
Setelah melakukan 2 jam perjalanan dengan pesawat, akhirnya kini Sierra pun sudah tiba di tempat tujuannya. Tempat yang dikenal dengan pemandangan indah pantainya dan juga suasana romantisnya untuk para pasangan muda.
Sierra pun mengamati sekelilingnya sejenak. Ia mencoba menghirup udara segar yang ada disekitarnya. Setelah itu Sierra mengalihkan pandangnya kearah ponselnya yang baru saja menyalah karena pesawatnya itu baru saya mendarat. Sierra melihat ada 2 pesan masuk diponselnya itu. Pesan dari Vino. Sierra pun segera membukanya.
"Nona Sierra saya sudah menunggu anda diluar bandara. Jika anda sudah sampai tolong kabari saya. Nanti kita akan langsung pergi ke hotel Royal untuk menemui direktur Revan". Itulah isi pesan pertama dari Vino.
Setelah selesai membacanya, Sierra pun membuka pesan singkat keduanya. Pesan yang sama-sama diberikan oleh Vino.
"Nona Sierra apakah anda sudah sampai? Hubungi saya jika anda sudah membaca pesan saya".
Sierra pun tersenyum. Ia berniat untuk langsung menghubungi Vino saat itu juga mengingat Vino yang begitu cerewet dan sangat mengkhawatirkannya. Namun disaat Sierra ingin menekan tombol call, suara Leon yang memanggil namanya pun terdengar. Sierra langsung mengalihkan tatapannya.
"Sierra". Panggil Leon yang berjalan menghampiri Sierra.
"Eh kamu masih disini? Aku kira kamu sudah keluar bandara".
"Tidak aku menunggumu dari tadi"
Sierra mengerutkan keningnya. "Menungguku? Kenapa?". Tanya Sierra bingung.
"Iya. Aku khawatir kamu akan kebingungan lagi seperti di bandara tadi".
Sierra tertawa. Sungguh Ia sangat malu jika mengingat kejadian saat di bandara tadi. Walaupun kejadian itu bisa menolongnya dari kebingungan tapi tetap saja Sierra merasa tidak enak karena tanpa sengaja sudah menabrak Leon yang tidak bersalah.
"Hahahha kamu membuatku malu Leon".
"Tenanglah untuk apa kamu malu padaku" Leon tersenyum.
"Oiya Sierra sekarang kamu akan pergi kemana?". Tanya Leon kembali.
"Aku akan langsung ke hotel Royal untuk bertemu dengan direkturku dan asistennya".
"Lalu kamu akan dijemput atau.....".
"Nona Sierrraaa". Panggil seorang lelaki dengan suara lantangnya.
Sierra pun mencari-cari sumber suar itu. Hingga akhirnya Sierra melihat seorang lelaki melambaikan tangannya kearah Sierra dari kejauhan. Sierra yang bisa melihat bahwa lelaki itu adalah Vino pun ikut membalas lambaian tangan itu.
"Sepertinya asisten direkturku sudah menjemputku. Aku duluan ya". Ucap Sierra dengan senyumannya.
"Oh iya hati-hati Sierra". Leon membalas senyuman Sierra.
"Oiya tadi kamu mau ngomong apa? Sepertinya tadi ucapanmu terpotong begitu saja". Tanya Sierra yang sadar bahwa ucapan Leon terpotong ketika Vino memanggil namanya.
"Ah tidak bukan hal yang penting. Cepatlah kamu datangi asisten direkturmu itu. Kasian dia sudah menunggu lama".
"Iya benar juga. Baiklah aku pergi duluan ya. Sampai jumpa Leon. Senang bisa mengenalmu". Sierra melambaikan tangannya dengan senyum dan Leon pun membalas lambaian tangan itu dengan senyumannya.
Setelah itu Sierra pun benar-benar pergi meninggalkan Leon dan menghampiri Vino yang sudah memperhatikannya sedari tadi.
"Hallo Asisten Vino. Kita berjumpa lagi". Sapa Sierra dengan ramah.
"Bagaimana dengan perjalanan anda nona Sierra? Apakah menyenangkan?". Tanya Vino yang tidak memperdulikan sapaan Sierra.
"Hhmmm menyenangkan. Ini adalah pertama kalinya aku bisa merasakan pergi naik pesawat". Sierra tersenyum.
