
Pesawat yang menjadi transportasi bagi Lia dan juga Feri menuju kota A, kini tengah lepas landas. Wajah khawatir nampak jelas di raut wajah Feri, membuat Lia pun terasa pilu melihatnya.
"Apa bapak baik-baik saja?" Tanya Lia dengan menyentuh pundak Feri yang duduk bersebelahan dengannya.
"Ah. Iya. Saya tidak apa-apa. Saya hanya merasa sedikit mual dan gelisah." Ungkap Feri seraya menutupi bibirnya menggunakan telapak tangannya.
"Ini, pak. Pakai saja minyak aromaterapi ini. Siapa tahu dapat melegakan perasaan anda." Ujar Lia sembari menyunggingkan senyumannya.
"Terimakasih." Ucap Feri menerima sebuah botol roll on tersebut dari tangan Lia.
Menghirupnya perlahan dan megoleskannya di sekitar keningnya, seketika ia merasa lwbih lega daei sebelumnya.
"Maaf ya, Lia. Kamu jadi melihat saya seperti orang lemah begini." Ujar Feri mencoba memulai pembicaraan.
"Ya ampun, pak Feri kok bisa sih ngomong begitu? Kita ini kan sama-sama manusia, pak. Sudah seharusnya kita saling menolong." Ucap Lia setelah melihat raut wajah Feri nampak seperti seseorang yang kecewa akan dirinya sendiri.
"Kalau boleh tahu, apakah bapak punya riwayat mabuk udara? Tapi kemarin ketika kita berangkat kemari, anda baik-baik saja kan? Kenapa tiba-tiba anda seperti mabuk begini?" Cerocos Lia karena ingin mengetahui mengapa atasannya seperti itu.
"Hhh..." Memghela nafas, Feri tak lantas membalas pertanyaan yang di lontarkan oleh Lia. Hingga membuat Lia tak enak hati sendiri.
"Ma-maaf, pak. Sepertinya saya menanyakan hal yang terlalu privasi. Ini ada selimut, sebaiknya anda gunakan agar tetap hangat." Sambung Lia seraya menyerahkan selimut yang berada di pangkuannya.
Tersenyum, Feri menerima selimut pemberian Lia dan menyentuhnya lembut. "Terimakasih." Ucapnya.
"Sebenarnya apa yang tengah saya alami saat ini berhubungan dengan kejadian masa lalu yang menimpa saya bersama keluarga saya. Ketika kami sekeluarga tengah berlibur ke luar kota. Lebih tepatnya, saya yang memaksa untuk berlibur karena saya jenuh dengan keadaan dirumah." Tutur Feri penuh seakan penuh makna dari setiap kisah itu, Feri pun berkksah penuh dengan penghayatan.
"Sebenarnya saya memiliki seorang adik perempuan, namun sebuah musibah menyertai dirinya yang malang. Ketika ia bahkan belum genap berusia satu tahun, ia di culik dan di temukan tinggal kerangka di suatu daerah. Penculikan itu melatarbelakangi dendam antara ayah saya dengan lawan bisnisnya." Sambungnya yang kinj terasa perih di kedua pelupuk matanya.
"Lalu, apa hubungannya dengan anda pak? Bukankah anda kala itu tengah berlibur di luar kota?" Tanya Lia yang seakan terpancing ingin mengetahui segalanya mengenai keluarga tersebut.
__ADS_1
Menghela nafas sejenak, Feri pun seakan mengusap pelan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Karena.. karena.. karena saat saya pergi keluar kota, saya di temani oleh ayah. Sedangkan ibu dan adik saya, kami tinggalkan di rumah. Tanpa adanya pengawalan ketat, hingha musibah itu menghantui diriku yang selama ini merasa bahwa kematian ibu dan adik perempuanku adalah salah ku.." Mendengar perkataan Feri, membuat Lia cukup syok atas kenyataan bahwa Feri yang ia kenal beberapa waktu ini, merupakan makhluk paling lemah yang ia kenal selama ini.
"Semua ini salah saya. Karena saya, adik perempuan saya dan ibu saya pun meninggal dalam keadaan mengenaskan. Karena itu pula kesehatan ayah pun menjadi menurun dan juga kinerjanya dalam pekerjaan turut menghantuinya. Bahkan yang membuat perusahaan tersebut hampir bangkrut, adalah karena menyewa detektif swasta guna mencari tahu keberadaan adik perempuan saya." Lanjut Feri.
"Kapan kejadian itu terjadi pak?" Tanya Lia dengan penasaran.
