Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Di sambut hangat


__ADS_3

Canggung dan bingung, Agus merasa kikuk untuk menjawab pertanyaan sepele dari nyonya mudanya itu.


Keringat dingin mengucur, apalagi ketika tatapan Leo yang terlihat jelas di kaca spion.


Beberapa saat yang lalu, lebih tepatnya ketika Lia berada di bandara kota A dan menuju ke rumah sakit bahkan bertemu dengan tuan Cakra pun telah Agus laporkan kepada tuan mudanya.


"Dia supir pribadi saya." Ucap Leo membuat Agus segera menghela nafas lega.


"Oh, gitu. Halo. Nama saya Adelia, kamu bisa memanggil saya Lia. Salam kenal." Ucap Lia seraya memberi senyuman manisnya kepada Agus yang di buat salah tingkah.


"Nama saya-" ketika ia hendak mengatakan namanya, tiba-tiba suara berat nan dingin dari Leo menghentikannya.


"Namanya Agus. Sudah tahu kan? Sekarang antar saya pulang karena saya sudah cukup lelah." Sahutnya dan membuat Lia menatapny heran.


'Kan tanyanya sama Agus. Kenapa dia yang jawab? Masa iya sih mas Leo cemburu?' Batin Lia yang menerka-nerka tingkah laku tak jelas dari suaminya tersebut.


"Kenapa anda yang jawab, mas? Saya kan tanyanya sama Agus." Ucap Lia dengan menatap Leo penuh tanya.


"Saya bossnya dan saya berhak menjawab apapun pertanyaan untuknya yang terlontar darimu. Lagian kenapa kamu mau tahu tentangnya?" Mendengar perkataan Leo yang menurut Lia sesikit tidak masuk akal itu pun segera membela dirinya.


"Bukannya begitu, meskipun anda adalah bossnya dan Agus hanyalah seorang supir, tapi tahukah anda jika tugas supir cukup sulit. Anda haris menghargai jirih payah orang yang bekerja dengan anda agar mereka pun dapat segan terhadap anda." Kata Lia dengan lirik suaranya seperti serang penceramah.


Hingga membuat Leo sedikit tersenyum kecil seraya memperhatikan istrinya yang mengoceh terus sedari tadi.


Tatapannya kini tertuju kepada Agus yang diam-diam tersenyum kecil, melihat sang tuan muda yang selama ini di segani dari pihak kantor maupun terhadap koleganya hanya pasrah diberi pencerahan oleh sang istri. Tanpa menyadari jika ia belum juga melajukan mobil tersebut.


"Dapat tontonan bagus ya? sampai lupa dengan tugas yang saya berikan. Cepat antar saya pulang!!" Titahnya sekali lagi dengan sedikit membentak.


Sedangkan Agus hanya dapat menjalankan perintah dari sang tuan mudanya kepadanya barusan.

__ADS_1


"Baik, tuan muda." Ucapnya seraya melajukan mpbil tersebut menyusuri jalanan ibu kota dan turut meramaikan jalanan tersebut, di tengah hiruk pikuk padatnya perkotaan.


***


Rumah tersebut namapak tak asing nagi Lia, bahkan ketika semua pelayan pun turut menyambut kehadiran dirinya dan juga yang tak terlupakan adalah sang tuan muda Leonardo NusaJaya.


Tepat ketika Lia dan Leo menuruni mobil mewah tersebut, para pelayan itu pun dengan segera membungkukkan tubuhnya.


"Selamat datang kembali, tuan muda Leo dan nyonya Adelia." Seru mereka secara bersamaan.


Lia terlihat bahagia dan senang sekali, terutama ketika ia melihat Eneng dan Sari yang nampak tersenyum lebar mengetahui kedatangan sang majikan.


"Hm. Terimakasih, silahkan bubar. Saya mau segera istirahat." Ucapnya seraya mengedarkan pandangannya menyusuri keberadaan sang kakek yang tidak terlihat.


"Dimana kakek?" Tanyanya kepada mbok Yem yang kebetulan berada di sebelahnya.


"Jawab, tuan. Tuan besar tadi menunggu anda dan nyonya Adelia. Tapi karena ada urusan yang mendadak, beliau akhirnya pergi ke suatu tempat.


