
Sierra baru saja ingin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur namun pada saat itu, Ia mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Sierra pun langsung berjalan kearah pintu kamarnya itu dan membuka pintu tersebut. Saat itu terlihat sosok ayahnya yang sudah berada tepat didepannya.
"Iya ayah. Ada apa? Apakah ada yang terasa sakit?". Tanya Sierra khawatir sambil memperhatikan ayahnya.
"Tidak Sierra. Aku baik-baik saya. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu didepan".
Sierra menyipitkan matanya. Lalu Ia pun melirik kearah jam dindingnya yang sudah menunjukan pukul 7 malam.
"Siapa yang datang ayah?". Tanya Sierra ragu.
"Ayah tidak tahu Sierra. Ayah tidak kenal. Dia seorang lelaki yang sangat tampan. Dan jika dilihat dari cara berpakaiannya sepertinya Dia berasal dari kalangan atas berbeda dengan kita". Ayahnya menjelaskan.
Setelah mendengar penjelasan ayahnya, kini pikiran Sierra pun tertuju pada sosok Revan. Sosok direkturnya itu yang mempunyai wajah tampan dan juga pakaian yang berkelas.
Namun ada urusan apa jika memang direkturnya itu yang datang kerumah Sierra saat ini? Tidak puaskah Dia yang sudah mengerjai Sierra sepanjang hari ini dengan harus menghubunginya setiap satu jam sekali?.
"Sierra kenapa kamu diam saja? Ayo jangan membuat tamumu menunggu lama. Cepetan keluar". Ucap ayahnya yang menyadarkan Sierra dari pikirannya.
Sierra pun segera berjalan keluar dari kamarnya itu dengan malas. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu rumahnya untuk menemui sosok lelaki yang dibicarakan oleh ayahnya itu.
"Jika memang benar Revan yang datang, ada kepentingan apa sampai Dia malam-malam harus datang kerumah Sierra yang kecil ini? Tidak mungkin kan Revan datang hanya untuk mengganggu Sierra dan mengerjainya? Jika memang begitu maka Sierra akan benar-benar marah dengan Revan tanpa ampun". Ucap Sierra dalam hati.
Hingga akhirnya kini Sierra pun sudah tiba diruang tamu rumahnya itu. Terlihat sosok Vino yang menggunakan kemeja biru muda sudah duduk rapih dikursi rumahnya. Sierra pun mengamati sosok Vino sejenak. Vino yang terlihat nyaman dengan keadaan rumah Sierra yang kecil dan juga berantakan seperti ini.
"Nona Sierra anda sudah datang". Sapa Vino yang langsung berdiri dari duduknya.
"Ah tidak perlu berdiri asisten Vino. Duduklah. Maaf rumah aku kecil dan juga berantakan". Ucap Sierra malu.
Vino tersenyum. Lalu Vino pun duduk kembali dikurisnya itu dengan nyaman.
"Tidak apa-apa nona Sierra. Rumah anda sangat nyaman".
"Kamu benar-benar pandai menghibur asisten Vino. Oiya ada apa kamu datang kerumahku malam-malam seperti ini? Saya pikir direktur Revan yang datang".
"Apakah anda kecewa karena yang datang adalah saya bukan direktur Revan?".
__ADS_1
Sierra menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Sierra kecewa. Justru Ia sangat bersyukur karena yang datang sekarang adalah Vino bukanlah Revan. Karena jika Revan yang datang maka Sierra akan benar-benar merasa malu dengan keadaan rumahnya yang seperti ini.
"Tidak asisten Vino. Untuk apa aku kecewa. Malah aku senang karena asisten Vino yang datang". Sierra tersenyum.
"Nona Sierra bukankah saya sudah memperingatkan anda untuk tidak asal bicara dan tersenyum dengan lelaki lain? Apakah anda tidak mendengarkan perkataan saya?".
Sierra memutar bola matanya. Kini sifat Vino sudah sama persis seperti Revan. Sama-sama sok berkuasa dan mengekangnya. Benar-benar menyebalkan.
"Iya iya aku mengerti asisten Vino". Ucap Sierra dengan malas.
"Ini nona Sierra. Direktur Revan menyuruh saya untuk memberikan semua ini kepada anda. Semoga anda menyukainya". Vino memberikan satu buket mawar merah dan juga berbagai tas belanjaan kepada Sierra.
Sierra pun membulatkan matanya. Sungguh apa maksud Revan memberikan semua ini kepada Sierra? Tas belanjaan yang diberikan Vino adalah merek-merek tertama yang tentu saja memiliki harga selangit hanya dengan melihat logo dan namanya saja.
Sedangkan buket bunga yang diberikan Vino juga bukanlah buket bunga biasa. Buket bunga itu mempunyai harga yang tidak kalah mahal karena dibuat dari bunga mawar import. Sierra bisa mengetahui hal itu karena dulu Ia pernah diperintahkan oleh Revan untuk memesan buket bunga mawar untuk salah satu mantan kekasihnya.
"Nona Sierra kenapa anda diam saja? Anda bisa mengambil semua ini dan melihat apakah ini memang sesuai selera anda. Jika tidak sesuai saya akan membelikan yang lainnya".
"Ah tidak-tidak asisten Vino. Semua ini sudah sesuai dengan seleraku. Namun mohon maaf sepertinya aku tidak pantas untuk menerima semua ini. Ini terlalu mahal dan aku tidak mau sampai memiliki hutang yang lainnya".
