki hubungan khusus, ya? Sampai-sampai, nona Lia rela memberikan makanannya kepada tuan Feri." Ucap Cika dengan kekeh kecil yang dia sengaja.
Sontak saja, perkataan Cika barusan membuat ketiga manusia tersebut terkejut. Hingga akhirnya Feri buka suara.
"Hahaha. Anda lucu sekali, nona Cika. Tapi sepertinya pemikiran anda jauh sekali. Nona Lia ini telah menikah. Jadi saya dan dia tidak memiliki hubungan apapun, selain sebagai karyawan dan atasan. Jadi tolong anda jangan berasumsi yang berlebihan." Kata Feri dengan penegasan disetiap kalimatnya.
Membuat Cika sedikit kesal dengan ucapan Feri barusan. Namun rasa kesalnya itu hilang saat Leo membuka turut suaranya juga.
"Oh. Jadi nona Lia telah menikah. Tapi, apakah anda telah meminta izin kepada suami anda, untuk bekerja dan pergi ke kota ini?" Kata Leo dengan wajah datarnya, suaranya yang dingin membuat Lia membeku.
Lia kemudian menatap Leo dalam diam beberapa saat, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya untuk menanggapi pertanyaan Leo padanya barusan.
"Perihal itu, saya-" Perkataan Lia terpotong, ketika seorang wanita yang sangat ia kenal sebagai bibi Sinta datang menghampiri mereka.
"Hai… Kalian ada disini? Kebetulan sekali. Hai Lia, apa kabarmu?" Kata Sinta dengan santainya, tanpa mengetahui situasi yang sebenarnya.
"Ehem. Halo, bibi Sinta. Kabar saya baik. Bagaimana dengan anda?" Jawab Lia dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Lah. Disini ada Leo juga, ya. Kalian sedang ada acara apa, sih? Sampai bibinya sendiri tidak di undang. Hohoho." Ujarnya seraya tertawa yang di buat-buat.
"Jika tidak ada keperluan, sebaiknya anda segera pergi dari sini." Tegas Leo tanpa memandang Sinta.
Melihat reaksi Leo yang seperti itu kepada bibinya sendiri, jelas membuat perdebatan batin di antara Cika dan juga Feri. Hingga akhirnya Cika angkat suara.
"Wah, sepertinya nona Lia bukan orang sembarangan. Siapa anda sebenarnya? Bagaimana anda bisa mengenal bibi dari tuan Leo?" Kata Cika dengan segudang pertanyaan ia lontarkan pada Lia.
Mendengar itu, Lia panik bukan main. Ia bingung harus memulai dari mana untuk menjawab pertanyaan Cika.
"Jangan ikut canpur. Itu bukan urusanmu." Kata Leo dingin kepada Cika.
Hingga membuat Cika bergidik sesaat. Bukan karena takut, tapi karena ia menginginkan hati pria di sampingnya.
Tapi mengapa ia begitu dingin kepadanya sedari ia diterima sebagai sekretaris pribadinya 3 bulan yang lalu. Tepat sebelum hari pernikahan Lia dan Leo. Jelas jika ia tak mengetahui status asmara tuan mudanya itu.
Perasaannya yang dilema, serta hatinya yang seakan hancur berkeping-keping. Sinta yang merasa seperti diusir, hanya memberi senyum masam kepada keponakannya itu.
__ADS_1
Tapi tanpa di sengaja, ia melihat raut wajah Cika yang nampak terluka. Dengan mengangkat sebelah alisnya, Sinta seakan memiliki rencana tersendiri.
"Ehem. Permisi, saya ke toilet dulu." Kata Cika dan segera melangkahkan kakinya menuju toilet restauran hotel tersebut.
"Yasudah, ya. Saya pergi dulu. Bye, Leo. Bye, Lia." kata Sinta dengan melambaikan tangannya pada Lia yang dibalas Lia senyuman kecil.
Kini hanya tersisa Lia, Leo dan juga Feri. Ketiganya nampak canggung, namun Lia mencoba mencairkan suasana saat ini.
"Mari, tuan Leo. Silahkan pak Feri. Saya makan duluan, ya. Hhmmm. Enak sekali." Ucap Lia disela-sela ia memakan hidangan yang telah di sediakan sebelumnya.
"Iya. Pelan-pelan. Nanti kesedak." Kata Feri dan benar saja, Lia tersedak karena ia merasa di perhatikan oleh mata elang sang suaminya saat ini.
"Uhuk!! Uhuk!! Makasih, pak." Kata Lia disela-sela batuknya, seraya mengambil segelas air yang telah di siapkan oleh Feri.
