
Singkat cerita, Lia pun akhirnya menceritakan awal mula dirinya bisa menikah dengan sosok yang sangat disegani oleh seluruh wilayah.
"Tapi, apa kamu tidak apa-apa? Apa dia ada melakukan hal gila kepadamu?" Tanya Jessica, yang membuat Lia tersedak minuman yang baru saja ia telan.
"Hal.. Hal gila apa, Jess? Ya ampun, Jessica. Pikiranmu itu, loh. Ya nggaklah dia berani melakukan hal-hal aneh kepada istrinya sendiri." Ucap Lia dengan senyum terukir diwajahnya.
"Aku tanya aja. Soalnya kan, maaf nih sebelumnya. Kamu menikah tanpa kehadiran tuan muda Leo. Desas desus yang ku dengar sih, katanya dia nggak menikah denganmu karena cinta. Tapi karena perjodohan. Makanya dia nggak hadir. Apa bemar begitu?" Ucap Jessica.
Lia tak tahu harus berkata apa kepada sahabatnya itu, semua yang ia katakan benar. Namun ia merupakan tameng bagi sang suami. Ia tak ingin suaminya memiliki citra lebih buruk.
"Eh. Aku nggak bermaksud menyinggungmu, Lia. Toh itukan cuma rumor aja. Jangan diambil hati ya?" Ucap Jessica yang merasa tak enak hati, melihat Lia diam saja dengan tatapan kosong.
"Tidak. Bukan begitu. Sebenarnya saat hari pernikahan, tuan muda Leo tengah ada kegiatan yang tidak dapat si tunda. Jadi dia harus meninggalkan acara pernikahannya demi pekerjaan. Bukankah itu berarti dia suami yang bertanggung jawab?" Balas Lia dengan senyum yang ia buat sebaik mungkin.
'Istrinya? Kapan aku jadi istrinya? Menikah saja sendiri. Tidurpun sendiri.' Batin Lia sembari menenggak minumannya.
Sesaat suasana menjadi sedikit hening. Hingga akhirnya Jessica buka suara.
"Aku tau ini terdengar egois. Tapi, jika memang seluruh kejadian janggal yang terjadi pada bisnis keluargaku semua adalah perbuatan dari tuan muda, apakah kamu bisa membujuknya agar memperbaiki keadaan ekonomi keluargaku?" Pinta Jessica kepada Lia.
Belum sempat Lia membuka mulutnya unuk membalas pernyataan dari Jessica, tiba-tiba suara berat dan dingin itu menghamburkan segala fikiran Lia.
"Tergantung bagaimana usahanya." Ucapnya seraya menunjuk kearah Lia, yang menganga menatap Leo yang kini tengah menyenderkan tubuhya diantara pintu bangsalan tersebut.
"Eh. Tu-tuan muda. Se-sejak kapan anda ada disini?" Sahut Lia dengan suara bergetar. Matanya melirik kearah kedua sahabatnya yang nampak pucat pasi.
"Sejak tadi." Jawabnya singkat. Mendengar itu Lia segera berdiri dan menghampiri suaminya itu.
"Ma-maaf membuat anda tidak nyaman. Tapi, sepertinya ada yang ingin disampaikan oleh teman saya." Ucap Lia dan menatap Jessica dengan sebuah anggukan.
Jessica yang awalnya ragupun akhirnya turut berdiri, dan menghampiri sang tuan muda yang terlihat lebih berwibawa bahkan dari siapapun yang pernah ia temui.
"Saya tau saya melakukan kesalahan terhadap istri anda. Tapi, itu semua hanyalah sebuah salah paham. Tidak seharusnya anda memperlakukan saya dan keluarga saya seperti ini. Karena itu, saya mohon agar anda dapat mengembalikan keadaan ekonomi keluarga kami. Saya mohon." Ujar Jessica yang awalnya menunuk kini mulai bersimpuh dihadapan sang tuan muda.
Ia tak lagi memusingkan tentang gaya hidup atau gengsinya. Yang ia fikirkan sekarang hanyalah mengembalikan hidupnya.
"Seperti yang saya katakan barusan, tergantung bagaimana usahanya." Ucapnya dingin dengan menatap wajah polos Lia, yang kini mendapat tatapan penuh dari sahabatnya itu.
Berjalan perlahan, Lia menghampiri sosok dingin itu dan mengalungkan tangannya dileher pria yang kini merangkul pinggul kecilnya.
__ADS_1
Kecupan kecil ia sematkan dibibir sang pria, tak peduli dengan dua pasang mata yang menyaksikan kemesraan mereka dengan wajah meronanya.
"Apakah anda mau membantu sahabat saya?" Pinta Lia dengan nada manjanya. "Saya mohon." Pintanya sekali lagi.
"Hm. Lumayan. Akan saya pertimbangkan." Ucapnya kini dengan mendekatkan wajahnya ditelinga Lia, dan ia membisikkan sesuatu kepada wanita itu. "Tergantung bagaimana kamu melayaniku malam ini." Bisiknya sontak membuat wajah serta telinga Lia merah padam.
"Sepertinya urusan mu sudah selesai. Sekarang, giliran saya yang kamu urusin." Serunya dengan menggendong Lia dalam dekapannya.
