Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Rumah Revan


__ADS_3

Sierra menatap rumah mewah berlantai 2 yang ada didepannya. Rumah yang terlihat bagaikan istana karena begitu besar dan juga megah.


Untuk sesaat Sierra pun terpanah dengan rumah tersebut. Karena jika dibandingkan dengan rumah yang Sierra tinggali saat ini maka tidaklah ada apa-apanya.


Sorot mata Sierra pun terus tertuju pada rumah yang menurutnya hanya ada di negeri dongeng itu. Hingga Sierra tidak menyadari bahwa sedari tadi Revan sudah menatapnya tanpa teralihkan.


Revan pun tersenyum melihat sosok Sierra yang menurutnya sangat polos. Berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini ditemuinya.


“Kenapa dari tadi kamu liatin rumah saya? Udah gak sabar pengen tinggal disana? Tapi kayaknya kamu jangan berharap lebih karena itu gak akan pernah terjadi," kata Revan yang masih saja menatap Sierra lekat.


Sierra yang tersadarkan dari lamunannya itu hanya menghela nafas. Mendengar ucapan Revan selalu saja membuatnya kesal. Lebih baik direkturnya itu diam saja dan tidak bersuara supaya tidak membuat Sierra terus menerus menahan emosi.


“Saya hanya kagum dengan rumah yang anda tinggali direktur. Maklum saja saya kan orang miskin yang tidak punya apa-apa. Jadi wajar saja jika saya norak seperti ini," jawab Sierra malas.


Revan pun tertawa. Lalu Revan memegang dagu Sierra untuk kesekian kalinya membuat tatapan Siera kini hanya tertuju padanya. Sierra pun terkejut begitu menyadari bahwa jarak antara dirinya dan juga Revan begitu dekat saat ini.


“Saya kan sudah berkali-kali bilang sama kamu. Kalo ngomong tatap mata orangnya. Jika kamu tidak menatapnya itu tandanya kamu tidak menghargai orang tersebut. Apa kamu memang tidak menghargai saya sebagai direkturmu?”


“Maafkan saya direktur. Tapi maaf anda terlalu dekat dengan saya. Membuat saya tidak nyaman,"


Sierra mencoba menjauh tetapi Revan lebih dulu menarik tangan Sierra yang membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Bahkan kini Sierra bisa merasakan hembusan nafas Revan yang membuat tubuh Sierra langsung membeku.


“Hei kamu itu kekasih saya. Jadi terserah saya mau dekat-dekat dengan kamu atau tidak. Itu hak saya. Jadi kamu jangan pernah membatah saya lagi. Lakukan apa yang saya katakan Sierra!” ucap Revan sambil memainkan rambut panjang Sierra. Sierra pun terdiam.


Apa yang Revan katakan memanglah benar. Saat ini Sierra adalah kekasih Revan walaupun lebih tepatnya adalah mainan baru Revan. Jadi sudah sewajarnya jika Revan berada didekat Sierra. Apalagi Revan juga sudah memberikan Sierra uang dalam jumlah yang besar. Jadi apapun yang Revan lakukan sudah menjadi haknya dan Sierra tidak boleh menolak.


Sierra pun membiarkan Revan yang masih saja memainkan rambutnya itu sambil menahan nafas. Sierra tidak tahu apa yang akan Revan lakukan lagi padanya. Segala tindakan Revan selalu dilakukan secara tiba-tiba bahkan tidak pernah terduga oleh Sierra.


“Sudah ayo turun. Mau sampai kapan kamu didalam mobil begini," Revan sudah melepaskan tangannya dari rambut Sierra lalu membuka pintu mobilnya.


Untuk sesaat Sierra pun bisa bernafas lega karena ternyata Revan tidak melakukan hal yang lebih kepadanya. Jadi untuk sesaat Sierra bisa merasa aman. Sierra pun segera membuka pintu mobil dan berjalan turun. Namun ternyata saat itu Revan sudah menghampiri Sierra dan berada tepat didepannya. Sierra pun menatap Revan bingung.


“Siapa yang menyuruh kamu turun dari mobil? Kenapa kamu main turun saja tanpa menunggu perintah dari saya dulu?" keluh Revan yang membuat Sierra memutar bola matanya.


