
***Hallo semunyaa....jangan lupa ya untuk like, vote dan komennya biar author selalu semangat buat bikin ceritanya. Terima kasih untuk kalian semua yang selalu setia😊
Happy Reading***
Acara makan malam Sierra dan Revan pun kini sudah selesai. Sierra yang merasa sangat kekenyangan pun mengusap-ngusap perutnya dengan lembut karena seharian tadi Ia sudah menahan rasa lapar.
Apalagi saat makan siang diperusahannya tadi Sierra hanya memakan sedikit hidangan karena sudah kehilangan nafsu makan karena teman-temannya itu.
Dan selama dipesawat Sierra juga tidak memakan apapun kecuali snack yang diberikan secara gratis, karena Sierra tahu harga makanan dipesawat itu pasti sangat mahal hingga Ia memutuskan untuk menahan rasa laparnya.
Dan untunglah saat tiba disini Revan menyediakan banyak makanan untuk Sierra dengan rasa yang luar biasa nikmatnya yang mungkin hanya bisa Sierra rasakan sekali seumur hidupnya.
Sierra pun menatap piring-piring makanan yang sudah habis bersih itu. Lalu sekilas Sierra mencuri pandang kearah Revan yang saat ini sudah sibuk dengan tabnya.
"Direktur Revan. Tidak maksud saya Revan apakah ada yang bisa aku bantu?".
Revan pun mengalihkan tatapannya. Dia menatap Sierra sejenak sebelum akhirnya fokus menatap tabnya kembali.
"Tidak perlu. Kamu istirahat saja".
"Tapi bukankah aku dipanggil kesini untuk membantu pekerjaan kamu? Untuk mengurus beberapa dokumen?".
Revan tertawa. "Haha membantu pekerjaan? Orang bodoh mana yang mengatakan itu Sierra?".
Sierra mengerutkan keningnya. Bukankah Vino yang siang tadi memberitahukan Sierra untuk menyusul kesini agar membantu Revan? Tetapi mengapa Revan malah mentertawakannya seperti ini? Apakah itu berarti Vino sudah mempermaikannya? Sierra pun menghembuskan nafas kesal.
"Sebaiknya kamu mengganti baju tidurmu saja Sierra lalu istirahat. Saya akan menyusul setelah menyelesaikan beberapa dokumen ini". Ucap Revan yang memperhatikan Sierra dari kepala hingga ujung kaki
"Mengganti baju tidurku? Ini adalah baju tidurku Revan".
Revan menyipitkan matanya. Lalu Revan pun menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin kemeja dan celana levis yang kamu kenakan saat ini adalah baju tidur Sierra. Apa kamu ingin menyiksa dirimu sendiri?".
Sierra tersenyum canggung. Jujur saja sebenarnya Sierra tidak membawa yang namanya baju tidur itu. Sierra yang mengira akan mendapatkan fasilitas kamar hotel sendiri hanya membawa tank top dan celana pendek untuk dipakai saat Ia tidur.
Namun siapa sangka ternyata Sierra tidak bisa mendapatkan fasilitas itu. Bahkan Sierra harus satu kamar dengan direkturnya Revan yang semakin hari permintaannya semakin aneh-aneh.
"Hhmm sebenernya aku tidak membawa baju tidur. Tapi tidak masalah jika aku memakai baju ini. Aku tetap nyaman".
Revan menatap Sierra kembali. Bahkan tab yang sedari tadi dipegang olehnya kini sudah Dia letakan. Sierra pun masih memberikan senyuman canggungnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar tidak membawa baju tidur? Terus apa saja isi kopermu itu".
"Sungguh Revan aku memang tidak membawanya. Aku pikir aku akan mendapatkan kamar hotel sendiri jadi aku hanya membawa beberapa pakaian saja".
Revan terdiam. Dia masih saja memperhatikan Sierra. Dan Sierra yang mendapatkan perhatian itu semakin merasa canggung.
"Apakah itu berarti kamu membawa baju yang tidak sepantasnya sehingga kamu tidak mau memakainya didepan saya?". Revan tersenyum nakal.
Sierra membulatkan matanya. Bagaimana mungkin Revan bisa menebak setepat itu? Bisa mengetahui apa yang Sierra pikirkan? Apakah Revan benar-benar seorang dewa?.
"Haha sepertinya dugaan saya benar". Revan tertawa puas.
Sedangkan Sierra hanya bisa menundukan wajahnya karena merasa malu. Bahkan wajahnya pun sudah mulai memerah seperti beberapa saat yang lalu. Revan memang paling bisa menggodanya.
"Sierra..Sierra kenapa kamu sangat lucu sekali? Kamu benar-benar menguji imanku". Ucap Revan kembali sambil mengelus tangan Sierra dengan lembut.
Sierra pun hanya terdiam. Ia tidak menolak ataupun menghindar. Sierra seakan menerima belaian lembut itu.
Mungkin tanpa sadar memang kini Sierra sudah bisa menerima kehadiran Revan. Kehadahiran Revan yang saat ini sudah menjadi kekasihnya. Sehingga Sierra tidak terlalu takut atapun menjaga jarak seperti sebelumnya.
"Sierra apakah sepanjang hari ini kamu merindukan saya?". Kini Revan mulai menciumi tangan Sierra dengan perlahan.
"Hhmm aku tidak tahu direktur". Jawab Sierra sedikit gugup.
"Tidak-tidak maafkan aku. Maafkan aku Revan". Sierra mulai ketakutan ketika melihat tatapan tajam Revan yang menusuk itu.
Revan pun langsung melepaskan gengaman tangannya. Lalu Revan mengambil tabnya kembali dan mengalihkan tatapannya.
"Kamu selalu saja seperti itu. Apakah sebegitu sulitnya untuk bisa dekat dengan saya Sierra?".
