
Sierra menatap Revan yang saat ini menggunakan piyama berwarna merah muda. Sesekali Sierra berusaha menahan tawanya karena seorang Revan yang biasa terlihat keren, berkelas, gagah dan menawan sekarang ini malah terlihat seperti seorang wanita yang imut dan manis dengan piyama merah muda yang dikenakannya.
Sebelumnya Revan menolak mentah-mentah keinginan Sierra untuk menggunakan piyama merah muda itu. Bahkan Revan langsung melempar piyama itu begitu saja seakan tidak peduli dengan harganya yang mencapai jutaan.
Tapi berkat bujukan Sierra, berkat rayuan Sierra dan berkat rengekan Sierra yang seperti anak kecil, akhirnya Revan pun mengalah dan mau menggunakan piyama itu dengan satu syarat. Syarat bahwa Sierra harus mencium pipi Revan.
Sierra yang memang sangat menantikan moment ini, sangat ingin mengabadikan kejadian langka ini, tanpa ragu langsung mencium pipi Revan yang membuat Revan terpaksa harus menggunakan piyama merah muda itu.
Revan yang menyadari bahwa sedari tadi Sierra memperhatikannya dan ingin menertawakannya pun langsung mencubit hidung Sierra yang membuat mata Sierra melebar.
"Sakit Revan". Keluh Sierra sambil mengusap-usap hidungnya.
"Itulah balasanya jika kamu meledek saya".
"Aku tidak meledekmu. Kamu aja yang terlalu sensitive".
"Saya bukannya sensitive. Tapi saya peka".
Sierra menghembuskan nafas kesal. Lalu Sirrra pun melirik kearah laptop yang berada dipangkuan Revan.
"Kamu sedang mengerjakan apa? Ada yang bisa aku bantu?".
Revan mengelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Ini sudah hampir selesai".
Sierra memanyunkan bibirnya. "Terus kalo gitu apa gunanya aku berada disini. Toh nyatanya aku gak ada pekerjaan sama sekali". Keluh Sierra.
Revan tersenyum. Lalu Revan mengelus rambut Sierra dengan lembut. "Menemani saya termasuk pekerjaanmu Sierra. Pekerjaan sebagai sekretaris dan juga kekasih saya".
"Tapi tetap saja Revan aku tidak bisa begini. Mana mungkin aku membiarkan asisten Vino dan kamu saja yang sibuk dan punya banyak pekerjaan sedangkan aku hanya bersantai".
"Yasudah kalo gitu kamu kesini. Lakukan pekerjaanmu dengan memuaskan saya".
Sierra melototkan matanya. Sungguh Revan benar-benar lelaki yang mesum. Apakah yang ada dipikirannya itu hanya hal-hal kotor saja? Sepertinya Dia harus membersihkan otaknya itu.
"Revan kamu benar-benar menyebalkan".
Revan tertawa. Lalu Revan menaruh laptopnya dimeja depan mereka dan menggenggam tangan Sierra.
"Haha. Tadikan kamu yang minta dikasih kerjaan. Giliran saya kasih kerjaan kamu malah ngomel. Wanita memang serba salah".
"Kamu saja pikirannya kotor. Selalu memikirkan hal aneh-aneh".
"Bukankah kamu yang berpikiran aneh dan kotor? Memangnya kamu tau apa maksud memuaskan saya itu?".
__ADS_1
Sierra mengelengkan kepalanya. "Tidak tahu".
"Nah maksud saya itu kamu memuaskan saya dengan memijat kaki saya. Sini cepet pijitin. Kamu ya bener-bener berpikiran mesum saja".
Wajah Sierra langsung memerah. Sungguh ia merasa sangat malu dengan dirinya sendiri. Sierra merasa otaknya benar-benar kotor.
Mengapa jika berada didekat Revan Sierra selalu saja memikirkan hal yang tidak berguna? Selalu memikirkan hal yang memalukan dan merendahkannya?.
"Wah Sierra. Ternyata kamu tidak sepolos yang saya pikirkan ya". Ucap Revan dengan menggoda.
Sierra langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sierra benar-benar tidak sanggup untuk menatap Revan saat ini. Ia benar-benar malu. Ingin rasanya Sierra menenggelamkan dirinya agar otaknya ini bisa kembali jernih dan tidak kotor seperti sekarang.
"Ternyata begini ya kalo Sierra malu". Revan langsung membawa tangan Sierra dalam gengamannya yang membuat tatapan Sierra tertuju padanya. Sierra pun menundukan wajahnya.
"Sierra lihat saya. Jangan menundukan wajahmu".
Sierra menarik nafas yang dalam. Lalu perlahan Sierra mulai menatap Revan. Terlihat adanya keseriusan dari sorot matanya. Bahkan tawa Revan sudah hilang begitu saja.
"Saya ingin menanyakan sesuatu padamu Sierra. Kenapa kamu rela menjual dirimu kepada saya? Kamu tahukan saya bukanlah lelaki yang baik. Saya suka berganti-ganti pasangan dan selalu mempermainkan wanita sesuka saya".
Sierra diam sejenak. Lalu Sierra pun teringat dengan keberaniannya dulu yang tanpa malu menyerah dirinya kepada Revan karena sebuah uang.
Ya memang itulah alasan Sierra mau menjual dirinya kepada Revan. Karena Sierra sangat membutuhkan uang. Dan Sierra tahu bahwa Revan akan memberikan apapun kepada wanita yang bersama dengannya asalkan wanita itu bisa memuaskannya.
