Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Lia Pingsan


__ADS_3

"Untuk apa repot-repot memakai baju, toh nanti di lepas juga." Ucap Leo sembari membalik tubuh istrinya dan tanpa sengaja, tangan Lia menarik handuk yang membungkus tubuh bagian bawah milik suaminya.


Sontak saja hal tersebut membuat keduanya saling terperangah. Terutama Lia yang merasakan malu bukan main dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan Leo, ia hanya menyeringai penuh akal bulus yang nampak jelas diwajahnya.


Dengan segera Lia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Leo yang melihat itu pun, kemudian segera menghampiri Lia dan melepaskan kedua tangannya dari wajahnya yang telah memerah sepenuhnya.


"Kenapa masih malu-malu, begini? Bukankah kita sudah sering melakukannya." Ujar Leo dan sontak membuat Lia semakin salah tingkah melihat keusilan dari suaminya saat ini.


"Mas Leo, tolong jangan menggoda saya terus dong." Ucap Lia.


Dengan segera, Lia melepaskan tangannya dari genggaman sang tuan muda dan berlari kecil. Meninggalkan Leo yang tersenyum kecil, sambil menatap penuh kelembutan kepada istrinya yang baru saja meninggalkannya di ruang ganti pakaian tersebut.


'Imutnya.' Batin Leo.


Melangkah penuh semangat menghampiri istrinya yang tengah berbaring, seraya menutup dirinya dengan selimut yang membungkus tubuhnya.


'Sudah tidur? Apa ku bangunkan saja? Jangan deh.' Sambung Leo dalam hati.


Leo yang melihat Lia pun hanya mengelus kepalanya dan mengecup pelan pucuk kepala sang istri.


Dapat Lia rasakan kelembutan yang diberikan oleh sang tuan muda. Kendati demikian, tak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa dirinya adalah pria kejam, sadis dengan sikap arogan dan penuh dengan tatapan bengisnya.


Namun kenyataan yang Lia terima setelah menjadi istrinya, berbanding terbalik dengan banyaknya rumor yang beredar.


'Dia.. benarkah mencintaiku? Atau aku hanyalah sekadar pelampiasan nafsunya saja?' Singgung Lia dalam hati.


Selama menjadi istrinya, Lia tak pernah menunjukkan isi hatinya kepada pria di hadapannya ini.


Menjadi sebuah hambatan baginya, jika ia harus memiliki perasaan kepadanya. Misinya yang terpenting adalah memiliki keturunan darinya, itulah poin utamanya.


Akan tetapi, sepertinya Lia sudah terjerat oleh cintanya yang begitu dalam, sampai-sampai membuatnya menggila. Hingga ia tak dapat mengontrol perasaannya lagi.


Seperti saat ini, Lia hanya dapat pasrah ketika ia harus menerima cumbuan demi cumbuan. Hingga berakhir dengan kenikmatan tiada tara yang mereka rasakan bersama. Seperti di mabuk oleh asmara, keduanya saling kecanduan dengan memagut tali kasih untuk kesekian kalinya.


Dan terlelap bersama, melupakan kejadian hari ini. Berharap esok hari lebih baik dari pada hari ini. Semoga saja, fikirnya sejenak sebelum terlelap sepenuhnya dalam pelukan dalam selimut yang membungkus kedua insan di dalamnya.


****


Lia yang telah segar, begitu pula dengan Leo berencana menghampiri pak Tomo di kamarnya.


Tok..Tok..Tok..

__ADS_1


Tak ada suara jawaban atau pun pintu yang terbuka saat Lia dengan lembut mengetok daun pintu dihadapannya.


"Pah.. Ini Lia pah. Lia mau masuk pah. Boleh ya?" Tanya Lia dan segera ia membuka pintu tersebut.


"Pah.." Senyuman Lia yanh sedari tadi ia sunggingkan di bibirnya, kini lenyap seketika.


Tat kala ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pak Tomo yang ia ketahui sebagai papahnya tengah terbujur kaku.


Dengan tangan yang bersedekap, seolah memegang dadanya. Kedua telapak tangannya nampak seperti menggenggam kencang kemejanya.


"Papah?!! papah?!! Papah bangun, pah!!" Seru Lia dengan sedikit mengguncang-guncang tubuh pria paruh baya di hadapannya saat ini.


Leo yang melihat itupun tidak tinggal diam, ia segera memanggil Irfan dan Angga.


"Panggil Irfan dan Angga kemari!!" Titahnya kepada Mbok Yem yang baru saja kebetulan lewat.


"Baik tuan muda." Jawabnya dan segera membungkuk sebelum akhirnya pergi.


