Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Cantik


__ADS_3

*****Halloo semuanyaa.....author mohon maaf suka lama up nya karena author juga harus bekerja dan sebisa mungkin bagi waktu antara kerja dan nulis. Belum lagi proses review yang suka lama sampe dua hari. Karena itu mohon pengertian kalian semua yaa☺️. Dan author sangat berterima kasih dengan dukungan kalian selama ini. Karena kalianlah author gak pernah ngerasa lelah buat nulis walaupun setiap hari punya banyak pekerjaan🤭. Jangan lupa ya selalu like, komen dan vote buat semangatin author. Sekali lagi terima kasih dan sehat selalu untuk kalian.


Happy Reading***...........


Revan berjalan kearah pintu kamarnya dengan senyum penuh kepuasan. Akhirnya Revan bisa merasakan bibir manis Sierra kembali setelah sepanjang hari ia harus menahan rindu dan juga nafsunya ini.


Walaupun Revan harus menggunakan cara licik untuk bisa mendapatkan ciuman itu, tetapi Revan tidak mempermasalahkannya.


Bagi Revan menggunakan berbagai cara untuk bisa mendapatkan kepuasan memang merupakan hal yang wajar seperti yang Revan lakukan ketika malam hari tadi.


Revan yang sengaja menarik Sierra kedalam pelukannya hingga Sierra melewati batas itu dan menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.


Bahkan semalaman itu Revan terus saja memperhatikan wajah polos Sierra tanpa make up yang membuat senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya. Selama mengamati wajah Sierra itupun hanya satu kata yang terlintas dipikiran Revan.


"Cantik". Itu sudah menjelaskan semuanya.


Sesekali Revan juga tanpa takut mengambil ciuman singkat dibibir manis Sierra yang membuat Sierra sesekali menggeliat dan membuat Revan memutuskan untuk menghentikan kenakalannya itu dan ikut terlelap dalam tidurnya.


Awalnya Revan juga tidak berniat untuk memberikan Sierra hukuman berupa ciuman dipagi hari tadi. Apalagi sampai berani memegang bagian sensitivenya.


Semua itu terjadi diluar dugaan Revan karena ketika Revan merasakan ciuman hangat dipipinya hal itu seakan langsung merangsang Revan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang lebih hingga akhirnya terjadilah ciuman panas itu.


Tapi meskipun begitu Revan merasa hal itu sangatlah wajar. Bukankah memang sudah menjadi haknya untuk bisa merasakan ciuman dari kekasihnya?.


Mendengar suara bell kamar yang terus berbunyi Revan pun semakin mempercepat langkahnya hingga kini ia sudah berada didepan pintu kamarnya itu dan langsung membukanya. Terlihat sosok Vino yang sudah menggunakan setelan jas lengkap berwarna abu-abu menatap Revan dengan panik.


"Direktur Revan anda masih belum bersiap-siap? Kita sudah terlambat 5 menit untuk datang ke acara metting itu". Ucap Vino sambil menunjukan jam tangannya kearah Revan.


Revan hanya tersenyum. Ia pun berjalan masuk kedalam kamarnya kembali yang diikuti oleh Vino dibelakangnya.


"Minta diundur 1 jam lagi saja Vino untuk jadwal meetingnya". Jawab Revan dengan santai.


"Tapi anda juga tahu direktur bahwa bos dari perusahaan ini tidaklah mudah. Dia tidak akan mau mengundur jadwal meetingnya begitu saja".

__ADS_1


"Ya kalo mereka gak mau undur yaudah gak usah jadi meetingnya. Yang perlu juga mereka kan?". Revan tersenyum.


Vino hanya menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran direkturnya saatnya ini. Padahal biasanya Revan adalah orang yang sangat disiplin dan tepat waktu. Revan tidak akan melewatkan meeting begitu saja apalagi meeting kali ini untuk proyek yang sangat besar.


Namun entah mengapa kini Revan seperti menjadi orang lain. Bukan Revan yang dikenal dengan gila kerja dan perfeksionis tetapi Revan yang masa bodo dan tidak memperdulikan apapun. Apakah perubahan Revan ini ada hubungannya dengan Sierrra? Vino pun memikirkan hal itu.


"Sierrraaa kamu cepatlah mandi dan bersiap-siap. Vino sudah menunggu kita untuk sarapan dan meeting". Teriak Revan yang membuat Vino semakin yakin dengan pikirannya itu. Pikiran bahwa Revan memanglah berubah dikarenakan seorang Sierra.


Sierra yang saat ini menggunakan kemeja dan celana levis itu pun berjalan kearah mereka. Sierra menatap Revan sinis namun Revan masih saja memperlihatkan senyumannya.


"Hallo asisten Vino kita bertemu lagi". Kali ini Sierra sudah mengalihkan pandangannya dan menyapa Vino dengan senyumannya.


Vino pun membalas senyuman Sierra singkat. Dan Revan yang memperhatikan tingkah keduanya hanya mengerutkan keningnya. Kini senyuman Revan sudah lenyap begitu saja yang digantikan dengan tatapan dingin kepada keduanya.


"Haruskah kamu menyapa Vino seramah itu Sierra? Kamu tidak kesal dengan Vino yang sudah menganggu aktivitas intim kita tadi?".


