
"Kita kemana lagi nih, bi?" Tanya Lia polos.
"Gimana kalau kita makan dulu? Didekat situ ada sebuah kafe." Ucapnya dan menunjuk sebuah kafe yang nampak tak jauh dari mereka berdiri.
Lia pun mengangguk dan menuju kafe tersebut.
****
Leo menancap gas dan melajukan mobilnya di jalan raya yang kebetulan sedang tidak jam macetnya.
"Anda tidak perlu gegabah begitu, tuan muda. Bisa bahaya jika terjadi sesuatu kepada anda." Seru Angga yang menatap ngeri dengan kegilaan tuan mudanya mengendari mobilnya saat ini.
"Kamu nggak tau. Siluman itu wanita gila!! Telat dikit bisa lain lagi ceritanya!!" Hardik Leo membuat Angga mau tak mau hanya diam, sambil berdoa dalam hati agar selamat di perjalanan.
"Dulu, adikku pun begitu. Sebelum akhirnya dia pergi meninggalkansaya sendiri. Sekarang, saya tak ingin hal tersebut terulang lagi. Tidak akan pernah!!" Serunya geram dengan menggertakkan giginya.
Ingatannya pun tertuju pada malam tahun baru 10 tahun silam.
"Kemana perginya bocah itu?" Tanya Leo seraya melihat kamar adiknya yang nampak kosong melompong. Tak ada jejak adiknya didalam ruangan tersebut.
Merasa ada yang mengganjal, Leo pun menanyakan keberadaan sang adik kepada seluruh pelayan dan penghuni rumah itu. Namun nihil, tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan adiknya.
Hingga Irfan, ajudan kepercayaan kakek Edward mememberitahunya keberadaan sang adik.
"Menurut informasi yang saya terima, beliau ada di hotel xxx kamar 23." Ucap Irfan singkat dan segera saja Leo melajukan mobilnya menuju hotel tersebut.
Di susul oleh Irfan yang mengendarai mobil lainnya, guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Setibanya ditujuan, kakak mana yang hatinya tidak menohok melihat hal yang tersajikan dihadapannya.
Sang adik yang merupakan satu-satunya keluarga baginya, kini tengah terbujur kaku dengan darah yang segar mengalir dari kepalanya.
Geram dan marah, Leo pun melampiaskannya kepada Irfan dan para ajudan yang ada.
"Bagaimana ini bisa terjadi?! Kemana saja kalian?!! Sebagai penjaga apa yang telah kalian lakukan?!!" Seru Leo mengamuk dan menyalahkan para ajudan tersebut seorang diri.
"Ma-maafkan kami tuan muda. Kami benar-benar lalai saat ini. Silahkan hukum kami." Ujar mereka bebarengan.
"Nggak ada gunanya aku menghukum kalian!!Cepat berikan aku informasi mengenai pembunuh adikku. Siapa saja dalang dalam pembunuhan ini. Aku sendiri yang akan menghukumnya!!" Ancamnya sontak membuat seluruh orang yang menyaksikan hal tersebut dibuat ngeri oleh perangai tuan muda mereka barusan.
__ADS_1
Leo pun menginjak remnya mendadak saat ia melihat lokasi Lia dan Sinta yang terletak tak jauh dsri sana.
Dengan segera Leo berjalan cepat menuju kawasan yang terbilang tak jauh elit dari kawasan pribadinya.
Dapat ia lihat saat Lia yang hendak memasukkan makanan yang berada dalam sendok ditangannya kedalam mulutnya.
Tepat saat itu pun, Leo segera menepis tangannya. Membuat sendok itu jatuh kelantai dan menimbulkan suara dentingan benda jatuh.
Sontak hal tersebut membuat Lia dan seluruh pengunjung serta pegawai kafe tersebut dibuatnya terkejut.
"Ma-mas Leo?!!" Seru Lia menatap heran suaminya yang kini di penuhi keringat dingin disektiar wajah dan tubuhnya.
Tanpa banyak bicara, Leo segera mencengkram tangan Lia dan menyeretnya pergi dari sana. Namun, hal itu di tepis oleh Lia. Ia menatap aneh kepada suaminya saat ini.
"A-anda kenapa tiba-tiba seperti ini? Membuat orang kaget saja." Ucap Lia dan kembali duduk.