"22 tahun yang lalu. Kala itu saya masih berusia 5 tahun. Miris bukan? Kehilangan orang tercimta karena keegoisan saya sendiri. Semua itu salah saya. Seharusnya saya tidak memaksa untuk meminta liburan." Ungkap Feri dengan bercucuran air mata yang tak dapat ia bendung lagi.
"Sudah pak, sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Semuanya telah di atur yang maha kuasa. Anda tidak dapat mengubah apapun meskkpun anda telah menangis darah sekali pun." Ucap Lia memcoba menenangkan Feri yang nampak terbawa suasana.
"Terimakasih, Lia. Saya merasa seperti melihat adik perempuan saya jika bersama mu. Maaf jika lancang, tapi-" Belum usai Feri berkata, tubuhnha sudah di peluk oleh Lia tanpa persetujuan darinha terlebih dulu.
"Eh, Lia. Ka-kamu kenapa? Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Feri yang nampak terkejut saat di peluk tiba-tiba oleh Lia.
***
Leo meninghalkan hotel tersebut tanpa berkata apapun, tepat ketika taksi yang memang disediak untuknhya menghampirinya.
"Tuan muda Leo!! Saya mohon pertimbangannya, tuan!! Saya mohon jangan pecat saya, tuan muda!! Saya tahu saya salah. Tapi saya sangat membituhkan uang untuk saat ini." Seru Cika dengan menggedor-gedor pintu mobil Leo.
"Kamu tahu kamu salah, kamu tahu kamu butuh uang. Tapi kenapa kamu tidak tahu diri?!" Hardik Leo dengan menghujami Cika tatapan tajam beserta wajah datarnya. Tanpa perduli Cika yang bergidik menerima tatapan tersebut.
"Tapi, tuan muda. Saya salah apa? Saya yang menjadi korban disini." Ucapnya mencoba memberanikan dirinya.
"Korban? Bukankah seharusnya saya yang menjadi korban? Kamu sudah memberi saya ramuan cinta mu di dalam gelas minuman saya. Benarkan? Jangan mengelak. Minggir sebelum sopir saya melindas tububmu!" Bentak Leo dan menutup kaca jendela mobil tersebut bersamaan dengan melajunya mobil tersebut.
Meninggalkan Cika yang terseungkur di jalanan, tak perduli lagi di tatap oleh siapapun yang melintasi jalanan itu.
__ADS_1
Kembali kepada Leo ketika suara nada dering dari ponselnya, yang merupakan ponsel keluaran terbaru dengan harga yang fantastis berdering.
Menandakan ada yang mwnghubunginya saat ini. Melihat siapa yang menghubunginya, ia pun mengangkat panghilan tersebut.
"Iya. Ada apa, Angga?" Ujar Leo yang ternyata menerima panggilan dari Angga.
"Maaf menggangu perjalanan anda, tuan muda. Tapi sepertinya kakek Edward telah mengetahui situasj antara anda dan juga nona Adelia." Ungkap Angga.
Mendengar itu pun, Leo tersentak dan terkejut. Pasalnya ia telah memperingatkan kepada Agus dan juga Angga agar tidak membocorkan keadaan antara dirinya dan Lia saat ini. Terutama ketika Lia bekerja dengan perusahaan lain, tentu akan mwnjadi hal yang merepotkan baginya.
"Apa?! Bagaimana bisa?" Ucapnya dengan terkejut.
Tapi ketika ia mengingat kembali, ia pun menyadari ada biang kerok di balik kemurkaan kakek Edward saat ini.
"Sinta.." Gumamnya seraya mengepalkan tangannya.
"Ya, tuan muda?" Tanya Angga.
"Tidak apa-apa. Saya akan segera kembali ke kota A." Ucapnya.
"Tapi tuan, kakek Edward maunya anda pulang bersamaan dengan nona Adelia. Jika pulangnya masing-masing, maka anda akan di hapus dari kartu keluarga. Begitu titah dari kakek Edward." Lanjut Angga.
"Hhh... baiklah. Perintahkan Agus untuk memantau Lia ketika tiba di bandara. sepertinya dia sudah tiba sekarang." Menghela nafas, akhirnya Leo menutup panggilan tersebut.
'Adeliaa.. adeliaa.. Apa yang telah kamu lakukan hingga mampu membuat orang tua itu berpihak kepadamu. Bahkan akan mengeluarkan saya dari kartu keluarga. Tapi saya tahu bahwa itu hanya trik kuno.' Batinnya bersamaan dengan dirinya telah berada di bandara saat ini.
Menatap langit yang terhempas luas, nersamaan dengan melajunya pesawat yang membawa para penumpangnya masing-masing ke kota tujuan mereka.
Bersambung...
__ADS_1