Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Hadiah Untuk Sierra


__ADS_3

Revan tersenyum puas saat mendegar pengakuan cinta yang baru saja Sierra ucapkan. Bahkan Revan pun tidak lupa untuk merekam kata-kata indah itu agar bisa Ia dengarkan terus menerus setiap saat.


Sungguh ini tidaklah seperti sifat Revan yang biasanya. Sifat Revan yang tidak pernah tertarik dengan kata-kata cinta yang diucapkan oleh seorang wanita. Revan yang selalu mengabaikan pengakuan cinta dari wanita manapun. Dan Revan yang tidak peduli dengan ucapan cinta yang menurutnya hanyalah permainan belaka, karena baginya tidak ada cinta yang benar-benar tulus didunia ini.


Namun entah mengapa ketika Revan mendengar kata cinta yang diucapkan oleh Sierra, Revan seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak pernah Ia dapatkan dari wanita manapun termasuk mantan-matan kekasihnya itu. Sesuatu yang bisa membuat hatinya berdebar bahkan berbuga-bunga karena merasa begitu bahagia.


Ucapan lembut Sierra itu mampu menyentuh hati Revan. Mampu membuat Revan merasakan ketulusan sehingga Ia ingin selalu mendengarkannya disepanjang waktunya.


Revan pun berkali-kali menyetel hasil rekamannya itu yang membuat sebuah senyuman indah tidak pernah lepas dari wajahnya.


Namun disaat Revan sedang larut dalam kebahagiannya, suara ketukan pintu pun terdengar. Revan yang mendengarnya langsung mematikan rekamannya itu dan memperbaiki posisi duduknya. Ia langsung fokus kepada komputernya dan menghilangkan senyuman kebahagiannya.


“Masuk”. Ucap Revan yang sudah menatap kearah komputernya.


“Direktur Revan tadi dokter Alvin menghubungi saya. Dia bertanya apakah anda mau ikut berkumpul dengannya malam ini di Club X?”. Tanya Vino yang kini sudah berada didalam ruangan Revan dan berdiri tepat didepannya.


Revan pun mengalihkan pandangannya. Kini Ia sudah menatap Vino. Menatapnya dengan tajam yang membuat Vino langsung menundukan wajahnya.


“Vino apakah benar tadi kamu memegang tangan Sierra?”. Tanya Revan dingin penuh rasa cemburu.


“Iya benar direktur. Tapi saya memegangnya hanya karena ingin membantu nona Sierra untuk berjalan. Saya tidak mempunyai maksud yang lain”. Vino menjelaskan.


“Lalu apakah kamu memegang bagian lain selain tangan Sierra?”. Revan memastikan.


“Tidak direktur. Saya berani bersumpah bahwa saya tidak memegang bagian yang lain kecuali tangan Nona Sierra untuk membantunya berjalan”.

__ADS_1


Revan pun tersenyum. Kini tatapannya sudah kembali seperti biasanya. Tidak menusuk seperti sebelumnya.


“Baiklah aku mempercayaimu. Katakan pada Alvin bahwa aku akan ikut bergabung. Dan kau Vino juga harus ikut bergabung bersama kami”.


“Tapi direktur Revan jika nona Sierra tahu bahwa anda datang kesebuah club malam bagimana? Apakah nona Sierra tidak akan marah?”. Kali ini Vino sudah menatap Revan kembali. Sudah tidak menundukan wajahnya seperti sebelumnya.


Revan tertawa. Ucapan Vino benar-benar terdengar lucu baginya. Memangnya kenapa jika Sierra tahu kalo Revan datang sebuah club malam? Apa haknya untuk marah kepada Revan? Sierra hanyalah kekasih mainan Revan. Hanya kekasih yang Revan beli dengan uang untuk membantunya membayar hutang-hutangnya.


Jadi Sierra tidak pantas untuk mengatur kehidupan Revan apalagi melarangnya. Karena disini Revan adalah tuannya. Revan yang memiliki kekuasaan. Jadi hanya Revanlah yang bisa memberikan perintah. Sedangkan Sierra hanya bisa menuruti perintah Revan itu dan tidak ikut mencampuri kehidupannya.


“Hahahha memangnya kenapa jika Sierra tahu? Apa haknya untuk marah padaku?. Vino perlu kamu tahu Sierra bukanlah kekasihku yang sesungguhnya. Dia hanyalah mainanku sama seperti wanita-wanita lainnya. Jadi terserah aku untuk pergi kemana saja dan bersama siapa saja. Tidak ada urusannya dengan Dia”. Revan menegaskan.


