Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Tatapan yang Tajam


__ADS_3

Fajar telah menjelang, kedua insan yang tengah terbarjng berpelukan dalam hangatnya selimut itu pun mulai mengerjapkan matanya.


Seorang wanita bernama lengkap Adelia Anggraini itu kini tengah meregangkan tubuhnya, seraya menatap ke arah pria yang memperlakukannya begitu intens semalam.


Semburat merah menghiasi wajahnya, sembari mengusap wajah tampan sang suami ia pun tersenyum kecil dengan menyipitkan matanya.


Leo yang merasakan adanya sentuhan lembut di pipinya, sontak membuka pelan matanya dan mendapati sang istri tengah memandanginya.


Sinar mentari yang terlihat terang kekuning kuningan, membuat Lia nampak begitu indah menurut pandangannya.


"Met pagi." Ucap Lia yang masih memasang senyjm di bibirnya.


Menyentuh jari jemari snag istri yabg berada di pipinya, Leo pun menyatukan ruas pada jarinya di antara jari sang istri.


Seraya menuntunnya ke wajahnya dan memberikan kecupan lembut di telapak tangan sang istri.


"Pagi." Jawabnya lembut dan lalu mengecup dahi Lia, turun di pipi merona sang istri kemudian berakhir di bibir ranum sang istri.


Melepaskan pagutannya, Lia pun beranjak menuruni ranjang tersebut. Seraya mengenakan pakaiannya ia pun beranjak dari tempat itu.


"Mau kemana?" Ucap Leo sraya meraih pinggang ramping sang istri.


"Mau mandi, mas. Tadi malam harusnya kita makan malam bersama kakek, tapi kita malah meninggalkan beliau. Saya jadi khawatir jika nanti kakek Edward akan marah kepada kita." Ujar Lia dan berusaha melepaskan rangkulan tangan Leo di pinggangnya.


"Orang tua itu tidak akan marah. Dia sendiri yang salah tidak menepati janjinya." Sahut Leo sraya membalikkan tubuh Lia dan menenggelamkan wajahnya di perut sang istri.


"Meskipun begitu, kita tetap haris menghormati beliau." Ucap Lia.


Rangkulan itu pun terlepas dan membuat Lia segera menjauh, hingga ia dapat melihat wajah Leo yang terlihat kurang mood.


Menundukkan wajahnya, Leo nampak tak cukup dengan jawaban yang di lontarkan oleh Lia kepadanya.


Lia yanh melihat itu pun segera menghampiri Leo dan berdiri tepat di hadapan sang suami, membuat Leo dapat melihat kaki jenjang sang istri yang berdiri tepat di hadapannya.


"Hm." Dehem Leo dengan memalingkan wajahnya.


Seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk, Lia lebih melihat Leo yang seperti ini sungguh sesuatu yang langka.


Membungkukkan tubuhnya, Lia pun melihat wajah Leo yang memerah dan juga terdapat air mata di ujung pelupuk matanya yang selalu nampak tajam dan galak.


"Anda kenapa merengut begitu?" Tanya Lia dan menyentuh kedua pipi Leo dengan menggunakan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa, sebaiknya kamu segera berbenah diri. Sepertinya kakek Edward sudah menunggu mu sejak semalam." Ucap Leo seraya beranjak dan berpaling, membelakangi Lia yang menatapnya heran.


'Sepertinya mas Leo lagi ngambek. Imutnya. Seprti anak kecil, hihihi.' Batin Lia dan menghampiri Leo dan tiba-tiba saja Leo merasakan sebuah pelukan hangat dari balik punggungnya.


Leo susah cukup lama tak pernah merasakan hal seperti ini, tepat ketika ia kehilangan orang terkasihnya.


Mendadak tubuhnya bergetar, membuat Lia sedikit khawatir dengan kondisi yang di alami oleh tubuh sang suami.


'Dia gemetaran. Apa dia sakit?' Batin Lia dan melonggarkan pelukannya.


Namun tepat ketika tangannya hendak ia lepaskan dari tubuh sang suami, ia dapat merasakan kedua tangannya kembali di satukan ke dalam pelukan Leo.


"Jangan di lepas." Pinta Leo. Suaranya yang berat sedikit bergetar dan ia pun membalikkan tubuhnya dan membuat keduanya kembali bertatap muka untuk yang kesekian kalinya.


"Anda kenapa?" Tanya Lia tepat karena ia melihat Leo seperti bukan dirinya sendiri.


"Saya merindukan mu." Ucap Leo dengan memeluk Lia lebih dalam di pelukannya.


'Astaga. Karena ini mas Leo sampai bergetaran? Ku kira dia sakit, ya ampun. Mas Leo ternyata bisa romantis juga, ya.' Batin Lia yang masih berada di pelukan Leo.


