
Pandangan keduanya bertemu, seolah tak ada yang menghalangi keduanya. Suara detak jantung keduanya pun menjadi irama tersendiri di situasi pada saat ini.
"Ma-maaf, mas. Bisa tolong lepaskan tangan saya?" Ucap Lia dengan berusaha menarik kembali tubuhnya.
Namun usahanya tak cukup berhasil untuk melepaskan diri dari cengkeraman sang suami, hingga kini ia merasakan tubuhnya tertarik menimpa tubuh Leo yang masih terbaring.
"Eh. Mas Leo. Kenapa tiba-tiba meluk? Kita sebaiknya segera ke ruang makan. Makan malam sudah di siapkan, kenapa anda lama sekali tidurnya?" Ujar Lia yang masih berada di dekapan sang suami.
Tak ada jawaban apapun yang terlontar dari Leo, hingga membuat wanita berusia 22 tahun itu mendongakkan kepalanya, mencari tahu apa yang tengah di lakukan oleh pria di hadapannya saat ini.
"Diamlah. Biarkan begini saja dulu, sebentar saja." Ucapnya lembut seraya mendekap kembali tubuh Lia. Membuatnya kembali berada dalam pelukan sang suami.
Lia yang melihat itu pun hanya diam dalam dekapan sang suami, hingga kini pandangan keduanya pun bertemu kembali.
Membuka mulutnya, seakan hendak mengatakan sesuatu. Leo kembali mengatupkan bibirnya dan menyentuhkan dahinya ke dahi Lia. Membuat Lia terheran-heran dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh Leo kepadanya.
"Ada apa? Kenapa anda terlihat gelisah?" Tanya Lia kepada Leo yang mejauhkan kepalanya, dan mendaratkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
Diam sesaat, Leo tak langsung menjawab pertanyaa Lia. Ia hanya menghela nafs dan membuka matanya, menampakkan kedua mata hitam yang bahkan dapat Lia sendiri pantulan dirinya dari bola mata tersebut.
'Baru ku sadari, mata mas Leo sangat indah.' Batin Lia yang seaka terperosot kedalam indahnya kegelaapan yang trrlihat dari kedua bola mata Leo.
"Bisakah. Bisakah kamu berhenti dari perusahaan itu?" Tanya Leo tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Terdiam, Lia tak jllangsung menjawab pertanyaan sang suami. Sebenarnya ia ingin sekali berbagi cerita, perihal dirinya dan juga hal yang baru ia ketahui. Terutama jati dirinya yanh sesungguhnya, namun seakan lidahnya kelu dan tak dapat mengucapkannya semudah itu.
"Tidak, mas." Ucap Lia sembari beranjak dsri pelukan Leo dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang berukuran king size tersebut.
"Kenapa?" Tanya Leo dengan turut duduk di samping Lia dan menatap wanita yang telah menjadi momok dalam hidupnya.
"Apakah ini ada kaitannya dengan perkataanmu tempo hari?" Sambung Leo menanyakan hal yang membuat Lia langsung menolehkan kepalanya, menatap Leo.
"Perkataan saya yang mana, mas?" Tanya Lia, pasalnya ia banyak sekali mengatakan bebebrpa hal kepada Leo yang mungkin kurang ia ingat.
"Ingatan mu ternyata rendah juga, ya?" Ujar Leo.
"Perkataan mu perihal bahwa kamu bukan anak kandung dari pak Tomo? Apakah karena hal itu?" Lanjut Leo menanyakan hal tersebut, membuat Lia membelalakkan kedua matanya dan menatap Leo tak percaya.
'Kenapa aku nggak ingat? Apakah aku keceplosan? Aku harus menjawab apa?' Batin Lia dengan segala fikirannya yang tak karuan.
"Jangan mengelak dan jawab pertanyaa saya! Benarkah karena itu?!" Timpal Leo seraya mencengkeram tangan Lia yang hendak menuruni ranjang tersebut.
"Atau mungkin karena kamu menaruh hati kepada pria itu? Saya jadi heran sendiri dengan selera mu yang kurang baik dalam menilai penilaiannya seseorang. Saya rasa saya lebih baik dari pada pria itu. Tapi kenapa kamu begitu ingin berada di sampingnya, tidak dengan saya." Ucap Leo membuat Lia merasa tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pria berhati dingin itu.
