Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Perjalanan Dinas #1


__ADS_3

Kini Sierra sudah berada di bandara dengan koper kecil yang dibawa olehnya. Sierra yang memang baru pertama kali berpergian menggunakan pesawat pun mulai merasa kebingungan. Apalagi bandara itu begitu besar dan luas yang membuat Sierra semakin sulit untuk menemukan pintu keberangkatan pesawatnya.


Sierra pun mengamati sekeliling. Ia terus mencari letak pintu keberangkatannya dengan tangan yang memegang tiket pesawatnya. Hingga akhirnya karena terlalu sibuk dengan pencariannya tanpa sadar Sierra pun menabrak seorang lelaki yang ada didepannya hingga tas lelaki itu terjatuh. Sierra pun segera mengambilkan tas lelaki itu.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja". Ucap Sierra sambil memberikan tas lelaki tersebut.


Lelaki yang menggunakan kemeja berwarna biru itupun tersenyum. "Iya tidak apa-apa. Tidak masalah".


"Barang-barangmu yang ada ditas itu tidak rusak kan? Maaf karena aku tidak memperhatikan jalan". Sierra menundukan wajahnya.


"Iya santai saja. Tas ini cuman berisi baju saja jadi tidak mungkin ada yang rusak".


"Syukurlah. Kalo begitu aku pamit pergi dulu. Sampai jumpa". Sierra berjalan untuk melanjutkan pencariannya kembali. Namun sebelum Sierra berjalan jauh, langkahnya pun terhenti ketika Ia mendengar suara lelaki memanggil namanya.


"Nona Sierra?". Panggil seorang lelaki.


Sierra pun membalikan badannya. Lalu Ia menatap kearah lelaki yang ditabrak olehnya tadi. Lelaki itu masih saja memperlihatkan senyumannya.


"Iya?". Jawab Sierra ragu.


Lelaki itupun berjalan ke arah Sierra. Lalu lelaki itu memberikan sebuah tiket kepadanya. Sierra pun menatap tiket tersebut.


"Astaga ternyata tiketku terjatuh. Terima kasih ya. Kalo tidak ada tiket ini entah seperti apa aku jadinya".


Lelaki itu pun terkekeh. "Iya untungnya tadi aku lihat ada tiket yang terjatuh dan aku rasa itu milikmu. Jadi ternyata namamu Sierra?". Tanya lelaki itu sambil menatap Sierra.


"Ah iya benar". Ucap Sierra canggung.


"Namaku Leon". Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Sierra pun diam sejenak. Ia menatap tangan itu ragu. Sebelum akhirnya Sierra membalas uluran tangan itu yang membuat mereka saling bersalaman.


"Senang bertemu denganmu Sierra". Ucap Leon yang masih dengan senyumannya.


"Ah iya senang bertemu denganmu juga". Sierra memaksakan sedikit senyum.

__ADS_1


"Sepertinya kita akan pergi ketempat yang sama. Dan kebetulan pesawat kita juga sama. Apa kamu ingin pergi bersama denganku?".


"Benarkah? Boleh aku ikut denganku? Kebetulan aku juga sedang bingung mencari pintu keberangkatannya". Sierra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lelaki itupun tersenyum. "Baiklah ayo pergi bersama-sama".


Sierra menganggukan kepalanya. Lalu Sierra mulai berjalan disamping Leon dengan mata yang sesekali melirik kearahnya.


Sungguh lelaki yang bernama Leon ini sangatlah tampan. Bahkan bisa dikatakan begitu sempurna. Dengan tubuhnya yang tinggi, berkulit putih, wajah yang oval, hidung yang mancung, mata yang sipit, senyum yang manis membuatnya bagaikan anugrah terindah dari yang maha kuasa. Benar-benar enak untuk dipandang.


Jika dibandingkan dengan Revan ataupun Vino maka lelaki ini berada diurutan kedua setelah Revan.Karena bagaimana pun juga tidak ada lelaki manapun yang bisa menandingi pesona seorang Revan.


Walaupun sosok Revan sangatlah menyebalkan dan juga dingin tetapi itulah yang menjadi daya tariknya. Hal itu yang membuat banyak wanita tergila-gila dengannya. Dan Sierra kini menjadi salah satu dari wanita-wanita itu yang mulai terpikat dengan sosok Revan yang merupakan direktur perusahaannya.


Untuk sesaat pikiran Sierra pun kini mulai dipenuhi dengan bayang-bayang wajah Revan. Mulai dipenuhi dengan berbagai tingah Revan yang menyebalkan. Mungkin tanpa sadar Sierra memang sudah merindukannya. Sierra pun menghembuskan nafas panjang.


"Sierra boleh aku tahu kamu datang ke tempat ini untuk urusan apa?". Tanya Leon yang menyadarkan Sierra.


"Oh aku datang untuk menyusul direkturku".


