Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Aku harus kuat


__ADS_3

Hati Lia terasa remuk, terutama ketika Leo dengan teganya mengatakan bahwa ia bukanlah siapa-siapa baginya.


Feri yang melihat itu merasa tak tega, ia pun menyentuh bahu Lia seraya berkata, "sebaiknya kamu selesaikan urusanmu dengan tuan muda. Saya akan kembali ke kota A terlebih dahulu." Ujarnya.


Mendengar penuturan dari Feri, membuat Lia menatapnya sesaat.


"Kenapa anda begitu terburu-buru?" Tanya Lia seraya menghampiri Feri.


"Ada urusan mendadak. Saya harus segera kesana." Jawabnya. Raut wajahnya yang biasa lembut, kini nampak seperti perasaan cemas yang menghampirinya.


"Urusan apa, pak? Apakah perihal perusahaan?" Tanya Lia kembali.


Seakan ia ingin menggali lebih dalam perihal kehidupan dari Feri yang ia anggap sebagai keluarga kandungnya.


"Bukan. Ini mengenai ayah saya. Beliau kini tengah berjuang dengan penyakitnya. Dan tadi pihak rumah sakit yang merawatnya, baru saja menghubungi. Mereka bilang jika penyakitnya kambuh lagi. Jadi saya harus segera kesana." Ungkapnya.


Mendengar hal itu, Lia pun sedikit terkejut. 'Apakah ini saatnya aku bisa bertemu dengan orang tua kandungku?' Batin Lia, tapi ia merasa dilema. Antara dirinya dengan mas Leo, ataukah kebenaran akan jati dirinya yang sebenarnya.


Feri yang melihat raut wajah Lia berubah menjadi diam pun, merasa tak enak hati.


"Maaf ya, Lia. Saya tidak dapat menepati janji untuk menemani kamu." Ucapnya.


Tersadar akan lamunannya, Lia pun memilih untuk kembali ke kota A dan mencari kebenaran akan surat peninggalan dari kedua orangtuanya.


"Tidak, pak. Saya akan ikut anda." Kata Lia dengan pasti.


Sebenarnya Feri merasa senang, tapi ia pendam perasaan tersebut sebagai formalitas saja.


"Tapi bagaimana dengan tuan muda Leo?" Tanyanya kepada Lia.


Sedangkan Lia hanya tersenyum kecil seraya berjalan meninggalkan lorong hotel tersebut, dan berkata. " Tidak apa-apa, pak. Toh beliau sendiri yang bilang, kalau saya bukan siapa-siapanya. Anda sendiri pun mendengarnya, 'kan?" Imbuh Lia dengan menyembunyikan wajahnya di antara helai rambutnya.


Miris rasanya, saat dirinya yang tengah mengandung buah hati dari benih cinta antara dirinya dengan mas Leo, tapi kini ia merasa di campakkan begitu saja olehnya.


Terutama ketika ia melihat sendiri, dengan mata kepalanya. Cika yang keluar dari bilik kamar Leo dalam keadaan setengah telanjang. Tersungkur dan mengungkapkan isi hatinya dan memohon cinta dari Leo untuk dirinya.

__ADS_1


"Dia..." Ucap Leo lirih dengan melirik Lia yang berada di sebelahnya.


"Dia bukan siapa-siapa." Ucap Leo dengan menatap Lia dengan datar.


Teringat akan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Leo kepada dirinya, membuat Lia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Feri.


Menghela nafas panjang, Lia mengusap cepat kedua pipinya dan menengadahkan kepalanya.


'Tidak apa-apa, aku harus kuat. Aku... tidak boleh menangis. Bukan begitu, mamah?' Batin Lia. Sesaat ia teringat akan mamahnya yang telah merawatnya.


'Mamah.. Lia rindu. Papah.. adek rindu.' Ucapnya dari dalam hatinya yang terdalam.


Kenyataan yang sunghuh pahit, ketika oa harus terjerat akan permainan yang di berikan oleh sang kakek Edward kepadanya.


Ia kini tak tahu harus kemana dan kepada siapa di saat seperti ini.


***


Leo yang sedari tadi memasuki bilik kamarnya, memukul dinding kamarnya dengan kuat. Membuat tangannya mengucurkan darah segar akibat benturan keras yang sengaja ia lakukan.


"Apa yang akan Lia fikirkan tentang saya? Pasti dia berfikir bahwa saya, sudah seperti seorang playboy brengsek yang tidak memiliki hati." Ujarnya dengan menutupi wajahnya.


