Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Perasaan Cemburu


__ADS_3

Waktu seakan berhenti, saat Lia mengetahui siapa sosok di hadapannya sekarang ini.


'Hah?! Kenapa mas Leo ada disini? Apa jangan-janga, perusahaan yang akan membeli produk dari perusahaan pak Feri adalah mas Leo? Aku harus bagaimana ini? Aku gugup banget.' Batin Lia. Ia dapat merasakan telapak tangannya yang basah karena keringat, saking gugupnya ia saat ini.


"Benar. Apakah anda, pemilik perusahaan NusaJaya?" Tanya Feri dengan antusias.


Ia segera berdiri dan menjabat tangan pria yang statusnya sebagai suami Lia, namun belum diketahui olehnya.


Dengan wajah datar, Leo pun menjabat kembali tangan Feri.


Tak luput pandangannya pun tertuju pada Lia yang turut berdiri, menyambut kedatangan sang penolong perusahaan milik keluarga Feri.


"Lalu, siapakah wanita ini? Apakah dia sekretaris pribadi anda?" Tanya Leo, seolah-olah ia turut andil dalam permainan yang dilakukan oleh Lia.


Tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya, Feri pun memjawab pertanyaan Leo dengan mudahnya.


"Benar. Dia adalah sekretaris pribadi saya." Jawab Feri.


"Selamat siang, tuan. Saya Lia, sekretaris pribadi tuan Feri. Mari, silahkan duduk." Ujar Lia dengan memgulurkan tangannya kepada Leo, namun tak kunjung disambut oleh Leo.


Malah sebaliknya, Leo lebih memilih duduk dan mengabaikan sala. perkenalan Lia. Hingga suara kekeh kecil keluar dari mulut wanita yang berada disebelah suaminya itu.


"Pfft.." Ejek Cika yang kemudian mengulurkan tangannya kepada Feri.


"Selamat siang, tuan Feri. Saya Cika, saya adalah sekretaris pribadi tuan Leonardo NusaJaya." Ucap Cika dengan arogan dan turut duduk.


Tanpa mengindahkan Lia yang sedari tadi tangannya kosong, tanpa ada yang hendak menjabat tangannya. Dan mereka pun duduk berhadap-hadapan.


Tak tertinggal pula, Cika. Sekretaris pribadi Leo yang membuat Lia mau tak mau harus memberi senyuman sebaik yang ia bisa. Untuk menutupi situasi yang sebenarnya.


'Inikan wanita yang ada di artikel yang ku baca tadi malam. Memang cantik, berbeda sekali denganku. Hhh.. Pokoknya aku harus selesaikan dulu penyelidikanku. Setelah itu, aku akan menjelaskannya pada mas Leo. Semoga dia mau mengerti.' Batin Lia, menguatkan dirinya sendiri.


Kenyataan bahwa ia belum bisa secepat ini menceritakan situasi yang sebenarnya kepada suaminya. Tapi keadaan saat ini, membuatnya seakan-akan seperti ketahuan sedang berselingkuh. Padahal, ia sedikitpun tidak ada niatan seperti itu.

__ADS_1


"Bisa kita mulai?" Ujar Leo dingin.


"Ah iya, baik. Ini adalah beberapa produk yang telah kami pasarkan sejak berta-" Perkataan Feri terpotong saat telapak tangan Leo yang putih dan mulus itu memberi isyarat untuk menghentikan penjelasan dari Feri.


"Ada apa ya, tuan?" Kata Feri dengan perasaan heran.


"Biarkan sekretaris pribadi anda yang menjelaskan. Untuk apa membawanya jika ia tidak dapat menjelaskan." Ucap Leo dingin.


Sontak saja membuat Lia terkejut, tapi ia telah menghafal dan juga memahami meskipun tidak semuanya. Ia harus bisa menghadapi situasi saat ini demi keberlangsungan perusahaan ini.


Dengan mengambil laptopnya dan juga beberapa lembar dokumen serta data yang telah ia siapkan, tak butuh waktu lama, Lia menjelaskan dengan rinci perihal produk dari perusahaan Cakramulia.


"Iya. Baiklah. Sebelumnya, saya akan menjelaskan produk ini dan ini adalah yang memiliki kualitas paling baik, sedangkan produk ini untuk bagian bla.. bla.. bla.."


