
Baru kali ini, ya. Baru kali ini Lia menginjakkan kakinya di dalam ruangan bernuansa monokrom, kamar tidur ini tampak rapi dan terlihat keren.
Dengan desain kamar tidur yang memadukan kamar tidur dengan ruang kerja yang terbilang cukup luas.
Ruangan milik sang suami yang seharusnya menjadi ruangan miliknya juga.
Dengan sikapnya yang dingin serta ketidak tertarikannya terhadap pernikahan, membuat Adelia benar-benar harus berfikir keras.
Bagaimana dirinya dapat menjalin hubungan suami-istri kepada pria dingin itu.
Dirinya mengedarkan pandangannya, menyusuri tiap jengkal yang terdapat pada ruangan tersebut.
Tak perduli dengan sosok dingin yang kini tengah menatapnya dengan senyuman kecil terpasang diwajahnya.
"Indah sekali." Gumam Lia tanpa sadar.
"Tentu saja." Sahut Leo dengan bangganya.
"Apa kamu tau, perusahaan NusaJaya bergerak dibidang apa?" Tanya Leo.
Mendengar pertanyaan itu, Lia hanya menggeleng.
"Segalanya. Karena itu, saya pun tak segan-segan mengenai hal yang menimpa sahabatmu. Bukankah dia sudah cukup kurang ajar kepadamu? Kenapa kamu memaafkannya? Jika saya jadi kamu, sudah saya penjarakan dia." Imbuh Leo.
"Karena, dia sahabat saya. Dia pula keluarga saya. Jadi, saya hanya mengikuti isi hati saya. Jika mengikuti ambisi ataupun emosi, sudah tentu saya akan memenjarakan dia." Jawab Lia.
"Mengikuti ambisi hanya akan membuat lelah, dan mengikuti emosi hanya akan jadi beban seumur hidup. Karena itu, saya lebih memilih untuk memaafkan." Sambung Lia kini dengan senyuman yang ia buat sebaik mungkin.
Mendengar itu semua, pria bernama lengkap Leonardo NusaJaya itu berfikir sejenak. Dirinya memang pekerja keras dengan ambisi yang menggebu-gebu. Jika ia menginginkan itu, maka harus ia gapai.
Begitu pula dengan dendamnya. Namun dengan adanya wanita ini, ia sedikit belajar tentang kata memaafkan.
Tapi, mampukah dia? Memaafkan setelah sekian lama ia terjebak oleh perasaannya sendiri, hingga tak menyadari dirinya telah berada dalam kesengsaraan.
Adelia hanya diam mematung, saat tiba-tiba tubuhnya didekap oleh Leo yang kini menenggelamkan kepalanya dileher sang wanita.
"E-eh. Tu-tuan muda. An-anda kenapa? Apa anda demam?" ucap Lia dan mendorong pelan tubuh Leo seraya menatapnya.
Merasa dikhawatirkan, Leo sangat bahagia meski hanya perasaan kecil. Namun ia menghargainya, kini wajahnya yang rupawan dengan bola mata hitan serta hidung mancung dan alis yang simetris, menatap dalam diam kepada wanita yang kini hanya menatapnya khawatir.
"Saya bukan pecinta pria." Ucapnya singkat.
__ADS_1
"O-oh. I-itu sebenarnya saya juga tidak bermaksud kurang ajar. Tapi-" Belum sempat Lia berkata, bibirnya telah dilumat oleh sang pria.
Dengan sedikit tergesa-gesa, Leo terus ******* bibir itu, tanpa memikirkam Lia yang kini tengah kesulitan untuk bernafas.
"Tu-tuan muda. Anda, apa yang anda lakukan?" Biasanya Lia yang berinisiatif duluan, mengingat dirinya memiliki hutang kepada kakek Edward agar segera memberinya cicit.
Namun kali ini, tanpa perigatan apapun. Pria itu dengan tiba-tiba menerjangnya dengan berbagai serangan. Membuatnya kewalahan mengikuti ritme kecupan demi kecupan yang ia layangkan kepadanya.
"Sebut namaku." Pinta pria itu dengan suaranya yang parau, dengan nafasnya yang semakin berat.
"Tuan muda." Ucap Lia.
"Namaku." Sekali lagi, Leo meminta kepada anita, yang kini entah bagaimana telah berada diatas ranjang milik pria itu.
"Le-leo." Ucap Lia dengan wajah memerah karena perbuatan Leo yang membuatnya malu bukan kepalang, tat kala tubuhnya terekpspos seluruhnya dihadapan sang pria.