"Lebih baik kita segera pergi ke hotel nona Sierra. Direktur Revan sudah menunggu anda dari tadi". Vino mulai berjalan pergi yang diikuti oleh langkah Sierra dari belakang .
"Huh kebiasaan. Selalu mengabaikan ucapanku begitu saja. Hanya berbicara seperlunya saja. Benar-benar menyebalkan". Keluh Sierra sambil memperhatikan Vino dengan malas.
Hingga akhirnya kini Sierra dan Vino pun sudah tiba di hotel Royal yang menjadi tujuan mereka. Karena letak hotel yang tidak terlalu jauh dari bandara maka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tiba disana.
Sierra pun mengamati hotel itu sejenak. Hotel yang terlihat begitu mewah dan juga berkelas. Ini adalah pertama kalinya Sierra bisa datang ke hotel berbintang yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas saja.
Sierra pun terus memperhatikan setiap sudut di hotel itu hingga akhirnya kini Ia pun sudah berada didalam lift bersama dengan Vino dalam diam.
__ADS_1
"Nona Sierra boleh saya bertanya sesuatu kepada anda". Tanya Vino yang memecahkan keheningan.
"Boleh. Katakan saja asisten Vino".
"Tadi saat di bandara saya lihat nona Sierra bersama dengan seorang lelaki. Dan sepertinya anda cukup dekat dengan lelaki itu karena kalian sangat asik mengobrol".
"Oh Leon. Aku tidak sengaja bertemu denganya di bandara saat mau kesini. Aku yang menabrak Dia hingga tasnya terjatuh dan Dia yang membutuku hingga aku bisa naik pesawat dan tiba disini". Sierra menjelaskan.
Vino mengerutkan keningnya sejenak. "Leon? Jadi anda tidak mengenalnya nona Sierra? Anda baru saja bertemu dengannya?". Vino memastikan.
"Ya betul sekali"
"Nona Sierra bukankah saya sudah memberitahukan anda untuk tidak dekat dengan lelaki lain selain direktur Revan. Apakah anda sudah melupakannya".
"Hei aku tidak melupakannya asisten Vino. Aku juga tidak dekat dengannya dan kami hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertemu karena sebuah kecelakaan kecil. Jadi jangan menuduhku yang tidak-tidak". Sierra mulai kesal.
"Semoga saja memang begitu nona. Tapi tolong anda jangan pernah melupakan kata-kata saya itu. Untuk kali ini saya akan menyembunyikannya dari direktur Revan. Tapi jika saya melihat nona bersama dengan lelaki lain lagi maka saya tidak akan pernah menyembunyikannya lagi".
"Hei apakah kamu mengancamku sekarang?".
"Ini semua demi kebaikan anda nona".
Pintu lift terbuka dan Vino mulai berjalan keluar. Sierra pun tetap mengikuti langkah Vino dari belakang dengan penuh rasa kesal.
"Sial. Dia sudah memata-mataiku. Mengatur hidupku. Sungguh menyebalkan". Gerutu Sierra dalam hati.
Kini Sierra dan Vino pun sudah tiba disebuah kamar yang bertuliskan 702. Vino segera memencet bel pintu tersebut dan hanya dalam satu kali bunyi pintu itu pun langsung terbuka. Terlihat sosok Revan yang menggunakan baju berwarna coklat menatap kearah mereka berdua.
"Direktur Revan nona Sierra sudah sampai". Ucap Vino sambil menatap kearah Sierra. Sierra pun langsung memberikan senyumannya seperti biasanya.
"Hallo direktur Revan. Selamat malam". Sapa Sierra dengan ramah.
"Baiklah Vino terima kasih sudah menjemput Sierra. Kamu bisa kembali ke kamarmu sekarang". Revan memberikan perintah.
Vino yang seakan mengerti pun langsung membungkukan tubuhnya dan pergi meninggalkan Sierra dan juga Revan. Sedangkan Sierra hanya bisa menatap kepergian Vino dengan kebingungan.
"Hei kenapa kamu diam saja. Masuk". Revan menyadarkan Sierra dari pikirannya.
Tanpa banyak bertanya, Sierra pun mengikuti langkah Revan yang memasuki kamar tersebut. Walaupun Sierra mempunyai beribu pertanyaan yang memenuhi otaknya tetapi Ia tidak berani untuk menanyakannya langsung kepada Revan. Sierra takut membuat kesalahan dihari pertama kedatangannya ini.
