Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Club Malam


__ADS_3

Happy Reading...........


Revan berdecak kesal saat mengetahui panggilannya diputuskan begitu saja oleh Sierra. Revan pun langsung menaruh kembali ponselnya itu diatas meja bar dengan penuh amarah.


"Berani-beraninya Dia memutuskan panggilanku begitu saja. Seperti selama ini aku terlalu baik padanya sehingga Dia semakin besar kepala dan berbuat seenaknya. Lihat saja Sierra kamu pasti akan menyesalinya". Keluh Revan dengan emosi.


"Siapa yang berani memutuskan panggilanmu baby? Sepertinya Dia tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya". Ucap seorang wanita yang menggunakan pakaian sexy disamping Revan. Pakaian yang memperlihatkan bagian buah dadanya dan juga bagian kakinya.


"Bukan orang yang penting". Jawab Revan dengan malas.


"Sudahlah kamu jangan marah lagi. Lebih baik kita bersenang-senang saja". Wanita itu memberikan gelas yang berisi minuman kepada Revan. Revan pun tersenyum dan segera mengambil gelas itu.


"Kamu memang paling pintar merubah suasana". Revan mencium kening wanita itu sekilas lalu meminum gelas yang berisi minuman itu.


Wanita yang mendapatkan ciuman singkat dari Revan itu langsung tersenyum senang. Bahkan wajahnya mulai memerah karena rasa bahagianya. Wanita itu merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan sebuah ciuman dari sosok Revan yang selama ini dipuja-puja oleh semua wanita.


"Direktur Revan sepertinya anda sudah terlalu banyak minum malam ini. Bagaimana jika kita pulang saja?". Vino yang sedari tadi memperhatikan Revan mulai angkat berbicara karena merasa khawatir.


"Aku masih sadar Vino. Belum mabuk. Kenapa kita harus pulang sekarang? Aku masih ingin bersenang-senang disini". Ucap Revan yang kini mulai menyentuh wajah wanita yang berada disampingnya itu.


"Tapi jika nona Sierra tahu, Dia pasti akan sakit hati direktur. Nona Sierra pasti akan marah".


Revan langsung melepaskan tangannya dari wajah wanita itu. Lalu Ia pun mulai menatap Vino dengan tajam. Entah mengapa mendengar nama Sierra yang disebut oleh Vino membuatnya menjadi sangat kesal.


"Tolong jangan menyebut nama wanita itu sekarang ini Vino. Aku ingin bersenang-senang bisakah kamu tidak menggangguku!". Ucap Revan dengan tegas.


Vino pun terdiam. Bahkan kini Dia sudah menundukan wajahnya. Sedangkan Revan hanya bisa menghembuskan nafas kesal karena menahan emosinya sedari tadi.


"Sudahlah ini adalah malam kebebasan kita. Jarang-jarangkan kita bisa berkumpul bersama seperti ini. Jadi jangan sampai merusak suasana. Dan Vino sebaiknya kamu jangan terlalu khawatir aku yakin Revan bisa tahu batasannya sendiri". Kali ini Alvin yang awalnya hanya memperhatikan saja akhirnya ikut berbicara untuk menengahi.


"Saya hanya tidak ingin nona Sierra menjadi kecewa saja. Maafkan jika sikap saya ini berlebihan". Ucap Vino yang masih menundukan wajahnya.


"Sepertinya kamu sangat memperdulikan Sierra. Apa kamu menyukainya?". Terdengar ada rasa tidak senang dari perkataan Revan.


"Tidak Direktur. Mana mungkin saya menyukai wanita yang sudah menjadi milik anda. Saya hanya kasian dengan nona Sierra karena Dia adalah wanita yang baik. Berbeda dengan wanita lainnya". Vino menjelaskan.

__ADS_1


Revan pun menarik nafas yang dalam. Lalu Ia mengambil ponsel yang berada diatas meja bar itu dan bangkit dari duduknya.


"Kamu memang sangat pintar merusak suasana Vino. Baiklah ayo kita pulang". Ucap Revan yang mulai bersiap-siap.


Wanita yang berada disamping Revan itu pun langsung ikut berdiri. Lalu wanita itu mulai melingkarkan tangannya di lengan Revan. Wanita itu seakan tidak rela jika Revan meninggalkanya begitu saja.


"Baby kamu mau kemana? Kenapa kamu pulang begitu saja? Kita belum bersenang-senang baby". Kali ini wanita itu mulai mengeluarkan suara manjanya.


Revan pun tersenyum. Lalu Revan segera melepaskan tangan wanita itu dari lengannya.


"Maaf bagiku sudah cukup dengan bersenang-senangnya sekarang ini. Kamu bisa mencari lelaki lain yang bisa memenuhi keinginanmu itu".


"Tapi baby aku hanya ingin denganmu saja. Kita baru sebentar disini. Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja". Wanita itu semakin merajuk.


