
Atmosfir di sana berubah seketika, tat kala Lia melihat dengan jelas Cika yang keluar dari kamar Leo dalam kondisi setengah tak mengenakan pakaian.
Lia yang melihat peristiwa tersebut mendadak tak dapat mengatakan apapun. Seolah ada yang menyangkut di kerongkongannya.
Padahal beberapa saat yang lalu, ketika ia tengah menunggu jadwal penerbangan di bandara kota B, ia masih bisa berbincang dengan Feri perihal maksud dirinya menjadi karyawan daripada perusahaan Cakramulia.
***
Tepat 2 jam lalu, ketika Lia dan Feri masih menunggu gilkran penerbangan mereka di bandara.
Maaf, pak. Apakah saya boleh minta tolong, pak?" Ucap Lia.
"Iya. Ada apa?" Jawab Feri.
Menghela nafas sejenak, Lia berusaha berfikir dengan menyusun kalimat yang tepat untuk mengatakannya kepada Feri.
"Apakah boleh, jika saya tidak ikut kembali ke kpta A bersama bapak? Ada hal yang harus saya pastikan dulu dengan suami saya, pak." Ujar Lia. Ia masih penasaran dengan apa yang di maksud dengan perkataan Cika di dalam panggilan tersebut.
"..." Feri nampak diam, tidak langsung menjawab pertanyaan Lia.
"Tentu saja. Apa kamu bisa sendiri? Jika mau, saya dapat menemanimu dulu. Tapi, sepertinya itu bukan urusan saya. Tidak seharusnya saya ikut campur dalam urusan kalian." Ucap Feri.
Ia nampak menyunggingkan senyumannya kepada Lia, namun terlihat sedikit semburat keraguan didalamnya. Seolah ia ingin di libatkan pula, karena bagaimanapun juga dia adalah atasannya.
Lia yang mendengar itupun langsung menoleh kearah Feri dengan tatapan bahagianya. Ia yang tel memiliki siapapun, kini dapat berbagi suka duka yang ia alami dengan seseorang yang bahkan belum pasti sebagai saudaranya ataupun bukan.
"Tentu saja anda boleh, pak. Saya sangat senang dengan keputusan anda. Terimakasih. Terimakasih banyak, pak." Sahut Lia dengan penuh kegembiraan.
Melihat raut wajah Lia yanh kembali bahagia, membuat Feri kembali merasakan lagi debaran-debaran kecil pada dirinya.
'Dia telah menikah. Suaminya adalah tuan mida Leo. Sadarlah, Feri.' Batinnya menguatkan hatinya agar tak terkecoh dan melakukan hal ceroboh, yang dapat mempengaruhi perusahaannya.
"Bagaimana kalau kita kembali ke hotel itu, pak? Saya akan jelaskan kepada mas Leo perihal pertengkaran kami kemarin." Ujar Lia.
"Iya. Akan saya antar." Jawab Feri dan turut meninggalkan kursi tunggu untuk para calon penumpang pesawat penerbangan menuju kota A.
__ADS_1
Tepat ketika panggilan untuk penumpang kota A, dan pesawat pun terbang melewati bandara tersebut. Lia dan Feri pun kembali ke hotel tempat mereka menginap dan bertemu dengan Leo sebelumnya.
'Ada hubungan apa sebenarnya mas Leo dengan nona Cika? Apakah lebih dari atasan dan karyawan? Aku harus mendapatkan kejelasannya hari ini juga!' Batin Lia seraya meremas tas selempang yang ia kenakan, bersamaan dengan kembalinya masa dimana Lia tengah melihat Cika tersungkur di lantai depan kamar Leo dalam keadaan setengah tak berbusana.
Leo yang melihat kehadiran Lia dan Feri pun turut terkejut. Pasalnya ia yakin bahwa ini akan menjadi kesalahpahaman besar antara dirinnya dan juga Lia.
"Ini semua hanya salah paham." Ujar Leo dengan menghampiri Lia.
Ia mencengkeram pergelangan tangan Lia dan berkata, " dia yang datang menggoda saya lebih dulu." Ucapnya sembari menatap wajah sendu Lia.
Menghela nafas, Lia melepaskan cengkeraman tangan Leo dari tangannya. Kemudian ia menghampiri Cika yang masih tersungkur dengan wajah memerah.
"Apa?! Kamu pasti ingin menertawaiku kan?!!" Bentak Cika pada Lia yang berada di hadapannya.