"Dasar kakek tua. Dia yang minta kami segera kembali, tapi kini dia sendiri yang pergi meninggalkan kami berdua. Gitu pakai acara keluarkan saya dari kk segala, cuma untuk mengancam agar saya kemari dengan Adelia. Benar-benar licik!" Umpat Leo yang ternyata, ucapannya barusan dapat terdengar oleh Lia dari balik tirai pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga.


Melangkahkan kakinya ke arah Leo, Lia pun segera menghampirinya.


"Jadi, anda merasa terpaksa dengan membawa saya bersama anda? Benar begitukah?" Tanya Lia yang hanya di jawab oleh tatapan Leo yang menatapnya datar.


"Kenapa diam saja? Apakah perkataan saya benar?" Ucap Lia seraya menggigit bibir bawahnya berharap jika apa yang ia dengar barusan hanya kesalah pahaman.


Namun jawaban yang terlontar dari mulut Leo, membuat Lia kesal di campur marah dan juga rasa kecewa yang menyelimutinya.


"Diamlah. Saya mencoba untuk istirahat sebentar." Ucqp Lep tanpa memandang Lia dan masih menutup matanya.

__ADS_1


"Apa? Baiklah!! Saya tidak akan kembali lagi meskipun anda memaksa saya!! Semoga hari anda menyenangkan." Balas Lia seraya meninggalkan Leo yang sepertinya tidak menyadari jika yang ia bentak barusan adalah Lia.


"Apa-apaan dia!! Dia ternyata tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya tadi. Sepertinya mas Leo memang sudah tidak menginginkan ku lagi. Tapi kenapa dia bisa menggombal seperti itu dengan lihai?" Gumam alia seraya melangkahkan kakinya menuju teras.


Namun langkahnya terhenti saat Sari dan Eneng menghampirinya.


"Nyonya!! Apa kabar anda, nyonya? Kami sangat merindukan anda." Ucap Sari dan Eneng secara bersamaan.


Melihat Sari dan Eneng yang menyambutnya hangat penuh antusias, membuat Lia menjadi tak enak hati kepada mereka. Apalagi jika ia harus kembali ke kediaman sang papah, agar ia tak teringat kembali dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Leo kepadanya.


Mencoba tersenyum, Lia pun membalas sapaan mereka dengan hangat. "Kabar saya baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian merindukan saya?" Tanya Lia dengan usil, yang langsung di balas anggukan beruntun oleh mereka berdua.


"Hahaha. Apa yang kalian kerjakan sekarang?" Tanya Lia yang melihat Sari dan Eneng nampak belepotan.


"Oh, ini? Kami sesang membuat makan malam unruk anda dan tuan muda kami, nyonya." Jawab Eneng yang jelas membuat Lia terkesima.


"Sebaiknya kalian hentikan saja perkerjaan kalian saat ini. Saya akan kembali ke rumah papah saya. Maaf, ya." Mendengar perkataan Lia, Sari san Eneng pun nampak terkejut bukan main, bahkan hingga membuat Sari tanpa sengaja menjatuhkan pisau yang berada di genggamannya.


"Apa?!!" Seru keduanya berbarengan.


Hingga membuat Lia terkejut, bahkan membuat sang pengawal setia pun turut menunjukkan dirinya, diiringi oleh memerahnya wajah Eneng yang melihat kehadiran Irfan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Ada apa ini?" Tanyanya dingin tanpa mengubah ekspresinya.


"Nyonya Lia, saya mohon jangan kembali ke sana. Kami sangat kesepian bila tanpa kehadiran anda. Terutama tuan muda, beliau nampak merenung dan bahkan sangat tertekan tanpa kehadiran anda." Ucap Sari dengan menggenggam tangan snag majikan, mencoba meyakinkan kebenarannya.


"Benarkah?" Tanya Lia yang masih diselimuti oleh perasaan kesal dengan perkataan seseorang kepadanya.


"Benar, nyonya. Bahkan kami sendiri heran. Mengapa tuan muda terkadang tidak tidur di kamarnya dan tidur di sofa saja. Hal itu beliau lakukan agar tidak terganggu oleh rasa rindunya terhadap anda" Jawab Sari penuh dengan keyakinan.

__ADS_1


Mendengar perkataan yang di sematkan oleh Sari, jadi apa yang harus Lia lakukan untuk saat ini?


Bersambung..


__ADS_2