
Revan sedang menatap pemandangan luar hotel dengan pikiran yang terus tertuju pada sosok Sierra. Entah mengapa sejak pagi tadi bayang-bayang wajah Sierra terus saja memenuhi otaknya. Terus saja memenuhi pikirannya yang membuat hati Revan menjadi gusar.
Padahal baru setengah hari saja Revan pergi meninggalkan Sierra untuk perjalanan dinasnya, tapi entah mengapa Revan merasa sudah sangat merindukannya.
Revan rindu dengan sapaan lembut Sierra dipagi hari, Revan rindu dengan senyuman manis Sierra disepanjang hari, dan Revan sangat rindu dengan wajah polos Sierra yang selalu bisa menarik perhatiannya.
Bahkan saking rindunya Revan dengan Sierra, Revan pun menjadi tidak fokus saat sedang meeting dengan clientnya siang tadi yang membuat meeting jadi tertunda.
Revan pun memijat keningnya sejenak. Selama ini Revan tidak pernah merasakan yang namanya rindu dengan seorang wanita. Revan tidak pernah menginginkan seorang wanita untuk terus berada disisinya. Dan Revan tidak pernah seperti orang bodoh yang tiada henti memikirkan seorang wanita selain sosok Sierra.
Sosok yang mampu membuat hati Revan menjadi risau. Sosok yang mampu membuat Revan menjadi sulit untuk menjalani hari-harinya jika tidak ada seorang Sierra disampinya.
Revan pun menghembuskan nafas panjang. Selama ini Revan bisa memilih wanita manapun untuk bisa bersama dengannya dan menemaninya. Revan bisa meminta wanita mana saja untuk bisa mengisi hari-harinya dan berada disisinya. Revan bisa melakukan semua itu dengan sesuka hatinya tanpa harus merasakan perasaan yang tersiksa seperti ini.
"Direktur Revan apakah anda baik-baik saja?". Tanya Vino yang sedari tadi memperhatikan kegundahan Revan.
"Aku tidak baik-baik saja Vino". Ucap Revan sambil menerawang.
"Apakah ada yang terasa sakit direktur? Perlukah saya menghubungi dokter?". Vino menjadi cemas.
Revan menarik nafas yang dalam. Lalu Revan pun mengalihkan tatapannya kearah Vino. Tatapan sendu yang menunjukan adanya kesedihan dari sorot matanya. Adanya kebingungan dari wajahnya.
Sungguh Revan sangat membenci perasaannya yang seperti ini. Perasaannya yang membuat seorang Revan yang dikenal playboy menjadi seperti orang bodoh hanya karena satu wanita yaitu Sierra.
"Hatiku Vino. Hatiku terasa kosong tanpa Dia". Revan mengakui.
"Maksud anda nona Sierra direktur?".
Revan menganggukan kepalanya. Lalu Revan menatap pemandangan luar kembali dengan pikiran yang tetap sama. Yaitu memikirkan Sierra.
"Apakah anda merindukan nona Sierra direktur Revan?". Tanya Vino hati-hati.
Revan pun diam sejenak. Haruskah Revan mengakui bahwa Ia memang sangat merindukan Sierra? Haruskah Ia menghilangkan harga dirinya agar rasa yang sedari tadi menyiksanya ini bisa hilang? Haruskah Revan membuang egonya agar Ia bisa bertemu dengan Sierra?.
__ADS_1
"Hhmm mungkin". Jawab Revan pelan. Dengan berat hati Revan pun mengakui apa yang dirasakannya saat ini kepada Vino.
Vino yang seakan mengerti bagaimana perasaan Revan saat ini pun mengganggukan kepalanya. Lalu sebuah senyuman pun terukir di wajah Vino.
"Haruskah saya memanggil nona Sierra untuk datang kesini direktur Revan?".
"Mana mungkin bisa Vino. Sierra punya banyak pekerjaan dikantor yang harus Dia selesaikan. Aku tidak bisa bersikap seenak saja. Aku tidak bisa mementingkan egoku saja".
"Setahu saya pekerjaan nona Sierra dikantor tidak terlalu banyak direktur Revan. Nona Sierra kan bekerja untuk mengurus berbagai keperluan anda, jadi kalo direktur Revan melakukan perjalanan dinas seperti ini tentu saja nona Sierra mempunyai banyak waktu luang. Paling nona Sierra hanya bekerja untuk beberapa dokumen yang tidak terlalu penting saja". Vino menjelaskan.