"Duduklah. Kamu pasti lelah". Ucap Revan yang sudah duduk disalah satu sofa dikamar tersebut.
Sierra pun menuruti. Ia ikut duduk disofa itu sambil mengamati sekelilingnya. Sungguh kamar hotel Revan saat ini sangatlah besar. Bahkan sangat mewah. Begitu berbeda dari hotel lainnya.
"Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan". Revan bertanya kembali.
"Cukup menyenangkan direktur. Terima kasih atas kebaikan anda".
Revan pun tersenyum. Dia mulai menatap Sierra dengan lekat. Dan Sierra yang mendapatkan tatapannya itu mulai merasa canggung karena hanya mereka berdua sajalah yang ada dikamar hotel yang luas ini.
"Apa kamu lapar? Sudah makan?".
"Hhmm sedikit lapar direktur". Sierra tersenyum malu.
"Hahahah baiklah saya akan pesankan makanan hotel untuk dibawa kesini. Kamu mau makan apa?"
"Apa saja direktur aku tidak akan mempermasalahkannya".
"Oke tunggu sebentar".
Revan bangun dari duduknya dan berjalan kearah meja dimana sebuah telfon sudah berada disana. Lalu Revan mulai mengubungi seseorang dan memesan beberapa menu makanan yang tidak Sierra kenali. Nama makanan itu sangatlsh asing untuk Sierra bahkan mungkin Sierra pun belum pernah memakannya.
Setelah selesai dengan pesanannya itu, Revan pun berjalan menghampiri Sierra kembali dan duduk tepat disamping Sierra. Sierra mulai mematung.
"Apa saja yang kamu kerjaan saat dikantor tadi Sierra?". Revan menatap Sierra dengan lekat kembali.
__ADS_1
Sierra yang merasa sedang diintrogasi pun mulai merasa gugup. Apa yang harus ia katakan saat ini? Haruskan Sierra mengatakan yang sejujurnya bahwa saat dikantor tadi Ia tidak mempunyai kerjaan dan hanya menonton drama korea saja? Tapi bagaimana jika Revan marah karena mengetahui hal itu? Sierra pun disibukan dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa kamu diam saja Sierra. Jawab pertanyaan saya". Kini Revan mulai memainkan rambut Sierra seperti biasanya.
"Hhhmmm saya..saya..saya hanya mengerjakan beberapa dokumen saja direktur. Tidak terlalu banyak pekerjaan".
"Lalu mengapa kamu menjadi gugup seperti ini Sierra?". Revan mulai menciumi rambut Sierra. Kebiasaannya yang selalu Revan lakukan jika berada didekat Sierra.
Sierra yang semakin tidak nyaman pun langsung bangun dari duduknya. Ia berusaha menjauh dari Revan. Namun ternyata Revan tidak kalah cepat dari Sierra. Dia langsung menarik tangan Sierra yang membuat Sierra kini sudah berada didalam pangkuan Revan. Mata Sierra pun langsung membulat.
"Bukankah saya pernah bilang kamu tidak boleh menolak saya Sierra". Bisik Revan ditelingga Sieraa.
"Sayaa...saya..tidak bermaksud menolak anda direktur Revan. Sungguh".
Sierra berusaha bangun dari pangkuan Revan itu, namun Revan malah langsung menaruh tangannya dipinggang Sierra dengan erat. Sierra sudah benar-benar berada didalam pelukan Revan.
"Direktur Revan biarkan saya bangun. Ini membuat saya tidak nyaman".
"Tapi saya nyaman Sierra. Jadi diamlah jangan membantah saya".
Sierra terdiam. Tubuhnya mulai berkeringat. Ia mulai gemetaran. Sierra terlalu takut dengan apa yang akan Revan lakukan selanjutnya. Ia benar-benar merasa belum siap untuk melakukan sesuatu yang lebih.
"Tenanglah saya tidak akan melakukan apapun Sierra. Saya hanya ingin memelukmu saja".
Revan menaruh kepalanya di bahu Sierra. Dan Sierra pun kini menerimanya begitu saja. Ia tidak menolak seperti sebelumnya. Sierra berusaha mempercayai ucapan Revan. Untuk sesaat Sierra pun bisa merasakan kehangatan dari tubuh Revan itu.
