
Lia merasakan kepalanya terasa berat, matanya yang terpejam perlahan mulai terbuka. Remang-remang ia melihat sekitar, kembali ia teringat akan apa yang terjadi kepada sang papah.
"Papah.." Ucapnya lirih.
"Papah mana, mas?" Ucap Lia seraya bangkit dengan terburu-buru bangkit dari tidurnya.
Hal itu membuat kepalanya semakin terasa berputar-putar.
Dengan sigap, Leo menopang tubuh Lia dalam dekapannya. Duduk di tepi ranjang dengan memeluk sang istri yang nampak pucat.
"Tenanglah, Lia." Ucap pakek Edward yang berada tak jauh dari sana.
"Bagaimana hasil ceknya dok?" Tanya Leo setelah melihat dokter yang memeriksa Lia mulai menuliskan resep di dalam buku yang ada di genggamannya.
"Tidak apa-apa. Nyonya Lia hanya terkena serangan panik saja. Ini adalah resep untuk anda. Istirahat yang baik dan makan teratur, akan membuat kondisi anda stabil kembali." Ucap sang dokter dengan menyerahkan resep tersebut kepada Leo.
"Dan satu lagi, sebaiknya anda jangan memikirkan hal yang bukan-bukan. Jika anda merasa baikan, jalan-jalan ke luar kota untuk menyegarkan pikiran pun cukup baik untuk kesehatan anda." Lanjut sang dokter.
Keadaan tiba-tiba hening seketika, Lia yang masih syok dengan kenyataan yang ia terima pun hanya dapat diam.
Sedangkan Leo pun turut diam, enggan berkata apa-apa. Lebih baik diam dari pada berkata yang akan membuat sang istri lebih terpuruk.
Lalu tiba-tiba, suara kakek Edward membuat suasana hening tersebut hancur seketika.
"Apakah Lia hamil?" Tanya kakek Edward tanpa basa basi.
Jelas saja hal tersebut membuat Lia dan Leo terperangah. Keduanya saling pandang dan kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.
Suasana menjadi sedikit canggung, sekaligus tegang. Bagiamana tidak? Jika hal tersebutlah yang didambakan oleh sang kakek.
"Kakek!!" Seru Leo seraya menatap tajam sang kakek. Melihat kakeknya yang nampak terburu-buru, tanpa melihat situasi saat ini dalam bertanya.
Tanpa menghiraukan tatapan sang cucu, kakek Edward pun kembali menatap dokter yang tengah memeriksa ulang kondisi terkini cucu menantunya.
"Bagaiamana, dok?" Tanyanya kembali setelah melihat sang dokter selesai memeriknya Lia.
Dengan menghela nafas panjang, sang dokter pun mulai berbicara.
"Mohon maaf sebelumnya, tapi sepertinya nyonya Lia belum ada tanda-tanda awal kehamilan." Ucapnya.
"Apa?! Jangan-jangan, mereka mandul?" Tanya kakek Edward penuh kekhawatiran.
Lia dan Leo pun nampak terkejut mendengar penuturan sang kakek barusan.
__ADS_1
Bukan hal yang mustahil jika hal tersebut benar terjadi. Tapi, bagaimana pandangan sang dokter?
"Jika boleh tau, sudah berapa lama anda menikah?" Tanya sang dokter kepada Lia.
"Kami menikah sudah 2 bulan ini." Jawab Lia tanpa menatap wajah sang dokter.
"Hahaha.." Nampak sang dokter yang tertawa dengan terpingkal-pingkal.
"A-ada apa ya dok?" Tanya Lia menatap heran sang dokter yang mulai meredam tawanya.
"Ya ampun. Maaf ya. Aduh.. Begini, kebanyakan kehamilan terjadi setelah 3 bulan melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya. Jadi, saya harap anda tetap melakukan hal tersebut tanpa ada hal yang perlu di khawatirkan. Dan jika dalam 2 bulan kedepan anda merasakan mual, dan muntah di pagi hari, kemungkinan anda hamil. Begitulah." Jelas sang dokter dan mulai menyimpun kembali perlengkapan kedokterannya.
"Jika tidak ada hal yang perlu di tanyakan kembali, saya pamit undur diri." Ucap sang dokter dan melangkah pergi diiringi oleh Angga yang mengantarnya.
"Terimakasih, dok." Sahut Lia sebelum dokter perempuan tersebut melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan tersebut.
Suasana nampak hening, Lia yang kembali termenung mengingat kejadian yang menimpa papahnya.
"Apakah benar, papah susah meninggal?" Tanya Lia dan di jawab anggukan oleh Leo.