Vino pun hanya mengganggukan kepalanya. Lalu Vino memberikan sebuah berkas kepada Revan dan Revan pun langsung menerima berkas itu.


“Baiklah saya akan memberitahukan dokter Alvin untuk kehadiran anda direktur. Dan ini adalah berkas pelunasan hutang-hutang ayah nona Sierra. Para rentenir itu tidak akan mengganggu kehidupan nona Sierra lagi dan rumah nona Sierra juga sudah aman tidak akan dijual oleh mereka”.


“Saya pamit pergi direktur Revan”.


Vino pun membungkukan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Revan langsung membuka berkas-berkas yang diberikan oleh Vino dan membacanya.


Sungguh Ia tidak mengerti kenapa ayah Sierra bisa mempunyai hutang sebanyak itu kepada seorang rentenir. Bahkan setelah diselidiki Vino, ternyata ayahnya itu tidak hanya mengutang pada satu rentenir saja tetapi juga kepada beberapa rentenir lainnya dalam jumlah yang besar walaupun saat ini sudah ada beberapa yang bisa dilunasi oleh Sierra dengan uangnya sendiri.


Kini Revan pun tahu mengapa selama bekerja disini Sierra tidak pernah menggunakan pakaian ataupun tas bermerek seperti wanita-wanita lainnya. Sierra selalu saja menggunakan pakaian sederhana bahkan bisa dikatakan itu-itu saja karena Sierra tidak mampu untuk membeli perlengkapan untuk dirinya sendiri karena harus membayar hutang-hutang ayahnya itu.


Pantas saja selama ini Revan tidak pernah merasa tertarik dengan Sierra. Revan selalu mengabaikan kehadiran Sierra. Bahkan Revan tidak pernah melirik sekeretarisnya itu sedikitpun karena bagi Revan Sierra bukanlah wanita yang sesuai dengan kriteriannya. Sierra bukanlah wanita yang bisa menarik perhatianya.

__ADS_1


Revan pun merebahkan tubuhnya sejenak dikursinya itu setelah selesai membaca berkas-berkas yang diberikan oleh Vino.


“Kenapa aku begitu terlambat menyadari kehadiran Sierra? Mengapa baru sekarang aku bisa mengetahui pesona yang dimiliki Sierra? Astaga aku benar-benar salah selama ini karena tidak memperdulikannya”. Keluh Revan kepada dirinya sendiri.


Revan pun langsung mengambil ponsel yang berada diatas mejanya itu. Ia segera menghubungi sebuah nomor dan hanya dalam satu kali nada terhubung panggilan itu pun langsung dijawab oleh penerimanya.


“Iya direktur Revan. Ada yang bisa saya bantu?”. Tanya Vino yang sigap dengan panggilan Revan seperti biasanya.


“Vino kamu tahu alamat rumah Sierra kan?”.


“Iya direktur Revan saya mengetahuinya. Tadi pagi saya yang mengatar nona Sierra pulang”.


“Bagus. Tolong kamu kirimkan satu buket mawar merah kerumah Sierra. Lalu kamu juga beli beberapa baju dan juga tas bermerek untuk Sierra. Tapi ingat aku tidak mau kamu membelikan Sierra baju yang terbuka dan tidak sopan. Apalagi jika baju itu memperlikatkan bagian tubuh Sierra. Pastikan baju yang kamu beli tertutup namun tetap terlihat indah untuk Sierra. Oiya aku juga tidak ingin jika warna bajunya terlalu mencolok. Beli dengan warna yang soft yang cocok dengan Sierra. Apakah kamu mengerti?”.


“Baik direktur Revan saya mengerti. Saya akan mengikuti perkataan anda. Saya akan segera membelikan semua perlengkapan itu dan mengirimnya kerumah nona Sierra”.


“Baiklah terima kasih atas kerja kerasmu Vino”.


“Senang jika saya bisa membantu anda direktur Revan”.


Revan pun langsung memutuskan panggilannya. Lalu sebuah senyuman pun kembali terukir diwajah Revan. Ia bisa membayangkan betapa bahagiannya Sierra saat mendapatkan berbagai hadiah darinya nanti.


Sierra pasti akan tersenyum senang dan sangat berterima kasih kepada Revan. Bahkan mungkin Sierra akan langsung menghubungi Revan dan melakukan apapun yang akan Revan perintahkan. Revan pun sangat menantikan hal itu.


“Lihatlah Sierra kamu pasti akan benar-benar berterima kasih padaku. Kamu akan sangat bersyukur karena memiliki seorang kekasih yang sangat romantis dan peduli dengan wanitanya. Kamu pasti akan benar-benar takluk padaku”. Ucap Revan dengan yakin dan penuh semangat.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2