
'Kenapa mbaknya kesini?' Batin Lia merasa ada yang mengganjal dengan wanita itu.
Tapi ia menepis fikiran negatifnya dan berusaha berfikir positif.
"Bukan mbak. Saya anak dari pemilik panti ini. Ayo mbak, sini. Jangan diam saja disana." Ujarnya seraya menggaet tangan Lia.
"Oh. Gitu. Kalau boleh tau, dimana orang tua anda mbak?" Tanya Lia sopan.
Wanita itu tak menjawab pertanyaan Lia dan terus melangkahkan kakinya, menuju sebuah pintu yang nampak usang.
Membuat Lia merasa heran dan sedikit waspada. Wanita cantik di hadapannya hanya diam dan terus menarik tangan Lia.
'Mbaknya ini kok nggak sopan sekali sih. Di tanyain malah diam aja.' Batin Lia mennggerutu.
Tapi rasa sebal Lia hilang seketika, saat wanita itu segera membuka pintu tersebut dan memperlihatkan penampakan yang luar biasa indah.
Nuansa gedung itu nampak berwarna-warni layaknya pelangi, dengan berbagai macam lukisan yang menyejukkan mata.
"Waaahhh.. Keren banget." Ucap Lia terkagum, melihat pemandangan di depannya.
Tak perduli lagi dengan sikap wanita di sebelahnya, Lia hanya terfokuspada apa yang ia lihat saat ini.
"Ayo, sini! Kejar aku kalau bisa! Hahaha." Teriak benerapa anak kecil yang tengah bermain dengan teman-temannya.
"Tunggu!! Hahaha." Sahut beberapa temannya.
"Hei!! Curang ini, kenapa kamu nggak mau ngalah? Harusnya aku lagi yang mainin ini. Gantian dong!" Seru salah seorang anak perempuan yang nampaknya tengah berkelahi dengan temannya, perihal mainan yang sedang mereka perebutkan.
"Tapi aku baru main sebentar! Kamu kan sudah tadi. Kenapa nggak sabaran, sih!!" Hardik teman sebayanya yang nampak kesal.
Melihat itu, Lia merasa sedikit cemas. Khawatir jika anak-anak itu akan terluka akibat perkelahian mereka.
Ingin ia melerai, tapi dia bukan siapa-siapa ditempat ini. Saat ia hendak bertanya pada wanita di sebelahnya, ternyata wanita itu telah pergi mendahului dan segera melerai perkelahian diantara kedua bocah itu.
"Jangan bertengkar.." Ucapnya lembut hingga membuat kedua anak itu berhenti bertikai.
'Luar biasa. Batin Lia saat ia melihat sendiri, betapa ramah dan lembutnya wanita yang kini tengah di kerumuni oleh anak-anak disana.
Seketika ia melihat Lia yang berdiri, mematung memperhatikan dirinya. Semburat merah terlihat di kedua pipinya. Kendati demikian, wanita itu mengajak para anak-anak tersebut untuk menghampiri Lia.
"Oh iya.. Kota datang tamu, adik-adik semua. Ayo sini kita sapa tante cantik disana." Ujarnya seraya menunjukkan jarinya kepada Lia.
Sontak saja hal tersebut membuat anak-anak yang berkisaran umur 3 tahunan itu, berlari tak tentu arah menyerbu kedatangan Lia.
__ADS_1
"Tante, tante namanya siapa?" Ucap seorang anak perempuan yang berdiri tepat di depan Lia.
"Tante mau cari anak, ya?" Lanjutnya dengan mata yang berbinar. Seakan ia berharap untuk di adopsi dan di jadikan sebagai keluarga oleh Lia.
Membuat Lia merasa canggung dan juga terharu. Anak sekecil ini, di buang oleh orang tua kandungnya. Sungguh kenyataan yang ironi.
"Saya saja, tan. Saya pintar dan juga tampan." Sahut anak laki-laki yang tak jauh dari Lia.
"Sama saya saja, tan. Dia jorok, masa tadi dia ngupil. Hiiii." Sahut anak laki-laki lainnya, membuat suasana kembali riuh dengan perselisihan di anata mereka.
"Sudah, sudah. Ayolah kalian. Berhentilah. Tantenya jadi takut karena kalian. Coba kalian lihat sendiri." Kata wanita itu dengan mengalihkan perhatian mereka kepada Lia, yang nampak tegang karena kedua kakinya di peluk oleh beberapa anak.
"Aduuhh.. Maaf ya, mbak. Jadi menyusahkan anda." Ucap wanita itu dengan melepaskan pegangan anak-anak itu.
