Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Adelia yang tersadar akan apa yang baru saja ia ucapkan segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Ceklek!!


Suara kunci pintu yang terbuka bersamaan dengan daun pintu yang kini menampakkan seorang wanita yang nampak tirus, dengan baju lusuh serta tubuh yang terlihat lebih kurus dari terakhir kali Lia melihatnya.


Sempat pangling, apakah benar ini Jessica yang ia kenal selama ini? Bagaimana bisa dirinya sampai seperti ini? Sungguh, Lia benar-benar menahan air matanya untuk sesaat.


Tatapan dari kedua sahabat itupun beradu. Biru bertemu coklat. Pupil keduanya saling bertemu dalam diam dengan suasana yang sangat canggung.


Hingga membuat Lia yang tak tahan, seketika merasakan dorongan dari dadanya dan sebuah kalimat seolah keluar dari mulutnya tanpa perintah darinya.


"Bocah monyet!! Bocah monyet!! Bocah monyet!!" Seru Lia berulang-ulang, hingga membuatnya tak tahan lagi menahan air matanya.


Dengan tubuh yang bergetar dan nafas yang menderu, ia tak henti-hentinya mengucapkan kalimat itu tanpa mempedulikan sekitarnya.


Ia tak peduli dengan tatapan warga disekitar. Ia pun tak peduli jika Jessica akan marah san memukulnya seperti tempo hari. Ia bahkan tak peduli jika apa yang ia lakukan akan memutuskan tali persahabatan mereka.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau mati sekarang juga?" Suara serak itu menghentikan Lia.


"Iya!! Aku mau mati sekarang!! Untuk apa aku hidup jika sahabat baikku bahkan nggak mau lagi mengenalku. Aku bahkan nggak perlu hidup lagi jika seperti ini!!" Seru Lia dan mengepalkan tangannya.


Mendadak suasana menjadi sunyi. Para tetangga pun lebih memilih untuk tak ikut campur dan masuk kedalam hunian mereka masing-masing.


"Aku.. Nggak pernah merasakan punya teman. Aku juga nggak tau bagaimana hidup dengan saudara. Aku bahkan lupa bagaimana pelukan dari mendiang ibuku. Tapi.. Tapi, aku dapat merasakan itu semua berkat mu. Jika bukan karenamu, mungkin saja.. Mungkin saja aku sudah.. sudah nggak membutuhkan hidup ini." Ucap Lia dengan tangis yang menjadi dan suara yang terbata-bata.


"Karena itu, ku mohon. Tolonglah, katakan saja apapun yang ingin kamu katakan padaku. Jika kamu punya masalah denganku perihal apapun itu, tolong sampaikan padaku. Jangan seperti ini. Kamu.. Kamu sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri, Jess." Imbuh Lia yang kini mulai tersungkur dilantai.


Isak tangisnya yang sesenggukan membuat siapapun yang melihatnya dapat merasakan kepedihan yang ia alami.


Tak terpungkiri Jessica yang kini turut memeluk pelan tubuh yang kini tengah bersimpuh dilantai teras rumahnya.

__ADS_1


"Maaf.. Hiks.. Maafin aku.. Hiks.." Isak tangis Jessica disusul tangisan Lia dan tangis merekapun pecah, tanpa mempedulikan orang-orang yang memandang heran kepada mereka berdua.


Setelah semuanya tenang.


Lia yang kini duduk lesehan didalam bangsalan milik Jessica hanya diam sembari mencuri-curi pandang, melirik sahabatnya yang kini duduk disebelahnya.


Disaat itupun Jessica ternyata turut melirik Lia. Dan saat itu pula, keduanya menyadari hal tersebut dan segera keduanya sama-sama berpaling. Membuat suasana semakin canggung.


Hingga keduanya tanpa sadar melirik membali dan pandangan mereka pun bertemu lagi. Membuat mereka terlihat konyol dan dengan segera gelak tawa dari kedua sahabat itupun tak terelakan lagi.


"Hahaha.. Kocak banget sih." Ucap Jessica dengan mata bengkaknya yang menyipit dengan senyum lebar, yang memperlihatkan seluruh jejeran giginya.


"Hahaha.. Kita kaya orang bodoh saja." Imbuh Lia yang kedua matanya tak kalah bengkak juga.