Sierra yang seakan tahu ada arti lain dari ucapan Leon itupun langsung tertawa.


"Tidak maksudku menyusul direkturku untuk perjalanan dinas. Untuk membantunya mengurus beberapa dokumen". Ucap Sierra disela tawanya.


Leon pun tersenyum. "Ah ternyata itu maksudmu. Aku sudah berpikiran yang tidak-tidak tadi".


"Iya aku tahu makanya aku langsung menjelaskannya agar tidak ada salah paham".


"Lalu Sierra bolehkan aku tahu siapa di rekturmu itu?"


"Oh direkturku itu cukup dikenal. Dikenal sebagai seorang playboy, pemain wanita". Sierra tersenyum.


"Dia adalah Revan". Sierra melanjutkan ucapannya.


Senyum Leon pun semakin mengembang. Dan Sierra yang melihatnya pun hanya menatapnya bingung.

__ADS_1


"Kenapa ekspresi wajah Leon seperti itu? Apa Leon benar-benar mengenal Revan? Atau jangan-jangan mereka berteman baik? Habislah kamu Sierra jika semua itu benar karena kamu sudah menjelek-jelekan di rekturmu itu". Ucap Sierra didalam hati.


"Sierra apa kamu percaya dengan yang namanya takdir?". Tanya Leon yang menatap Sierra dengan lembut.


"Takdir? Maksudmu?".


"Iya banyak orang yang bilang jika kita bertemu dengan seseorang sekali itu namanya kebetulan. Tapi kalo kita bisa bertemunya dua kali itu berarti sudah ditakdirkan". Ucap Leon dengan senyuman manisnya.


"Bertemu dua kali? Tentu saja kita tidak akan bertemu untuk kedua kalinya Leon". Ucap Sierra sambil tertawa.


Entah mengapa Sierra merasa perkataan Leon itu sangatlah lucu. Karena bagaimanapun juga mereka berdua hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertemu lalu berkenalan karena mereka akan menaiki pesawat yang sama.


Dan apa yang Leon katakan tadi? Takdir? tentu saja itu tidak akan pernah terjadi. Mereka berdua hanyalah sebuah kebetulan saja yang hanya akan bertemu sekali dan bukanlah takdir seperti yang Leon ucapkan tadi. Seharusnya Leon tidak berpikiran sejauh itu.


"Benarkah? Tapi entah kenapa aku merasa bahwa kita akan bertemu lagi Sierra setelah ini. Dan berjanjilah denganku jika kita bertemu lagi kamu jangan berpura-pura tidak mengenalku. Bisakah kamu menjanjikan itu?".


"Tentu saja Leon. Aku berjanji". Ucap Sierra yakin.


Leon pun tersenyum kembali. Dan kali ini Sierra membalas senyumannya dengan tulus. Tidak canggung seperti sebelumnya.


Entah mengapa walaupun Sierra baru saja mengenal Leon tetapi Sierra merasa seperti sudah lama mengenalnya. Sierra merasa sangat nyaman dengannya. Bahkan Sierra bisa menjadi dirinya sendiri tanpa peduli dengan anggap Leon terhadap dirinya.


Mungkin hal ini dikarenakan Leon yang merupakan orang asing sehingga Sierra tidak perlu menutupi dirinya. Sierra tidak perlu melakukan pencitraan seperti yang biasa dilakukannya. Karena mereka hanya akan bertemu saat ini dan setelah itu mereka akan menjadi orang asing kembali yang tidak akan mengenal satu sama lain.


"Sierra sepertinya tempat duduk kita berbeda. Kursimu ada di dibaris ketiga dari kursiku yang disamping jendela itu". Leon menunjuk salah satu kursi dibelakang pesawat.


"Ah iya benar. Baiklah terima kasih atas bantuannya Leon. Sampai jumpa. Semoga perjalananmu menyenangkan". Sierra tersenyum dan mulai berjalan kearah kursinya.


Sedangkan Leon masih saja memperhatikan Sierra dengan senyumnya sampai akhirnya Sierra sudah benar-benar duduk di kursinya.


Sierra pun menatap kearah jendela pesawat itu. Ini adalah pengalaman pertama Sierra melakukan perjalanan dinas. Dan ini juga pengalaman pertama Sierra bisa pergi menggunakan pesawat.


Tidak pernah terbayangkan oleh Sierra bahwa dirinya yang miskin ini bisa merasakan semua fasilitas ini. Apalagi pesawat yang di pesakan oleh Vino bukanlah pesawat biasa melainkan pesawat dari maskapai ternama dengan fasilitas bussines clas yang tentu saja seorang penumpang diperlakukan bagaikan seorang radja. Sierra pun sangat berterima kasih kepada Revan karena berkat dirinya lah Sierra bisa merasakan segala kemewahan ini.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2