"Mohon maaf asisten Vino. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Ini sangat membebani. Aku terima niat baik direktur Revan tapi untuk menerima semua barang ini aku tidak bisa". Sierra menegaskan.
"Baiklah jika nona Sierra tidak bisa menerima semua ini maka saya akan membelikan barang yang lainnya. Mungkin barang yang saya beli saat ini tidak sesuai dengan selera nona Sierra".
"Tidak bukan seperti itu asisten Vino. Astaga bagaimana aku harus menjelaskannya. Pokoknya aku tidak ingin kamu membelikan aku barang yang lainnya dan aku tidak bisa menerima semua ini".
"Tidak bisa nona Sierra. Anda harus memilih. Menerima semua barang ini atau saya akan membelikan barang yang lainnya". Vino bersikeras.
Sierra pun menghembuskan nafas panjang. Jika sudah seperti ini maka mau tidak mau Sierra terpaksa harus menerimanya. Dari pada urusannya semakin panjang jadi lebih baik Sierra mengambil semua barang ini.
Biar nanti Sierra yang berbicara langsung kepada Revan bahwa Ia akan mengganggap semua ini adalah hutang dan Sierra akan mencicil untuk membayarnya.
"Baiklah aku akan menerima semua ini asisten Vino. Tolong ucapakan terima kasihku kepada direktur Revan". Ucap Sierra yang mengambil buket bunga dan juga berbagai tas belanjaannya.
"Lebih baik anda mengucapkannya sendiri nona Sierra. Direktur Revan pasti akan sangat senang".
__ADS_1
"Iya asisten Vino aku mengerti".
"Baiklah saya pamit pergi nona Sierra. Sampaikan salam saya untuk ayah anda. Dan pastikan anda langsung menelfon direktur Revan setelah ini".
"Baiklah. Terima kasih asisten Vino"
Vino pun membungkukan tubuhnya dan langsung berjalan pergi meninggalkan Sierra. Sedangkan Sierra hanya bisa menatap berbagai tas belanjannya itu dengan putus asa.
"Hah hutangku semakin bertambah saja. Revan memang benar-benar menyusahkan". Keluh Sierra sambil membawa tas-tas belanjaan dan juga buket bunga kedalam kamarnya.
Hingga saat sudah berada didalam kamarnya, Sierra pun teringat dengan perkataan Vino tadi. Perkataannya yang menyuruh Sierra untuk langsung menghubungi Reva dan mengucapkan terima kasih agar Revan merasa senang.
Sierra pun segera mengambil ponsel yang berada diatas meja kerjanya itu dan mencari sebuah nomor. Lalu Sierra pun langsung menghubungi nomor tersebut. Membutuhkan waktu yang lama untuk panggilan itu akhirnya dijawab oleh penerimanya.
"Hallo Sierra ada apa?". Tanya Revan sedikit berteriak karena suara berisik sekitarnya.
Sierra diam sejenak. Ia mendengar suara degup kencang musik dari suara Revan. Bahkan Sierra juga mendengar suara perempuan yang sepertinya sudah berada disamping Revan.
"Sial. Ternyata Dia sedang asik di club malam bersama wanita lain. Tau begitu ngapain aku harus menghubunginya sekarang. Membuang-buang waktuku saja. Semua ini karena asisten Vino. Kalo Dia gak berkata seperti itu juga ngapain aku repot-repot menghubunginya". Keluh Sierra dalam hati.
"Hallo Sierra, kamu bisa mendengar saya?". Tanya Revan kesekian kalinya.
"Iya direktur Revan saya bisa mendengar anda. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih saja atas pemberian anda". Ucap Sierra denga malas.
"Tidak perlu berterima kasih Sierra. Itu memanglah tugas saya sebagai kekasih kamu. Apa kamu menyukainya?".
"Tentu saja saya menyukainya karena itu semua adalah pemberian anda. Baiklah saya tidak akan menggaggu acara anda direktur Revan. Selamat malam".
Sierra langsung memutuskan panggilannya. Lalu Sierra pun langsung melemparkan ponsel itu ketempat tidurnya. Entah mengapa Sierra merasa sedikit kecewa ketika mengetahui Revan yang saat ini sedang berada di sebuah club malam bersama wanita lain.
Sierra merasa hatinya sedikit sakit padahal sebelumnya Ia merasa senang karena perhatian Revan yang memberikan barang-barang itu kepada Sierra. Sierra pun langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Kamu benar-benar bodoh Sierra. Mengapa kamu harus senang hanya karena barang-barang mewah itu. Revan pasti akan memberikan semua itu kepada kekasih-kekasihnya jadi jangan berpikiran yang terlalu jauh. Dan lihatlah sekarang Dia malah bersenang-senang dengan wanita lain disebuh club malam. Entah apa yang akan Dia lakukan bersama dengan wanita-wanita penggoda itu. Padahal Dia sendiri yang bilang bahwa Dia adalah kekasihmu tapi tetap saja masih bersama wanita lain. Ayolah Sierra gunakan pikiranmu jangan terus menerus masuk dalam perangkap Revan".
Sierra mengingatkan dirinya. Lalu Sierra pun berusaha memejamkan kedua matanya. Ia tidak ingin terlalu lama larut dalam kekecewaannya. Hingga akhirnya kini Sierra pun sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*