Keduanya saling tertawa dengan riang, seakan tak ada hal yang perlu mereka cemaskan lagi. Membuat sesosok yang tengah berada dibalik bangsalan itu tersenyum kecil.


Setelah keadaan tenang, Lia pun mulai membuka suara.


Jessica yang mendengar itupun hanya terdiam. Seolah ia tengah berfikir keras.


"Aku.. Melakukan hal itu karena aku iri kepadamu." Gumam Jessica perlahan.


Mendengar perkataan itu, Lia segera menoleh dengan tatapan tak percaya.


"I-iri? Dengan ku? Memangnya apa yang kamu irikan dariku? Kamu bahkan lebih mampu daripada aku." Ucap Lia masih dengan tatapan tak percayanya.


"Kamu.. Sangat populer dan kamu.. bahkan sangat cocok dengan Hery." Jawab Jessica kini menatap lantai tempatnya duduk.


"Aku suka sama Hery sudah sangat lama. Aku nggak bisa mengutarakannya, karena dia keihatannnya memiliki hati kepadamu. Tapi, prasaanku nggak bisa ku pendam ketika kita bermain bersama diwahana. Saat itu aku benar-benar seperti nyamuk. Kalian begitu asyik dan melupakan aku seolah-olah aku ini tidak ada. Aku malu sebenarnya mengatakan hal ini. Tapi, seperti itulah kenyataannya. Karena itu, ku mohon. Topong rahasiakan ini dari Hery, ya." Ungkap Jessica.


"Hmm... Aku maunya sih merahasiakan, tapi sepertinya Hery mendengarnya sendiri tuh." Sahut Lia yang menunjuk sesosok pria yang sangat mereka kenal, berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Dengan wajah datarnya, Hery masih tak habis fikir dengan tindakan Jessica yang hampir membuat sahabatnya itu kehilangan nyawa.


"A-aku.." Jessica tidak dapat berbicara apa-apa saat ini.


Dengan wajah pucatnya, dia hanya tertunduk lesu. Ia sadar bahwa dirinya tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan Hery. Mengingat apa yang telah ia lakukan kepada sahabatnya sendiri.


"Sebenarnya, Hery juga menyukaimu." Potong Lia yang jelas saja, membuat kedua jomblo dihadapannya tersentak kaget.


"Hery sendiri yang bilang, kok." Sambung Lia seraya mengangkat kedua bahunya.


"Li..lia !!" Seru Hery dengan wajah yang memerah.


"Be-benarkah?" Sahut Jessica yang mulai berani menatap wajah Hery, yang kini sama-sama merah seperti kepiting rebus.


"Ya ampun." Sekarang giliran Lia yang layaknya obat nyamuk.


Dikelilingi dua sahabatnya yang tidak peka antara satu dengan yang lainnya. Hingga dirinya harus ikut terseret arus perasaan cinta mereka yang baru saja tumbuh.


"Aku.. Mungkin dulu memang menyukainya, Jess. Sebelum akhirnya kini aku menikah. Aku sudah lama merelakannya." Ucap Lia dengan senyum tulusnya, seraya menggenggam kedua tangan sahabatnya itu.


"Aku ingin hidup bahagia, dan akupun ingin kalian hidup bahagia. Semoga kita seperti ini selamanya." Sambungnya diiringi dengan pelukan persahabatan yang telah lama mereka rindukan.


"Ngomong-ngomong. Kenapa keluarga mu bisa bangkrut, Jess?" Kata Hery tiba-tiba, setelah mereka meminum beberapa minuman yang telah disiapkan.


"Entahlah. Tiba-tiba saja, seluruh kolega yang bekerja sama dengan papah mendadak menghentikan kejasamanya. Dan beberapa dana yang membantu pun tiba-tiba saja berhenti mengalir. Semuanya tiba-tiba setelah.. Setelah.. Kejadian itu." Jawab Jessica yang menatap Lia dengan pupil mata bergetar.


"A-ada apa, Jess? Apa kamu sakit?" Tanya Lia yang melihat Jessica nampak pucat.


"Kamu..Apakah benar kamu menikah dengan, Leonardo NusaJaya?" Sahut Jessica dengan tatapan mata yang tak bekedip.


Begitupula dengan Hery yang kini nampak pucat, menatap Lia yang hanya memberikan senyuman kecil kepada kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2