
Saat ini Revan sudah duduk manis di mobil sedan hitamnya dengan Sierra disampingnya. Revan yang memang sangat cemburu dengan kedekatan Sierra dan Leon seakan tidak ingin menjauh dari Sierra walau hanya sedetik pun.
Revan ingin selalu berada didekat Sierra agar tidak ada lelaki manapun yang mendekati wanitanya ini. Bahkan jika bisa Revan ingin sekali memberikan stempel kepemilikian diwajah Sierra agar tidak ada lelaki lain yang berharap bisa bersama dengan kekasihnya ini.
Revan yang seakan tidak ingin melepaskan Sierra sudah seperti sebuah lem yang terus menempel kepada Sierra tanpa adanya jarak sedikitpun. Bahkan Revan terus saja menggenggam tangan Sierra agar tangan itu tidak bisa pergi kemana-mana.
Memang beginilah sifat seorang Revan jika sudah mempunyai seorang wanita yang berharga untuknya. Tidak akan membiarkan wanita itu jauh dari pandangannya ataupun jauh dari dirinya.
Tidak akan membiarkan wanita itu pergi dan meninggalkannya karena wanita itu akan selalu menjadi milik Revan sampai Revan sudah merasa bosan baru akan membuangnya pergi.
“Revan bisakah kamu tidak terlalu dekat denganku seperti ini? Aku merasa kepanasan”. Ucap Sierra dengan tangan yang mengipas-ngipas diwajahnya.
Revan langsung menaruh kepalanya dibahu Sierra dan semakin mendekatkan dirinya kepada Sieraa. Bahkan Revan mulai melingkarkan tangannya ditubuh Sierra yang membuat Sierra sudah berada didalam pelukannya.
“Jika kamu kepanasan buka saja bajumu Sierra. Pasti akan langsung terasa dingin”. Jawab Revan santai.
Mata Sierra melotot. Dan Revan yang melihatnya langsung tersenyum senang. Benar-benar menyenangkan menggoda Sierra yang pemarah dan polos ini.
“Revan jaga ucapanmu. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu didepan Asisten Vino. Kamu membuat Asisten Vino tidak nyaman. Benarkan Vino?”. Sierra menatap kearah Vino yang duduk dikursi kemudi depan.
Vino tidak menjawab. Dia tetap saja diam sambil fokus mengemudikan mobil sedan itu. Revan yang tahu Vino tidak memberikan tanggapannya tertawa puas.
“Hahaha. Kamu lihatlah Sierra, Vino tidak menanggapimu. Vino tidak memperdulikan keberadaanmu. Jadi saya bisa melakukan apa saja padamu. Karena bagi Vino kamu tidak ada Sierra”.
Sierra menatap Vino dan Revan secara bergantian dengan sebal. Revan yang tahu bahwa Sierra sudah sedikit kesalpun langsung menciumi tangan Sierra dengan lembut.
Hingga Revan bisa mencium aroma tubuh Sierra yang selalu saja merangsang nafsu lelakinya dan membuatnya tidak bisa menahan godaan.
“Vino kamu sudah membuat kekasihku marah. Kamu harus bertanggung jawab. Buat Sierra tidak marah denganmu lagi”. Revan memberi perintah.
Sierra yang mendengarnya langsung menatap Revan tidak percaya. Mungkin Sierra terkejut karena ini adalah pertama kalinya Revan membelanya dan bukan malah menjahilinya seperti sebelumnya.
Tatapan terkejut juga terlihat dari sorot mata Vino. Vino yang seakan baru pertama kali mendengar bahwa direkturnya itu berada dipihak kekasihnya dan menyalahkannya. Revan yang menyadari tatapan dari kedunya hanya tersenyum sambil terus menciumi tangan Sierra dengan lembut.
“Baik direktur Revan”. Vino yang kesadaran seakan sudah kembali membuka suara. Lalu Vino menatap Sierra sejenak dari kaca mobil.
“Nona Sierra maafkan tindakan saya yang tidak sopan itu. Mohon anda tidak marah dengan saya dan memaafkan kesalahan saya”.
“Ah tidak asisten Vino. Aku tadi hanya bercanda saja. Tidak ada masalah sama sekali”. Sierra tersenyum canggung.
“Terima kasih nona Sierra atas kebaikan anda”.
