
Dan Sinta pun tak dapat menyembunyikan seringainya dari hadapan Leo tanpa di ketahui oleh Lia.
"Kamu.." Gumam Leo dengan menggertakkan giginya.
Sedangkan Sinta tak menggubris gertakan Leo dan hanya melepaskan pelukannya terhadap Lia.
Seraya mengelus pelan perut Lia, ia pun tersenyum sembari memberikan ucapan selamat kepada Lia.
"Selamat ya, Lia. Kamu harus menjaga kesehatan mu dan juga buah hati mu." Ucapnya lembut dan kembali menuju ke kursinya, tanpa mengindahkan tatapan mematikan yang di layangkan oleh Leo kepadanya.
"Naah. Begini kan lebih baik. Untuk apa ribut ribut? Masa lalu tidak dapat di ubah, tapi akan lebih baik jika kita saling menjaga saja. Menyayangi dan juga menghormati di antara sesama akan membuat kita lebih menikmati hidup ini." Ucap kakek Edward seraya menikmati kopinya yang telah tersedia di atas meja.
"Masa lalu memang tidak dapat di ubah, tapi bagaiamana dengan pelaku dari kejadian itu? Bagaimana mungkin kakek melupakannya begitu saja?!" Seru Leo dan memberikan tatapan melotot kepada sang kakek.
Seolah tak terima dengan pendapat dan nasihat dari sang kakek, Leo pun membantah perkataan yang di sampaikan oleh kakek Edward barusan.
Lia yang melihat itu pun tak ingin banyak bicara, ia hanya mengamati perlakuan Leo yang begitu benci nya terhadap Sinta.
"Sudah, CUKUP!!" Sekali hentak, Leo segera menduduki tubuhnya di atas kursi kembali. Setelah mendengarkan gertakan dari sang kakek.
Dengan menatap Leo dengan tatapan yang tak kalah tajamnya, kakek Edward pun menghela nafas panjang sebelum memulai perkataannya kembali.
"Kita sudah membuat kesepatakan, tidak akan membahas hal ini lagi. Kenapa kamu masih membahasnya? Jalanin saja hidup mu dengan baik, dan lanjutkan tugas mu sebagai penerus perusahaan." Jelas kakek Edward kepada Leo, tanpa di sadari Sinta yang mendengar pernyataan langsung dar sang mertuanya itu pun, seperti menunjukkan ekspresi ketidak sukaannya terhadap perkataan sang kakek Edward.
Menghela nafas panjang, Sinta hanya terdiam dan memberikan senyuman terbauknya untuk saat ini.
"Tidak usah berfikir yang bukan bukan. Sudah hampir terik, sebaiknya kita mulai makan siangnya." Ucap sang kakek.
Seraya mengangkat tangannya ke atas, dan memberi isyarat kepada para pelayan di rumah tersebut. Seluruh hidangan yang telah di siapkan oleh para pelayan sedari tadi pagi buta akhirnya tersaji dengan khitmatnya di hadapan seluruh penghuni keluarga NusaJaya saat ini.
Hidangan yang terlihat cukup mewah terpampang di atas meja makan itu, membuat kakek Edward tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bersulang. Untuk kehamilan Adelia, istri dari Leonardo NusaJaya. Semoga kebahagiaan selalu pada mu, cucu ku." Ucap sang kakek dengan mengangkat sebuah gelas berisi anggur merah di tangan kanannya.
"Bersulang." Sahut Leo dan Lia yang turut mengikuti perlakuan sang kakek.
Begitu pula dengan Sinta yang tak luput pula mengikuti hal tersebut, meski perih di dadanya karena ia beluk juga memiliki momongan meskipun pernikahannya dengan Dwi telah berlangsung cukup lama.
Melihat ekspresi Sinta yang nampak lesu, Lia mencoba memulai pembicaraan kepadanya.
"Ada apa, bibi Sinta? Apakah ada yang mengganggu anda?" Tanya Lia dengan menyentuh pundak Sinta pelan.
Menatap Lia dengan tatapan wajah yang kosong untuk beberapa saat, Sinta segera tersadar dari lamunannya dan kembali memberikan senyumannya kepada Lia. Seraya menjawab pertanyaan Lia yang di lontarkan kepadanya.
"Ah, tidak. Saya hanya kefikiran bagaimana jika saya memiliki keturunan juga. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan jika ada seorang anak kecil di dalam rumah tangga kami." Ujarnya seraya menundukkan kepalanya dan mengelus perutnya.
