
Dimana sang istri, Adelia. Tengah di peluk erat oleh pria yang ia ketahui sebagai atasannya, Feri.
Leo melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia segera menghampiri Feri dan meraih kerah kemejanya.
"Apa yang kamu lakukan?!" Hardik Leo dengan mata yang menyala.
Tapi Feri tidak gentar dengan perlakuan Leo padanya, ia malah lebih menaruh perhatiannya kepada Leo yang tiba-tiba saja berbuat begini kepadanya.
"Apa ada yang salah, tuan muda Leo?" Tanya Feri tanpa berusaha melepaskan cengkeraman pada kerah kemejanya.
"Saya tanya, apa yang kamu lakukan padanya?" Tanya Leo yang Masih tersulut api cemburu.
Sedangkan Lia yang melihat peristiwa itu di depan matanya, dengan segera ia mencoba melerai keduanya.
"Tuan. Tuan muda Leo. Mohon tenangkan diri anda terlebih dahulu. Ini hanya salah paham. Saya bisa menjelaskannya." Sahut Lia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Leo pada atasannya saat ini.
"Diam kamu!!" Bentak Leo pada Lia, hingga membuat Lia sedikit bergetar ngeri.
Mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Leo pada sekretaris pribadinya, Feri tidak diam begitu saja.
"Jika anda ada masalah dengan saya, mari kita selesaikan secara baik-baik. Bukan dengan cara seperti ini. Terlebih lagi, anda membentak seorang wanita. Apakah sifat asli seorang tuan muda seperti ini?" Seru Feri dengan sekali tarikan, ia berhasil melepaskan cemgkeraman tangan Leo pada kerahnya.
"Oh. Jadi kamu mau menggunakan cara pria menyelesaikan masalah? Baiklah. Akan saya turuti permintaanmu itu. Tapi jangan salahkan saya, jika kamu tidak dapat berjalan lagi!!" Ancam Leo yang masih belum paham dengan kejadian yang sebenarnya.
"Saya tidak meminta seperti itu. Tapi jika anda menginginkannya, saya dapat menurutinya." Balas Feri tanpa gentar menatap mata tajam Leo.
"Saya heran. Kenapa anda begitu perhatian kepada nona Lia? Dan kenapa juga anda, nona Lia. Kenapa anda sepertinya tidak canggung kepada tuan muda Leo? Apakah ada yang tidak saya ketahui tentang hubungan anda berdua sebenarnya?" Selidik Feri yang sebenarnya telah curiga kepada kedua insan tersebut, semenjak pertemuan pertama keduanya.
"Ah. Tidak, pak Feri. Kami tidak ada hubungan apapun, kok. Be-benarkan tuan muda Leo?" Ujar Lia dengan melirik Leo.
"Kamu!! Nyalimu besar juga, ya? Hanya untuk seorang wanita, sepertinya kamu memiliki perasaan lebih dari rekan kerja kepadanya." Ungkap Leo dan benar saja tebakan Leo, Feri nampak salah tingkah dihadapan Lia. Tapi ia kembali tenang saat ia melihat Loa menatapnya tak percaya.
"Sepertinya anda terlalu berlebihan. Bagaimana bisa saya menaruh hati kepada istri orang lain? Sebaliknya, bukankah anda yang seperti itu?" Tanya Feri.
"Tapi menurut saya, nona Lia cukup baik dan juga cantik. Akan sangat merugikan jika dia memiliki suami yang sifatnya temperamen. Saya merasa sedikit iba pada hidupnya." Ujar Feri. Ia hanya ingin memastikan kebenaran akan status kedua manusia itu. Meskipun kini, ia seperti sedang mempertaruhkan nyawa dan juga perusahaannya.
Dan sedetik setelah ia mengucapkan kalimat itu, sebuah bogem mentah melayang tepat di ujung pipi sebelah kirinya.
BUGH!!
__ADS_1
"Kyaaa!! Pak Feri!!" Pekik Lia saat ia melihat kejadian tersebut.
Dengan segera, ia menghampiri Feri yang terdorong bebrapa langkah kebelakang akibat pukulan dari tinju Leo pada wajahnya.
"Anda tidak apa-apa, pak Feri?" Tanya Lia sembari memegang wajah Feri.
Wajah keduanya nampak dekat, hingga membuat Leo naik pitam dan berjalan mendekat kearah keduanya.
"Tuan muda, ini hanya kesalah pahaman saja. Anda tidak harus seperti ini untuk menyelesaikan masalah." Ucap Lia dengan mencoba menghentikan Leo yang seperti singa dengan aumannya.