"Jadi benar-benar karena sebuah uang? Lalu bagaimana jika saya benar-benar mengambil keperawananmu? Apa kamu akan rela?".
Sierra menatap Revan ragu. Sierra ingin sekali bekata tidak. Tidak rela jika keperawannya diambil dengan lelaki yang bukanlah suaminya. Bukanlah orang yang mencintainya.
Tapi kenyataannya Sierra tidak bisa mengatakan itu. Sierra tidak bisa mengatakan isi hatinya. Sierra tidak bisa berkata jujur. Karena setelah Sierra membiarkan Revan membelinya dengan sejumlah uang, maka berarti Sierra harus memberikan semuanya kepada Revan termasuk tubuhnya dan juga keperawanannya.
"Itu tidak masalah untukku. Lagi pula dijaman sekarang banyak wanita yang sudah kehilangan keperawananya sebelum menikah. Jadi wajar saja kan".
Sierra berusaha memberikan senyum. Berusaha menahan air matanya. Sungguh ia merasa sangat terhina karena sebuah uang. Uang yang bisa membeli segalanya termasuk dirinya sendiri.
Tanpa disangka Revan pun langsung memeluk Sierra. Revan mengelus rambut panjang Sierra dengan lembut. Sierra yang merasakan kehangatan itupun tanpa sadar meneteskan airmatanya.
Segala kesedihan yang ia coba tahan seakan kaluar begitu saja ketika berada didekapan Revan. Revan pun semakin mempererat pelukannya.
"Maafkan saya Sierra. Saya berjanji akan berusaha menjagamu. Saya tidak akan kelewat batas seperti pagi tadi. Saya tidak akan memaksamu apalagi menyakitimu".
Sierra hanya terdiam. Entah mengapa ucapan lembut Revan itu terasa sangat menyentuh hatinya. Terasa begitu menenangkannya dan menghilangkan segala ketakutanya.
Awalnya Sierra berpikir bahwa Revan akan memaksanya. Revan akan menuntut haknya. Dan Revan akan membuat Sierra menuruti keinginannya.
__ADS_1
Tapi ternyata pikiran Sierra salah. Revan adalah seseorang yang sangat memperdulikannya. Sangat menghormatinya. Dan sangat menjaganya. Revan adalah manusia yang sangat berperasaan dan tidak memaksakan nafsu juga hasratnya.
Mengetahui semua itupun membuat hati Sierra semakin berdebar. Membuat hati Sierra semakin tersentuh dan merasakan kehangatan yang selama ini tidak pernah Sierra rasakan.
"Ya tuhan. Jika Revan sebaik ini padaku, aku bisa sangat jatuh cinta padanya. Tolong jaga hatiku tuhan agar aku tidak merasakan sakit yang mendalam nantinya". Ucap Sierra didalam hati.
"Jangan menangis Sierra. Saya ingin melihat kamu bahagia. Ingin melihat kamu tersenyum bukannya menangis". Revan melepaskan pelukannya dan mengusap airmata Sierra.
Sierra mengangukan kepalanya. Sierra pun berusaha memberikan senyumnya. Senyum yang tulus dan tidak dipaksakan.
"Terima kasih Revan. Aku beruntung bisa bertemu direktur yang sebaik dirimu".
Revan mencubit pipi Sierra dengan lembut. "Tapi tetap saja kamu harus memuaskan saya Sierra. Jangan harap bisa melarikan diri".
"Baiklah direktur Revan. Aku akan memuaskanmu". Sierra mulai memijat kaki Revan dengan lembut dan Revan pun tersenyum melihatnya.
Lalu sebelum Sierra menyelesaikan pekerjaannya itu, Revan mengambil tangan Sierra kembali dalam gengamannya.
"Saya rasa kamu sudah cukup memuaskan saya. Sebaiknya kita tidur saja sekarang. Besok banyak yang harus kita kerjakan".
"Baiklah Revan. Ayo kita tidur". Sierra bangun dari duduknya dan mulai melangkah pergi. Namun pada saat itu Revan menahan tangan Sierra yang membuat langkah Sierra terhenti. Sierra pun menatap Revan bingung.
"Ada apa Revan?".
Revan bangun dari duduknya dan mendekat kearah Sierra. Lalu Revan mengecup kening Sierra sejenak.
"Jangan lupa. Setiap malam harus ada cium pengantar tidur di kening. Dan dipagi hari ada morning kiss di bibir". Revan tersenyum nakal.
"Apa? Aku tidak setuju dengan morning kiss itu. Kalo kamu mau ada morning kiss lakukan dipipi saja". Protes Sierra.
"Baiklah saya setuju. Tapi kamu yg harus melakukannya".
"Revannn......kamu benar-benar yaaa". Baru saja Sierra ingin mengeluarkan protesnya kembali namun Revan sudah pergi meninggalkannya begitu saja.
Sierra pun tersenyum melihatnya. Walaupun Sierra merasa kesal tapi tidak bisa dipungkiri jika Sierra juga merasa senang dengan perlakuan manis Revan itu.
Apalagi melihat dirinya yang saat ini menggunakan piyama yang sama dengan Revan seperti pasangan suami istri yang baru saja menikah.
Menyadari pikirannya sudah terlalu jauhpun Sierra langsung menepuk keningnya dengan lembut.
"Astaga sepertinya aku sudah benar-benar gila". Ucap Sierra sambil berjalan menuju kearah kamar tidur.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1