Lia yang melihat itu pun hanya termenung menatap Sinta yang terlihat begitu pilu dari raut wajahnya.
"Maaf jika saya salah, tapi.. apakah anda belum memiliki keturunan?" Tanya Lia berusaha berhati hati dalam pertanyaannya yang satu ini.
"Apakah anda sudah memeriksakan diri anda ke dokter spesialis kandungan?" Tanya Lia lagi.
"Sudah." Jawab Sinta singkat, namun nada bicaranya terdengar seperti enggan menjawab pertanyaan Lia.
"Kenapa anda tidak mencoba untuk mengadopsi anak saja dulu? Kata beberapa orang yang saya kenal. Jika ingin memiliki keturunan namun belum juga kesampaian, bisa dengan cara mengadopsi anak dari panti asuhan." Ujar Lia dengan semangat yang tinggi, ia berharap dapat memberikan solusi kepada Sinta atas permasalahannya saat ini.
Namun Sinta tidak menunjukkan sikap ramahnya sama sekali, sebaliknya. Ia terlihat semakin muak dengan pernyataan Lia yang begitu mengganggu menurutnya.
"Kebetulan saya memiliki panti asuhan yang dapat menjadi pilihan untuk anda, tapi jika anda memang berkenan dengan pendapat saya saja. Heheh." Sambung Lia dengan menyunggingkan senyumnya setulus yang ia bisa.
Sinta pun hanya diam dan mencoba menutupi perasaannya yang terlihat semakin sebal dengan sikap sok ramah yag di berikan Lia kepadanya.
"Bagaimana, bi Sin-"
__ADS_1
BRAKK!!
Perkataan Lia terputus dikarenakan oleh Sinta yang menatapnya dengan tatapan tajam, seraya menggebrak meja di hadapannya.
Membuat Lia terperanjat kaget dan tak tertinggal pula beberapa pelayan yang melihatnya pun turut menunjukkan ekspresi terkejutnya.
"Ya ampun. Nona Sinta berani sekali. Padahal kan ada tuan besar Edward di sini." Ujar Sari yang melihat perlakuan Sinta kepda Lia.
"Iya. Dulu juga gitu, tapi untungnya dulu nggak ada tuan besar Edward. Sekarang apakah dia bisa bertahan di keluarga NusaJaya, kalau sikap dan perilakunya saja seperti itu." Sahut Eneng dengan terus mengamati Sinta di balik gorden dapur yang teruntai di antara pintu pembatas.
Begitulah desas desus dari para pelayan di dapur, seolah tengah menikmati tontonan drama mereka yang berada tepat di hadapan mereka saat ini.
Kembali ke meja makan yang kini tengah begitu terasa canggungnya. Atmosfir di ruangan itu pun berubah drastis dari bahagia dan kini menjadi seperti tak ingin berlama lama berada di ruangan itu.
"An-anda kenapa, bi Sinta?" Tanya Lia dengan menyentuh bahu Sinta lembut.
Namun tangan Lia segera di tepis oleh Sinta, tat kala ia merasakan sentuhan di bagian pundaknya.
Tentu saja hal itu membuat Lia terkejut bukan main. Wanita yang terlihat terhormat dengan pakaian mewah serta paras yang tak kalah bangsawan, layaknya wanita kaya yang selama ini ia ketahui.
Menoleh ke Lia dengan mata yang nampak memerah dan wajah yang memerah pula, Sinta pun membuka mulutnya memberi pernyataan yang sama sekali tidak di duga oleh Lia.
"Jangan karena kamu sekarang bisa hamil, jadi kamu bisa mengatur atur saya, ya. Kamu bahkan tidak pantas menyentuh saya sejengkal saja!! Kamu harus sadar diri, siapa kamu dan siapa saya!!" Serunya tanpa perduli lagi dengan tatapan Lia yang begitu syok akan perkataan Sinta kepadanya.
Lia yang melihat sendiri perlakuan Sinta kepadanya, seakan tak dapat mengatakan apa pun dan hanya membungkam mulutnya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Sinta telah menunjukkan dirinya smyang sesungguhnya di hadapan Lia?
Lalu, bagaimanakah reaksi Leo dan kakek Edward atas perlakuan Sinta kepada Lia?
__ADS_1
Bersambung..