Leo diam saja dan tak membalas perkataan Lia. Ia yang telah marah dengan mata memerah, kemudian merasa sebuah tangan yang menyentuh bahunya, tanpa melihat tangan siapa yang menyentuhnya.
Dengan sekali hempasan, ia melempar orang tersebut hingga terjatuh cukup jauh. Hingga suara mengaduh dari seseorang yang ia kenal terdenagr dari arah itu.
"Aduh. Sakit. Akhhh!! Sakit sekali." Seru Lia dengan memegang perutnya. Ia merasa sakit teramat, seperti melilit dan rasa itu menjalar dari perutnya ke area bawah dan juga kakinya.
"LIA!!" Seru Leo saat mendapati istrinya meri tih kesakitan di lantai.
"Ada apa? Kamu kenapa?!" Wajah Leo memucat melihat kondisi istrinya yang semakin lemah dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sa-sakit, mas. Sakit banget." Ujar Lia.
"Sebaiknya kita segera kerumah sakit." Ucap Leo dengan menggendong Lia dalam dekapannya.
Sesaat sebelum ia beranjak meninggalkan lorong hotel tersebut, Feri menghadang mereka.
"Saya tidak tahu ada hubungan apa diantara kalian, tapi sepertinya anda akan kesulitan jika mengemudi dengan situasi seperti ini. Biarkan saya yang mengantarkan." Ucap Feri.
"Iya. Tolong." Sahut Leo.
"Sa-saya ikut." Seru Cika.
Mereka pun bergegas ke rumah sakit terdekat.
***
Setibanya di rumah sakit, Leo segera menaruh Lia di UGD untuk mendapatkan pertolongan sesegera mungkin. Guna mengantisipasi lejadian yang tidak diinginkan.
"Ada apa ini?" Tanya seorang dokter yang memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
"Dia kesakitan dan terus memegang perutnya." Jawab Leo dengan keringat dingin membasahi dahinya.
"Hm. Akan saya periksa terlebih dahulu. Sebaiknya anda bertiga dapat menunggu di luar. Dan saya harap anda tenangkan diri anda dulu." Ujar sang dokter yang.sedari tadi mengamati Leo.
"Apakah dia akan baik-baik saja, dok?" Tanya Feri cemas.
"Akan kami periksa dulu. Jika ada apa-apa, akan kami kabari segera." Sahut sang dokter dan menutup tirai menghalang untuk meninjau lebih jauh kondisi Lia saat ini.
***
Sementara itu, Feri dan Leo tengah duduk bersebelahan dengan Leo menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
"Kejadian tadi, sebenarnya hanya kesalahpahaman saja." Ucap Feri tiba-tiba, seakan mengubah atmosfir keduanya agar tidak terlalu canggung.
"Coba jelaskan." Sahut Leo mencoba mengurangi rasa khawatirnya.
Beberapa saat yang lalu, tepat di saat Lia yang berada di lorong hotel tersebut berjalan tak jauh dari Feri.
"Pak Feri rencananya nanti setibanya di kota A akan melakukan apa, pak?" Tanya Lia.
"Entahlah. Mungkin hanya kerja saja dan terus mempromosikan produk ke kolega." Ujar Feri.
"Bukannya itu tugas marketing ya, pak?" Tanya Lia. Sedikit-sedikit dia memahami tugas itu karena dia dulu hanyalah spg yang mempromosikan produk juga.
"Benar. Tapi saya juga harus turun tangan untuk memperbaiki kondisi perusahaan saat ini." Jelas Feri.
"Kalau boleh tahu, memangnya dulu bukan bapak ya yang mengelola perusahaan ini?" Tanya Lia. Ia ingin tahu keadaan sebenarnya dari perusahaan tersebut.
"Boleh. Tapi jangan sekarang." Balas Feri dengan senyum kecil.
"Kenapa, pak? Sayakan karyawan anda juga. Seharusnya saya juga harus tahu." Ujar Lia.
Tanpa ia sangka, ketika ia sedikit berjalan lebih cepat. Hak sepatu miliknya terpelecok dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Hingga membuatnya hampir terjatuh. Untung saja hal tersebut tidak terjadi, saat tangan Feri mendekapnya erat.
"Dan itulah yang terjadi, tuan muda." Ucap Feri mengakhiri ceritanya perihal ia memeluk Lia tadi siang. Hingga insiden itu terjadi menimpa Lia akibat kecerobohannya.
Lalu, bagaimanakah kondisi Lia saat ini?
Bersambung..
__ADS_1