Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Sarapan Bersama


__ADS_3

Sierra merasa sesuatu yang lembut menyentuh wajahnya. Ia pun segera membuka kedua mata dan betapa terkejutnya Sierra saat melihat Revan kini sudah berada tepat didepannya. Bahkan Revan sudah menyusuri wajah Sierra dengan satu tangannya.


Sierra pun langsung bangun dari tidurnya. Lalu Sierra duduk tepat disamping Revan. Entah sudah berapa lama Revan melakukan kegiatannya itu. Dan bagian masa saja yang sudah disentuh oleh tangan Revan, Sierra tidak mengetahuinya.


“Mau berapa lama lagi kamu tidur? Apa kamu tidak lihat matahari sudah terbit?"


Revan menunjuk kearah jendela kamar yang diikuti oleh Sierra. Sierra yang baru sadar jika hari sudah siang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ah iya saya tidak sadar jika sudah siang direktur. Entah kenapa alarm ponsel saya tidak berbunyi,"


Sierra menggambil ponsel yang berada tepat disampingnya. Dan ternyata ponselnya pun sudah mati karena kehabisan baterai. Pantas saja alarm itu tidak berbunyi.


“Ternyata ponsel saya mati direktur," Sierra senyum bersalah.


Revan hanya menggelengkan kepala. Lalu Revan berjalan pergi meninggalkan kamar itu. Namun sebelum benar-benar pergi, Revan melihat kearah Sierra sejenak.


“Cepat mandi. Saya sudah siapkan air hangat untukmu. Dan bajumu ada di lemari pakaian. Nanti kalau sudah selesai kamu telpon saya biar saya menggendong kamu untuk turun dan kita makan bersama,"


Sierra menganggukkan kepalanya. Revan pun melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu. Sierra berusaha untuk berdiri dan setelah itu ia berjalan kearah lemari pakaian dengan langkah terpincang-pincang.


Sierra pun melihat ada sebuah dress pendek berwarna silver didalam lemari tersebut. Sierra segera menggambil dress itu dan berjalan kearah kamar mandi dengan langkah yang sama yaitu terpincang-pincang.


Sierra kini sudah selesai dengan segala persiapannya. Ia sudah menggunakan dress silver yang Revan berikan yang terlihat sederhana namun tetap mewah seperti dress sebelumnya.


Sierra segera berjalan keluar dari kamar karena tidak ingin membuat Revan terlalu lama menunggu. Namun ketika Sierra membuka pintu kamar tersebut ternyata sosok Revan sudah berada didepan kamar. Revan menatap Sierra lekat seperti biasanya.


“Bukankah saya sudah bilang kalau sudah selesai telpon saya. Kenapa kamu malah diam saja dan keras kepala seperti ini. Kamu mengabaikan perkataan saya!” Revan berkata dengan nada kesal.


“Tidak direktur bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya tidak ingin merepotkan anda. Karena seperti yang anda lihat saya masih bisa untuk berjalan," bela Sierra.


“Kenapa kamu selalu membantah perkataan saya? Membuat saya kesal saja pagi-pagi!"


Revan menatap Sierra sebal. Lalu Revan langsung mengangkat tubuh Sierra dengan kedua tangannya. Dia mulai berjalan menuruni tangga untuk menuju ruang makan.


Ketika sampai disana, terlihat berbagai macam makanan sudah tertata rapih diatas meja yang membuat Sierra langsung membulatkan kedua matanya. Menu sarapan mereka pagi ini seperti menu makan malam untuk banyak orang. Jumlahnya begitu banyak dan tidak mungkin bisa mereka berdua habiskan.

__ADS_1


“Pilihlah makanan yang kamu sukai. Saya tidak tau selera makan kamu jadi saya menyuruh pengurus rumah untuk memasak semua hidangan ini," ucap Revan sambil meletakan tubuh Sierra disebuah kursi makan.


“Tapi ini sangat berlebihan direktur. Bagaimana bisa kita menghabiskan semua makanan ini? Ini terlalu banyak,"


“Ya kalau tidak habis tinggal dibuang saja. Gampang kan?" Revan mulai menggambil piring beserta nasi. Lalu Revan menaruh beberapa lauk diatas piring tersebut.


“Jangan dibuang direktur. Kita tidak boleh membuang makanan begitu saja. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan makanan jadi kita tidak boleh menyia-nyiakannya," protes Sierra.


“Lalu menurut kamu kalau semua makanan ini tidak dibuang terus harus diapakan?” Revan menaruh piringnya kembali.


“Apakah boleh saya membawa semua sisa makanan ini? Setidaknya saya bisa memberikannya kepada ayah saya jadi kita tidak menyia-nyiakan makanan begitu saja”, Sierra menatap Revan ragu.


“Tentu saja. Kamu bisa membawa semuanya. Bahkan jika kurang saya bisa menyuruh pengurus rumah untuk memasak yang lainnya lagi,"


“Tidak direktur. Ini sudah sangat cukup,"


Sierra segera menghentikan aksi Revan sebelum Revan benar-benar menyuruh pengurus rumah untuk memasak makanan lain. Bisa-bisa nanti Sierra dikubur dengan berbagai makanan.