"Direktur Revan maaf sebelumnya. Tapi kamar saya dimana direktur? Saya ingin membersihkan diri". Ucap Sierra yang merasa badannya mulai terasa lengket. Bahkan mungkin Revan juga bisa mencium bau tubuhnya ini karena sudah melakukan perjalanan jauh.
"Kamarmu disini. Kalo kamu ingin membersihkan diri silahkan".
Revan sudah melepaskan pelukannya dan menatap Sierra dengan senyumannya. Senyuman yang memiliki banyak arti.
"Apa? Ini kamarku? Lalu kamar anda dimana direktur?". Tanya Sierra bingung.
"Ya disini juga".
Untuk kesekian kalinya Sierra pun membulatkan matanya. Sungguh apa maksud dari ucapan Revan itu? Apakah itu berarti Sierra satu kamar dengan Revan? Mereka akan tinggal bersama? Bahkan tidur bersama?. Sierra yang mulai memikirkan hal itu pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ini benar-benar mengejutkannya.
"Iya memang benar apa yang kamu pikirkan itu Sierra. Kita akan tinggal bersama. Kamu akan tidur bersama saya". Ucap Revan yang seakan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Sierra.
"Tapi bagaimana bisa direktur? Saya tidak akan mungkin bisa tinggal bersama dengan anda apalagi sampai tidur bersama. Kalo begitu saya akan memesan kamar sendiri saja agar anda bisa nyaman tinggal dikamar ini".
Sierra bangun dari pangkuan Revan. Bahkan Sierra mulai berjalan kearah pintu keluar untuk memesan kamar untuk dirinya sendiri. Namun sebelum Sierra benar-benar pergi dari kamar itu Revan pun memanggil namanya yang membuat langkah Sierra langsung terhenti.
"Sierra?". Panggil Revan yang menatapnya lekat seperti sebelumnya.
"Iya direktur Revan?".
"Apa kamu yakin ingin memesan kamar sendiri dengan uangmu? Saya beritahu saja harga kamar dihotel ini untuk semalam setara dengan gajimu selama sebulan. Sedangkan kita akan melakukan perjalanan bisnis ini kurang lebih selama seminggu".
Sierra melotot. Apakah Ia tidak salah dengar? Harga semalamnya saja sebanding dengan gajinya sebulan? Lalu jika mereka menginap disini selama seminggu itu berarti setara dengan gaji Sierra selama 7 bulan? Astaga bagaimana Sierra bisa membayarnya? Mengapa harga hotel dikamar ini harus mahal sekali? Apakah Revan sedang berusaha menyiksanya?.
"Jadi jika kamu memang sanggup membayarnya saya persilahkan kamu untuk pergi". Kini Revan mulai mengalihkan tatapanya kearah tv yang sudah dinyalahkan olehnya.
Sierra pun menarik nafas yang dalam. Jika begini maka mau tidak mau Sierra terpaksa harus tinggal dikamar ini bersama dengan Revan. Sierra terpaksa harus tidur bersama dengan Revan. Karena Sierra tidak akan sanggup untuk membayar kamar dihotel ini sendirian.
Sepertinya Revan memang sudah merencanakan semua ini. Dengan putus asa Sierra pun berjalan kearah Revan kembali. Ia membatalkan niatnya untuk pergi dari kamar ini.
"Maaf direktur Revan apakah saya masih boleh untuk menginap di kamar ini bersama dengan anda? Karena jujur saja saya tidak sanggup untuk membayar kamar hotel ini sendirian". Ucap Sierra yang sudah benar-benar berada didepan Revan.
Revan pun tersenyum. "Tentu saja boleh. Kamu bersihkan badanmu dulu sana. Tidak lama lagi pelayan akan mengantarkan makanannya".
"Terima kasih direktur Revan".
Sierra membungkukan tubuhnya. Lalu Ia berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket dan bau ini.
__ADS_1
"Ternyata Revan mempunyai maksud lain menyuruhku untuk menyusul keperjalanan dinas ini. Revan sudah merencanakan semunya untuk menyiksaku. Benar-benar menyebalkan. Baru saja aku ingin berterima kasih karena sudah diberikan kesempatan untuk merasakan semua ini tapi ternyata ada sesuatu yang harus aku bayar dari apa yang aku dapatkan". Keluh Sierra disepanjang perjalanannya.
\*\*\*\*\*\*