Teringat kembali akan apa yang telah ia lewati semalam bersama Cika.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Selama ini saya minum-minum, tidak pernah sampai tak sadarkan diri. Pasti ada sesuatu di dalam minuman itu. Sialan!!" Lanjutnya yang masih mengumpati dirinya yang ceroboh.


Lagi dan lagi, ia di kecewakan oleh orang terdekatnya. Padahal ia telah menyerahkan tanggung jawab besar kepada Cika sebagai asisten pribadinya.


Meremas rambutanya dan memijat titik di antara kedua alisnya, ia pun mengambil pknselnya dan menghubungi Angga.


Tak butuh waktu lama, suara Angga pun menyahut dari balik panggilan tersebut.


"Iya, halo. Ada apa, tuan muda?" Tanya Angga.


"Pecat sekarang juga sekretaris sialan itu!!" Seru Leo, yang jelas membuat Angga sedikit terkejut.

__ADS_1


"Lah. Kenapa? Bukannya anda sendiri yang menerimanya bekerja?" Tanya Angga lagi. Pasalnya keputusan Leo ini terlalu mendadak, sehingga membuat Angga kurang paham.


"Dia menaruh obat di dalam minuman saya." Balas Leo.


"Apa?! Benarkah? Tapi tidak terjadi apa-apa di antara anda dengannya, 'kan?" imbuh Angga.


"Itu yang bikin saya pusing dan marah bukan main. Dia ada di kamar saya, di ranjang saya. Bukankah itu namanya kurang ajar?!! Pecat dia sekarang juga!!" Seru Leo sekali lagi.


Tidak ada jawaban dari Angga, hingga membuat Lia menaikkan sebelah alisnya.


Bukannya menjawab atau pun mengiyakan perintah Leo kepadanya, Angga malah lebih menanyakan kembali mengenai Lia yang ia ketahui berada di hotel yang sama drngan tuan mudanya.


"Apakah.. nona Adelia mengetahuinya?" Tanya Angga.


"Iya. Dia berada tepat di depan kamar saya. Bersama atasannya." Jawab Leo dengan menggertakkan gigi gerahamnya saat ia teringat kedekatakan di antara Lia dengan Feri.


"Benarkah? Tapi, apakah nona Lia baik-baik saja?" Tanya Angga kembali. Namun pertanyaannya kali ini tak dapat ia jawab, karena pertanyaan itu jelas menjadi pertanyaan untuk Leo sendiri.


"Entahlah. Pokoknya kamu pecat wanita itu, dan pesankan saya pesawat. Saya akan kembali ke kota A sekarang juga." Titah Leo dan segera di sanggupi oleh Angga.


"Baik, tuan muda." Balas Angga seraya panggilan tersebut terputus dan meninggalkan Leo dalam perayaan yang ambigu.


Menyibakkan rambutnya ke belakang, ia pun berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Di bawah guyuran shower, nampak jelas tubuh Leo yang proposional bak atlet olahraga. Namun raut wajahnya nampak kecewa, sedih dan marah menjadi satu.


'Apakah dia baik-baik saja? Saya pun tak tahu jawabannya.' Batin Leo yang merasa frustrasi dengan fikirannya sendiri.


'Kenapa? Sebenarnya kenapa kamu bekerja di sana dan kenapa kamu begitu dekat dengannya? Bahkan kamu tidak mengetuk kamar saya atau menghubungi saya? Apakah.. perasaan ini hanya saya yang merasakannya? Apakah kamu tidak lagi menginginkan cinta? Bukankah kamu menginginkan pernikahan yang sebenarnya? Tapi mengapa kamu menolak lamaran saya dan lebib memilih kembali dengan alasan yang tidak dapat daya mengerti.' Kembali fikiran Leo terombang-ambing dengan keputusan yang di berikan oleh Lia kepadanya.


'Entah sejak kapan saya merasa seperti orang bodoh begini. Banyak wanita yang menginginkan saya hingga menjadi gila. Tapi kenapa kamu malah mengabaikan saya? Bahkan sejak pertama kita bertemu pun, kamu tidak tertarik dan malah memancing saya untuk mengganggumu. Sikapmu yang pantang menyerah dan keras kepala itu, sungguh membuat saya muak.' Ucapnya lagi dengan meremas rambutnya sendiri.


Benarkah Lia tak memiliki perasaan lagi terhadap mas Leo?


Atau mas Leo yang sepertinya tidak bisa berpaling dari Lia?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2