'Pak Feri baik sekali. Rasanya beliau seperti saudara kandungku?' Batin Lia yang tanpa ia sdari menyu ggingkan senyum kecil.
Sontak saja hal tersebut membuat Leo terpancing emosi. Dan segera ia melakukan kejahilannya yang sempat tertunda sebelumnya.
Memainkan ujung kakinya yang masih mengenakan sepatu formalnya, Leo mengelus pelan betis dan paha Lia. Hingga membuat wajah Lia memerah seperti udang rebus yang ia makan saat ini.
Membuat Leo terkejut dan berusaha menahan rasa sakit di kakinya. Hal tersebut pun membuat Lia tersenyum penuh kemenangan.
Sedangkan Feri yang tak mengetahui adanya perang dingin di bawah meja saat ini, hanya menyantap steak pemberian Lia dalam diam.
Meskipun diam, di dalam fikirannya telah banyak hal yang membuatnya tak dapat berfikir tenang.
***
Sementara itu, masih di tempat yang sama, lebih tepatnya di toilet wanita. Cika mencuci tangannya yang jenjang dengan air mengalir. Dan membuang tisu itu dengan amarah yang membara.
"Wanita sialan!! Berani sekali dia menggoda tuan muda Leo. Tuan muda Leo itu milikku. Hanya milikku!!" Seru Cika yang sebenarnya dapat di dengar oleh Sinta dari balik pintu toilet tersebut.
Seraya membuka pintu toilet tersebut, seringai lebar tepampang diwajah wanita yang biasa di panggil bibi oleh Lia.
'Eh. Ada bibinya tuan muda Leo. Aku harus bagaimana. Apakah perkataanku barusan ia dengar? Semoga saja tidak.' Batin Cika yang merasa sungkan terhadap Sinta yang berada di belakangnya.
"Eh. Nyonya. Sejak kapan anda disini?" Kata Cika mencoba senatural mungkin.
__ADS_1
"Baru saja." Jawab Sinta dengan santai.
"Yasudah kalau begitu. Saya duluan, nyonya. Mari." Ujar Cika seraya membuka pintu toilet itu.
Tapi langkahnya terhentu saat suara Sinta membuatnya membelalakkan kedua matanya.
"Apakah kamu menyukai keponakan saya?" Tanya Sinta memastikan.
"Oh. Tidak, nyonya. Saya hanya bawahan tuan muda Leo. Saya tidak berani." Ucap Cika dengan senyum kecil.
"Benarkah? Tapi bagaimana jika Leo di ambil oleh Lia?" Pancing Sinta.
'Nggak!! Tuan muda Leo nggak boleh bersaa wanita sok pintar itu!' Batin Cika yang sepertinya mulai terpancing.
"Lalu, saya harus bagaimana untuk memenangkan hati tuan muda Leo, nyonya?" Kata Cika yang mulai terjerumus permainan Sinta.
"Hm. Mudah saja. Campurkan ramuan ini pada minumannya. Malam ini dia akan jadi milikmu, dan mintalah pertanggung jawaban padanya. Maka dia akan menjadi milikmu. Seutuhnya." Jelas Sinta dengan memberikan sebungkus ramuan yang bahkan tidak ada merknya.
"Apa ini? Apakah akan membahayakan nyawa atau kesehatan tuan muda Leo?" Tanya Cika yang merasa asing dengan bungkusan di genggamannya saat ini.
"Tenanglah. Ini.. hanya ramuan..Cinta.." Ucap Sinta di sebelah telinga Cika.
Membuat fikiran Cika berkelana kesembarang tempat. Hingga ia tersadarkan ketika Sinta menyentuh bahunya.
"Kamu lebih pantas dari pada Lia. Dia hanyalah rakyat jelata yang bahkan belum lulus kuliah. Sedangkan kamu, lulusan dari universiyas ternama." Ujar Sinta membuat Cika semakin percaya diri untuk menjalankan rencana Sinta.
"Baiklah. Terimakasih, nyonya." Ucap Cika dengan membungkukkan tubuhnya.
"Jangan panggil saya nyonya. Sebentar lagi, kita 'kan keluarga." Kata Sinta dengan memeluk tubuh Cika.
"Iya, bibi." Sahut Cika dan membalas pelukan Sinta
Sementara itu, Sinta semakin menyeringai. Berharap rencananya utnuk menghancurkan hubungan Lia dengan Leo berhasil.
Akankah rencana Sinta dan Cika berhasil?
Bersambung..
__ADS_1