
Induk penyu itu meninggalkan telurnya yang baru saja ia kubur didalam pasir. Meninggalkan calon bayinya yang belum mengenal betapa kejamnya dunia ini.
Hingga suatu ketika,telur-telur itu pun mulai menetas. Menampakkan para bayi-bayi penyu mungil yang mulai merangkak mencari jalan, menuju arah lautan yang terbentang luas.
Seperti itu lah yang tengah terjadi pada Lia saat ini. Ia harus menghadapi semuanya seorang diri.
Sikap papahnya yang tertutup, membuatnya merasa tak memiliki siapapun lagi. Sungguh, Lia kecewa sekali saat ini.
Sembari menatap siaran yang tengah tayang, Lia merasa tak ada bedanya dirinya dengan bayi penyu itu.
Seorang diri mencari arti hidup, tanpa mengetahui bagaimana sulitnya kehidupan yang ia tempuh selama ini seorang diri.
'Bagaimana bisa papah nggak cerita apapun sama aku? Apakah benar aku hanya beban baginya?' Batin Lia menyeruak.
Lamunan Lia terhenti saat suara pintu kamarnya terbuka. Menampakkan seorang pria dengan penampilan yang masih mengenakan setelan jas di sekujur tubuhnya.
Dengan segera Lia menghampirinya dan mengeluarkan segala macam isi dari kepalanya yang berasa berat sekarang ini.
"Apakah anda telat pulang karena memang ingin membawa papah saya kemari?" Tanya Lia seraya melepaskan jas yang membalut tubuh suaminya.
"Kenapa memangnya? Apa ada masalah?" Tanya Leo balik.
"Tidak. Bukan seperti itu, saya hanya merasa senang jika anda memiliki pemikiran seperti itu. Soalnya, hanya papah saya saja keluarga yang saya miliki saat ini." Ujar Lia sambil menatap kedua tangannya yang ia genggang bersamaan.
"Tapi, kebenarnya tentang penyakit komplikasi yang diderita papah, apakah separah itu?" Lanjut Lia merasa kurng puas melihat hasil diaagnosa sebelumnya.
"Seperti itu lah." Jawab Lek sekenanya.
"Beruntunglah kamu, masih memiliki orang tua meski dia sedang sakit. Yang musa akan menjadi tua, dan yang tua akan meninggalkan dunia ini. Jadi, sayangilah dan hargailah keputusannya." Imbuh Leo membuat Lia menatapnya, seakan merasa tersentuh oleh ucapan dari tuan muda yang terlihat arogan itu.
"Baik!" Seru Lia dengan senyum ceria yang kembali menghiasi wajahnya, yang sebelumnya terlihat muram.
Leo pun nampak lega dengan reaksi Lia yang kembali terlihat ceria. Dengan lembut Leo mengusap kepala istrinya dan memandanginya penuh kasih.
Penampilannya yang sedikit lusuh membuat Lia tak dapat memalingkan pandangannya. Pasalnya suaminya saat ini terasa berbeda sekali auranya.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Apa ada yang aneh?" Tanya pria dengan iris mata hitam gelap tersebut.
"Ti-tidak ada. Anda sebaiknya segera memnersihkan diri anda. Bau anda seperti ikan asin." Ucap Lia seraya menutup hidungnya dan kembali fokus pada tayangan yang sempat tertunda bebrapa saat barusan.
__ADS_1
'Ikan asin?' Batin Leo heran.
'Tak ada yang berani bicara seperti jnj kepada saya. Hanya kamu.' Lanjut Leo dalam hati dan meninggalkan Lia yang bersemu malu, karena terlanjur keceplosan mengucapkan kata ikan asin kepada pria yang seharusnya ia segani.
Tak berselang lama, Leo keluardari kamar mandi dan menghamipir Lia dengan rambut yanv masih setengah basah. Tetesannya mengalir dari wajah hingga ke dada bidangnya yang tak tertutup apapun dan berhenti di lipatan handuk disekitar pinggilnya.
Lia yang melihat itu hanya dapat menelan lidahnya. Bikan kali pertama ia melihat suaminya bertelanjang dada maupun tak memakai papaun. Namun ka masij saya malu dan enggam untuk sekedar mwlihatnya dengan terus terang.
"O-oh. Anda sudah selesai mandinha? Ka-kalau begitu, saya abilkan baju tidur anda dulu ya." Ucap Lia mencoba menghapjs pikirannya yang mulai traveling kemana-mana.
Lia memasuki ruangan khusu pakaian miliknya dan sang tuan muda Leonardo NusaJaya itu berada. Ruangan yang kungki lebih luas daripada kamar kosnya yang duku.
Membuat Lia cukup kewalahan dalam memilih, karena banyaknya model yang tersedia.
"Ini aja deh." Ucap Lia.
Ketika ia hendak berbalik, tiba-tiba Leo berada tepat dibelakangnya dengan raut wajah yang nampak serius. Membuat Lia hampir jatuh pingsan saking kagetnya.
KYAAA!!!