Masih dalam keadaan tersungkur, Cika mencoba meraih lengan Leo dan mengucapkan isi hatinya selama ini.
"Tuan muda. Saya sangat mencintai anda. Tidakkah anda melihat bagaimana pengorbanan saya terhadap anda? Mengapa anda lebih memilih wanita kampungan itu daripada saya yang tulus mencintai anda!!" Serunya dengan meraih tangan Leo.
Namun dengan segera Leo menepis tangan itu, dengan dingin dan tatapan datarnya ia berkata.
"Seharusnya dulu saya tidak menerimamu. Tidak ada yang berhak mencintai saya selain wanita ini." Ujar Leo dengan memeluk Lia dalam dekapannya.
Mendengar kalimat yang terlontar dari wanita yang telah menjadi sekretarisnya selama 3 bulan ini, membuat Leo semakin naik pitam.
Dengan kasar ia menjambak rambut Cika seraya berkata dengan nada penuh penekanan.
"Kyaa!!" Teriak Cika saat ia merasakan sakit pada kepalanya.
Lia yang melihat itupun tak tinggal diam, ia dengan sigap menolong Cika.
"Apa yang anda lakukan?! Mengapa anda tidak dapat merubah sikap anda? Saya mohon jangan kasar terhadap wanita." Ucap Lia dengan melepaskan tangan Leo dari rambut Cika.
Sedangkan Cika segera menepis tangan Lia yang memegang kedua pundaknya.
"Lepas!!" Bentak Cika seraya mendorong tubuh Lia.
__ADS_1
Melihat itu, Leo segera menatap tajam Cika dan memakinya.
"Yang wanita murahan itu kamu. Dengan siapa kamu bicara sekarang? Besar juga nyalimu, ya?" Ucap Leo dengan datar.
"Mengapa? Mengapa anda begitu membela wanita itu?! Memangnya seberapa pentingnya dia bagi anda?!" Seru Cika kembali.
"Dia..." Ucap Leo lirih dengan melirik Lia yang berada di sebelahnya.
Sedangkan Lia hanya menatap Leo dan dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya.
"Dia bukan siapa-siapa." Ucap Leo dengan menatap Lia dengan datar, melihat itupun Lia terkejut bukan main.
Feri yang mendengar itupun nampak terkejut, "Apa?! Bukannya anda dan nona Lia-" Perkataan Feri terhenti saat tangannya di sentuh oleh Lia.
Dengan gelengan kecil dari kepala Lia, Feripun paham maksud gelengan yang di berikan oleh Lia kepadanya.
Lia sempat berfikir jika Leo akan membeberkan status pernikahan mereka kepada Cika. Nyatanya perkataan Leo lebih membuat sakit hatinya, terutama karena mendapati sang suami bersama wanita lain semalaman suntuk.
"Lalu, kenapa anda begitu khawatir dengannya di rumah sakit kemarin?" Tanya Cika.
"Yang saya tahu, itu bukan urusanmu." Ucapnya dingin dan kembali memasuki kamarnya.
Namun sebelum memasuki kamarnya, ia melanjutkan kalimatnya, "mulai hari ini kamu di pecat secara tidak hormat. Sebaiknya kamu kemasi barangmu dan segera enyah dari hadapan saya!!" Sambungnya, ia pun menyempatkan diri melihat Lia yang menundukkan kepalanya tanpa melihat dirinya.
"Tapi tuan, tuan. Saya mohon ampuni saya, tuan!!" Seru Cika dengan menggedor-gedor pintu kamar Leo.
Membuat Lia merasa tak tega, ia pun menghampiri Cika.
"Jangan sentuh saya!! Kamu pasti senang sekali kan dengan keadaan saya seperti ini!!" Bentak Cika dengan kembali mendorong tubuh Lia.
"Tidak. Saya hanya kasihan dengan anda. Kenapa anda mengejar pria yang bahkan tidak mencintai anda. Bukankah itu menyakitkan?" Ucap Lia lembut.
"Jangan berlagak kamu lebih baik dari saya!! DTuan mida saja tidak menganggapmu. Hahaha. Lihatlah dirimu sendiri sebelim melihat orang lain!!" Hardiknya sebelum meninghalkan Lia memasukk kamarnya, tepat di hadapannya Feri tengah menatapnya dalam diam. Sedangkan Cika hanya menatap sinis kearahnya.
Hati Lia terasa remuk, terutama ketika Leo dengan teganya mengatakan bahwa ia bukanlah siapa-siapa baginya.
__ADS_1
Benarkah demikian?
Bersambung..