
"Apa?!" Seru Sinta seketika, ia mendongakkan kepalanya. Menatap tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
'Apa aku tidak salah dengar? Aku? Seorang sosialita yang terkenal dari keluarga besar NusaJaya, meminta maaf kepada seorang gadis yang bahkan tidak memiliki status sosial apapun.' Batin Sinta seraya menatap lajtai marmer tempat ia berdiri saat ini.
Padangannya kini teralih kepada Lia dan kemudian menatap kepada sang kakek yang menantinya mengucapkan kalimat yang sangat jarang. Bukan. Bahkan tidak pernah ia ucapkan seumur hidupnya.
'Tapi jika aku tidak minta maaf sekarang juga, status ku dan juga suami ku akan tercoreng di hadapan kakek. Begitu pula dengan teman teman arisan ku.' Lanjut Sinta dalam benaknya.
Menggertakkan giginua seraya mengepalkan kedua telapak tangannya, Sinta pun memjamkan kedua matanya dan menghel nafas berat.
'Sial.' Umpatnya dalam hati.
Menghadap ke arah Lia, Sinta pun mendekati sosok yang membuat ia harus menanggung malu setengah mati pada hari ini.
"Lia…" ucapnya pelan, seraya menyentuh kedua tangan istri dari keponakannya itu.
"Maafkan saya ya. Saya tidak bermaksud apapun kepada mu. Saya hanya terbawa emosi karena belum memiliki keturunan sedari dulu." Ucap Sinta sembari melontarkan senyuman terbaiknya.
"Ah, itu.." Lia namlak rerdiam untuk sesaat, sebeluk akhirnya ia membuka suaranya. "Iya. Tentu saja, saya sangat memahami situasi anda. Dan seharusnya yang meminta maaf di sini adalah saya, marena saya tidak mengerti akan perasaan anda." Mendengar perkataan Lia, membuat Leo menjadi geram.
"Kenapa kamu yang minta maaf?!! Jelas sekali dia telah memaki mu seperti itu!!" Seru Leo kepada Lia, sementara Sinta tak banyak bicara dan hanya memaksakan senyumnya kepada Lia.
"Maaf, tuan muda Leo. Tapi sepertinya di sini yang terlihat jelas memaki saya adalah anda sendiri. Sejak tadi anda nampak tidak begitu menyukai pertemuan pada hari ini. Entah apa yang membuat anda tidak nyaman. Tapi saya tidak mengerti, mengapa anda begitu membenci bibi Sinta." Mendengar penuturan Lia barusan, membuat Leo tercengang.
Bahkan ia tidak dapat mengatupkan kembali bibirnya yang terbuka, tubuhnya membeku dan ia masih menatap tak percaya pada wanita yang tengah mengandung benihnya saat ini.
Keadaan saat ini begitu mencekam, Sinta yang merasa tak ingin semakin terseret pun memutuskan untuk meninggalkan rumah tersebut terlebih dahulu.
"Saya tahu jika saya bersalah, ada baiknya jika saya pergi dulu. Saya benar-benar menyesal telah mengganggu hari spesial saat ini. Saya pamit undur diri, kek." Ucapnya anggun seraya mengucapkan kata perpisahan kepada kakek Edward dan di balas anggukan kecil oleh pria pruh baya tersebut.
Menghela nafasnya yang telah tua, kakek Edward yang merasa atmosfir dirl ruangan tersebut nampak tidak kondusif, ia pun memutuskan jntuk menyudahi pertemuan pada hari ini.
"Seharusnya hari ini menjadi hari yang membahagikan untuk kita semua. Tapi karena Sinta yang membuat keributan seperti ini, mood saya menjadi kurang baik. Sebaiknya kita akhiri saja pertemuan kali ini." Ujar kakek Edward sembari merapihkan kembali pakaiannya dan beranjak dari kursinya.
__ADS_1
Sementara Lia hanya duduk mematung sembari menatap dalam diam kedua kepalan tangannya yang ia letakkan di atas kedua pahanya.
".." Leo yang melihat sang istri, tak banyak bicara seperti biasanya pun hanya diam dan menatap Lia dalam diam pula.
'Apa aku keterlaluan?' Batin Leo, sembari terus menatap Lia dengan mata yang sendu.
"kalau begitu, saya permisi." Ucap Lia, memecah keheningan saat ini. Membuat Leo hendak meraih tangan Lia, namun ia urungkan kembali karena tubuh Lia yang telah pergi mendahuluinya.