"Pah?!! Bangun pah!! Jangan bercanda deh, pah?!! Papah pasti lagi ngerjain Lia kan, pah?!!" Seru Lia sekali lagi masih memeluk dan mengguncang-guncang tubuh kaku milik papahnya.


Leo pun dengan sigap mengambil ponselnya dan menghubungi dokter yang biasa ia andalkan.


"Halo. Bisa datang kerumah? Keadaan kritis." Ucapnya dan menutup panggilan tersebut.


"Tenanglah. Dokter akan segera kemari." Ucap Leo seraya memeluk tubuh Lia yang bergetar hebat.


"Harusnya saya tidak berkata seperti itu kepada papah. Seharusnya saya..Hiks.. Hiks.." Isak tangis Lia pecah di dalam pelukan Leo yang mengusap-usap kepala Lia.


Tak berselang lama, Angga dan Irfan pun datang dan tersentak kaget melihat keadaan di hadapannya.


"Angkat ke kasur." Titah Leo dan segera di kerjakan oleh kedua pria andalannya.


Lia yang melihat itu pub semakin menangis. Pasalnya, papahnya saat di temukan telah terbujur kaku. Dengan bibir biru dan jari jemarinya pun turut biru pula.


Dengan tubuh yang tergeletak di lantai dan kedua tangan seakan mencengkram dadanya. Tentunya itu bukan hal mudah di kala ia rasakan seorang diri.


Setelah tubuh pak tomo di baringkan di atas ranjang, dokter pribadi tuan muda Leo pun tiba dengan segala macam peralatannya.


"Maaf ya. Saya cek dulu kondisinya." Ucapnya lembut dan dengan sigap ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan serta di leher pak Tomo.


Raut wajahnya nampak termenung dandengan segera ia merapihkan seluruh alat yang ia bawa sedari tadi.

__ADS_1


"Loh dok. Kenapa anda sudah selesai periksanya? Tolong katakan jika papah saya tidak apa-apa. Saya mohon dok. Saya mohon." Ucap Lia sembari menatap sang dokter yang hanya dapat menghela nafas panjang dan menatap Lia.


"Maafkan saya. Saya tidak melakukan apa pun untuk saat ini dan seterusnya." Ucap sang dokter.


"Ke-kenapa dok? Apa perlu di bawa ke rumah sakit dok?" Tany Lia memaksa dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Maafkan saya..Beliau telah meninggal. Kemungkinan subuh dini hari ini." Ucap sang dkkter.


Jelas saja membuat seluruh orang yang ada di ruangan tersebut tersentak kaget. Tentu itu akan menjadi kabar buruk bagi Lia untuk saat ini.


"Bohong!! Anda pasti berbohong kan?! Papah saya.. papah.. huhuhu.. papah.." Ucapan Lia terpotong, tat kala ia merasakan pusing yang menjalar di seluruh kepalanya.


Tubuhnya yang lebih kecil dari Leo pun tak dapat menahan gejolak perasaannya yang begitu terluka atas kepergian sang papah.


Seolah tak mampu lagi ia menahan tubuhnya, kakinya pun mulai lemas dan membuatnya terjatuh tak sadarkan diri seketika.


Beruntung Leo dengan sigap menangkap tubuh sang istri yang terkulai lemas, dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.


"Ya ampun. Lia!!" Seru kakek Edward yang kebetulan berada di ruangan itu pula.


"Bawa dia ke kamarnya. Biar pak Tomo nanti di urus oleh orang lain. Tolong periksa dia juga ya, dok." Lanjut kakek Edward.


"Baik." Ucap dokter tersebut.


"Biar saya angkatkan nona Lia ke kamarnya, tuan muda." Pinta Irfan sebelum akhirnya tangannya di tepis oleh Leo.


"Saya sendiri juga bisa." Ucapnya dengan angkuh dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan membopong Lia dalam gendongannya.


Sedangkan Angga yang melihat itu hanya diam, dengan senyum mengejek yang ia lontarkan kepada Leo.


"Huh. Dulu nolak-nolak, sekarang di sayang-sayang. Duuhh.. dasar bucin." Ucapnya lirih dan segera menghubungi beberapa orang untuk pengurusan jenazah pak Tomo.


Lalu, bagaimanakah keadaan Lia?


Bersambung..


-----------》》》》》》》》》》》》》》》---------


Halo teman-teman semua, jaga kesehatan selalu ya.


Meskipun belum banyak pembaca yang minat dengan novel ku ini, aku benar-benar menghargai kalian yang telah bersedia membacanya meskipun hanya beberapa bab saja.

__ADS_1


Terus dukung aku untuk melanjutkan novel ini hingga tamat ya teman-teman. Satu komen dan satu like dari kalian sangat berharga bagi saya.


Terimakasih. See you da da bye bye.. 🥰🥰


__ADS_2