
Percakapan kedua pria matang di balik ponsel itu terdiam sesaat. Merasa canggung, Angga pun mulai mengomentari pendapatnya barusan.
"Hahaha. Saya hanya bercanda, tuan Leo. Mungkin nyonya Lia memiliki alasan tersendiri perihal ia melamar pekerjaan di perusahaan cakramulia. Apakah sebelumnya, nyonya Lia tidak ada bercerita apapun kepada anda?" Ujar Angga mencoba mengurangi beban batin tuan mudanya tersebut.
"Tidak. Tidak ada." Jawab Leo seadanya.
Telah 3 bulan ini, ia dan Lia telah menjalin hubungan sebagai suami istri. Meskipun dirinya yang tidak menghadiri pernikahan tersebut, tapi ia tetaplah suami sahnya.
Tapi mengapa ia tidak menceritakan apapun kepada suaminya sendiri. Alih-alih untuk bercerita, sepertinya Lia memiliki rencana lain tanpa sepengetahuan Leo.
Menggertakan giginya, Leo merasa kecewa dan marah atas tindakan sang istri. Lagi dan lagi, ia di buat kecewa oleh orang terdekatnya.
"Cari tahu perusahaan itu." Titah Leo.
Sedangkan yang diperintahkan, hanya menghela nafas panjang.
"Selarut ini?" Tanyanya lemas. Baru saja tidur, karena Angga pun turut mengurusi perihal pekerjaan Leo yang menumpuk. Karenanya ia tidak turut serta dalam projek kasus pembangunan hotel di kota B.
"Hm." Jawab Leo dingin.
"Yasudahlah." Ujar Angga pasrah.
Dengan cekatan, ia membuka laptopnya dan membuka browser pencarian. Dan terdapatlah nama perusahaan tersebut.
"Perusahaan CAKRAMULIA, pemiliknya adalah tuan Cakra. Tapi karena kondisinya yang mulai menua dan kesehatannya yang memburuk, ia menurunkan jabatannya kepada pewaris tunggalnya. Feri Cakramulia. Perusahaan itu berada di kota A juga, dirumorkan bahwa perusahaan tersebut hampir bangkrut. Memang ada lowongan pekerjaan untuk bagian sekretaris, kemungkinan nyonya Lia melamar sebagai sekretaris di perusahaan tersebut, tuan." Jelas Angga.
Leo yang mendengar itupun mulai menarik bibirnya, memberi seringai pada wajahnya. Menampakkan gigi-gigi putihnya yang berjajar rapih.
"Benar-benar licik. Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Adelia Anggraini?" Gumam Leo pada dirinya sendiri.
"Perusahaan itu bekerja dalam bidang apa?" Tanya Leo pada Angga yang masih tersambung dalam panggilan saat ini.
"Di jelaskan jika perusahaan tersebut bergerak dalam bidang pembangunan. Seperti semen dan bahan baku pembuatan bangunan. Tapi karena banyaknya saingan dan juga strategi pemasaran yang kurang baik, perusahaan tersebut tidak mencapai taeget penjualannya pada beberpa tahun terakhir." Jelas Angga sekali lagi.
__ADS_1
"Baiklah. Cukup penjelasannya. Saya ada pekerjaan untukmu." Ujar Leo.
"Pekerjaan apa lagi? Disini saja sudah menumpuk." Balas Angga.
"Pekerjaan disana di tunda dulu. Kakek akan mengerti. Nanti saya yang bicara pada orang tua itu." Kata Leo.
"Baiklah. Jadi, ada perintah apa, tuan muda Leo?" Tanya Angga dengan menyiapkan buku tugasnya. Tak lupa pula dengan bolpoin dalam cengkeraman jarinya.
"Ajukan pertemuan antara saya dan juga pemilik perusahaan cakramulia saat ini. Dan pastikan wanita itu ikut serta dalam pertemuan ini. Pertemuannya di kota B, karena saya yang meminta pertemuannya, dana untuk mereka kesini ditanggung oleh saya pribadi. Jangan gunakan uang perusahaan." Jelas Leo dengan seringai yang semakin lebar.
Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini, tapi mendengar suara dari tuan mudanya seperti itu saja, sudah membuat Angga merinding sesaat.
"Jika kamu di tanya kenapa bertemunya di kota B, jawab saja untuk menyesuaikan bahan bangunan yang sesuai untuk pembangunan hotel NusaJaya dikota B. Jelas?" Titah Leo dengan jelas. Dan segera di jawab oleh Angga.