Lia menjelaskan dengan antusias dan juga semangat yang membara bagaikan api. Ia tak lagi memikirkan perihal perasaannya saat ini.


Ia benar-benar fokus dengan dunianya saat ini. Bahkan membuat Feri dan juga Leo tercengang, saking detailnya penjelasan yang di jabarkan oleh Lia.


'Kenapa dia bisa sehebat ini? Padahal dia baru bekerja 2 hari, tapi dia sudah sepahan ini tentang produk, penjualan dan juga pemasaran di market. Hm.. Menarik..' Batin Leo.


Membuat Lia terkejut dan menghentikan sejenak prnjelasannya.


"Dan bahan ini baiknya untuk.. ugh.." Penjelasan Lia terpotong, tepat saat ujung sepatu Leo menyentuh kakinya.


Membuatnya bergidik dan menatap pria di hadapannya saat ini.


"Ada apa, nona? Mengapa anda berhenti?" Ujar Leo tanpa rasa bersalah dengan seringai kecil di bibirnya.


"Ehem.. Dan bahan ini, bqiknya untuk.. ah.." Penjelasan Lia lagi-lagi terpotong, saat ia merasaka ujung kaki Leo yang tertutup sepatu kembali menyentuh kakinya. Lebih tepatnya pangkal pahanya yang cukup sensitif.


"Maaf. Sepertinya sekian penjelasan dari saya. Selanjutnya, mungkin akan lebih baik jika tuan Feri yang meneruskan." Kata Lia dengan wajah yang memerah.


Ia merasa marah dan juga malu, hingga ia lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lainnya.

__ADS_1


Tentu saja hal tersebut membuat heran Feri dan juga Cika. Seakan ada yang tidak mereka ketahui.


***


Dua jam telah berlalu semenjak meeting itu bermula, kini kedua pemimpin perusahaan itu sepakat membuat perjanjian jual beli yang sah.


Membuat Feri lega, begitu pula dengan Lia. Ia merasa bangga dapat memberi harapan kembali kepada perusahaan yang hampir bangkrut itu.


"Mari silahkan disantap dulu, makan siangnya." Ujar Cika seraya memotong steak milik Leo yang harumnya semerbak, membuat Lia ingin memakannya juga.


'Hmm. Enak banget. Itukan kesukaanku. Mas Leo curang. Dia makan steak, sedangkan aku di hidangkan seafood. Huh!!' Batin Lia tanpa sadar ia menggigit bibur bawahnya menahan rasa ingin memakan steak tersebut.


Leo yang menyadari gelagat Lia yang tak tahan melihat steak kesukaannya itu, harus sekuat tenaga menahan rasa gemas melihat istrinya yang nampak imut dan juga menggoda karena bibirnya yang ia gigit sedari tadi.


"Hm. Saya tidak lapar. Untuk anda saja, anggap saja sebagai hadiah dari saya karena telah menjelaskan dengan baik." Ucap Leo yang semakin membuat Cika dan Feri merasa heran bukan main.


'Hah? Kenapa diberikan kepada wanita itu? Sialan!! Sudah capek-capek motongin, eh, malah dikasihkan ke cewek nggak jelas ini.' Batin Cika dengan senyum kecutnya saat Lia menyantap stesk tersebut.


Sedangkan Leo, ia hanya menyeruput kopinya seraya menatap Lia yang sedang lahap-lahapnya menyantap steak pemberiannya.


'Kenapa aku merasa mereka memiliki suatu hubungan?' Batin Feri dengan segala macam fikirannya.


"Anda tidak menyantap hidangannya, tuan Feri?" Ucap Leo kepada Feri.


"Tidak. Saya alergi seafood." Ujarnya.


Memdengar itu pun, Lia langsung terkejut. Ia pun menyodorkan steak pemberian Leo kepada Feri.


"Ini, pak. Anda makan saja punya saya. Saya makan seafoodnya saja. Saya tidak memiliki alergi terhadap makanan apapun. Saya juga tadi hanya makan satu potong saja." Ujar Lia dengan menyodorkan piringnya yang berisi steak itu kepada Feri.


"Hahaha. Tidak apa-apa, saya bisa makan yang lainnya." Tolak Feri.


"Tapi anda 'kan belum makan apapun sedari tadi pagi, pak." Ucap Lia memaksa. Hingga membuat Leo merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Cemburu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2