"Saya turut berduka cita, Lia. Tapi, kamu harus tetap menjalani kehidupanmu. Jika kamu susah baikan, mari kita kepemakaman." Ucal kakek Edward dan beranjak meninggalkan Leo dan Lia, diausul oleh mbok Yem bersama dengan Sari dan Eneng yang membuntut.
"Jika kamu masih pusing, sebaiknya jangan memaksakan diri. Biar saya saja yang ke sana." Ucap Leo dan beranjak pula dari ranjang.
"Ada apa?" Tanya Leo seraya mengangkat dagu sang istri.
"Bisa temani say sebentar?" Pinta Lia.
"Tentu saja." Jawab Leo di sertai dengan tatapan lembut yang ia berikan kepada Lia.
Kembali ia merangkul sang istri, sebelum turut terpejam bersama dengan Lia yang memejamkan matanya, meski sejenak guna menghilangkan rasa pusing dan berdengung di kepalanya.
***
Pemakaman itu nampak ramai dengan kerumunan orang yang memenuhi sebuah gundukan yang biasa kita sebut dengan kuburan.
Sedang Lia dan Leo yang mengenakan pakaian serba hitam, begitu pula dengan kakek Edward dan selurih peziarah pun turut berduka cita.
Memandangi gundukan tersebut penuh kepedihan. Begitu pula dengan Lia yang nampak terenyuh, harus dengan ikhlas merelakan kepergian satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Papah.." Ucapnya lirih dengan mengelus batu nisan yang tertancap disana.
"Semoga papah tenang disana. Jangan risau dengan Lia. Disini Lia sudah dijaga oleh mas Leo. Pah.. Terimakasih.. Telah berjuang membesarkan Lia dan menjaga Lia dan.. hikss.. hikss.. Lia sayang papah.. apapun masa lalu papah.. hikss.. hikss.. Lia minta maaf pah.. harusnya Lia menemani papah malam itu.. tapi Lia egois pah.. Lia benar-benar menyesal telah berkata buruk pada papah.. Maafka Lia pah.." Isak tangis Lia pecah seketika saat ia mulai mengusap batu nisan tersebut.
__ADS_1
Beberapa peziarah pun turut menitikan air matanya. Terutama Jessica dan Hery yang turut menghadiri pemakaman tersebut.
"Sudahlah Lia. Ikhlaskan, nak." Ucap kakek Edward seraya memapah tubuh Lia yang lemas.
"Papah.." Sekali lagi, Lia mengucapkan kata tersebut hingga ia kembali tak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya.
Tentu hal itu membuat riuh keadaan saat ini, dan segera Leo menggendong tubuh Lia dan membawanya ke mobil miliknya.
***
Lia nampak kembali membuka matanya. Hari telah menjadi gelap. Nampak dari lampu taman rumah yang telah menyala, dari balik tirai tipis yang menghiasi jendela milik tuan muda Leo.
'Kenapa aku sudah di rumah? Apa tadi hanya mimpi?' Batin Lia dan segera saja ia beranjak meninggalkan kamar tersebut, dan menuju ruangan terakhir yang di gunakan oleh papahnya.
'Semoga saja ini mimpi. Aku mohon, semoga semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.' Batin Lia seraya mempercepat laju langkah kakinya.
"Nyonyah.." Ucap Sari. Namun Lia tak mengindahkan teguran Sari kepadanya, dan terus saja melangkahkan kakinya.
"Nyonya Lia kenapa begitu terburu-buru? Jangan-jangan.. NYONYA LIA!!" Pekik Lia membuat Irfan yang tak jauh dari sana segera menghampirinya.
"Ada apa?" Tanyanya dengan wajah was-was.
"Itu.. itu.. nyonya Lia.. tadi buru-buru kesana. Jangan-jangan, nyonya Lia mau bunuh diri?" Seru Sari membuat suasana semakin tak karuan.
Sedangkan Lia, ia melihat ruangan tersebut dan mendapati seseorang didalam ruangan nampak bersih itu.
Benarkah semua ini hanya mimpi?
Atau sebuah kenyataan pahit bagi Lia?
Lalu, siapakah seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut?
Tapi, heran deh. Irfan, kamu kenapa protect sekali kepada nyonya Lia?
Hmmm... ๐คจ
โ-----------ใใใใใใใใใใใใใใใ---------
Halo teman-teman semua, jaga kesehatan selalu ya.
Meskipun belum banyak pembaca yang minat dengan novel ku ini, aku benar-benar menghargai kalian yang telah bersedia membacanya meskipun hanya beberapa bab saja.
Terus dukung aku untuk melanjutkan novel ini hingga tamat ya teman-teman. Satu komen dan satu like dari kalian sangat berharga bagi saya.
__ADS_1
Terimakasih. See you da da bye bye.. ๐ฅฐ๐ฅฐ