Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Ciuman Pertama


__ADS_3

Happy Reading........


Sierra sedang duduk manis diruang kerjanya dengan jari yang sibuk mengetik diatas keyboard dan juga beberapa dokumen diatas mejanya kerjanya. Sierra pun seakan larut dalam pekerjaannya itu yang membuat Ia tidak menyadari kehadatangan direkturnya Revan beserta asistennya Vino.


Revan pun terus menerus mengamati sosok Sierra yang masih tetap fokus dengan pekerjaannya itu hingga akhirnya Sierra pun melirik kearah sampingnya. Dan betapa terkejutnya Sierra saat menyadari Revan yang sedari tadi memperhatikannya. Sierra pun segera bangkit dari duduknya dan memberikan senyumannya.


"Selamat pagi direktur Revan". Sapa Sierra seramah mungkin.


"Kakimu sudah sembuh?". Tanya Revan yang mengabaikan sapaan Sierra.


"Sudah lebih baik direktur".


Revan terdiam. Lalu Revan mengamati Sierra dari kepala hingga ujung kaki. Sierra yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Revan itupun langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Mengapa anda mengamati saya seperti itu direktur?".


Revan masih saja terdiam. Hingga akhirnya Revan pun mengalihkan tatapannya itu kearah asistennya Vino.


"Vino bukankah kamu sudah membelikan Sierra baju dan tas baru?".


"Iya direktur Revan saya sudah membelikannya untuk nona Sierra"


Revan pun menatap Sierra kembali. "Lalu mengapa baju dan tas yang aku belikan tidak kamu gunakan? Aku membelikan semua itu bukan untuk dijadikan pajangan Sierra".


Kali ini Sierralah yang terdiam. Sierra memang sengaja tidak menggunakan barang-barang pemberian Revan karena Ia masih kesal dengan Revan yang datang ke club malam bersama dengan wanita.


Apalagi Sierra juga tidak tahu apa saja yang sudah Revan lakukan dengan wanita itu yang membuat Sierra bertekad untuk tidak menggunakan apapun yang diberikan Revan sebagai balas dendam.


"Kenapa kamu diam saja dan tidak menjawab pertanyaan saya?".


Sierra berusaha memutar otaknya. Berusaha mencari sebuah alasan. Karena tidak mungkin Ia berkata jujur bahwa Ia kesal dengan Revan yang datang ke club malam bersama seorang wanita sehingga tidak menggunakan barang-barang itu. Sierra tidak mempunyai keberanian sebesar itu.


"Baju yang anda berikan sedang saya cuci dahulu direktur. Dan untuk tasnya saya tidak gunakan karena saya datang ke kantor dengan kendaraan umum jadi sayang jika saya menggunakan tas yang berharga jutaan itu". Sierra beralasan. Dan semoga saja Revan bisa mempercayai alasannya itu seperti biasanya.


"Apa? Kamu mencuci bajunya? Untuk apa kamu cuci baju itu Sierra? Kamu bisa langsung menggunakannya". Ucap Revan yang terkejut.


"Ya karena memang begitulah kebiasaan saya yang tidak bisa menggunakan baju baru begitu saja tanpa dicuci dahulu". Sierra memperkuat alasannya.


Revan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Revan melanjutkan langkahnya kembali kearah ruangan kerjanya yang diikuti oleh Vino dibelakangnya. Sierra pun mengelus dadanya karena ternyata Revan begitu bodoh bisa mempercayainya alasannya yang tidak masuk akal itu.


"Oiya Sierra datang keruanganku nanti. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu". Revan menghentikan langkahnya sejenak dan menatap kearah Sierra.


Sierra mengganggukan kepalanya. "Baik direktur Revan".


Revan melanjutkan langkahnya kembali hingga akhirnya Dia sudah benar-benar masuk kedalam ruangannya itu bersama dengan Vino. Sierra pun duduk kembali di kursi kerjanya itu.


"Hah menyebalkan sekali. Menyuruhku seenaknya saja. Dan lihatlah wajahnya yang berseri-seri itu seakan nafsunya sudah tersalurkan. Pasti Dia habis bersenang-senang semalam dengan wanita murahan itu. Benar-benar menjijikan". Keluh Sierra yang bangkit dari duduknya kembali dan berjalan kearah ruangan Revan lalu mengetuk pintunya.


Hanya dalam satu kali ketuan ruangan itu pun langsung terbuka dan memperlihatkan sosok Vino yang sudah berada didepannya.


