Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Perkataan Angga


__ADS_3

Lia menurut saja saat dirinya di minta untuk mengikuti langkah pria yang baru saja ia kenal bebrapa waktu yang lalu.


"Silahkan duduk, mbak." Ujar pria itu.


Lia pun duduk, disusul oleh pria tersebut duduk pula di hadpan Lia.Membuat Lia heran dan terkerjut, ternyata pria ini yang akan menginterview dirinya.


"Oh. Masnya yang akan menginterview saya, ya?" Tanya Lia.


"Benar. Perkenalkan, nama saya Feri Cakramulia. Anda bisa memanggil saya Feri. Saya disini sebagai General Manager, dan saya pulalah yang bertanghung jawab atas interview anda hari ini." Ucap pria yang kini Lia ketahui namanya.


'Oh. Jadi pria ini adalah GM perusahaan ini? Apa?! GM?! Aku nabrak orang penting lagi? Dulu mas Leo. Sekarang pria ini. Hidupku sungguh sial.' Batin Lia saat ia menyadari jabatan pria dihadapannya saat ini.


"Disini tertulìs jika anda telah menikah, dan anda hendak melamar pekerjaan sebagai sekretaris." Kata Feri dengan serius.


"Benar, tuan." Ucap Lia yang merasa tekanan dari perkataan Feri, hingga tanpa sadar ia memanghilnya tuan.


"Baiklah. Anda diterima." Ujar Feri dengan santainya, membuat Lia terkejut karena secara tak langsung, ia lukus interview secepat ini.


"Benarkah? Tapi bukannya harus ada seleksi dan ujian tertulis terlebih dahulu, ya?" Tanya Lia. Ia merasa heran dengan keputusan yang di ambil oleh Feri.


"Iya. Benaran. Karena kami benar-benar membutuhkan sekretaris secepatnya. Perusahaan sedang dalam kesulitan, dan sekretaris sebelumnya mengundurkan diri karena gaji disini menurutnya kurang. Jadi begini, saya akan jelaskan bagian pekerjaan anda dan juga, berapa gaji anda perbulan. bla.. bla.. blaa.." Feei pun menjelaskan secara rinci keseluruhannya.


Namun kini, di dalam fikiran Lia bukan hanya menyimak penjelasan dari atasannya tersebut. Tapi ia juga memikirkan bagaimana keadaan orangtua kandungnya.


Mengapa sampai seperti ini. Perusahaan yang awalnya jaya, kini hampir bangkrut bahkan sampai kehilangan orang-orang kepercayaannya.


"Jadi begitu. Apa anda paham, nona Lia?" Tanya Feri membuat Lia tersadar dari lamunannya.


"Eh. Iya. Saya paham. Terimakasih atas penjelasannya." Jelas Lia dengan memberi senyum kecil kepada Feri.


Sedangkan Feri hanya harap-harap cemas, agar Lia tidak kabur lagi seperti sekretaris sebelumnya.


***


Leonardo NusaJaya, pria matang yang penuh karisma dengan tubuh tinggi bak model, tatapannya yang dingin tak dapat membuat semua mata tak henti meliriknya ketika ia tiba di bandara kota B.


"Pesankan hotel dua kamar. Saya lelah." Titah Leo kepada Cika.

__ADS_1


Sedangkan Cika yang telah stand by dengan ponsel di genggamannya pun, ternyata telah memesan hotel sebelumnya.


"Saya sudah pesankan, tuan. Saya juga susah pesankan taksi. Itu taksinya, tuan muda. Silahkan." Ujar Cika dengan cekatan, ia segera membukakan pintu mobil dan juga garasi.


"Hm. Terimakasih." Ucap Leo datar dan di balas senyuman oleh Cika.


Rasa senang menyelimuti Cika, namun perasaan itu buyar seketika. Saat ponsel pribadi milik Leo bergetar. Dan segera saja Leo mengangkatnya, saat ia mengetahui itu panggilan dari Agus. Ajudan yang ia perintahkan untuk mengawasi dan menjaga Lia selama di kediaman mending papahnya.


"Ada apa?" Tanyanya dingin.


"Begini tuan-" Belum juga Agus membalas pertanyaan tuan mudanya, Leo langsung menghentikannya.


