
Saat ini Sierra dan Revan sudah berada didalam mobil sedan hitam milik Revan untuk menuju tempat meeting yang sudah dijadwalkan.
Sierra yang memang duduk tepat disamping Revan sesekali mirilik kearah Revan yang kini sudah disibukan dengan tabnya. Lalu Sierra juga melirik kearah gelas kopi yang berada disamping Revan yang sudah habis tanpa tersisa.
Sierra pun menatap Revan cemas. Bagaimana mungkin Revan hanya bisa meminum kopi saja tanpa makan apapun? Pasti itu akan membuat perutnya menjadi sakit dan tidak nyaman.
Apalagi Sierra sangat tahu bagaimana kebiasaan Revan yang harus memakan sesuatu dipagi hari karena mempunyai penyakit lambung. Apa Revan ingin membunuh dirinya sendiri dengan nekat minum kopi tanpa makan apapun?.
“Revan apa kamu tidak ingin makan sesuatu? Bagaimana jika roti ini kita bagi dua saja sehingga kita bisa makan bersama”. Tanya Sierra sambil menunjukan roti yang dipegang olehnya.
“Tidak perlu Sierra. Kamu makan saja rotinya sendiri. Saya sudah cukup dengan minum kopi saja”. Jawab Revan tanpa menatap.
Sierra menghembuskan nafas panjang. Revan benar-benar orang yang berkepala batu. Meskipun Sierra senang dengan kepedulian Revan yang memberikan roti itu sepenuhnya kepada Sierra, tetapi Sierra tidak mungkin tega untuk memakannya sendiri. Sierra tidak mungkin bisa membiarkan Revan kelaparan dan merasakan sakit nanti.
Apalagi meeting yang akan mereka lakukan nanti sangatlah penting jadi pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.
“Revan lebih baik sekarang kamu nurut saja denganku. Apa kamu mau saat meeting nanti kesakitan? Kamu sudah mempunyai sakit lambung bagaimana mungkin kamu berani minum kopi dipagi hari tanpa makan apapun. Apakah kamu mau membunuh dirimu sendiri?”.
Sierra membelah roti itu menjadi dua bagian dan memberikan setengahnya kepada Revan. Revan pun mengalihkan pandangannya. Bahkan tab yang sedari tadi dipegang olehnya sudah Dia letakan disampingnya.
Kini tatapan Revan hanya tertuju pada roti yang ada didepannya itu bukan pada tabnya. Lalu Revan pun mengalihkan pandangannya kearah Sierra. Sebuah senyuman manis langsung terukir diwajah Revan.
“Apakah kamu sedang mengkhawatirkan saya Sierra? Kamu mencemaskan saya?”.
“Tentu saja aku mengkhawatirkanmu Revan. Aku mencemaskanmu. Kamu adalah seorang direktur. Berhasil atau tidaknya meeting ini ada ditanganmu”.
“Kamu mengkhawatirkan saya karena saya adalah seorang direktur atau karena saya kekasihmu?”.
Pipi Sierra kembali merona merah. Entah mengapa mendengar ucapan Revan itu membuat Sierra merasa malu. Kenyataan bahwa saat ini Sierra adalah kekasih Revan masih seperti mimpi baginya karena hal itu tidak pernah terbanyangkan oleh Sierra sebelumnya.
“Mungkin keduanya”. Ucap Sierra sambil memalingkan wajahnya.
“Sierra. Lihat saya”. Kini tangan Revan sudah memegang wajah Sierra yang membuat tatapan Sierra langsung tertuju kepada Revan. Sierra pun berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin kencang.
“Saya sangat senang karena kamu sudah memperdulikan saya. Itu berarti kamu sudah bisa menerima kehadiran saya didalam hidup kamu. Sini suapin saya rotinya”.
Sierra menundukan wajahnya. Bagaimana mungkin Revan bisa mengatakan hal semanis itu didepan Vino tanpa adanya rasa malu atau canggung sedikitpun.
Apakah perkataan Revan itu memang benar-benar tulus dari dalam hatinya atau hanya sebuah lelucon yang biasa Revan gunakan untuk menggodanya?.
“Revan jangan seperti itu. Nih kamu makan sendiri saja rotinya. Kamu kan punya tangan yang bisa digunain”.
Revan langsung mengambil tab yang berada disampingnya dan menyibukan tangannya di tab itu kembali. “Tanganku sudah disibukan dengan tab ini Sierra. Jadi sebaiknya kamu cepat suapin saya roti itu karena sebentar lagi kita akan sampai”.
Sierra menatap Revan sebal. Lelaki ini selalu saja membunyai berbagai cara untuk memaksanya. Untuk membuat Sierra menuruti keinginannya. Dan membuat Sierra jatuh dalam godaannya.
Memang jika dari lahir adalah seorang playboy maka sampai kapanpun tetaplah playboy. Mempunyai berbagai ide untuk membuat wanita takluk padanya.