Padahal tadi jelas-jelas Revan yang menyuruh Sierra untuk turun dari mobil. Tapi kenapa saat Sierra ikut turun masih saja salah? Apa sih yang sebenarnya diinginkan lelaki ini? Kenapa jadi serba salah sekali!


“Nah..nah lihatlah dirimu yang sekarang. Kamu kesal kepada saya? Marah dengan saya?” Revan sudah menatap Sierra tajam.


Jujur saja Revan juga sangat kesal jika melihat Sierra sudah memutar bola matanya seperti sekarang. Sierra terlihat seperti sedang menentang Revan membuat Revan merasa dirinya direndahkan dan tidak dihargai. Revan sangat tidak suka jika ada seseorang yang tidak menuruti perintahnya ataupun perkataannya.

__ADS_1


“Maafkan saya direktur. Saya salah. Saya tidak akan mengulanginya lagi," kini wajah Sierra sudah seperti biasanya. Tidak terlihat kesal ataupun marah seperti sebelumnya.


“Jangan mencaci maki saya didalam hati. Lebih baik kamu katakan langsung saja biar saya bisa mendengarnya,"


Revan mulai menggangkat tubuh Sierra dengan kedua tangannya membuat Sierra berada didalam pelukan Revan kembali.


“Saya tidak mencaci maki anda direktur. Dan tolong turun kan saya karena saya masih bisa berjalan,"


Sierra berusaha memberontak namun Revan semakin mendekap Sierra dalam pelukannya membuat jarak wajah diantara mereka berdua menjadi sangat dekat.


“Semakin kamu memberontak maka saya akan membuat tubuhmu ini semakin dekat hingga dengan saya sehingga tidak ada jarak diantara kita lagi," ancam Revan yang membuat Sierra langsung terdiam. Ia pun membiarkan Revan menggendongnya untuk kedua kalinya.


Disaat mereka sudah berada didalam rumah tersebut, Revan pun langsung menurunkan Sierra disofa panjang berwarna merah. Untuk kesekian kalinya Sierra pun merasa takjub dengan rumah direkturnya itu. Karena rumah itu tidak hanya terlihat mewah diluar saja tetapi didalamnya jauh lebih mewah. Semua itu bisa terlihat dari barang-barang mahal yang menghiasi sekeliling ruangan.


“Tunggulah disini. Saya akan menghubungi teman saya untuk memeriksa kakimu,"


Revan mulai berjalan pergi. Meninggalkan Sierra seorang diri. Dengan cepat Sierra pun memanggil Revan lagi membuat langkah Revan langsung terhenti.


“Direktur tunggu. Anda tidak perlu menghubungi teman anda. Saya baik-baik saja. Jadi anda bisa langsung memberitahukan saya apa yang harus dikerjakan," kata Sierra sudah bangkit dari duduknya dan berdiri menatap Revan.


Revan memutar tubuhnya lagi. Berjalan mendekat kearah Sierra. Sierra pun mengambil langkah mundur yang membuatnya langsung terjatuh ke sofa.


“Hei jangan berpikiran yang macam-macam. Otak saya tidak mesum seperti kamu. Pakailah jas saya dan tunggu saya disini. Jangan membantah. Kalo kamu berani membantah maka bersiaplah menerima akibatnya," Revan meletakan jasnya tepat ditubuh Sierra. Sierra pun mengganguk membuat senyum Revan tetap terukir diwajahnya.


“Nah gitu dong nurut. Kan saya jadi senang karena kamu tidak membuat saya kesal,"


Revan mengacak-ngacak rambut Sierra dengan lembut. Lalu dia mulai berjalan pergi meninggalkan Sierra seorang diri. Sierra yang terkejut dengan kelembutan Revan hanya bisa terdiam.


Sierra pun mengamati rumah milik direkturnya itu. Rumah yang terlihat begitu sepi seakan hanya ditinggali oleh Revan seorang. Sierra mulai memikirkan pekerjaan yang akan dilakukannya nanti karena rumah Revan terlihat begitu rapih dan juga bersih.


Selama itu Sierra pun terus disibukan dengan pikirannya sendiri hingga ia tidak sadar jika Revan sudah menghampirinya dan juga memperhatikannya.


“Hei apa yang kamu pikirkan?" tanya Revan yang membuat Sierra tersadarkan.