“Yasudah kalau gitu kamu makan. Jangan mencemaskan apapun lagi,"


Jujur saja sudah lama sekali Sierra tidak merasakan makanan yang seenak ini. Pasti ayahnya nanti akan sangat senang ketika melihat Sierra membawa makanan mewah untuknya.


“Oiya direktur apakah saya boleh minta cuti satu hari untuk tidak bekerja? Saya ingin membayarkan hutang-hutang ayah saya,"


“Iya kamu beristirahatlah. Dan untuk masalah membayar hutang panggil saja para rentenir kesini. Biar Vino yang ngurusnya. Saya tidak akan membiarkan kamu berjalan menggunakan kakimu itu. Apa kamu mengerti?”


“Saya mengerti direktur,"


Revan melanjutkan kegiatan sarapannya kembali dan Sierra pun melahap sarapan yang lezat itu dalam diam. Untuk beberapa saat mereka berdua pun seakan menikmati sarapan dengan tenang. Dan tentu saja ini adalah pertama kalinya Sierra melakukan sarapan bersama dengan direktur perusahan itu.


Entah mengapa Sierra merasa Revan terlihat tetap menawan meskipun dia sedang makan. Hingga tanpa sadar kini tatapan Sierra pun sudah teralihkan pada sosok Revan yang menurutnya lebih menarik dibandingkan makanan lezat yang ada didepannya. Sierra seakan terpukau dengan Revan yang memang sangat tampan seperti yang dikatakan banyak orang.


“Kenapa kamu malah menatap saya? Memangnya wajah saya seperti makanan?” tanya Revan yang menyadari Sierra menatapnya sedari tadi.


“Ah tidak direktur. Maafkan saya,"

__ADS_1


Sierra segera mengalihkan tatapannya kearah piring makanannya. Dan disaat itulah seorang lelaki yang Sierra kenali datang menghampiri mereka. Sosok lelaki yang bertubuh tinggi, putih dan juga tampan. Walaupun ketampannya tidak bisa mengalahkan seorang Revan.


“Maaf direktur saya mengganggu kegiatan sarapan anda. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa pagi ini anda memiliki jadwal meeting dengan para pemegang saham," ucap lelaki itu sambil memberikan sebuah tab kepada Revan.


“Iya Vino saya tau. Setelah ini saya akan berangkat ke perusahaan. Tapi kamu tetap disini saja. Saya ingin kamu membantu Sierra untuk membayar hutangnya kepada para rentenir. Biar para rentenir itu yang datang kesini. Setelah itu kamu antar Sierra pulang," perintah Revan.


“Baik saya mengerti direktur,"


Lelaki yang bernama Vino itu mengambil kembali tab yang dipegang oleh Revan. Lalu Vino mengalihkan pandangannya kearah Sierra. Vino pun tersenyum saat menatap Sierra.


“Selamat pagi nona Sierra. Senang berjumpa dengan anda," sapa Vino ramah.


“Selamat pagi asisten Vino. Sudah lama ya kita tidak bertemu. Kamu kemana saja?” tanya Sierra dengan senyumannya.


Revan yang merasa tidak suka dengan keakraban Sierra dan Vino pun langsung memberikan tatapan dingin kepada Vino. Vino yang seakan menyadari itu langsung mengalihkan tatapannya dari Sierra.


“Saya pamit pergi direktur. Saya akan menunggu anda didepan,"


Vino membungkukan tubuhnya dan langsung berjalan pergi. Sedangkan Sierra hanya bisa menatap kepergian Vino dengan bingung. Kenapa sikap Vino berbeda sekali? Dan mengapa Vino mengabaikan pertanyaan Sierra begitu saja? Apakah Sierra sudah mengatakan sesuatu yang salah? Sierra pun disibukan dengan pikirannya sendiri.


“Kenapa kamu masih terus menatap kepergian Vino? Kamu suka dengannya?” tanya Revan dengan nada tidak senang.


“Bukan begitu direktur. Saya hanya bingung kenapa sikap asisten Vino sangat berbeda tidak seperti biasanya,"


“Memang biasanya sikap Vino seperti apa?” Revan menyelidik.


“Biasanya asisten Vino lebih bersahabat dengan saya. Dia akan menjawab pertanyaan saya dan tidak akan meninggalkan saya seperti tadi,"


“Apakah kamu dekat dengan Vino?”


“Tidak terlalu dekat. Hanya seperti rekan kerja saja,"


“Sudahlah saya tidak nafsu untuk makan lagi. Saya pergi ke kantor sekarang dan pastikan Vino mengurus semua hutangmu di rentenir itu. Kamu juga harus memberikan kabar kepada saya setiap satu menit sekali,"


“Baik direktur,"

__ADS_1


Revan langsung pergi meninggalkan Sierra. Sedangkan Sierra hanya menatap kepergian Revan dengan tatapan tidak mengerti. Kesalahan apalagi yang sudah Sierra buat? Kenapa Revan jadi dingin seperti dulu lagi? Kenapa sifatnya selalu saja berubah-ubah? Benar-benar lelaki yang aneh. Sierra pun segera menghentikan kegiatan makannya. Sierra sudah hilang selera makan sama seperti Revan.


__ADS_2