
Duduk di sofa ruang tamu, Leo berfikir sejenak. 'Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada wanita itu?' Fikirnya yang mulai kalut.
Menghela nafas, ia pun mencoba berfikir tenang dan mengambil ponselnya. Menekan nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Panggilan itu tersambung, namun tak kunjung diangkat.
Membuatnya semakin gelisah dan tepat saat itu pula, Angga yang baru saja keluar dari mobil menghampiri tuan mudanya.
"Kenapa wajah anda seperti itu, tuan muda?" Tanyanya.
"Wanita itu pergi dengan siluman itu." Jawab Leo singkat.
Mendengar nama siluman yang terucap dari bibir Leo, sudah pasti membuat Angga yakin bahwa yang dimaksud oleh tuan mudanya adalah bibi Sinta.
"Kemana dia pergi? Apa tidak sebaiknya kita susul?" Ucap Angga.
"Mau nyusul kemana? Kita bahkan tidak mengetahui letak posisi mereka." Sahut Leo dengan mata menyala, memdadak dirinya tengah dilanda emosi.
"Coba anda hubungi sekali lagi." Pinta Angga.
Sebuah anggukan dari Leo dan langsung saja ia melakukan panggilan dari ponselnya.
****
Adelia yang tengah melihat beberapa koleksi tas branded pun tak mampu tidak menatap takjub, pada beberapa benda dengan harga fantastis dihadapannya.
"Waahh.. Ini bukan toko tas. Tapi toko uang. Lihat nominalnya. Mahal sekali, apa aku bisa membeli ini?" Ucap Lia yang masih terpukau dengan seluruh isi dari toko tersebut.
"Tentu saja kamu bisa, Lia. Bukankah kamu di beri kartu oleh suamimu, Leo?" Ujar Sinta seraya mendekati Lia.
Mendengar perkataan bibi Sinta, terbesat sebuah ingatan pada pagi tadi. Dimana dirinya yang baru saja terbangun, dengan berusaha bangun dari ranjangnya.
Di rasanya sakit disekujur tubuhnya, terutama bagian pinggul hingga ujung kakinya. Tak terelakan ia teringat akan kejadian semalam yang membuatnya tersipu malu.
Dilihatnya pria di sampingnya yang telah mengambil kesuciannya tadi malam tengah tertidur pulas.
Ia menatap takjub kepada ciptaan tuhan yang kini telah menjadi miliknya. Kulitnya yang putih, serta ketampanan tiada tara. Baru kini Lia menyadari, jika pria tersebut memilik bulu mata yang panjang.
Rambut hitam yang biasa ia sisir kebelakang, kini nampak tergerai menutupi sedikit dahinya. Membuat Lia tanpa sadar menyentuh rambut itu, sekedar menyibakkannya agar tak menutupi ketampanan yang terpancar.
Karena hal itu pula pria yang kerap di sapa tuan muda Leo itu pun, membuka matanya. Menampakkan iris mata dari keduanya bertemu. Liapun nampak canggung karena ia merasa tertangkap basah tengah menikmati wajah si tuan muda tersebut.
__ADS_1
Leo yang mengetahui itupun hanya mengulum senyum, dan mengusap-usap kepala Lia seraya beranjak dari tidurnya.
"Masih pagi. Jika ingin tidur, tidurlah." Ucapnya tenang.
Lia hanya tersenyum dan mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dirinya tengah di terpa rasa malu yang luar biasa.
"Atau.. Ingin melanjutkan yang semalam?" Lanjut pria itu yang sontak saja membuat Lia terkejut bukan main.
"Eh.. Ti-tidak, tuan muda. Sa-saya hanya-" Perkataan Lia terpotong lansung saat bibirnya yang berucap barusan, dikecup pelan oleh Leo.
"Jangan panggil saya tuan muda. Mas Leo saja." Ucapnya dan melanjutkan mengecup bibir Lia, beralih ke dahi dan ke pipi kemudian diantara tulang leher.
"Mas Leo.. Ini sudah jam berapa? Apa anda tidak terlambat?" Seru Lia yang tergelatak tak berdaya dalam kuasa Leo. Lagi.
Mendengar itupun, Leo hanya tersenyum kecil dan segera menyudahi kegiatan mereka, dan kemudian segera membersihkan diri di kamar mandi.
Seusai mandi, Leo pun memberikan sebuah kartu berwarna hitam kepada Lia yang tengah duduk di bibir ranjang.
"A-apa ini?" Tanya Lia yang memegang kartu tersebut.
"Nafkahmu. Belilah beberapa barang yang sekiranya kamu ingin beli." Ujar Leo yang membuat Lia berkaca-kaca.