"Anda masuklah nona Sierra. Direktur Revan sudah menunggu anda. Saya pamit pergi".

__ADS_1


Vino berjalan keluar dari ruangan itu sedangkah Sierra melanjutkan langkahnya kembali untuk masuk kedalam ruangan dan benar-benar berada tepat didepan Revan. Kini terlihat sosok Revan yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Padahal Dia yang menyuruhku datang kesini tapi malah Dia yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Pasti Dia sedang asik berkirim pesan dengan wanita yang tadi malam menemaninya tidur. Sangat kelihatan sekali dari wajahnya". Gerutu Sierra dalam hati.


"Direktur Revan ada keperluan apa anda mencari saya?". Tanya Sierra yang mulai tidak sabar menunggu.


Revan merilik kearah Sierra sejenak. Lalu Revan meletakan ponselnya itu diatas meja kerjanya dan berjalan mendekat kearah Sierra.


"Apakah harus ada keperluan dulu jika saya ingin melihat kekasih saya?".


"Ah bukan begitu direktur Revan. Hanya saja saya memiliki banyak pekerjaan saat ini".


Revan pun mulai memainkan rambut lurus Sierra. Bahkan Revan juga sudah menciumi rambut tersebut dengan mata terpejam.


"Hei disini direkturnya adalah saya. Dan pekerjaan saya juga jauh lebih banyak dibandingkan kamu. Jadi kamu jangan sok sibuk dan ikuti perintah saya saja".


Sierra terdiam. Ia membiarkan Revan yang asik memainkan rambutnya itu begitu saja. Walaupun sebenarnya Sierra masih merasa kesal dengan Revan tapi tentu saja Ia tidak bisa menolak keinginan direkturnya itu.


"Kenapa tadi malam kamu memutuskan panggilan saya begitu saja Sierra?". Tanya Revan yang masih menciumi rambut Sierra dengan mata terpejam.


"Saya hanya tidak ingin mengganggu kesenangan anda direktur".


Revan langsung membuka kedua matanya. Bahkan Revan pun sudah melepaskan tangannya dari rambut Sierra. Revan menatap Sierra dengan bingung.


"Kesenangan? Maksudmu?".


Sierra menghembuskan nafas kesal. Buat apa Revan berpura-pura tidak mengerti maksud perkataan Sierra itu. Padahal sudah jelas sekali kemarin malam Revan datang ke club malam bersama wanita tapi Dia malah bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.


Revan tersenyum. Lalu Revan mendekatkan wajahnya kearah telingga Sierra yang membuat Sierra langsung terdiam kaku.


"Apakah kamu sedang cemburu Sierra?". Tanya Revan yang berbisik lembut ditelinga Sierra.


Sierra membulatkan matanya. Ia pun berusaha mendorong tubuh Revan agar menjauh darinya namun dengan sigap Revan langsung melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sierra yang membuat Sierra kini sudah berada didalam pelukannya.


"Apa cemburu? Saya tidak mempunyai hak untuk cemburu dengan anda direktur Revan". Sierra menegaskan.


Untuk kesekian kalinya Sierra pun berusaha mendorong tubuh Revan namun Revan malah semakin memperkuat pelukannya itu sehingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.


"Benarkan kamu tidak cemburu? Sierra semalam aku memang datang ke club bersama Vino dan Alvin. Tetapi aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu".


Sierra membelalakan matanya. Apa Ia tidak salah dengar? Seorang Revan yang dikenal playboy dan suka meniduri wanita tidak melakukan apapun dengan wanita sexy yang ada disampingnya?.


Seharusnya jika Revan ingin berbohong Dia mencari alasan yang lebih masuk akal bukannya alasan yang membuatnya terlihat lucu seperti ini.


"Anda tidak melakukan apapun? Jangan bercanda dengan saya direktur Revan". Sierra senyum mengejek.


"Lalu memangnya saya harus melakukan apa? Melakukan ini?".


Revan mulai mendekatkan wajahnya kearah Sierra. Sierra pun berusaha menjauh namun Revan dengan sigap langsung mendorong wajah Sierra hingga akhirnya Ia pun bisa merasakan sentuhan lembut dari bibir Revan. Mata Sierra pun semakin membulat.


"Pejamkan matamu Sierra". Ucap Revan sejenak sebelum melanjutkan ciumannya kembali.

