Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Sebuah Perasaan


__ADS_3

"Ya. Aku harus mencari tahu kebenarannya, siapa sebenarnya aku." Ucap Lia seraya menatap kembali berkas-berkas yang tergelatak di hadapannya.


"Sebaiknya ku sembunyikan dulu semua ini dari tuan muda Leo. Jangan sampai dia mengetahui hal ini." Lanjut Lia dan menyimpun kembali dokumen tersebut.


***


Kediaman Leonardo NusaJaya, Mbok Yem yang tengah memantau para pelayan di buat terkejut oleh Sari dan Eneng yang nampak duduk santai.


"Bocah-bocah itu. Bukannya kerja, malah santai saja." Gumamnya dan bergegas menghampiri keduanya dengan amarah yang nampak jelas di wajah tuanya.


"Enak sekali ya kalian. Yang lain pada kerja, malah santai-santai disini. Kembali kerja!!" Serunya memerintah dengan raut wajah yang menampakkan ketidaksukaannya.


"Maaf, bu. Kami bukannya santai-santai, tapi si Sari kepalanya pusing. Jadi saya bantu dia agar lebih baik." Ucap Eneng yang masih menepuk-nepuk bahu Sari.


Melihat hal itu, mbok Yem yang sedari tadi menahan amarah pun mulai mereda dengan sendirinya.


"Kalau sakit istirahat aja dulu. Bukannya tuan muda Leo sudah pernah bilang begitu?" Kata mbok Yem yang diam-diam melirik sari yang nampak pucat pasi.


"Istirahat sana!!" Titahnya dengan suara serak yang ia paksakan tetap tegas, di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Ba-baik bu. Te-terimakasih." Ucap Sari lirih.


"Maaf sekali lagi, bu. Saya tidak ada melihat nyonya Adelia dari kemarin. Apakah beliau sedang sakit?" Tanya Sari.


Mendengar itu, mbok Yem merasa heran dengan anak buahnya yang satu ini. Kenapa dia begitu perduli dengan majikannya?


Apa dia sedang menjilat, agar dinaikkan jabatannya?


Atau dia hanya gadis polos yang ingin mengenal majikannya lebih jauh?


Seluruh fikiran tak karuan pun berseliweran di kepala mbok Yem. Namun ia berusaha profesioanal, dan menjawab pertanyaan gadis yang seusia dengan cucunya itu.


"Nyonya Lia meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu." Jawabnya dengan memandang Sari penuh curiga.


"APA?!! Tapi kenapa? Apa karena saya melakukan kesalahan ya, bu? Saya kurang baik melayani beliau? Atau karena saya cerewet?" Cerocos Sari dengan wajahnya yang memerah akibat demam.


Kepalanya semakin terasa berat dan pusing, saat ia berusaha berfikir perihal majikannya yang tiba-tiba meninggalkan rumah tersebut.


Ia tak kuasa menahan air matanya lagi, perih di sekitar matanya dapat ia rasakan. Kantung matanya pun semakin menghitam, dengan kesadarannya yang kian mulai memudar.


"Nyo..nya.. Li..a." Ucapnya sebelum akhirnya, ia benar-benar tak sadarkan diri di pangkuan Eneng yang menatapnya penuh kekhawatiran.


"Eh.. Sar.. Sari.. Duuuh.. Ni anak terlalu memaksakan diri, sih. Jadi kelelahan sendiri kan dia." Ucap Eneng dan berusaha mengangkat tubuh Sari.

__ADS_1


Namun nihil, ia tak mampu. Tubuh Sari memang tidak gemuk, tapi tetap saja. Eneng kan juga seorang perempuan, tidak memiliki kekuatan sebesar itu untuk menggendong Sari.


"Tunggu disini. Saya panggilkan seseorang dulu." Ujar mbok Yem sebelum meninggalkan Eneng yang masih menopang tubuh Sari.


"Ternyata dia baik juga. Ku kira dia segalak dan sekejam tuannya." Gumam Eneng yang menatap punggung mbok Yem dari kejauhan.


"Husshh!! Ngomong apa sih aku. Dapat kerja disini juga sudah bersyukur. Banyakin sabar aja." Lanjut Sari dan kembali melihat Sari.


Terasa suhu tubuhnya yang panas seperti air mendidih, dengan wajah memerah dan mata menghitam yang nampak pucat.


"Kasihan dia. Sepertinya dia sangat kelelahan. Selain itu, dia juga ingin bersama keluarganya. Semoga keinginanmu terkabulkan, dek." Ucap Eneng lirih dan masih memandang wajah Sari.


Air mata menetes di atas pipi Sari, tepat ketika Eneng menatapnya.