Pasalnya, Leo mengucapkan kata nafkah seperti itu membuat hati Lia bergetar. Seolah ia sadar jika tuan muda di hadapannya memang menjadi suaminya, yang memiliki tanggung jawab besar.
"Terimakasih." Ucap Lia dan mengakhiri siluet ingatannya pagi tadi.
"Iya sih, saya dikasih. Tetapi, untuk membeli ini bukankah terlalu mahal?" Kata Lia yang masih menyentuh tas tersebut.
Ia tak pernah berfikir untuk membeli barang mahal, terutama tas branded seperti yang ada dihadapannya saat ini.
Paling mahal juga dia beli tas harga dibawah 500rban itu pun ia jaga dan dia awet-awet.
Mengingat dirinya bukan dari golongan mampu sehingga, Lia kerap kali hanya menelan ludah jika melihat benda-benda seperti ini.
Jangankan membelinya, menyentuhnya pun sepertinya ia tak mampu. Namun kini, dengan kartu di genggamannya ia mampu membeli tas tersebut.
Ingin ia membelinya namun ia ragu, 'bagaimana jika saldo dari kartu ini nol?' Fikirnya tak tenang.
"Permisi, apa boleh dicekkan isi saldo kartu ini?" Ucapnya kepada seorang kasir.
__ADS_1
"Iya. Tentu kak. Tunggu sebentar ya." Jawabnya sopan.
Dan ketika hasil yang tertera pun membuat kasir beserta Lia sendiri melongo dengan mata yang membelalak. Karena bukan main-main, titik diantara angka dari saldonya bahkan sulit dihitung.
Dengan percaya diri, Lia pun memilih tas yang dari tadi ia colek. "Sa-saya beli ini!!" Seru Lia dan ternyata Sinta pun turut memepet kepadanya yang kini tengah memilih sebuah mini dress.
"Wah.. Pilihan yang bagus. Itu terlihat cantik untukmu. Oiya, bagaimana jika bibi menggunakan ini?" Ucap Sinta yang mengenakan tas yang tak kalah mewah.
"Cocok sekali bi." Jawab Lia.
"Eh. Sepertinya kartuku ketinggalan deh, Lia. Apa kamu bisa membayarnya dulu?" Tanya Sinta.
Mendengar itu, Lia pun mengangguk dengan mengulum senyum. "Tentu saja bi Sinta." Jawab Lia tanpa berfikir panjang terlebih dahulu.
Lalu mata Lia menuju kepada sebuah mini dress berwarna kuning, dengan aksen kerah kuno yang membuatnya nampak begitu manis.
Lia pun mengambil gaun tersebut dan menyerahkannya ke kasir. Serta sebuah sepatu dan juga bando berwarna krem.
Entah untuk apa ia membeli itu semua, namun sebuah senyuman serta rona merah menyertai gerak gerik Lia yang kini sibuk menatap barang-barang tersebut.
Setelah selesai belanja, Lia dan Sinta yang kini tengah menenteng tas benlanjaan dengan merk yang cukup ternama itu pun mendapat perhatian lebih dari beberapa mata yang melihat.
"Hei. Lihat tuh. Cewek tajir bro. Samperin gih, siapa tau dia naksir elo. Lumayanlah." Ucap seorang pria tak dikenal dengan temannya.
"Ok. Sip." Jawabnya dan menghampiri Anita dan Sinta sambil merapihkan rambut dan pakaiannya.
"Hai cewek. Boleh kenalan nggak?" Tanyanya dan langsung saja Lia dan Sinta tak menghiraukannya. Malah asyik melanjutkan perjalanan mereka menuju lantai atas.
"Sial!! Mentang-mentang kaya jadi sombong ya." Ujarnya dan mengejar Lia seraya menarik pergelangan tangannya.
***
Sementara itu, Leo yang mulai berfikir tak karuan pun mendapatkan dering dari ponselnya. Sesaat ia terkejut saat melihat isi dari pesan yang ia terima barusan.
"Dia belanja? Sebanyak ini?" Ucapnya heran.
"Ada apa tuan muda Leo?" Ucap Angga.
"Wanita itu.. Dia belanja dengan kartu kredit yang kuberikan. Tapi, lihatlah!! Sebanyak ini dia belanja?" Sahut Leo yang memperlihatkan ponselnya.
__ADS_1
"Ini pasti ulah siluman itu!!" Ucapnya geram, akhirnya menyusul ke toko tersebut bersama dengan Angga dan beberapa ajudan, yang menyertai keberangkatan Leo yang di wanti-wanti rasa cemas karena mencemaskan keselamatan sang istri.
Bersambung..