'Aku.. belum mengenalnya lebih jauh, tapi sepertinya aku sudah terjatuh dalam pesonanya. Tapi apakah aku bisa lepas dari jeratnya?' Sambung Lia dalam hatinya, tepat saat ia merasakan tubuhnya terlepas dari pelukan sang suami.


Wajaahnya yang bersih seakan bersinar dengan bola mata yang penuh dengan kebahagiaan di antara keduanya.


Mereka pun segera menuju ke kamar mandi yang telah berada satu ruangan dengan kamar pribada Leo.


Canda tawa di sela sela ejekan yang di lontarkan oleh keduanya terdengar jelas, namun lebih jelas ketika Leo menggoda Lia hingga kekeh tawa Lia lepas begitu saja.


****


Menuruni tangga dan mendapati sang kakek di ruangan tersebut membuat Lia merasa tak enak hati dan ingin segera menghilang dari sana sekarang juga.


Tapi bukan hanya keberadaan kakek Edward saja yang menjadi perhatian bagi Lia. Tapi juga kehadiran Sinta atau yang lebih Lia kenal sebagai bibi di ruang makan itu.


"Bibi Sinta!" Seru Lia dan dengan melaju perlahan ia menghampiri wanita tersebut.


Hal itu pun tak luput dari pandangan Leo yang melihat wanita yang tidak mengharapkan kehadirannya.


Dengan langkah angkuhnya yang biasa ia sematkan sebagai ciri khasnya sebagai seorang tuan muda, Leo pun tak segan menghindari wanita itu.


"Selamat pagi, kakek." Sapa Lia dengan membungkukkan tubuhnya di hadapan orang yang paling berpengaruh di rumah ini.

__ADS_1


"Selamat Pagi." Ujar Leo kepada kakek Edward pula, sembari melangkahkan kakinya menghampiri sang istri.


"Selamat pagi semuanya. Silahkan duduk." Ucap sang kakek dan di turuti oleh semua manusia yang berada di ruangan tersebut.


Suasana saat ini terlihat begitu damai, dengan seluruh keluarga berada di tempat yang sama.


Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku kepada Leonardo NusaJaya yang begitu tajam menatap sang bibi.


"Saya heran." Ucapnya lirih seraya memberikan tatapan tajamnya kepada Sinta yang hanya memberikan senyuman kecil kepada keponakannya.


"Ada apa, mas?" Tanya Lia yang melihat sang suami telah berubah dingin seperti biasanya.


"Saya hanya merasa heran, kenapa wanita itu berada di rumah ini? Seingat saya, saya tidak pernah mengundangnya." Sambung Leo dengan penegasan di setiap kalimatnya.


Tatapannya yang tajam dan juga cara bicaranya yang dingin, seakan akan memberikan hujanan es kepada semua orang yang berada di ruangan itu.


"Mas!!" Seru Lia langsung menoleh dan kearah Leo yang hanya diam tanpa membalas teguran Lia kepadanya.


"Kenapa? Bukankah saya hanya menanyakan yang memang perlu saya tanyakan?" Sahut Leo tanpa memperdulikan Lia yang terlihat tak enak hati dengan Sinta.


"Ma-maafkan mas Leo ya, bi Sinta." Ucap Lia sopan.


Mendengar sang istri meminta maaf kepada musuhnya, Leo seakan tak terima dan segera menarik lengan atas istrinya tersebut.


"Jangan meminta maaf kepadanya. Dia tidak pantas mendapatkan kalimat itu." Ucap Leo tegas.


"Kenapa? Bukankah bibi Sinta adalah bibi anda? Tidak seharusnya anda berkata seperti itu kepadanya." Ujar Lia seraya menepis tangan Leo yang masih mencengkeram lengannya.


"Kamu tidak tahu apa pun, kamu tidak akan paham dengan apa yang saya katakan pada wanita itu." Hardik Leo kepada Lia, membuat Lia memundurkan tubuhnya.


Seakan ada yang menyayat hatinya, baru saja ia merasakan kelembutan yang begitu mendalam. Kalimat yang Leo ucapkan kepadanya dan juga perilaku yang Leo berikan padanya, masih terngiang di benaknya.


Tapi seakan hilang sudah kebahagiaan tersebut bersamaan dengan kalimat yang telah terucap dari mulut snag suami.


"HENTIKAN!!" Seru sang kakek Edward yang melihat peristiwa kecil di hadapannya saat ini.


Apakah kakek Edward akan marah?


Lalu, kenapa sebenarnya Leo begitu plin plan dengan persaannya sendiri terhadap Adelia?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2