BRAKK!!
Menggenggam erat tangannya, Leo menghantam meja makan yang tak bersalah pada saat itu juga. 'Sial!!' Umpatnya dalam hati.
****
Lia yang merasa tidak enak badan hanya berbaring, sembari menutup tubuhnya dengan selimut. Ia dapat mendengar langkah kaki Leo yang mendekat ke arah kasur tempat ia berbaring saat ini.
Namun ia tidak mendengar apapun dan ketika ia menoleh, ia mendapati Leo telah pergi bersamaan dengan tertutupnya daun pintu dari kamar bernuansa hitam dan putih tersebut.
Hanya tangis yang dapat ia keluarkan saat ini, tepat ketika ia teringat akan apa yang tejadi padanya beberapa saat yang lalu. Belum lagi perkataannya kepada Leo, membuatnya merasa semakin buruk saja.
"Apa yang harus ku lakukan?" Gumamnya oada dirinya sendiri.
Merasa jenuh, Lia pun memutuskan untuk pergi keluar guna mencari sedikit udara segar. Dari balik balkon, Lia dapat dengan mudah melihat Leo yang memasuki mobil miiiknya dan melaju meninghalkan kediaman mereka pada saat itu juga.
Menghela nafasnya, Lia memilih untuk diam. Namun fikirannya teringat pada Sari, dimana Lia masih memiliki janji pada wanita yang seusia dengannya itu.
"Oh iya, Sari. Sebaiknya aku keluar jalan-jalan dengan Sari. Aku kan sudah berjanji dengannya." Gumam Lia dan segera pergi menyusul ke tempat Sari tengah berada.
"Sari!?" Seru Lia dan segera saja Sari menoleh ke arahnya.
"Iya. Ada apa, nyah?" Tanya Sari ketika ia melihat Lia memanggilnya.
"KKau ganti baju sekarang, ya.." Ucap Lia.
__ADS_1
"Eh, kenapa nyah? Apa saya di pecat?!" Seru Sari saat menyadari tiba-tiba ia di minta untuk mengganti pakaiannya. Tak terlupa wajah pucatnya yang menghiasi wajahnya.
"Bukan, Sar. Tapi aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Aku kan sudah janji sama kamu. Kebetulan aku lagi bosan, nih." Ucap Lia.
"Beneran, nyah? Waahh.. Senangnya." Ucap Sari kegirangan. Namun rasa bahagianya saat pun sirna saat itu juga ketika ia teringat bahwa Lia dan Leo tengah dalam masa yang tidak baik.
"Tapi, nyah. Bukannya tuan muda Leo sedang tidak di rumah. Apa anda baik-baik saja jika pergi dengan saya saja?" Tanya Sari.
"Belum lagi, tadi saya dengar anda dan tuan muda Leo sedang bertengkar. Saya jadi tidak enak hati jika nanti saya ikut terseret permasalahan anda dan tuan muda Leo." Ungkap Sari dengan polosnya.
Lia yang melihat Sari pun hanya tersenyum kecil, "sudahlah. kamu tenang aja. Pokoknya kamu siap-siap dulu. Aku tunggu ya." Pangkas Lia dan segera saja di jawab sebuah anggukan oleh Sari.
Sari pun pergi dan meninggalkan Lia yang hanya tersenyum kecil, melihat Sari yang nampal bahagia.
Namun di sisi lain, Sari nampak sedikit ragu. 'Kenapa perasaan ku nggak enak, ya?' Batin Sari.
'Mungkin cuma perasaan ku aja.' Sambungnya dalam hati.
***
Mall itu nampak ramai dengan hiruk pikuk pengunjung yang memenuhi gedung setinggi 5 lantai tersebut.
"Ini cantik, Sar. Kamu mau?" Tanya Lia pada Sari, tepat saat ia menunjukkan sebuah gaun berwarna biru aqua di hadapan Sari.
"Waahhh.. Cantik banget, nyah." Sahut Sari saat melihat gaun tersebut.
"Ya udah. Nih, buat kamu." Ujar Lia, membuat Sari terbengong tak habis fikir.
"Tapi, nyah. Ini mahal banget. Saya tidak punya sebanyak ini." Mendengar ucapan Sari barusan membuat Lia terkekeh.
"A-ada apa, nyah? Tanya Sari dengan polosnya.
Bersambung...
__ADS_1