
"HENTIKAN!!" Seru sang kakek Edward yang melihat peristiwa kecil di hadapannya saat ini.
Seketika Lia pun terkejut dengan bentakkan sang kakek yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Leo pun yang mendengar bentakkan sang kakek segera memalingkan wajahnya dari wanita yang tak ia harapkan kehadirannya.
Melihat suasana yang kembali damai, kakek Edward pun segera angkat suara dan memberikan penjelasan perihal kehadiran Sinta di jamuan hari ini.
"Jangan gaduh dan sibuk sendiri dengan ego kalian masing masing. Sinta di sini karena saya yang memintanya. Agar Adelia lebih mengenal anggota keluarga NusaJaya." Jelas sang kakek seraya menatap tajam ke arah Lia dan Leo secara bergantian.
"Lagi pula, sepertinya Lia belum kenal sekali dengan Sinta. Tapi, dimana suami mu?" Sambung kakek Edward seraya menanyakan keberadaan anak keduanya yang selalu tidak hadir di setiap jamuan.
Seperti orang yang salah tingkah, Sinta seakan sulit untuk menjawab pertanyaan sang kakek.
"Ada apa? Apa kamu tidak punya jawaban? Atau sepertinya dia sedang bersembunyi dari rasa bersalahnya?" Ujar Leo tiba-tiba dan membuat Lia menatap sang suami dengan tatapan heran.
'Sebenarnya ada dendam apa antara mas Leo dengan bibi Sinta? Kenapa mas Leo sampai sebenci itu kepadanya?' Batin Lia.
"Suami saya sedang di luar kota, kek. Sepertinya dia sesang banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan." Ucap Sinta sembari tersenyum seanggun yang ia bisa.
Mendengar jawaban dari Sinta, membuat Leo tertawa terbahak bahak.
"Hahaha. Pekerjaan apa? Bukankah setahu saya pekerjaannya selalu terbengkalai? Apa dia bisa mencapai sukses dengan cara bekerja seperti itu?" Sindir Leo dengan memberi tatapan tajamnya kepada Sinta yang hanya terdiam.
Melihat perlakuan Leo yang menurut Lia sangatlah kasar, dengan segera Lia menegurnya.
"Mas Leo, kenapa anda kasar sekali kepada bibi anda?" Ujar Lia dengan lembut, seraya menyentuh pundak sang suami yang terlihat menegang.
Namun bukannya jawaban yang Lia harapkan, melainkan hanya lirikan tajam yang di sematkan oleh Leo kepadanya.
Seakan mendapatkan hujaman panah yang menancap tepat di hatinya, Lia bahkan tak dapat lagi menelan ludahnya dengan mudah.
__ADS_1
Suasana pun kembali mencekam dengan perllaku Leo yang begitu memperhatikan ketidak nyamannya dengan kehadiran Sinta di acara jamuan hari ini.
Sinta yang menyadari dirinya begitu di pojokkan oleh Leo, pun berinisiatif untuk mengundurkan diri dari perjamuan saat ini.
"Sepertinya kehadiran saya membuat keponakan saya kurang nyaman. Sebaiknya saya pamit undur diri dulu." Ucap Sinta dengan memasang wajah yang begitu pilu.
Lia yang notabene seorang wanita yang mudah iba dengan orang lain, tak sanggup melihat wajah Sinta yang begitu memelas.
"Tidak! Jangan pergi, bi Sinta. Maafkan suami saya, mas Leo tidak bermaksud membuat anda tidak nyaman seperti ini. Tolong jangan pergi." Pinta Lia dan segera berdiri menghampiri Sinta dan merangkulnya dalam pelukannya.
Leo yang melihat hal itu, nampak jelas semburat amarah dalam dirinya yang tak dapat ia tutup tutupi lagi.
"Apa apaan kamu, Adelia!! Saya bahkan tidak mengijinkan dia datang kesini. Tapi kenapa kamu begitu bersikukuh membela wanita itu?" Hardik Leo seraya turut berdiri dan menatap Lia tajam. Seakan ia sangat emosi dengan perlakuan Lia yang selalu membela Sinta di hadapannya.
Terkesiap dengan tatapan Leo yang berubah dengan perilakunya yang sangat bertolak belakang dengan sikapnya semalam, Lia menatap balik bola mata hitam Leo yang penuh dengan amarah yang memuncak di dalamnya.