"Kenapa anda bicara seperti itu? Saya tidak-" Perkataanya segera rerputus saat Leo kembali mengatakan hal lainnya.
"Bahkan kamu tidak ingin tinggal di rumah ini dan kamu akan meninggalkan saya. Saya heran dengan perilaku mu yang seperti ini, tapi karena itu lah. Saya jadi ingin mempertahankan mu agar tetap di sisi ku. Selamanya." Ucap Leo dengan menarik belakang kepala Lia dan mendaratkan sebuah kecupan lama di bibir ranum miliknya yang telah lama ta ia rasakan.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, kecupan itu berubah menjadi sebuah pergulatan lidah di dalam rongga mulut keduanya.
Saliva yang mengalir di ujung bibir keduanya tak terputus bahkan saat keduanya tak ada yang saling mengalah. Hingga pasokan udara pun menipis dan mereka melepaskan ciuman panas itu, hanya untuk sekedar menarik nafas dan melepaskan pagutan tersebut.
"Saya tidak ada perasaan apa pun kepada pak Feri, mas. Saya masih sama seperti dulu, saya istri anda dan anda adalah.. suami saya." Ucap Lia perlahan kata yang ia ucapkan seakan menusuk di hatinya sendiri, pasalnya ia kembali teringat akan pernikahannya yang ia lalui seorang diri.
Membuatnya merasa akan kesepian dan kesedihan semata di dalam pernikahan ini, namun fikirannya itu kembali terberai saat lengan kokoh dan kekar milik Leo memeluknya kembali.
"Bukankah anda sendiri, yang melakukan hal itu kepada sekretarispribadi anda, mas. Bahkan anda tidur berdua di dalam kamar itu. Jangan anda menyalahkan saya dalam hal ini. Saya tidak memiliki kesalahan apapun yang dapat anda buktikan bila saya memiliki perasaan terhadap pak Feri." Ucap Lia yang masih teringat akan peristiwa yang terjadi di kota B tempo hari.
Seakan beluk cukup mengeluarkan isi hatinya, Lia pun melanjtkan perktaannya. "Tapi anda sendiri, saya bahkan masih ingat bagaimana wanita itu keluar dalam keadaan seperti itu. Hal itu membuat saya gila dan tak yakin lagi dengan pernikahan ini. Lalu kini anda menuduh saya memiliki perasaan terhadap pak Feri? Jangan menutupi kesalahan sendiri dengan mencari kesalahan orang lain. Meskipun anda tuan muda sekalipun, saya tidak akan dengan mudahnya anda tindas terus menerus." Cerocos Lia dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ppfftt.."
Mendengar perkataannya yang di lontarkan oleh Lia barusan, membuat Leo menahan tawanya dan membuat Lia naik pitam dan melemparkan pria itu dengan bantal yang berada tak jauh dari gapaian tangannya.
"Kenapa tertawa? Nggak lucu, tau!!" Ujar Lia masih menimpuki Leo dengan bantal.
"Hahaha. Kamu.. kamu sedang cemburu ya? Ya amupun. Ternyata kamu bisa cemburu juga. Saya kira kamu akan terus menjadi patung dan tak akan memiliki perasaan terhadap saya." Ucap Leo di iringi tawanya yang pecah, menampilkan gigi-giginya yang rapih dan terdapat gigi taringnya yang menambah penampilannya lebih terlihat tampan.
"Nggak!! Saya nggak cemburu!!" Sahut Lia dan kembali emlemparkan bantal tersebut.
Hal itu terjadi cukup lama, hingga tawa dan canda dsri Leo keluar membuat Lia kembali tersipu malu. Suara tawa dan gurauan yang di lontarkan oleh Leo dapat terdengar jelas bahkan dari balim pintu kamar miliknya.
__ADS_1
Hingha membuat seorang pria tua, yang berada di balik pintu itu pun hanya tersenyum lega dan kembali melangkahkan kakinya meninggalakan ruangan yang telah lama tak ia dengar tawa dan suara gembiranya. Kini ia dapat bernafas sedikit lebih lega.
Bersambung..