
Keesokan harinya, Lia dengan niat yang besar serta surat lamaran kerja yang telah ia siapkan dari jauh-jauh hari.
Kini tibalah saatnya, dimana dirinya bersiap melamar pekerjaan kepada perusahaan CAKRAMULIA.
Menggunakan taksi online, Lia segera menuju ke wilayah yang akan ia tuju. Dengan hati yang berdebar, Lia merasa gugup jika ia ditolak. Akan tetapi, jika ia di terima apa yang harus ia perbuat?
Pengalaman kerja sebelumnya hanyalah seorang SPG, dan setelah menikah ia di larang bekerja oleh sang suami.
***
Flashback on
Lia yang telah berpakaian rapih dengan setelah layaknya kakak-kakak SPG, membuat Leo yang baru terbangun dari tidurnya terkesiap melihat pemandangan dihadapannya.
"Mau kemana kamu?" Ucap Leo dengan memandang heran kepada wanita yang masih berdiri di dapan kaca riasnya.
"Mau kerja, lah. Memangnya saya mau ngapain lagi?" Jawab Lia dengan masih merapihkan rambutnya.
"Lepas pakaian itu!" Tegas Leo dengan nada beratnya.
"Kenapa?" Tanya Lia heran dengan reaksi yang di berikan oleh Leo.
"Memangnya saya kirang memberimu uang? Sampai kamu kerja lagi?" Seru Leo dengan menautkan kedua alisnya.
"Daripada saya bosan dirumah. Saya hanya ingin mencari kegiatan saja." Ujar Lia yang masih mempertahankan niatnya untuk bekerja.
"Saya akan transfer 10 juta per bulan ke dalam rekening yang telah saya berikan tempo hari. Asalkan kamu jangan bekerja lagi." Tegas Leo.
Mendengar itupun Lia mulai berfikir ulang. Hingga akhirnya, Lia tetap memilih untuk bekerja.
"Nggak mau. Saya tetap mau kerja. Uang dari hasil jirih payah sendiri itu lebih nikmat." Tukas Lia tanpa memperdulikan Leo yang mulai manyun.
"Oh. Jadi hasil jirih payah, ya?" Ucap Leo sembari berdiri dan menghampiri Lia.
Memeluk Lia dari belakang tubuhnya dan mencium leher jenjangnya yang harum semerbak.
"Apakah kamu akan bekerja dengan pakaian dan dandanan seperti ini?" Tanya Leo yang masih memeluk Lia.
"Iya." Jawab Lia sekenanya.
"Tidak boleh." Kata Leo dengan membalik tubuh Lia dan menggendongnya ala bridal style.
__ADS_1
"Kyaa!!" Membuat Lia memekik sesaat sebelum akhirnya, tubuhnya di hempaskan di atas kasur miliknya.
"Auu..!!" Membuat Lia mengaduh dan menatap tajam pada pria di hadapannya.
"Katamu tadi, jirih payah sendiri, 'kan?" Ujar Leo dengan senyum menyeringai menghiasi wajahnya.
"Kalau begitu.." Tanpa melanjutkan perkataannya, Leo dengan sigap membalik posisi tubuhnya. Sehingga kini Lia yang berada dalam posisi menindih Leo.
"Lakukanlah." Ucap Leo dengan entengnya. Tanpa persuli dengan Lia yang menatapnya dengan pandangan tak dapat di jelaskan.
Yang pasti dia malu bukan main, awalnya ia tak ingin melakukan hal memalukan itu. Tapi karena di paksa dan terus dipaksa oleh sang suami, mau tak mau Lia menuruti saja.
Dan tetap saja pada akhirnya, Lia berada dalam kungkungan maut sang tuan muda Leonardo NusaJaya.
Karena hal tersebut, Lia menghentikan kerjanya dan menjadi pengangguran yang sangat berarti bagi keberlangsungan rumah tangganya.
Flashback off
***
Tersadar dari lamunannya akan hal yang pernah ia alami bersama sang tuan muda, tanpa disadari ternyata Lia telah berada tepat di depan gedung yang bertuliskan CAKRAMULIA dengan kokoh.
"Terimakasih, pak." Ucap Lia kepada supir taksi yang telah mengantarnya.
"Aduh!!" Ucap Lia yang tak dapat menahan tubuhnya, sehungga ia merasa limbung akibat tertabrak tubuh seseorang di hadapannya.