Sierrra menatap Revan tajam. Bahkan senyumannya sudah hilang begitu saja dan hanya menyisakan rona merah dipipinya. Entah mengapa melihat sikap malu-malu Sierra yang seperti ini membuat Revan ingin memakannya sampai habis.


"Direktur Revan apa yang sudah kamu katakan? Jangan mengucapkan hal yang tidak-tidak dan membuat orang salah mengartikannya". Sierra protes.


Sierra memutar bola matanya. Revan yang melihatnya pun langsung berdiri dan menatapnya kembali dengan tajam.


"Kamu ya kamu mengulanginya lagi. Kamu mau saya cium sekarang juga didepan Vino biar kapok dan tidak mengulanginya terus menerus!". Revan kesal.


"Maaf, maaf Revan aku benar-benar tidak akan mengulanginya lagi. Aku pergi mandi dulu dan bersiap-siap. Kalian bisa melanjutkan perbincangan kalian lagi". Sierra langsung berlari pergi dan Revan yang melihatnya hanya menghembuskan nafas panjang.


Wanita ini memang tidak ada takutnya. Baru saja tadi Revan memberikan pelajaran untuknya tapi dia malah mengulanginya lagi dengan sengaja. Benar-benar menguji kesabaran. Revan pun duduk kembali disofanya.


"Maafkan saya jika sudah menggangu kegiatan anda tadi direktur Revan. Lain kali saya akan memberikan kalian waktu lebih dipagi hari". Ucap Vino yang memperhatikan Revan.


"Vino...apakah kamu dan Sierra memang sedekat itu?". Tanya Revan tanpa menatap.


"Tidak direktur Revan. Anda salah paham. Saya tidaklah sedekat itu dengan nona Sierra. Mungkin memang nona Sierra saja yang belum bisa beradaptasi dengan sifat anda walaupun saya sudah memperingatkannya"

__ADS_1


"Tapi jujur saja aku tidak suka melihat dia memberikan senyumannya padamu. Apalagi berkata ramah seperti itu. Karena selama ini dia tidak pernah benar-benar tersenyum untukku. Tidak benar-benar ramah padaku. Semuanya sikapnya hanyalah kepura-purannya saja".


"Mungkin karena nona Sierra belum benar-benar mengenal anda dengan baik direktur Revan. Jika kalian lebih sering bersama dan berkencan seperti pasangan lainnya pasti sikap nona Sierra kepada anda perlahan-lahan akan berubah".


"Benarkan begitu Vino?". Kali ini Revan sudah menatap Vino.


Vino pun mengangukan kepalanya dengan yakin. "Tentu saja direktur. Jadi sekarang gunakanlah waktu kalian berdua sebanyak mungkin untuk bersama dan mengenal satu sama lain".


"Mungkin yang kamu katakan memanglah benar Vino. Karena selama bertahun-tahun ini aku tidak pernah memperhatikannya dan tidak dekat dengannya juga. Sehingga seperti inilah hubungan kita akhirnya".


"Masih banyak waktu untuk bisa memperbaiki semuanya direktur. Kalo begitu saya pamit pergi dulu. Saya akan menunggu anda di restoran bawah untuk sarapan pagi".


"Baiklah. Terima kasih Vino".


Sama seperti biasanya Vino langsung membungkukan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan kamar itu.


Sedangkan Revan masih saja disibukan dengan pikirannya sendiri. Memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meluluhkan hati Sierra dan membuat Sierra nyaman dengannya?.


Membuat Sierra tidak canggung dan bisa akrab dengannya seperti keakraban Sierra dengan Vino? Revan pun menghembuskan nafas panjang.


"Sial. Kenapa aku harus dipusingkan dengan masalah wanita seperti ini. Padahal dari dulu wanita cantik mana saja selalu datang kepadaku dengan sendirinya. Bahkan mereka sangat nyaman ketika berada didekatku dan memperlakukan aku layaknya seorang kekasih bukanlah orang asing. Tapi menagapa untuk wanita yang satu ini sangatlah sulit dan berbeda?. Benar-benar membuatku frustasi". Keluh Revan sambil memusatkan perhatiannya kearah kamar mandi dimana Sierra saat ini berada.


"Tapi meskipun begitu harus aku akui bahwa aku sudah benar-benar tergoda dengannya dan ingin memiliki dia sepenuhnya. Ingin membuat dia hanya menjadi milikku. Milik seorang Revan Atmaja bukanlah orang lain".


Revan pun bangun dari duduknya dan berjalan mendekat kearah kamar mandi. Lalu Revan mengetuk pintu kamar itu perlahan.


"Sierra. Apakah kamu lama? Kita bisa sangat telat kalo kayak begini. Gimana kalo saya masuk saja dan kita mandi bersama untuk mempersingkat waktu?". Tanya Revan jahil.


"Tidaaakkkk Revaaann. Jangan masuk. Aku sudah selesai dan tinggal pakai baju saja. Cuma sebentar. Tidak akan lama dan membuang waktu". Teriak Sierra yang membuat senyuman terukir kembali diwajah Revan.


"Dan inilah yang membuat aku sangat ingin memiliki dia seutuhnya".


Revan berjalan kembali kearah ruang tamu dan duduk di sofa itu. Bagi Revan sudah cukup menggoda Sierra dipagi hari ini dan ia tidak ingin memperpanjang sebelum Sierra akan benar-benar kesal dengannya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2