"Sekali lagi." Pinta sang pria yang mulai menyusuri tubuh sang wanita yang nampak putih bak porselen.
"Leo." Ucapnya seraya mencengkram seprei dengan kuat karena tekanan yang ia rasakan.
Terlebih lagi disaat sang pria memberinya pengalaman pertama akan rasa bercinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Seakan-akan ada yang membelah dirinya, ia tak kuasa saat tubuhnya telah diambil alih oleh sang pria yang kini membuatnya tak berdaya dalam kungkungan cintanya yang begitu bergairah.
Sebuah pagutan melayang dibibir Lia saat sang pria menyadari dirinya tengah kesakitan.
Membuatnya melupakan sejenak rasa perih itu, sebelum akhirnya berubah menjadi lenguhan dan erangan yang mendominasi malam itu.
Rembulan yang menyaksikan itupun hanya terdiam pada porosnya, namun kedua insan itu tak dapat berhenti hanya karena tengah ditatap oleh sang rembulan.
Peluh keringat yang membasahi tiap jengkal dari tubuh keduanya tak mengahalangi birahi mereka untuk terus menyatu dalam nikmatnya bercinta.
Hingga akhirnya puncak kenikmatan itu mereka rasakan bersama, dengan pelukan hangat dari keduanya yang kini masih menyatu.
"Sekarang masih mau bilang jika saya pecinta pria?" Ucap Leo seraya mengecup pelan pipi Lia.
"Tidak." Gumam Lia yang kelelahan.
Keduanya tersenyum, sebelum akhinya terlelap dalam dekapan masing-masing. Dengan kecupan singkat dikeningnya, Leo pun memejamkan matanya seraya merangkul tubuh milik sang wanita.
"Memaafkan, ya?" Gumam Leo dan menutup kedua matanya dengan satu lengan ia letakkan diwajahnya.
__ADS_1
****
Pagi menjelang, Adelia terlihat canggung dan kikuk kepada suaminya yang kini tengah mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja.
"Ma-maafkan saya." Ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa." Balas Leo dan mengelus kepala sang wanita.
Beberapa saat sebelumnya
Leo hanya tersenyum kecil, saat melihat sang istri yang keulitan memasangkan dasi pada kemejanya.
"Sa-saya akan belajar bagaimana memasang dasi dengan benar." Sahut Lia yang kini nampak malu.
Dirinya merasa payah sebagai seorang istri. 'Masa ia masang dasi aja nggak becus.' Batinnya. Merasa tak berguna, Adelia pun hanya tertunduk.
Melihat itu, Leo pun mengangkat dagu sang istri guna memperlihatkan kepadanya bahwa itu bukan hal yang prlu dipermasalahkan.
Sebuah kecupan kecil ia sempatkan bibir Lia, membuatnya terkejut menerima serangan dadakan tersebut.
"Berhenti berkata maaf. Tidak akan ada yang menghukummu disini, selain saya." Ucap Leo dan memeluk tubuh yang terlihat lebih kecil darinya.
"Saya harus berangkat." Ucapnya dan melepaskan pelukannya.
"Hati-hati dan semangat yaa." Sahut Lia dan segera mengekor mengikuti langkah kaki sang pria, yang kini telah hilang bersamaan dengan laju mobil yang ia kendarai.
Wajah Lia nampak merah padam, mengingat apa yang telah ia lakukan bersama sang suami semalam.
Dengan segera ia menuju ruangannya yang ternyata telah kosong dan segera saja ia mencati-cari, benda yang seharusnya ada didalam laci mejanya.
Ingin bertanya, tapi nampaknya semua orang tengah sibuk berbenah-benah. Karena kamarnya kini berada satu ruang dengan tuan muda mereka.
Tentu saja semua itu karena titah dari sang kakek yang mengetahui perihal tersebut.
Namun itu bukan hal yang ia cemaskan saat ini, melainkan benda yang selalu membuat dirinya tenang disaat ia merasa tertekan dan frustrasi.
"Dimana ya? Dimana benda itu?" Gumamnya masih mencati tiap sudut ruangan.
"Apa mungkin di kamar tuan muda ya?" Sambungnya dan segera berlari kecil, menuju ruangan dirinya semalam beradu cinta dengan lemilik kamar tersebut.
"Dimana?" Ia tak dapat menemukannya. Lebih baik ia mencarinya lebih teliti.
__ADS_1
Bagaimana ini?
Bersambung..