Memejamkan matanya, Lia merasa takut jika ia akan kesakitan jika tubuhnya menghantam lantai di bawahnya.
Tapi rasa itu tak kunjung ia rasakan, melainkan sebuah lengan kokoh yang melingkar dipinggangnya.
Membuka matanya, Lia baru menyadari ada sosok pria yang nampak begitu tampan di hadapannya. Lebih-lebih kini ia tengah menopang tubuh Lia.
Kedua mata mereka pun bertemu, aroma yang sangat segar terasa daru tubuh pria itu. Hingga Lia enggan untuk bangkit segera. Tapi mengingat ia adalah calon pekerja baru, ia pun berusaha sopan dan segwra bangkit dari limbungnya.
"Ah. Ma-maaf. Saya tadi tidak menyadari keberadaan anda. Jadi saya menabrak anda. Saya benar-benar minta maaf." Ucap Lia dengan membungkukkan tubuhnya.
"Oh. Iya tidak apa-apa. Sepertinya anda sedang terburu-buru. Apakah anda melamar pekerjaan disini?" Kata pria itu yang melirik sebuah mab coklat dipelukan Lia.
"Iya. Saya hendak melamar kerja. Maaf jika boleh tahu, saya harus menyerahkan ini kepada siapa, ya?" Tanya Lia.
"Berikan saja kepada saya. Nanti akan saya serahkan kepada atasan saya." Kata pria itu dengan senyum yang manis, menurut Lia.
__ADS_1
"Oh, iya. Ini. Terimakasih banyak, ya." Ujar Lia dengan menyerahkan mab coklat itu ketangan sang pria penolongnya.
"Iya. Kamu bisa menunggu dikursi itu. Nanti akan ada panggilan untuk anda. Saya permisi dulu." Ucap sang pria itu dengan menunjukkan sebuah sofa panjang tepat berada di tepi ruang tersebut.
Lia melangkahkan kakinya menuju sofa tersebut dan duduk dengan tenang disana. Ia mengedsrkan pandangannya kesekitar ruangan itu.
Ia melihat seorang satpam yang tengah berjaga disana, dan juga seorang wanita muda yang nampak cantik dan manis berada di balik mejanya. Dengan anggun ia mengangkat panggilan dari telepon yang berdering beberapa saat yang lalu.
Cara bicaranya yang lembut namun tegas, memberi penilaian tersendiri, karena semua hal itupun Lia merasa bahwa wanita itu memiliki perpaduan yang sempurna.
'Cantiknya.' Batin Lia. Yang tanpa ia sadari ternyata wanita itu pun menoleh kearahnya. Sontak Lia merasa malu karena kepergok menatap seseorang secara diam-diam.
"Mbak. Mbak yang disana." Ucap wanita itu kepada Lia.
"Iya, mbak." Kata Lia dan segera berjalan cepat, menuju kearah wanita itu.
"Ada apa, mbak?" Tanya Lia.
"Apa benar nama anda Adelia Anggraini?" Tanya wanita itu.
"Benar, mbak. Itu saya sendiri." Jawab Lia singkat. Ia merasa tegang sekali sekarang ini.
"Anda tadi kemari untuk melamar kerja, ya?" Tanya wanita itu lagi, dan di balas sekali anggukan oleh Lia.
"Silahkan anda kelantai 10, disana anda akan bertemu seseorang yang akan menginterview anda." Ujarnya dengan senyum kecil di akhir kalkmatnya.
"Baik. Terimakasih." Ucap Lia dan segera menaiki lift menuju lantai 10.
***
Setibanya dilantai 10, Lia merasa bingung harus kemana. Di lantai itu terdapat banyak slot dan juga karyawan yang sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Lia merasa sungkan jika nanti akan menggangu pekerjaan mereka. Hingga suara itu membuat Lia merasa tenang sejenak.
"Mbak. Silahkan kemari." Ucap pria yang benerapa saat yang lalu ditemui oleh Lia.
"Oh. Masnya disini juga, ya?" Kata Lia dengan senyum yang terukur diwajahnya. Entah mengapa kedatangan pria ini membuat Lia lebih tenang dan tidak segugup tadi.
Lalu, bagaimana kabar tuan muda kita?
Bagaimana bila ia mengetahui bahwa istrinya bekerja tanpa izin darinya?
__ADS_1
Bersambung..