"Nanti saja. Saya lelah. Nanti saya hubungi lagi." Ujar Leo. Sebenarnya ia tak begitu lelah, tapi ia menyadari Cika di sebelahnya lah yang membuatnya tak ingin urusan pribadinya di ketahui oleh orang lain. Mengingat ia memiliki kenangan buruk terhadap orang-orang kesayangannya.


"Eh. Tapi tuan? Baiklah, tuan." Ujar Agus dan sambungan itupun terputus.


"Maaf tuan, apa ada sesuatu yang terlupakan?" Tanya Cika mencoba mencari tahu.


"Bukan urusanmu." Jawab Leo ketus. Memdengar itu, Cika merasa sedih. Tapi ambisinya untuk memiliki sang tuan muda sangatlah tinggi. Tapi ia sadar jika itu hanyalah impian belaka.


Sesak dan perih, ia merasa ingin menangis tapi malu. Jadi ia memilih untuk melihat kearah jendela dan memandangi jalanan kota B yang nampak ramai.


***


Setibanya di kamar hotel, Cika dan Leo pun masuk kekamar mereka masing-masing. Tapi sebelum itu, Leo meminta Cika untuk membuatkan kopi untuknya terlebih dulu.


"Buatkan saya kopi." Titahnya dingin.


"Baik, tuan muda." Sahut Cika.


Cika pun menyanggupinya dan memasuki kamar hotel milik atasannya itu. Dengan segera ia menyiapkan kopi buatannya dengan lihai.


"Silahkan, tuan muda." Kata Cika dengan meletakkan cangkir putih berisi kopi tersebut diatas meja Leo.


"Hm. Terimakasih, kamu boleh keluar." Ucap Leo dan Cika pun keluar dari kamar Leo.


Melihat Cika sudah keluar, Leo pun segera menghubungi Aģus. Dan yidak butuh waktu lama, Aguspun mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Leo.


"Maaf tuan, nyonya Lia pergi sejak tadi pagi dan belum kembali lagi. Ketika saya telusuri, ternyata beliau sedang melamar pekerjaan di perusahaan CAKRAMULIA, tuan." Jelas Agus dari balik panggilan tersebut.


"Apa?! Kurang ajar!! Mulai berani ya wanita itu. Terus awasi dia. Jika ada hal lain segera hubungi saya." Titah Leo dan menutup panggilannya.


"Kenapa?! Apa uang yang ku berikan padanya kuranng? Atau dia ingin meninggalkanku? Apakah pernyataan cintanya pada ku waktu itu hanyalah kebohongannya saja?" Guman Leo pada dirinya sendiri.


Merasa frustrasi sendiri, Leo pun memutuskan untuk menghubungi orang yang paling ia percaya. Angga.


Mengambil ponselnya, dan hanya dengan sekali tekan. tak butuh waktu lama, suara yang sangat familiar baginya terdengar dari balik panggilan tersebut.


"Ada apa, tuan muda?" Tanya Angga yang nampaknya baru terbangun.


"Lia. Dia.. Enth bagaimana saya memulainya. Saya benar-benar tak habis fikir dengan wanita itu." Kata Leo yang merasa pusing.


"Kenapa lagi dengan nyonya Lia?" Tanya Angga.


"Dia melamar pekerjaan di perusahaan cakremulia. Bagaimana menurutmu?" Tanya Leo.


"Hm. Mungkin anda kurang memberinya uang bulanan?" Ujar Angga dan di alas seruan oleh Leo.


"10 juta. 10 juta perbulan. Apakah kurang?" Seru Leo.


"Hm. Mungkin ia ingin memiliki kegiatan." Ujar angga lagi.


Leo pun hanya diam. Benar kata Angga, bahwa selama ini Lia selalu ia kekang. Tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Karenanya Leo mengizinkan Lia untuk pergi ke rumah mendiang papahnya.


Melihat matanya yang terus menangis dan dirinya yang terus merasa bersalah akan kepergian paoahnya, membuat Leo tak ingin melihat wanita yang telah merebut hatinya itu tersakiti lebih dan lebih.


Tapi kini, apa yang di lakukan oleh Lia di luar pemikirannya. Fakta bahwa Lia tak meminta izin sebelumnya kepada dirinya membuatnya kecewa.


Hingga lamunannya buyar tat kala perkataan Angga membuat Leo tercengang bukan main.


"Atau jangan-jangan, anda kurang memuaskannya." Ucap Angga tanpa rasa bersalah.


Sedangkan Leo menimbang perkataan Angga barusan. Benarkah karena hal itu?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2