Setelah itu Vino fokus mengemudikan mobilnya kembali dan suasana canggung mulai terasa didalam mobil itu.
Revan tahu bahwa Sierra bukanlah tipe wanita yang akan menyalah seseorang begitu saja. Sierra bukanlah tipe wanita yang suka menindas orang lain.
Sierra adalah wanita yang baik hati, yang penuh perasaan dan memikirkan orang lain. Sierra tidak akan memperlakukan seseorang sesuka hatinya dan semaunya.
Sierra tidak akan menyalahkan orang lain dengan mudah dan tanpa perasaan. Revan sangat tahu hal itu karena saat ini ia sudah mulai memahami bagaimana sosok Sierra yang sebenarnya.
"Vino kita mampir ke mall yang berada didekat sini dulu. Ada sesuatu yang ingin aku beli". Ucap Revan yang masih menciumi tangan Sierra seperti sebelumnya.
"Baik direktur".
Vino langsung memutar arah lalu berbelok ke salah satu mall besar yang berada tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
Saat sudah sampai diparkiran, Revan pun langsung keluar dari mobil itu yang diikuti oleh Vino dan juga Sierra.
Melihat Sierra yang saat ini sudah berada disampingnya, Revan pun langsung melingkarkan tangannya dipinggang Sierra.
"Revan tolong jaga sikapmu. Disini banyak orang. Bagaimana jika ada wartawan yang melihat kita atau ada seseorang yang mengenalimu? Aku tidak mau terlibat gosip denganmu".
Revan tersenyum. Ia malah semakin mempererat tangannya di pingang itu. "Saya tidak masalah jika muncul gosip itu. Tapi jika kamu tidak menyukainya saya tinggal minta seseorang untuk langsung memusnahkannya. Mudah kan?".
Sierra mengelengkan kepalanya. "Sungguh cara kerja orang kaya memang sangat berbeda".
Mendengar sindiran itu Revan pun tertawa. "Haha tentu saja kami kan berbeda dengan yang lainnya. Sudahlah ayo kita masuk. Kasian Vino udah lama jadi patung disitu". Revan menunjuk kearah belakang.
Sierra menengok kearah belakang sejenak sebelum akhirnya dia pun ikut tertawa.
"Hahaha. Iya benar juga. Yuk kita masuk".
Revan yang melihat tawa Sierra pun tersenyum. Ini adalah pertama kalinya Sierra tertawa lepas ketika berada disamping Revan. Setelah sebelumnya Sierra hanya memberikan senyuman sopan dan hormat layaknya perlakuan seorang karyawan kepada direkturnya.
Revan sangat senang melihat tawa Sierra itu karena berarti Sierra sudah mulai nyaman berada didekat Revan dan tidak menganggap Revan seperti orang asing. Revan pun berjanji bahwa ia akan membuat Sierra selalu tertawa lepas ketika berada disampingnya.
Setelah itu Revan dan Sierra pun mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam mall dengan Vino yang berada dibelakang mereka seperti seorang pengawal.
Sesekali Sierra pun menengok kearah belakang untuk melihat Vino sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya kearah depan kembali.
Revan yang merasa tidak suka dengan perhatian kecil Sierra itupun langsung mendekatkan bibirnya ditelinga Sierra dan membisikan sesuatu.
"Jangan melihat kebelakang lagi Sierra. Cukup melihatku saja jangan melihat laki-laki lain. Jika kamu melihat kebelakang lagi aku tidak akan segan mencium bibirmu sekarang juga". Ancam Revan.
Sierra pun mengangukan kepalanya. "Baiklah Revan. Maafkan aku".
"Selamat siang tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?". Tanya pelayan wanita itu dengan sopan.
"Tolong carikan baju tidur model terbaru untuk wanita ini". Perintah Revan.
"Baik tuan. Nona ayo ikut dengan saya". Pelayan wanita itu memberi jalan.
Sierra hanya diam. Dia tidak mengikuti arahan pelayan wanita itu. Sierra malah menatap Revan.
"Revan. Tidak perlu membelikanku baju tidur. Sungguh".
"Kamu harus membeli baju tidur Sierra. Mau sampe kapan kamu pakai celana jeans dan kemeja itu?. Sudah turuti saja perintah saya".