"Ha.. Hahahaha.. Iya, nggak apa-apa, kok." Ucap Lia seraya tersenyum kepada anak-anak yang kini nampak seperti menahan tangisan.
"Eh. Kenapa? Kok mau nangis? Kalian kan tidak salah. Kenapa harus menangis?" Tanya Lia yang panik bukan main.
Merasa bingung, Lia tak tahu harus berbuat apa. Ia pun menatap wanita itu dengan tatapan seakan meminta bantuan kepadanya.
Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, wanita itu pun seakan paham dengan arti tatapan Lia.
Segera saja ia mengeluarkan beberapa buah mainan dengan ukuran cukup besar, seketika saja raut wajah mereka berubah menjadi ceria.
"Waah.. Langsung tenang. Hebat sekali mainan itu." Ucap Lia yang kini menatap anak-anak itu, dimana mereka nampak bahagia meski dengan mainan yang telah usang tersebut.
'Sungguh kasihan. Mereka nampak bahagia, meski dengan maianan seperti itu saja. Tapi, entah bagaimana perasaan mereka terhadap ibu bapaknya. Apakah sama sepertiku?' Batin Lia dengan air mata yang ia bendung.
***
Di kediaman tuan muda Leo.
Nampak asyik Sari yang tengah membersihkan jendela, ia di kejutkan oleh Irfan yang lewat di depan kaca tersebut.
"Ya ampun!! Bikin kaget saja. Ku kira siapa, ternyata dia! Huh!! Bikin kaget saja." Jeritnyanya yang melihat Irfan sesaat, sebelum akhirnya meneruskan pekerjaannya.
Jeritan Sari mwmbuat Irfan menoleh dan menghentikan langkahnya.
Segera ia menghampiri Sari dan menatapnya dengan dingin. Seakan tak ada ekspresi di wajahnya itu.
"A-ada apa?" Tanya Sari yang gugup karena di lihatin seperti itu.
"Nggak." Ucapnya singkat dan kembali melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Apaan sih. Dasar orang nggak jelas." Gerutu Lia.
"Apa?!" Tiba-tiba saja, suara berat Irfan mengejutkan Sari untuk kedua kalinya.
Bukan karena suka, tapi karena dia takut dengan Irfan. Selama ini, ia mengenal Irfan sangat pendiam dan mengerikan.
Sebagai ajudan terpercaya oleh tuan muda Leo, Irfan di percaya menjaga rumah ini sedari dulu.
Sehingga, tingkat bertarungnya bukan kaleng-kaleng. Akan tetapi sangat luar biasa hebat.
Seperti waktu itu, di saat rumah ini di serang oleh perampok, ia begitu beringas dan tak kenal ampun menghadapi seluruh perampok berjumlah 7 orang kala itu.
Hal itulah yang membuat Sari enggan untuk mengajak bicara Irfan. Ia sudah ciut duluan sebelum sempat menyapa pria misterius itu.
"Hiii.." Ucapnya seraya bergidik ngeri mengingat kejadian itu.
"Kenapa dia seram banget, sih." Ucap Sari sebelum akhirnya kembali melanjutkan membersihkan jendela itu.
Tapi ia baru ingat, jika tempo hari dirinya di tolong oleh Irfan di kala ia pingsan.
"Oh iya, waktu itukan aku ditolong dia. Mm.. Mana orang itu?" Ucap Sari dan menyelesaikan tugasnya.
"Yes!! Selesai."Ucapnya girang dan nerjalan menuju dapur.
"Oh iya. Aku kan ada kue jatah siang ini. Dia sudah makan belum, ya?" Ucap Sari dan mengambil kue tersebut, seraya berjalan kembali keruang yang baru saja ia tinggalkan.
"Nah. Mana orang itu?"Tanyanya pada dirinya sendiri.
Menengok kekanan, menengok kekiri. Seperti orang hilang, Sari nampak mencari Irfan yang belum nampak batang hidungnya.
Hingga suara itu mengejutkannya kembali.
"Cari siapa?!" Ucapnya tanpa nada.
Membuat Sari hampir membatu saking kagetnya.
"Ini untukmu." Ucap Sari seraya menyodorkan kue yang ia genggam sedari tadi, dihadapan Irfan yang memandangnya tanpa ekspresi.
Tepat di saat itu, Eneng yang sedari dulu telah menyembunyikan perasaannya kepada Irfan berdiri tepat di belakang Sari.
Dan melihat peristiwan di hadapannya dengan raut wajah muram.
Apa yang akan terjadi kepada mereka bertiga?
__ADS_1
Bersambung..()(((*