__ADS_1


Sierra pun seakan terhipnotis dengan perkataan Revan itu. Perlahan Sierra mulai memejamkan matanya. Ia mulai terhanyut dalam ciuman manis itu. Bahkan Sierra mulai mengikuti gerakan bibir Revan tanpa perlawanan.


Revan yang menyadari bahwa Sierra tidak menolak semakin memperdalam ciumannya. Revan mulai melumati bibir Sierra, memasukan lidahnya bahkan mengigit bibir itu sejenak. Untuk beberapa saat mereka berdua pun sama-sama terhanyut dalam ciuman panas itu sebelum akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari ruangan Revan.


Revan pun segera melepaskan ciumannya. Sedangkan Sierra mengambil langkah mundur untuk menjauh dari Revan. Lalu Revan berjalan kearah kursi kerjanya kembali sambil membenarkan posisi jasnya.


"Masuk". Ucap Revan yang sudah duduk manis dikursi kerjanya.


Vino berjalan masuk kedalam ruangan itu. Dan seperti biasa Vino memberikan sebuah tab kearah Revan dan Revan mulai membacanya. Sierra pun hanya bisa memperhatikan dalam diam dengan pikiran yang kacau.


"Ini adalah jadwal untuk perjalanan dinas anda besok direktur Revan".


"Saya mengerti Vino. Besok kita akan berangkat pukul berapa?".


"Saya sudah memesan tiket pesawat pukul 9 pagi karena siang harinya kita harus menghadiri sebuah meeting".


"Baiklah. Kamu atur saja semuanya".


"Jika begitu saya pamit pergi direktur. Maaf jika saya sudah mengganggu kegiatan anda berdua".


Vino membungkukan tubuhnya dan berjalan pergi dari ruangan Revan. Sedangkan Sierra hanya bisa membulatkan matanya saat mendengar ucapan Vino tadi.


"Sial. Apakah Vino tahu bahwa tadi Sierra sedang beciuman dengan Revan? Astaga mengapa Sierra tidak menolak ciuman itu dan malah ikut terhanyut". Keluh Sierra dalam hati yang tanpa sadar sudah memegang bibirnya dengan kedua tangannya. Revan yang sedari tadi memperhatikannya pun hanya tersenyum.


"Mengapa kamu memegang bibirmu seperti itu? Ingin merasakan ciuman panas seperti tadi lagi?".


Sierra pun langsung menurunkan tangannya. Kini wajahnya mulai merah merona saat mendengar perkataan Revan tadi.


"Tolong jangan menggoda saya direktur Revan". Ucap Sierra kesal.


"Saya tidak menggoda kamu Sierra. Malah kamu lah yang menggoda saya".


Sierra memutuar bola matanya. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasannya ketika Ia mulai merasa kesal. Revan pun langsung menatapnya tajam.


"Bukankah saya sudah bilang kalo saya tidak suka jika kamu memutar bola matamu seperti itu? Kamu mau menguji kesabaran saya Sierra?".


"Maaf direkturRevan. Saya tidak sengaja melakukannya". Ucap Sierra yang tersadarkan.


"Sudahlah. Saya hanya ingin memberitahukanmu bahwa besok saya akan melakukan perjalanan dinas keluar negeri untuk waktu yang lama. Jadi kamu selesaikan pekerjaanmu dengan baik disini. Oiya kami juga jangan menghubungi saya setiap satu jam sekali seperti kemarin. Tunggu saya yang menghubungi duluan saja".


"Iya direktur Revan saya mengerti. Jika sudah selesai saya pamit pergi keruangan saya kembali".


Sierra membungkukan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Sesampainya diluar ruangan itupun Sierra langsung mengeluarkan berbagi kekesalannya.


"Huh siapa juga yang kerajinan mau hubungin Dia setiap satu jam sekali? Emang aku kurang kerjaan apa. Aku kan ngelakuin itu karena kemarin disuruh Dia aja. Tapi kalo Dia ada perjalanan dinas berarti aku bisa bebas dong? Aku bisa ngelakuin apa saja? Yess akhirnya aku bisa merasakan kehidupan sejenak". Ucap Sierra dengan bahagia.


Sierra pun melanjutkan langkahnya lagi kearah ruang kerjanya dengan perasaan senang karena membayangkan kebebasan yang akan didapatkannya dihari esok.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa like, komen dan votenya ya untuk author..terima kasih semuanya....

__ADS_1


__ADS_2