"Sungguh bukan maksud aku seperti itu Revan. Aku ingin bisa dekat denganmu namun tetap saja aku membutuhkan waktu untuk terbiasa seperti yang aku katakan sebelumnya".
Revan menghembuskan nafas panjang. Lalu Revan pun berjalan kearah tempat tidur besar yang berada tidak jauh dari mereka. Revan pun merebahkan tubuhnya.
"Sierra sini". Panggil Revan dengan suara yang sudah melembut. Bahkan tatapannya juga sudah kembali seperti biasanya tidak tajam seperti sebelumnya.
Sierra diam sejenak. Ia berusaha menimbang-nimbang. Haruskan Sierra menghampiri Revan yang saat ini sudah berbaring ditempat tidur? Tapi bagaimana jika Revan melakukan sesuatu diluar batas yang belum bisa Sierra berikan?. Namun jika Sierra tidak menghampirinya Revan pasti akan marah lagi dengannya.
Lagipula mau tidak mau Sierra memang akan tidur ditempat yang sama dengan Revan mengingat Sierra yang saat ini tinggal bersama dengannya. Sierra pun disibukan dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Sierra apa kamu tidak dengar omongan saya? Atau kamu memang tidak mau menghampiri saya?". Kini Revan sudah duduk diatas tempat tidur itu. Tidak berbaring seperti sebelumnya. Bahkan Revan sudah memperhatikan Sierra.
Sierra pun menarik nafas yang dalam. Ia berusaha mempersiapkan dirinya. Mempersiapkan dengan apa yang akan terjadi nanti dan apa yang akan Revan lakukan kepadanya.
Sierra harus bisa menerima semua itu mengingat Sierra yang saat ini adalah kekasih Revan dan mempunyai hutang dengan lelaki itu.
Perlahan Sierra pun berjalan kearah Revan. Hingga akhirnya kini Sierra sudah berada didepan Revan dan memilih duduk diujung tempat tidur itu. Sierra tetap berusaha menjaga jarak sambil berdoa Revan akan mengampuninya hari ini.
"Kenapa harus jauh begitu? Kamu tidak mau berada didekat saya?". Ucap Revan kembali sambil tetap memperhatikan Sierra.
Sierra pun menggeserkan tubuhnya perlahan hingga Ia benar-benar berada didekat Revan. Tanpa bicara Revan pun langsung menarik tubuh Sierra hingga Sierra berada didalam pelukannya. Untuk kesekian kalinya Sierra pun bisa merasakan kehangatan dari lelaki itu yang entah mengapa malah membuatnya merasa sangat nyaman.
"Saya harap kamu sepanjang hari ini merindukan saya Sierra. Karena saya pun begitu". Ucap Revan pelan namun bisa tetap terdengar oleh Sierra.
Sierra pun tersenyum. Kini Ia mulai menerima pelukan itu. Bahkan Sierra sudah membalas pelukan yang Revan berikan. Entah mengapa mendengar perkataan Revan yang merindukannya membuat Sierra merasa senang.
Membuat hati Sierra menjadi bergetar. Apakah ini tandanya bahwa tanpa sadar Sierra sudah menyukai Revan, direktur dari perusahaannya itu?.
"Sudahlah lebih baik kita beristirahat sekarang. Besok pagi kita harus mengikuti meeting dengan perusahaan clien dan tidak boleh terlambat".
Revan melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuhnya kembali. Sedangkan Sierra masih saja diam mematung dalam posisinya yang membuat Revan bangun kembali.
"Kenapa Sierra? Kamu belum ngantuk?". Tanya Revan sambil mengamati Sierra.
Sierra menggelengkan kepalanya. Jujur saja sebenarnya saat ini Sierra merasa sudah sangat lelah sekali. Ingin secepatnya beristirahat dan lelap dalam tidurnya.
Namun membayangkan dirinya yang akan tidur diranjang yang sama dengan Revan membuat jantungnya berdegup kencang. Apalagi tadi Revan baru saja memberikan pelukan hangatnya yang membuat Sierra semakin tidak bisa mengontrol perasaannya.
"Terus kamu kenapa? Kenapa wajah kamu malah jadi merah gitu? Jangan bilang saat ini kamu berpikiran kotor yang aneh-aneh". Revan tersenyum nakal
Sierra pun segera memegang pipinya. Lalu Sierra menatap Revan sebal. Walaupun lelaki ini baru saja menyentuh hatinya tetapi tetap saja lelaki ini sangat menyebalkan seperti biasanya.
Sierra pun segera bangun dari duduknya. Lalu Sierra berjalan kesamping tempat tidur lainnya dan menaruh beberapa bantal sebagai garis pembatas. Revan yang melihatnya pun mengerutkan keningnya.
"Baiklah aku akan tidur diranjang yang sama denganmu. Tapi ini adalah pembatas kita. Tidak boleh ada yang melewati batas itu". Ucap Sierra sambil menunjuk bantal-batal yang sudah terata rapih.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan melewati batas itu. Lagipula tubuhmu tidak semenarik itu Sierra jadi buat apa kamu ketakutan sampai membuat batas seperti ini". Revan tersenyum penuh arti lalu merebahkan tubuhnya kembali.
Sedangkan Sierra yang tidak bisa mengartikan senyuman Revan pun hanya bisa terdiam sebelum akhirnya Ia ikut berbaring diatas ranjang itu dengan jarak yang sangat jauh dari Revan.
__ADS_1
"Kita lihat saja besok pagi. Pasti Revan yang akan melewati batas itu dan akan mendekat kepadaku. Jika itu benar-benar terjadi maka aku tidak akan sungkan untuk membuatnya malu". Ucap Sierra didalam hati sebelum akhirnya Ia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
\*\*\*\*\*\*