
Revan sedang menunggu Sierra dengan pikiran yang terus teringat dengan berbagai kejadian saat dirinya bersama dengan Sierra. Entah mengapa Revan merasa nyaman ketika berada didekat sekretarisnya itu.
Bahkan Revan sangat tertarik dengan sosok polos dan lugu Sierra yang sangat berbeda dengan wanita-wanita yang dulu pernah bersama dengan Revan.
Segala sikap dan tingkah laku Sierra tidak pernah luput dari pengamatan Revan yang membuat Revan semakin ingin mengenali sosok Sierra lebih mendalam.
Ini adalah pertama kalinya Revan merasa tertarik dengan seorang wanita. Karena sebelumnya Revan hanya menjadikan wanita sebagai mainannya untuk memenuhi hasratnya.
Namun hal ini berbeda ketika Revan bersama dengan Sierra. Revan seakan tidak ingin menyentuh tubuh Sierra dengan tangannya. Bahkan Revan tidak ingin menggunakan tubuh Sierra seperti yang biasa Revan lakukan kepada kekasihnya.
Sierra adalah sosok wanita yang berbeda dan karena itulah Revan ingin menjaga dan juga melindungi Sierra. Revan tidak ingin mengotori tubuh Sierra dengan perbuatannya.
Namun disaat Revan sedang disibukan dengan berbagai ingatannya, suara dering ponsel Revan pun terdengar. Revan segera mengambil ponsel yang berada didalam saku celana dan menjawab panggilannya.
“Halo kamu sudah dimana Vin?" tanya Revan tanpa basa basi seperti biasanya.
“Aku sudah didepan rumahmu. Tapi terkunci gimana aku bisa masuk," keluh seorang lelaki yang biasa dipanggil Alvin itu.
“Sebentar. Akan aku buka pintunya,"
Revan memutuskan panggilannya. Lalu Revan segera berjalan keluar. Namun langkah Revan langsung terhenti ketika tanpa sengaja ia melihat sebagian tubuh Sierra yang sedang berganti pakaian.
Revan yang terkejut segera membalikan tubuhnya. Lalu dengan cepat ia berjalan kearah dapur kembali untuk menenangkan dirinya.
“Sial kenapa aku harus melihat tubuh Sierra seperti itu? Apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Revan panik.
Revan pun menarik nafas yang dalam. Ia berusaha mengontrol dirinya kembali. Mencoba menahan gejolaknya seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Harus Revan akui semenjak Revan melihat Sierra yang menggunakan pakaian tipis dan rambut yang terikat Revan memang mulai tergoda.
Meskipun bentuk tubuh yang Sierra miliki tidaklah sexy seperti wanita-wanita lainnya, tetapi tubuh kecil dan mungil yang dimiliki Sierra terlihat indah di mata Revan. Revan pun menghembuskan nafas panjang. Ia berusaha menjernihkan pikirannya. Mencoba membuang segala pikiran kotor yang ada di otaknya.
Hingga ketika Revan sudah bisa mengendalikan dirinya, ia pun berjalan keluar kembali untuk menghampiri Sierra. Dari kejauhan Revan bisa melihat sosok Sierra yang sedang disibukan dengan ponselnya. Revan pun tersenyum melihatnya.
“Ternyata kamu sedang asik sendiri ya," kata Revan yang berjalan mendekati Sierra.
Sierra yang terkejut tanpa sadar menjatuhkan ponsel yang sedari tadi dipegang olehnya. Revan pun tersenyum dan mengambil ponsel tersebut.
__ADS_1
“Apa yang sedang kamu lakukan dengan ponselmu itu?"
Revan yang penasaran langsung menghidupkan kembali layar ponsel tersebut. Dan saat itulah terlihat foto-foto tampan artis Korea yang ternyata menjadi pencarian Sierra di ponselnya. Revan pun menatap Sierra kesal. Sedangkan Sierra yang merasa malu hanya menundukan wajahnya.
“Ternyata kamu sedang asik melihat wajah lelaki lain. Melihat saya saja tidak mau tetapi lelaki lain malah dicari-cari," keluh Revan sambil mengembalikan ponsel Sierra. Sierra pun mengambil ponselnya itu. Lalu Sierra menatap Revan yang saat ini mulai kesal.
“Maafkan saya direktur," ucap Sierra pelan namun masih bisa terdengar.
“Mau berapa kali kamu meminta maaf kepada saya Sierra? Sehari ini sudah berapa banyak permintaan maaf yang kamu ucapkan itu!”
Sierra hanya terdiam. Dia menundukan wajahnya semakin dalam. Sedangkan Revan yang sudah terlanjur kesal hanya menarik nafas yang dalam. Entah mengapa ia merasa marah melihat Sierra yang memperhatikan wajah lelaki lain.
Walaupun lelaki itu adalah artis Korea tapi tetap saja Revan tidak bisa menerimanya begitu saja. Revan ingin tatapan Sierra hanya tertuju pada Revan seorang tanpa teralihkan dengan lelaki manapun.
Hingga akhirnya suara dering ponsel Revan pun kembali terdengar. Revan segera mengambil ponselnya itu dan menjawab panggilnya dengan sebal.