Tak sedikit yang melihat tatapan penuh amarah dari mata Leo menatap Lia. Sorot mata keduanya seakan tak ada yang mau mengalah dan terus saling pandang dengan tatapan yang berbeda dsri basanya.
BRAK!!
Gebrakkan meja yang terdengar begitu keras, tepat ketika sang penguasa perusahaan NusaJaya mengambil alih tatapan setiap individu di ruangan tersebut.
"Sudah selesai tatap tatapannya?" Ujarnya dengan menatap Lia dan Leo secara bergantian.
Di susul dengan kalimatnya yang kembali ia ucapkan, "tidak ada yang meninggalkan rumah ini dalam keadaan apa pun, kecuali saya mengizinkannya." Sambungnya yang penuh penegasan, tak luput pula tatapan khas dsri keluarga NusaJaya yang begitu tajam.
Kakek Edward pun mengedarkan pandangannya dan mendapati seluruh penghuni rumah itu hanya menunduk di hadapannya.
"Apa semuanya sudah paham sekarang?" Jelasnya lagi dan membuat Leo dan Lia bahkan Sinta pun mengangguk bersamaan.
Kakek Edward yang melihat itu pun, turut mengangguk anggukkan kepalanya. Seraya ia menyenderkan punggungnya di kursi tersebut, seraya menghela nafas berat sebelum akhirnya ia kembali menatap keluarganya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu kembali ke tempat duduk mu, Lia. Dan kamu Leo, jangan gegabah seperti itu. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." Ucap kakek Edward seraya tersenyum kecil.
Lia pun menuruti perkataan sang kakek dan kembali mendudukkan tubuhnya di kursi yang bersebelahan dengan Leo di ruang makan itu.
"Kamu harus menjaga kesehatan mu dan juga kandungan mu, Lia. Jangan sampai kamu dan janin dalam perut mu mengalami hak yang tisak di harapkan. Sebaiknya kamu ingat itu." Ujar kakek Edward, seraya memberikan tatapan yang cukup tajam kepadanya.
Seolah olah mengingatkan dirinya apa yang membuatnya berada di rumah dan di dalam pernikahan ini, hanyalah untuk memberikan keturunan kepada keluarga NusaJaya.
"Baik, kek. Saya paham." Ucap Lia tanpa semangat, dalam hatinya sangat teriris. Karena kehadirannya di rumah ini hanyalah sebagai pion saja. Tak lebih dan tak kurang, tapi kenapa dia meminta cinta yang lebih kepada Leo.
'Ucapan kakek barusan membuat ku teringat akan sesuatu. Haahh.. Egois sekali aku. Kenapa aku melakukan sesuatu yang tidak akan bisa aku lakukan di rumah ini. Sadar dirilah, aku siapa di rumah ini? Aku hanyalah wanita biasa, tidak seharusnya aku meminta lebih. Dan kini, sepertinya aku sedang menggali kuburan ku sendiri.' Batin Lia dengan menahan air matanya yang sebentar lagi membanjiri kedua pipinya.
Namun ia menahannya seraya menggigut bibir bagian bawahnya, guna menahan perih yang termat sangat di lubuk hatinya yang terdalam.
Leo tak bodoh dan melihat dengan jelas wanitanya yang terlihat lesu seraya menundukkan kepalanya dalam diam, membuatnya menghela nafas berat dan memijat pelan pada titik pertengahan kedua alisnya.
Suasana yang awalnya terasa canggung berubah menjadi sedikit riang, dengan Sinta yang mulai angkat bicara.
"Apakah kamu hamil, Lia?" Ucapnya dengan senyuman terbaik yang ia bisa berikan.
Mengangkat kepalanya dan mendapati senyuman dari Sinta, membuat Lia merasa di hargai dan membalas senyuman Sinta kepada dirinya.
"Iya, bi. Saya hamil." Jawab Lia dengan lembut, berusaha menutupi suaranya yang bergetar.
"Selamat ya, Lia." Ucapnya seraya berdiri dan melamgkahkan kakinya menuju kearah Lia dan memeluknya.
Sedangkan Leo yang melihat hal itu hanya menatap gelagat Sinta. Dari balik pelukannya, Sinta dapat melihat dengan jelas tatapan Leo yang di sematkan kepadanya.
Dan Sinta pun tak dapat menyembunyikan seringainya dari hadapan Leo tanpa di ketahui oleh Lia.
Sebenarnya ada maksud apa, hingga Sinta bertingkah seperti itu?
__ADS_1
Bersambung..