"Jelas sekali, tuan. Saya akan laksanakan perintah anda." Ujar Angga dan sambungan mereka pun terputus.
"Lia. Apa rencanamu sebenarnya? Hm. Wanita yang menarik." Gumam Leo sebelum akhirnya menghabiskan kopi itu dalam sekali teguk. Dan akhirnya ia terlelap sendirinya.
***
"Besok aku mulai bekerja. Semoga aku bisa segera mengungkap kebenaran akan jati diriku, dan aku bisa bertemu dengan keluarga kandungku. Ya Tuhan. Mudahkanlah rencanaku ini." Gumam Lia dengan menyudahi kegiatannya saat ini.
Ia mengecek ponselnya setelah ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang nyaman miliknya.
"Kayaknya dia sibuk banget. Sampai nggak sempat memberi kabar padaku." Ucap Lia saat ia menyadari jika tidak ada panggilan maupun pesan dari sang tuan muda Leo alias suaminya.
Sebenarnya ia rindu dan khawatir. Tapi ia buang fikiran tersebut, saat ia mulai mengantuk dan membuang rasa lelahnya dalam lelapnya tidur.
***
Keesokan harinya, lebih tepatnya pukul 7 pagi. Lia yang merupakan karyawan baru di perusahaan CAKRAMULIA, kini harus berdiri mematung di hadapan para karyawan yang lain.
"Silahkan perkenalkan diri anda." Ucap Feri yang di balas anggukan kecil oleh Lia.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya. Nama saya Adelia Anggraini, kalian bisa memanggil saya Lia. Usia saya 22 tahun dan saya sudah menikah. Selama saya bekerja di perusahaan ini, saya mohon kerjasamanya. Sekian, terimakasih." Jelas Lia dengan lancar.
Ia harus memperkenalkan dirinya secara terbuka kepada teman satu kantornya. Meski malu-malu, Lia melewati brifing paginya dengan tenang.
Ditempatnya yang berada tepat di depan ruangan pribadi General Manager perusahaan itu, Lia mulai bekerja dengan membuat skedul pekerjaan untuk mempermudah atasannya dalam segala kegiatan.
Keseruannya dalam hal itu membuatnya tak menyadari, jika ia tengah di pandang oleh Feri dari balik jendela ruangannya.
"Seandainya dia belum menikah, aku ingin memilikinya." Gumamnya sembari memperhatikan lagi dan lagi wanita yang telah merenggut hatinya.
Hingga sebuah panggilan membuatnya tersadar, ia pun mengangkat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Iya, halo. Siapa ini?" Tanyanya.
"Iya. Saya dari perusahaan NusaJaya, saya berkeinginan untuk membeli beberapa ton semen dan juga bahan bangunan lainnya dari perusahaan anda. Apakah kita bisa bertemu untuk diskusi lebih lanjut?" Jelas dari seberang panggilan tersebut.
Mendengar hal itu, membuat Feri senang bukan kepalang. Ini adalah kali pertama sejak ia memegang perusahaan CAKRAMULIA dengan peminat produknya sebesar ini.
Tapi ia ragu sesaat, jangan-jangan ini adalah tipu muslihat dari orang iseng yang benar-benar ingin menghancurkan perusahaan milik ayahnya.
"Maaf tuan, saya sangat berterimakasih atas ketertarikan anda dengan produk kami. Tapi, apakah saya bisa meminta bukti bahwa anda benar akan membeli produk kami dengan jumlah sebesar itu?" Ucap Feri yang merasa was-was sedari tadi.
"Tentu saja. Saya tidak akan langsung membelinya, saya ingin berdiskusi terlebih dahulu dnegan anda. Apakah anda bisa datang menemui saya di kota B? Saya yang akan membiayai transportasi dan juga konsumsi anda sekaligus sekretaris pribadi anda selama disini." Ucap Angga yang berusaha keras agar Feri menyetujui permintaannya.
Keringat dingin mengucur di dahi Angga, ia harap-harap cemas jika harapan tuan mudanya tidak berjalan dengan lancar.
"Baiklah, saya menyetujuinya. Tapi kenapa harus dengan sekretaris pribadi?" Tanya Feri yang merasa mengganjal.
"Oh, itu. Itu. Karena saya juga membawa sekretaris pribadi saya kemari. Untuk membantu saya dalam urusan disini. Apakah anda tidak pernah membawa sekretaris pribadi anda sebelumnya?" Pancing Angga dengan memberi rasa iri pada Feri.
Merasa terpancing, Feri pun menyanggupinya dan sambungan telpon itu pun terputus secara sepihak.
Bersambung..
__ADS_1