“Apa lagi!” jawab Revan dengan suara sedikit membentak.
“Hei..Hei.. kenapa kamu yang marah kepadaku? Seharusnya aku yang marah padamu karena sudah menunggumu diluar dari tadi. Kamu menyuruhku untuk cepat datang tapi kamu malah mengabaikan aku begitu saja?"
“Apa yang membuatmu jadi pikun Revan! Lagian tidak biasanya kamu mengunci pintu rumah seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Alvin emosi.
“Dan lihatlah dirimu yang baik-baik saja. Tidak terluka sedikitpun. Jadi mengapa kamu menghubungiku dan menyuruhku untuk cepat-cepat datang. Kamu sedang mengerjaiku!" Alvin terus meluapkan kekesalannya.
“Bukan aku yang terluka. Tapi wanita yang ada diruang tamuku yang terluka,"
Alvin mengerutkan keningnya. Lalu Alvin segera berjalan kearah ruang tamu yang diikuti langkah Revan dari belakang. Dari kejauhan keduanya pun bisa melihat seorang gadis yang menggunakan dress berwarna hitam sedang terduduk lesu diatas sofa.
“Wanita itu siapa? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" tanya Alvin berbisik.
“Sudah jangan banyak bertanya. Cepat periksa kakinya. Sepertinya dia terkilir,"
Revan melanjutkan langkahnya kembali yang kini diikuti Alvin dibelakangnya. Hingga akhirnya kini Revan dan Alvin sudah berada tepat didepan Sierra. Sierra pun menatap keduanya secara bergantian.
“Ini temanku Alvin. Dia seorang dokter. Dia akan memeriksa kondisi kakimu itu," Revan menjelaskan.
__ADS_1
Sierra hanya mengganguk. Lalu Revan pun menatap kearah Alvin. Alvin yang seakan mengetahui arti tatapan Revan segera mendekat kearah Sierra.
“Halo senang bertemu denganmu. Namaku Alvin. Aku akan memeriksa kakimu sekarang," sapa Alvin ramah. Sierra pun tersenyum
“Hai aku Sierra. Maaf sudah merepotkan anda,"
“Ah tidak apa-apa. Ini sudah menjadi tugas saya jadi tidak perlu sungkan," Alvin membalas senyuman Sierra.
Revan yang memperhatikan keduanya pun langsung memberikan tatapan tajam. Revan tidak suka dengan sikap Alvin yang terlalu ramah kepada Sierra. Dan Revan juga tidak suka Sierra yang memberikan senyumannya kepada Alvin. Revan hanya ingin senyuman Sierra hanya miliknya seorang.
“Hei..Hei..sudah cukup dengan perkenalan kalian. Sekarang cepat periksa kondisi kakinya itu," kata Revan kesal.
Alvin yang menyadari kekesalan Revan hanya terkekeh. Lalu Alvin segera mengeluarkan peralatan medisnya dan memeriksa kondisi kaki Sierra. Revan pun terus memperhatikan tanpa teralihkan sedikitpun.
“Kaki kanannya memang terkilir. Ini aku sengaja membalutnya untuk menghilangkan rasa sakit. Nanti kamu juga bisa minum obat pereda nyeri ini dan aku sarankan agar kamu tidak terlalu banyak berjalan dan beraktivitas," Alvin menjelaskan sambil membalut kaki Sierra dengan perban yang dibawanya.
“Apakah kondisinya parah?" tanya Revan yang khawatir.
“Tidak ini hanya terkilir biasa. Seharian beristirahat juga bisa sembuh,"
Seketika kekhawatiran Revan pun langsung menghilang. Ia bisa bernafas lega karena kondisi Sierra tidaklah seburuk yang dipikirannya. Karena jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sierra maka Revan tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya dan juga Jeni yang membuat Sierra menjadi seperti sekarang ini.
"Jadi bisakah kamu memperkenalkan aku dengan wanita cantik ini Revan," ucap Alvin dengan senyum penuh arti.
Revan memberikan tatapan dinginnya kepada Alvin. Sedangkan Alvin mulai terkekeh kembali. Alvin pun segera membereskan peralatan medisnya.
“Baiklah aku mengerti. Aku tidak akan mengganggu kalian. Semoga kamu cepat sembuh Sierra. Aku pamit pergi dulu. Sampai bertemu lagi," Alvin mengedipkan sebelah matanya.
“Terima kasih banyak Alvin," jawab Sierra dengan senyum.
Revan yang tidak tahan dengan tingkah manis keduanya langsung menarik tangan Alvin untuk pergi. Alvin pun melambaikan tangannya kepada Sierra sambil mengikuti langkah Revan. Kali ini Revan sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia benar-benar kesal dengan tingkah laku sahabatnya itu.
“Pergilah. Aku tidak akan mengantarmu keluar,"
Revan mendorong tubuh Alvin keluar dari rumahnya. Lalu Revan langsung menutup pintu rumah tersebut dan menguncinya. Revan tidak akan membiarkan Sierra dekat dengan laki-laki lain meskipun itu adalah Alvin sahabatnya sendiri. Revan sudah sangat hafal dengan sifat Alvin yang suka mempermainkan seorang wanita sama seperti dirinya.
__ADS_1