“Baiklah aku akan menyuapi kamu. Tapi kamu harus membayar mahal untuk ini”. Sierra memberikan roti ke mulut Revan dan dengan sigap Revan pun langsung memakannya.
__ADS_1
“Tenang saja. Saya akan memberikanmu hadiah yang setimpal Sierra”. Ucap Revan sambil mengunyah roti yang ada didalam mulutnya.
Sierra hanya menggelengkan kepalanya. “Apakah semua orang kaya sama sepertimu Revan? Menggunakan uang untuk bisa mendapatkan segalanya?”.
Revan mengangkat bahunya. “Entahlah. Mungkin begitu. Mana rotinya”. Revan membuka mulutnya kembali dan Sierra langsung memberikan rotinya.
Namun kali ini Revan mulai menjahili Sierra dengan sengaja menggigit roti itu sampai mengenai jari Sierra. Sebuah senyum kepuasan pun terlihat diwajah Revan.
“Astaga. Kamu benar-benar Revan. Ini sakit”. Sierra mengusap jarinya.
“Benarkah sakit? Sini aku cium biar sakitnya hilang”. Revan mengambil tangan Sierra.
“Tidak. Tidak perlu. Sudah tidak sakit lagi Revan”. Sierra langsung menarik tangannya dan menjauh. Revan pun langsung tertawa.
“Hahaha Siera..Sierra. Kamu kenapa lucu sekali? Benar-benar mengemaskan. Benarkan Vino?”. Tanya Revan yang melihat kearah Vino yang ada dkursi kemudi.
Vino tidak menjawab. Dia hanya memberikan senyumannya. Dan untuk kesekian kalinya Sierra pun harus menahan malu akibat ulah Revan itu.
“Direktur kita sudah sampai”. Ucap Vino ketika mobil sedan mereka sudah berhenti disebuah gedung tinggi.
Revan pun langsung menghentikan tawanya. Lalu dengan elegan Revan membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar yang diikut oleh Vino disampingnya. Untuk sesaat Sierra pun mengamati Revan dan Vino sejenak.
“Benar-benar perpaduan yang sempurna. Keduanya terlihat sangat tampan dan berkelas dengan penampilan yang seperti itu. Pantas saja semua wanita sangat tergila-gila dengan kedua lelaki itu dan ingin memilikinya”. Ucap Sierra didalam hati.
Lalu suara ketukan kaca pun terdengar. Terlihat Revan sudah berada didepan pintu mobil Sierra dan Sierra yang seakan tersadarkan langsung membuka pintu itu dan berjalan keluar.
Awalnya Sierra ingin melepaskan genggaman tangan Revan itu mengingat banyak orang yang akan memperhatikan mereka nanti. Namun Sierra langsung mengurungkan niatnya mengingat mereka yang sudah sangat terlambat untuk hadir dimeeting ini.
Karena jika Sierra menolak keinginan Revan maka mereka berdua pasti akan beradu argument yang tentu saja akan membuang-buang waktu. Karena itulah Sierra hanya menerima tangan Revan begitu saja sambil menundukan wajahnya untuk menjauhi pandangan orang-orang yang berada disekitar mereka.
Kini Sierra, Revan dan Vino pun sudah berada didalam ruangan metting untuk menunggu kedatangan direktur dari perusahaan yang bernama JW Group itu. Wajah Revan dan Vino terlihat begitu tenang seolah mereka tidak merasa bersalah dengan tertundanya jadwal metting ini.
Bahkan mereka bisa dengan santai menunggu kedatangan direktur itu sambil sibuk dengan ponsel masing-masing seakan tidak tahu malu. Sierra yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya. Beginikah cara orang-orang yang berkuasa memperlakukan orang lain? Bisa berbuat sesuka hatinya dan tidak merasa bersalah sedikitpun?.
Tidak lama itu suara pintu ruangan yang terbuka pun terdengar. Dengan cepat Sierra, Revan dan Vino langsung bangun dari duduk mereka untuk menyambut kedatangan direktur yang mereka tunggu sedari tadi.
Seorang lelaki yang menggunakan jas berwarna merah maron pun terlihat berjalan masuk kedalam ruangan itu dengan senyumannya. Dan Sierra yang seakan mengenali wajah lelaki itu hanya bisa mematung dengan membulatkan matanya.
"Astaga. Mengapa lelaki itu bisa ada disini?". Ucap Sierra didalam hati.
“Halo direktur Revan. Maaf sudah membuat anda menunggu”. Sapa lelaki yang menggunakan jas merah maron itu sambil mengulurkan tangannya kearah Revan.
Revan pun langsung membalas uluran tangan itu dan tersenyum ramah. “Tidak masalah direktur Leon. Seharusnya saya yang meminta maaf karena harus menunda jadwal meetingnya”.