"A-apa yang anda lakukan?! Anda hampir membuat saya mati jantungan." Seru Lia dengan kesal, lalu memukul kecil dada suaminya.
"Nih bajunya. Pakai sendiri." Ucap Lia sewot karena masih kesal dengan tingkah jahil suaminya.
"Saya mau mendatangi papah." Jawab Lia.
"Jangan. Biarkan saja. Dia sedang istirahat. Jika kamu kesana hanya membuatnya terbangun dan sulit tidur lagi." Ucap Leo membuat Lia berhasil mengurungkan niatnya.
"Daripada itu, bukankah tadi kamu bilang saya bau seperti ikan asin?" Ujar Leo dengan nada jahil dan mendekatkan wajahnya ke Lia yang nampak terkejut.
"Itu.. saya tidak bermaksud menghina anda. Tapi menurut penciuman saya, memang sepeti itu. Sudah malam. Sebaiknya kita istirahat." Jawab Lia dan ketika ia hendak melarikan diri dari situasi saat ini, dapat ia rasakan tangannya di tahan oleh Leo.
Seakan enggan menoleh kebelakang, Lia hanya terpaku saat ia merasakan hembusan nafas Leo yang menyapu bulu-bulu halus disekitar tengkuknya belakangnya.
Membuatnya merinding dan memejamkan matanya, menahan sensasi geli di area yng cukup sensitif baginya tersebut.
Tangan Leo yang nampak kekar dengan otot yang tak terlalu besar namun cukup padat, membalikkan tubuh Lia menghadap kearahnya.
Membuat keduanya saling bertatapan. Sekali lagi, Leo mengarahkan wajahnya ke leher Lia dan menyesap aromanya kuat-kuat. Menikmati aroma khas dari istrinya.
__ADS_1
"Kamu pakai parfum?" Tanya Leo dan dijawab gelengan oleh Lia.
"Pantas saja. Bau terasi." Ucap Leo iseng dan pergi meninggalkan Lia yang terperangah, mendapati balasan yang diberikan oleh suaminya kepadanya dengan telak.
Sebuah senyuman mengukir wajah Leo yang biasanya nampak dingin dan cuek itu.
Leo merasa aneh, tidak biasanya ia melakukan hal-hal gila semacam ini. Bukan untuk kepentingannya, namun agar sang istri tidak merasa terpuruk lebih lama.
'Te-terasi?' Batin Lia merasa sebal karena di katai seperti itu.
"Kenapa terasi? " Tanya Lia.
"Karena memang seperti itu baunya." Jawab Leo tanpa memandang istrinya dan tetap melanjutkan memakai piyamanya.
"Hah?! Nggak lucu tau." Ucap Lia ketus dengan pipi di gembungkan.
Membuat Leo merasa gemas dan ingin terus menjahilinya.
"Ngomong-ngomong, mau sampai kapan kamu disitu? Atau kamu mau menyaksikan saya ganti baju dengan leluasa? Ternyata kamu mesum juga ya? Tidak saya sangka kamu memiliki hobi seperti itu." Ujar Leo dan sontak membuat Lia terkejut, dengan membelalakkan kedua matanya, dan segera saja ia menyadari jika ia berada di situasi yang kurang baik untuk kesehatan jantungnya.
"Idih. Pede sekali anda. Siapa juga yang melihat anda ganti baju. Dan saya bukan wanita seperti itu. Sudahlah, saya akan segera pergi. Sebaiknya anda bergegas, sebelum masuk angin." Ucap Lia dan membuka pintu lemari yang nampak seperti toko pakaian itu.
Namun belum juga Lia melangkahkan kakinya keluar, ia merasakan dirinya tengah tertarik kebelakang dan berada didalam pelukan sang suami, yang nyatanya belum juga mengenakan piyamanya.
"Kenapa belum pakai bajunya? Nanti masuk angin, loh." Ucap Lia seraya mencoba melepaskan dirinya.
"Untuk apa repot-repot memakai baju, toh nanti di lepas juga." Ucap Leo sembari membalik tubuh istrinya dan tanpa sengaja, tangan Lia menarik handuk yang membungkus tubuh bagian bawah milik suaminya.
Sontak saja hal tersebut membuat keduanya saling terperangah. Terutama Lia yang merasakan malu bukan main dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan Leo, ia hanya menyeringai penuh akal bulus yang nampak jelas diwajahnya.
Biasalah. Pengantin baru. Masih malu-malu. Hihihi.😁😏
Bersambung..
‐-----------》》》》》》》》》》》》》》》---------
Halo teman-teman semua, jaga kesehatan selalu ya.
Meskipun belum banyak pembaca yang minat dengan novel ku ini, aku benar-benar menghargai kalian yang telah bersedia membacanya meskipun hanya beberapa bab saja.
__ADS_1
Terus dukung aku untuk melanjutkan novel ini hingga tamat ya teman-teman. Satu komen dan satu like dari kalian sangat berharga bagi saya.
Terimakasih. See you da da bye bye.. 🥰🥰