Sebuah senyuman pun terukir diwajah Revan. Terlihat adanya rona bahagia dari wajahnya. Kini suasana hati Revan mulai membaik tidak gusar seperti sebelumnya. Revan pun menatap Vino kembali.
"Benarkah yang kamu katakan Vino bahwa pekerjaan Sierra dikantor tidak terlalu banyak dan tidak terlalu penting?. Revan mulai antusias.
Vino pun mengangguk yakin. "Tentu saja direktur Revan".
"Jadi kita bisa menyuruh Sierra untuk datang kesini?". Revan memastikan kembali.
Revan menganggukan kepalanya. Ya memang benar Revanlah yang berkuasa. Revan yang memiliki wewenang diperusahaan. Ia bisa memberikan perintah apapun sesuai keinginannya. Ia bisa melakukan apapun sesuai kemauannya.
Sebelumnya Revan juga sempat berpikiran yang sama seperti Vino. Berpikir untuk membuat Sierra datang kesini dengan kendalinya. Namun Revan pun mencoba memikirkannya kembali. Memikirkan posisi Sierra yang pastinya mempunyai banyak pekerjaan dikantornya. Sierra yang pasti mempunyai berbagi tugas untuk diselesaikannya.
Karena itulah Revan pun membatalkan niatnya itu sebab Revan tidak ingin membuat Sierra menjadi susah. Revan tidak ingin menambah beban Sierra. Dan Revan tidak ingin menyulitkan Sierra.
Namun setelah mendengar penjelasan Vino yang seperti itu, maka Revan pun bertekad bahwa Ia akan membuat Sierra datang kesini bagaimana pun caranya. Revan akan membuat Sierra terus berada disisinya.
"Baiklah kamu pesankan tiket pesawat untuk Sierra sore ini Vino. Dan jangan lupa untuk memberitahukan Sierra untuk masalah ini". Revan bersemangat.
"Baik Direktur Revan saya akan pesankan tiket pesawatnya dan segera mengubungi nona Sierra".
"Lakukan itu sesegera mungkin Vino. Pokoknya aku ingin malam ini Sierra sudah tiba disini bagaimanapun caranya".
"Tentu saja direktur Revan. Saya akan melakukannya sesuai perintah anda".
__ADS_1
Vino pun membungkukan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan kamar hotel yang sudah menjadi milik Revan itu. Sedangkan Revan masih saja dengan senyumannya karena membayangkan kehadiran Sierra yang akan menemaninya selama satu minggu ini.
Mungkin perjalanan dinas ini bisa Revan jadikan sebagi acara kencannya juga agar Ia bisa lebih mengenal sosok Sierra yang selalu membuatnya penasaran. Revan pun mulai memikirkan semua itu.
Namun sebelum Vino benar-benar pergi meninggalkan kamar Revan, Vino pun menghentikan langkahnya sejenak. Vino berbalik menatap Revan kembali.
"Direktur Revan apakah anda ingin saya pesankan satu kamar hotel untuk nona Sierra juga?". Tanya Vino kembali.
"Tidak perlu Vino. Aku akan mengurusnya sendiri". Revan tersenyum penuh arti.
"Baik direktur Revan".
Vino pun membungkukan tubuhnya lagi dan melanjutkan langkahnya hingga Dia benar-benar pergi meninggalkan kamar itu.
Revan pun langsung berjalan kearah tempat tidurnya dan merebahkan badannya diatas kasur itu. Ingatan Revan pun tertuju kembali pada peristiwa kemarin pagi dimana Revan berhasil mencium bibir Sierra dengan lembut dan bisa merasakan manisnya bibir itu.
Segala pertahanan yang selama ini Revan jaga seakan runtuh begitu saja ketika Ia melihat adanya kecemburuan diwajah Sierra.
Padahal bisanya Revan tidak akan peduli jika ada wanita yang cemburu dengannya, tapi berbeda ketika Revan bersama dengan Sierra. Kecemburuan Sierra malah membuat Revan semakin tergoda hingga akhirnya terjadilah ciuman panas itu.
Memang selama ini Revan sudah bersusah payah untuk menahan diri agar tidak menyentuh Sierra apalagi sampai menciumnya. Tapi apalah daya jika kini Revan sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi karena perasaannya ini?.
Toh Revan juga nantinya akan bertanggung jawab dengan segala perbuatannya kepada Sierra jadi biar saja untuk saat ini Revan menikmatinya.
Revan pun memejamkan matanya sejenak hingga Ia tidak sadar bahwa ternyata Ia sudah benar-benar terlelap didalam tidurnya.
******
__ADS_1