"Hei gadis. Seharusnya kamu sudah tahu kan bagaimana aturan dalam permainanku. Jika aku sudah tidak mau kamu tidak berhak untuk memaksaku. Kamu benar-benar sudah bosan hidup ya". Ucap Revan dingin.


Wanita itu pun langsung berjalan mundur menjauh dari Revan. Ucapan Revan itu mampu membuat wanita itu tidak berkutik. Bahkan wajah wanita itu terlihat mulai ketakutan.


Apalagi Alvin juga sudah memberikan kode kepada wanita itu untuk pergi menjauh dan tidak membantah. Mau tidak mau wanita itu pun harus menuruti agar hidupnya bisa tetap aman.


"Baiklah maafkan aku direktur Revan. Hati-hati didalam perjalanan". Wanita itu mengatakan dengan sedikit terbata-bata.


"Nah gini dong. Kamu harus nurut untuk membuatku senang. Ini adalah hadiah untukmu".


Revan mendekatkan wajahnya kearah wanita itu dan mencium pipinya. Wajah wanita itu pun kembali merona tidak ketakutan seperti sebelumnya.


"Oke aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi nanti Alvin. Bye".


Revan berjalan pergi sambil melambaikan tangannya kearah orang-orang disekitarnya dengan diikuti oleh langkah Vino dibelakangnya.


Hingga akhirnya kini Revan pun sudah berada didalam mobil. Selama perjalanan itu Revan tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Revan hanya berdiam diri sambil menatap jalanan dari jendela mobilnya dengan pikiran yang entah kemana.


"Apakah ada yang mengganggu pikiran anda direktur Revan?". Tanya Vino yang memperhatikan sikap Revan sedari tadi.


"Tidak ada Vino. Hanya saja aku sangat bingung. Bagaimana mungkin Sierra berani memutuskan panggilanku begitu saja? Dari dulu tidak ada seorangpun yang berani melakukan hal itu padaku apalagi seorang wanita". Ucap Revan tanpa menatap.

__ADS_1


"Jika anda merasa bingung bagaimana jika anda menghubungi nona Sierra kembali? Agar anda bisa langsung menanyakannya dan mendapat jawabannya".


Kini Revan pun mulai mengalihkan pandangannya. Ia mulai menatap Vino yang berada disampingnya itu.


"Haruskah aku menghubunginya kembali?". Tanya Revan ragu.


"Sebaiknya begitu direktur. Agar anda bisa menghilangkan kerisauan anda ini".


Revan diam sejenak. Lalu Ia pun mengeluarkan ponsel yang berada disaku celananya itu. Revan segera mencari sebuah nomor dari ponselnya.


"Apakah menurutmu aku benar-benar harus menghubunginya?". Ucap Revan yang masih saja ragu dan merasa ide yang diberikan oleh Vino bukanlah ide yang bagus untuknya.


Vino mengganggukan kepalanya dengan penuh keyakinan. "Iya direktur. Cobalah".


"Baiklah kali ini aku akan mencoba saranmu itu". Revan pun langsung menghubungi nomor tersebut.


Namun meskipun berkali-kali Revan menghubunginya tetap saja tidak ada jawaban dari penerimanya. Revan yang menyadari bahwa panggilannya sudah diabaikan langsung menaruh kembali ponselnya itu dengan kesal.


"Lihatlah hasil dari saranmu itu. Panggilanku malah tidak dijawab olehnya". Ucap Revan penuh emosi.


Vino pun melihat kearah jam tangannya. Lalu Vino menunjukan jam tersebut kearah Revan.


"Mungkin nona Sierra sudah tidur direktur Revan. Lihatlah sekarang sudah begitu malam".


Revan yang menyadari bahwa saat ini sudah menunjukan pukul setengah 12 malam hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


"Sepertinya ucapanmu benar Vino. Mana mungkin Sierra masih terjaga diwaktu seperti ini". Revan membenarkan.


"Sebaiknya anda mengubungi nona Sierra besok pagi direktur Revan. Biar nona Sierra beristirahat dulu sekarang".


Revan mengganggukan kepalanya. "Iya Vino aku mengerti".


Revan pun mengalihkan pandangannya kearah jendela mobilnya kembali. Entah mengapa sekarang ini pikiran Revan hanya dipenuhi dengan sosok Sierra. Sosok Sierra yang mampu membuat hatinya menjadi bimbang.


Kini Revan pun menyadari bahwa Sierra benar-benar mampu mengubah dirinya. Sierra mampu membuat Revan jatuh dalam pesonanya. Dan Sierra mampu membuat Revan mengabaikan seorang wanita hanya karena tidak ingin menyakiti hatinya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Halooo semuanyaa.....jangan lupa untuk like, komen dan votenya ya untuk author...terima kasihhhh


__ADS_2