"Bukan kamu saja yang ingin berpulang kepada keluargamu, dek. Aku pun ingin. Tapi aku sudah nggak punya. Aku ini.. dibuang oleh keluargaku.. hikss.. hikss.." Ungkap Eneng perlahan dengan menyeka air matanya dan juga wajah Sari, tepat saat ia mendengar suara langkah kaki menuju kearahnya.


"Ada apa?" Suara berat utu membuat Eneng menoleh seketika.


Seorang pria dengan perawakan yang sempurna, dengan raut wajah penuh misteri itu kini tengah menatapnya.


'Irfan.' Batin Eneng.


Wajahnya nampak bersemu saat melihat pria yang telah menggaet hatinya itu, dengan mudahnya membopong tubub Sari.


"Di sana." Jawab Eneng dengan menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari dapur.


"Begini aja nggak bisa?" Ucapnya.


"Sayakan wanita. Mana ada wnita yang mampu menggending wanita lain." Ujar Eneng dengan berusaha menyembunyikan rasa sukanya.


Dengan segera Irfan meletakkan tubuh Sari yang terasa semakin panas.


'Ada kotoran di rambutnya.' Batin Irfan dan menyibakkan rambut Sari yang menurutnya terasa lembut.


'Halusnya.' Batinnya dan terus menggulung rambut Sari tanpa ia sadari, jika perbuatannya tersebut membangunkan sang pemilik.


"Kamu lagi ngapain?" Tanya Sari dengan suara serak.


Ia melihat sekitar, ternyata ia berada di kamarnya. 'Ini kamarku. Tapi, kenapa Irfan ada di sini? Apa jangan-jangan..' Batin Sari dengan segera mendudukkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"KAMU!! Apa yang kamu perbuat padaku?!!" Seru Sari dengan menatap tajam Irfan yang dibuatnya heran.


"Aku nggak ngapa-ngapain kamu. Aku cuma-" Perkataan Irfan terpotong saat ia merasakan sebuah bantal mengenai tepat di wajahnya.

__ADS_1


"-membantumu." Lanjutnya singkat. Seolah tak perduli dengan bantal yang mengenai wajahnya barusan.


Tatapannya yang datar dan suara beratnya yang dingin, membuat Sari selalu takut jika berada di hadapannya.


"Bohong!! Kamu pasti bohong!! Kamu pasti berniat menculikku dan menjualku ke perdangan manusia kan?!!" Hardik Sari kepada Irfan yang mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan Sari di sana seorang diri.


"Apa-apan." Gumamnya, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan Sari yang nampak bergetar hebat.


Tak lama kemudian, Eneng datang dan menghampiri Sari.


Ia melihat Sari heran, kenapa ia menutup dirinya dengan selimut?


"Kenapa kamu menutupi tubuhmu dengan selimut? Apakah dingin?" Tanya Eneng dengan meletakkan baskom berisi air dan juga sehelai kain.


"Oh. Maaf. Nggak, ini.. Aku tadi sedang waspada." Jawab Sari dan melepaskan selimut yang membungkusnya sedari tadi.


"Waspada? Waspada dari apa?" Tanya Eneng kembali dengan membawa sebuah kursi dan duduk di dekat Sari.


"Si Irfan itu loh. Kenapa dia bisa ada di kamarku? Aku kan takut sama dia. Makanha aku menutupi tubuhku pake selimut." Ucap Sari.


"Ooh, gitu. Sebenarnya tadi kamu pingsan. Jadi aku menggendongmu. Tapi karena aku nggak kuta, mbok Yem manggil Irfan buat nggendong kamu. Makannya kamu ada disini." Jelas Eneng sebelum akhirnya meremas kain yang berada di baskom kecil tersebut.


"Hah? Jadi tadi dia nolongin aku?" Ucap Sari.


"Iya." Jawab Eneng.


"Dia bukan mau jual aku kan?" Tanya Sari lagi.


"Bukan Sar.." Jawab Eneng sekali lagi.


"Tapi kan, dia.."


"Sudah. Mendingan kamu baring dan istirahat. Ini kompresan, biar nggak tambah parah demammu." Ujar Eneng dengab meletakkan kain tersebut di dahi Sari.


'Jadi tadi Irfan nolongin aku. Makasih ya, Irfan. Lain kali aku akan balas kebaikanmu. Aku janji.' Batin Sari dengan wajah yang semakin memerah.


Sedangkan Eneng, ia nampak biasa saja. Dengan hatinya yang terasa penuh berkat kehadiran Irfan yang memabantunya membopong Sari tadi.


Keduanya kini nampak asyik dengan fikirannya masing-masing, dan Irfan kembali kepada tugasnya dengan wajah datarnya.


"HACHIIMM!! Hawanya sedikit dingin." Ucap Irfan seraya menyeka hidungnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2