Sierra memanyunkan bibirnya. Lalu Sierra pun mengikuti arahan pelayan wanita itu dalam diam tanpa penolakan.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya sosok Sierra datang menghampiri Revan kembali. Wajah Sierra terlihat merah merona dan Sierra menatap Revan dengan malu.
"Revan...bisakah aku memohon padamu?". Tanya Sierra yang kini sudah berada disamping Revan.
"Memohon apa?".
"Hhmmm begini sepertinya aku tidak bisa memakai semua baju tidur itu Revan".
"Kenapa?".
"Karena....karena....itu bukanlah baju tidur yang wajar".
__ADS_1
Revan mengerut keningnya. "Tidak wajar gimana?".
Sierra diam sejenak. Wajah Sierra pun semakin memerah. "Itu adalah lingerie Revan. Aku tidak mungkin bisa memakainya". Sierra langsung menundukan wajahnya.
Revan pun tersenyum. Lalu Revan memegang dagu Sierra hingga tatapan Sierra kini sudah tertuju kepada Revan.
"Kamu tidak mau memakai lingerie?".
Sierra mengelengkan kepalanya. "Tidak mau Revan".
"Baiklah saya akan menuruti keinginanmu. Tapi memohonlah pada saya. Coba bujuk saya".
Sierra pun langsung memegang tangan Revan. Lalu Sierra mengoyang-goyangkan tangan itu seperti anak kecil yang mencoba membujuk ayahnya untuk dibelikan mainan yang disukainya.
Revan yang melihat tingkah lucu Sierra itu tersenyum lebar. Meskipun ini bukanlah pertama kalinya Revan melihat tingkah Sierra yang seperti itu, tapi tetap saja Revan merasa sangat gemas.
"Revan...tolong yaa jangan beli baju tidur itu. Aku tidak membutuhkannya. Ya ya ya ya". Sierra masih saja mengoyangkan tangan Revan.
Revan pun mencubit pipi Sierra dengan lembut. "Iya baiklah kita tidak akan membeli lingerie itu. Tapi kita akan membeli yang lain saja"
Revan menghampiri pelayan wanita itu kembali sambil melihat-lihat berbagai model baju tidur yang ada di toko itu.
"Apakah tidak ada model baju tidur piyama?". Tanya Revan kepada pelayan wanita itu.
"Tentu saja ada tuan. Anda mau model piyama pasangan atau terpisah?".
"Pasangan. Keluarkan semuanya".
"Baik tuan". Pelayan wanita itu pergi kembali dan Sierra masih saja menatap Revan dengan pandangan tidak setuju.
"Aku kan sudah bilang tidak membutuhkan baju tidur".
"Tapi tetap saja kamu membutuhkannya Sierra. Jadi menurutlah dan jangan membantah".
Sierra memanyunkan bibirkan dan Revan yang melihatnya hanya tersenyum. Hingga akhirnya pelayan wanita itu datang menghampiri mereka kembali dengan membawa berbagai model piyama untuk pasangan. Revan pun melihat piyama itu sekilas.
"Baiklah saya beli semuanya".
"Baik tuan. Silahkan anda ke kasir untuk melakukan pembayaran".
Revan berjalan kearah kasir namun tangan Sierra langsung menahannya yang membuat langkah Revan terhenti. Revan pun menatap Sierra bingung.
"Revan tidak perlu membeli piyama sebanyak itu. Cukup tiga piyama saja. Jangan hamburkan uangmu untuk hal yang tidak penting". Protes Sierra.
"Bagiku ini adalah hal yang penting Sierra. Dan masalah uangku, terserah aku mau menggunakannya untuk apa".
Sierra memanyunkan bibirnya kembali. "Benar-benar boros. Padahal orang-orang sulit mencari uang tapi kamu malah membuangnya dengan sangat gampang".
Revan tersenyum. Lalu Revan mendekatkan bibirnya kembali ditelinga Sierra.
"Sebaiknya kamu jaga bibirmu itu Sierra. Jika kamu masih saja memanyunkannya maka saya akan memakannya sampai habis".
Sierra menatap Revan sebal dan akhirnya Sierra pun hanya menuruti keinginan Revan tanpa penolakan.
Sungguh Revan sangat suka dengan wanita yang patuh seperti Sierra. Dan Revan juga sangat suka dengan wanita yang bertingkah lucu seperti Sierra. Sepertinya Sierra memang sudah mengisi hati Revan tanpa Revan sadari.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*