"Jangan makan itu." Ucap Leo dingin dengan matanya yang tajam bagai elang, terus menatap kepada Sinta yang kini hanya diam dengan senyum kecil dibibirnya.
"Wah.. Keponakanku ternyata sayang sekali dengan istrinya, ya. Mari sini ikut bergabung dengan kami." Ucapnya santai seolah tak mengindahkan tatapan tajam dari Leo.
"Ayo pulang." Ujar Leo dengan mencengkram kembali tangan Anita.
"Pulang!!" Ucapnya sekali lagi dengan mata merah menyala yang menandakan dirinya tengah menahan marah.
Melihat Lia yang tak merespon ajakan Leo, Leo pun menggendong paksa Lia.
"A-apa yang anda lakukan?" Ujar Lia menahan rasa malu yang lebih berkali-kali lipat.
Dan sebelum berlalu, Leopun menyematkan sebuah kalimat kepada sang bibi.
"Tidak akan terjadi lagi. Jangan harap!" Ucap Leo dingin dan hanya di balas senyuman kecil oleh sang bibi.
"Bye bye Nita!! Lain kali kita main lagi ya!!" Seru Sinta dengan melambaikan tangannya dengan senyum lebar terukir dibibirnya.
"Maaf ya bi." Ucap Lia yang menoleh kebelakang.
"Tolong turunkan saya. Saya bisa jalan sendiri!!" Ucap Lia yang kini masih digendongan Leo.
__ADS_1
"Ini benar-benar membuat saya tidak nyaman." Ucapnya sekali lagi dengan memukul-mukul dada bidang sang suami.
Dengan perlahan, Leopun menurunkan Lia. Tanpa berkata apa-apa, Leo berlalu meninggalkannya yang menatap aneh punggung pria tersebut yang kini berjalan mendahuluinya.
"Ada apa dengannya?" Gumamnya dan menyusul Leo memasuki mobil tersebut.
Didalam mobil hingga tiba di kediamanLeo, nampak tuan muda tersebut hanya diam tanpa banyak bicara ataupun menggoda Lia seperti biasanya.
"Hmm.. Ada yang aneh." Gumam Lia menatap suaminya yang kini tengah menyantap makan malam di meja makan saat ini.
Kakek Edward yang menyadari hal tersebut pun mulai ambil suara, memecah kesunyian yang ada.
"Tadi kakek dengar kamu jalan-jalan dengan Sinta ya?" Ucapnya.
"Iya benar kek." Jawab Lia.
"Apa kalian bersenang-senang?" Belum sempat menjawab pertanyaan kakek Edward, Leo pun menyudahi makan malamnya.
"Saya sudah selesai." Ucapnya dingin, bahkan tanpa menatap Lia sedikitpun.
"Tolong maafkan cucu saya itu ya. Dia kerap.kali seperti itu semenjak kehilangan kedua orangtuanya dan juga adiknya." Kata kakek Edward yang membuat Lia terkejut bukan kepalang.
Kebenaran yang tersembunyi selama ini tidak ia ketahui. Jelas saja Leo menaruh curiga pada setiap orang peihal tersebut.
"Sebaiknya saya menghiburnya." Ucap Lia dan menyudahi makan malamnya dan menyusul Leo.
"Hhh.. Masih saja." Gumam Kakek Edward dan menyudahi pula makan malamnya yang selalu terasa hambar.
Tak terpungkiri, air mata miliknya jatuh menyentuh lantai dan kemudian ia seka hal memalukan tersebut sebelum diketahui oleh orang lain.
****
Sementara itu Lia kini tengah duduk ditepi ranjag, dan menatap punghung sang suami yang tengah membereskan data di laptopnya.
Kacamata yang ia kenakan membuatnya nampak lebih serius dari biasanya. Membuat Lia enggan untuk sekadar menyapanya.
"Saya hanya cemas. Jika terjadi sesuatu kepada mu, apa yang dapat saya sampaikan kepada orang tuamu." Ucap Leo memecah kesunyian diantara mereka, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
__ADS_1
Melihat itu, Lia hanya tersenyum kecil. "Tapi saya tidak apa-apa kan?" Sahut Lia dan menghampiri suaminya dengan mengalungkan tangannya, melingkari leher sang suami dan memberi kecupan dipipinya.
Berambung...