Sierra yang terkejut hanya menggelengkan kepalanya, “Tidak ada direktur."


Revan mendekat kearah Sierra. Lalu Revan memberikan sebuah dress pendek berwarna hitam. Sierra pun menatap dress itu bingung.


“Gantilah bajumu. Tubuhmu itu membuat mata saya sakit,"

__ADS_1


Sierra menatap Revan sebal. Lalu Sierra mengambil dress hitam itu dan bangun dari duduknya.


“Dimana kamar mandinya direktur? Saya akan mengganti pakaian saya sesuai yang anda perintahkan,"


“Mengapa harus ke kamar mandi? Ganti saja disini. Kamu tidak boleh jalan kemana-mana,"


Sierra membulatkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Mengganti bajunya disini? Diruangan yang terbuka? Diruangan yang bisa dilalui banyak orang dan orang lain bisa melihatnya? Apalagi Revan juga berada disana. Sierra tidak habis pikir dengan jalan pikiran direkturnya itu.


“Direktur mana mungkin saya berganti pakaian disini? Ini adalah ruangan yang terbuka. Saya harus ke kamar mandi untuk menggantinya,"


“Memangnya kenapa jika disini? Saya juga tau ini ruangan terbuka. Terus masalahnya dimana?”


Sierra menarik nafas yang dalam. Ia mencoba menahan emosinya. Sungguh berbicara dengan Revan benar-benar menguji kesabarannya.


“Seperti yang anda tau direktur ini adalah ruangan terbuka yang bisa lalui orang. Jadi saya tidak mungkin mengganti pakaian saya disini," Sierra menjelaskan.


“Orang lain? Memangnya kamu pikir ada orang lain yang tinggal dirumah ini? Perlu kamu tau disini hanya ada kamu dan saya saja. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan ada orang lain yang melihatmu ganti baju,"


“Tapi tetap saja anda ada disini direktur. Dan sudah sewajarnya saya berganti pakaian didalam kamar mandi," Sierra bersikeras.


“Jadi masalahmu sebenarnya dimana Sierra? Takut orang lain melihatmu atau takut saya yang melihatmu?”


“Dengan keduanya direktur," ucap Sierra sambil menundukan wajahnya.


Revan pun tersenyum. Entah mengapa melihat sifat lugu yang dimiliki Sierra selalu saja membuat Revan menjadi tertarik. Revan seperti menemukan hal baru yang bisa dimainkan sesuka hatinya.


“Baiklah saya mengerti. Saya akan pergi ke dapur agar kamu bisa berganti pakaian dengan nyaman. Lalu tetap tunggu saya disini,"


Revan berjalan pergi dan Sierra hanya bisa menatap kepergian Revan dengan helaan nafas yang panjang. Setelah itu Sierra pun mengalihkan tatapannya ke sebuah dress pendek hitam yang saat ini dipegang olehnya. Dress yang terlihat tertutup namun tetap terlihat mewah.


Sierra bisa menebak pasti dress ini milik wanita yang sebelumnya pernah bersama dengan Revan. Tapi sudah pasti ini bukanlah milik Jeni mengingat bagaimana cara berpakaian Jeni yang selalu terbuka dan memperlihatkan bagian tubuhnya.


Sierra juga tau pasti ia bukanlah wanita pertama yang dibawa oleh Revan ke rumahnya. Semua wanita yang pernah bersama Revan pasti sudah pernah ke rumah ini seperti Sierra sekarang.


Entah mengapa mengetahui hal itu membuat hati Sierra terasa sakit kembali. Padahal tidak seharusnya Sierra menggunakan perasaannya mengingat ia hanyalah wanita mainan Revan selama satu bulan.


“Ayolah Sierra gunakan otakmu. Jangan terus terbawa perasaan. Ini hanyalah sebuah permainan. Jika Revan sudah puas dia akan membuang kamu begitu saja. Walaupun itu belum sebulan," Sierra mengingatkan dirinya kembali.


Setelah itu Sierra pun segera mengganti baju yang digunakannya dengan dress hitam yang diberikan oleh Revan. Sierra merasa lebih nyaman menggunakan dress yang tertutup itu dibandingkan baju tipisnya yang memperlihatkan semua bagian tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2