Tanpamemperdulikan seluruh mata yang melihat hal tersebut, Leo segera membawa Lia menuju kediaman mereka.
***
Setibanya dikediaman, Adelia dan Leo dikejutkan oleh kehadiran kakek yang membuat keduanya nampak tersenyum kikuk.
'K-kakek Edward? Sejak kapan? Apa beliau tau kalau kami tidak tidur satu ranjang?' Batin Lia yang kini nampak panik tak karuan.
"Ada apa kakek tiba-tiba berkunjung?" Tanya Leo dengan dinginnya.
"Hanya ingin memastikan." Jawab kakek Edward, seraya melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.
"Tak ada yang perlu dipastikan. Jadi, akan lebih baik jika anda kembali kerumah utama." Sahut Leo mengikuti langkah kaki sang kakek.
"Saya tidak akan kembali." Ucapnya tiba-tiba, membuat seluruh penghuni rumah tersebut tersentak kaget. Tak terkecuali cucu menantunya, Lia yang kini tengah berdiri mematung.
"Saya akan tinggal disini." Sahutnya. Dan jelas saja membuat Leo menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Tidak!!" Seru Leo seraya menahan daun pintu yang akan dibuka oleh kakeknya.
"Hhh.." Menghela nafas.
"Kakek tau ini berat bagimu. Tapi ingatlah dengan posisimu sebagai ahli waris. Seharusnya kamu cepat-cepat memberiku cicit, terutama laki-laki. Apalagi yang kamu tunggu? Wanita? Sudah ada. Tapi kenapa kamu sia-siakan?" Sambungnya tanpa memperdulikan tatapan tajam dari cucunya tersebut.
"Maaf, kek." Potong Lia dengan mengacungkan tanagn kanannya.
"Mungkin, tuan muda masih butuh waktu untuk memikirkan hal tersebut baik-baik. Saya tau ini sulit baginya, mengingat dirinya yang tidak begitu tertarik akan wanita. Saya dapat memahaminya." Sambungnya, sontak saja ia mendapati wajah Leo yang menatapnya aneh.
"Tunggu!!" Seru Leo.
"Apa maksud perkataanmu barusan?" Timpalnya dengan menatap tajam kearah Lia.
__ADS_1
"Bu-bukankah anda tidak tertarik dengan wanita?" Jawab Lia seraya menatap polos wajah Leo, yang menatapnya seakan hendak membunuhnya.
"Maksudmu?" Tanyanya dingin. Sedingin es.
"Saya tau ini sangat menyiksa bagi anda. Tapi alangkah baiknya jika anda segera berobat dan terapi. Hal seperti ini jangan didiamkan berlarut-larut. Coba anda lihat kakek anda. Beliau sudah sangat berharap dengan kehadiran cicit. Tapi diusia anda yang sudah kepala tiga, anda bahkan tidak menaruh hati kepada wanita manapun." Jawab Lia tanpa menyadari keadaan yang sebenarnya.
"Jadi menurutmu saya ini pecinta pria?" Tanya Leo dengan berjalan mendekati Lia.
"Yaa. Itu semua saya simpulkan sendiri. Mengingat anda yang tidak hadir diacara pernikahan, anda yang selalu ketus kepada saya, dan anda yang tidak bersedia tidur bersama saya!!" Seru Lia sedikit berteriak membuat suaranya menggema diseluruh ruangan.
'A-apa yang telah kulakukan? Mati dah aku.' Batinnya.
"Jadi kamu pikir saya bukan pria tulen? Hm. Jangan salahkan saya bersikap kasar padamu malam ini." Ucapnya sembari menggendong Lia dan membawanya kelantai paling atas rumah itu.
"Hehehe.." Kekehan kakek Edward pun menghiasi wajah tuanya yang kini mulai keriput akibat usia.
"Maaf tuan besar. Ruangan anda telah disiapkan. Mari silahkan." Ucap kepala pelayan tersebut dengan membungkukkan tubuhnya.
"Memang seharusnya diawasi." Gumamnya sembari berjalan menuju ruangan yang telah dipersiapkan.
Sedangkan Leo yang telah tiba dipintu ruangan tersebut, nampak memerah karena kelelahan menggendong Lia sedsri tadi.
"Sepertinya kamu perlu diet." Ucap Leo seadanya, tanpa memgetahui bahwa mmbahas berat badan wanita itu hal yang sangat mengerikan.
"Apa?!" Seru Lia yang kini loncat dari pelukan sang tuan muda.
"Berat badan saya tidak lebih dari 45 kilo. Tidak mungkin seberat itu hingga harus diet!!" Serunya sekali lagi.
"Anda saja yang lemah." Gumamnya dan telak saja ia mendapatkan cengkeraman dikedua bahunya.
Sedikit meringis ia merasakan tekanan pada kedua bahunya.
"Uh. Sakit." Lenguhnya membuat Leo melonggarkan cengkramannya.
Kedua bola mata hitam miliknya menatap Lia yang masih meringis, menahan sakit yang baru saja ia terima.
Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada wanita yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak.
Adelia yang menyadari hal itu pun menyambut hangat perbuatan sang pria dengan memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
'Sungguh hal yang menggelikan, masa ia melakukan hal tersebut dengan pria yang tidak tertarik dengan wanita?' Batin Lia dan masih memejamkan kedua matanya.
Bersambung..