“Tidak apa-apa direktur Revan. Saya tidak mempermasalahkannya. Oiya kenalkan ini sekretaris saya Ami”. Lelaki yang bernama Leon itu melirik kearah wanita yang berada disampingnya.
“Halo selamat pagi direktur Revan. Perkenalkan nama saya Ami”. Wanita yang bernama Ami itu mengulurkan tangannya kearah Revan untuk bersalaman dan Revan pun menerima uluran tangan itu dengan ramah.
“Pagi Sekretaris Ami. Saya Revan. Senang berjumpa dengan anda. Perkenalkan juga ini adalah asisten pribadi saya Vino dan juga sekretaris saya Sierra”. Revan melirik kearah Vino dan juga Sierra.
__ADS_1
Dengan sigap Vino pun langsung mengulurkan tanganya kearah Leon seperti yang dilakukan oleh sekretaris Ami itu.
“Selamat pagi direktur Leon. Nama saya Vino”.
Leon pun menerima uluran tangan itu dan tersenyum hangat. “Selamat pagi asisten Vino. Akhirnya kita bertemu juga”.
Vino hanya tersenyum. Lalu Vino pun melirik kearah Sierra. Sierra yang sedari tadi hanya diam tanpa mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan direktur yang bernama Leon itu. Vino pun menyenggol tangan Sierra sejenak untuk bisa menyadarkannya. Dan Sierra yang seakan tersadarkan hanya menatap Vino bingung.
“Ada apa asisten Vino?”. Tanya Sierra polos.
“Perkenalkan dirimu sekretaris Sierra kepada direktur Leon”. Ucap Vino pelan.
Sierra yang seakan mengertipun mengangukan kepalanya. Lalu Sierra menatap Leon ragu.
“Haruskah Ia berpura-pura tidak mengenal Leon? Atau Sierra harus bersikap akrab seperti sudah mengenalnya?. Sial kenapa aku harus dipertemukan kembali dengan lelaki ini. Membuatku bingung saja”. Keluh Sierra didalam hati.
Leon yang seakan melihat keraguan Sierra itupun tersenyum. Lalu Leon berjalan mendekat kearah Sierra yang membuat mata Sierra semakin membulat. Astaga apa yang akan dilakukan lelaki ini padaku?.
“Hallo Sierra. Kita berjumpa lagi”. Sapa Leon yang kini sudah berada didekat Sierra.
Sierra pun tersenyum canggung. Ia tidak menyangka bahwa lelaki ini akan menyapanya dengan begitu akrab tidak seperti orang asing.
“Hallo direktur Leon. Senang berjumpa denganmu”. Dengan berani Sierra mengulurkan tangannya kearah Leon untuk bersalaman. Sierra tidak ingin ada seseorang yang salah paham dengan keramahan Leon itu.
Tanpa ragu Leon pun membalas uluran tangan Sierra dengan senyuman yang terus terukir diwajahnya.
“Mengapa kamu harus seformal ini padaku Sierra? Bukankah sebelumnya kamu sudah berjanji padaku jika kita bertemu lagi kamu tidak akan berpura-pura tidak mengenalku. Apa kamu melupakannya?”.
Sierra mengelengkan kepalanya. “Tidak direktur Leon. Bukan maksudku seperti itu. Hanya saja aku…..”. Sierra pun seakan tidak bisa meneruskan ucapannya lagi. Ia terlalu bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
“Tidak apa-apa Sierra. Aku tidak menyalahkanmu. Aku senang jika kamu masih mengingatnya. Itu berarti kamu juga masih ingat dengan ucapanku lainnya. Bahwa jika kita bertemu untuk kedua kalinya itu berarti kita berjodoh”.
Sierra pun mebelalakan matanya. Sungguh mengapa Leon harus mengungkit hal itu didepan Revan. Apalagi sampai mengatakan berjodoh segala?. Lihatlah wajah masam Revan saat ini. Dia sudah benar-benar terlihat kesal dan murka. Astaga Sierra pasti akan habis setelah meeting ini.
“Direktur Leon sepertinya anda sudah sangat mengenal sekretaris saya ini. Apakah kalian berdua memang dekat?”. Kali ini Revan angkat bicara.
“Tidak direktur Revan. Kami tidak begitu dekat. Ini adalah pertemuan kedua kami”.
Revan menatap Sierra tajam. Dan Sierra yang menyadari tatapan itu hanya bisa menundukan wajahnya. Ia pasti akan benar-benar mati nanti. Tamatlah hidupmu Sierra.
“Bagaimana jika kita mulai saja meetingnya direktur Leon? Kita sudah menunda meeting ini begitu lama”. Vino mencoba menengahi.
Leon mengangukan kepalanya. Lalu Leon pun berjalan medekat kearah sekretarisnya kembali. Lalu Leon segera duduk dikursinya.
“Baiklah. Ayo kita mulai meetingnya”.
Semua yang berada didalam ruangan meeting itupun langsung duduk dibangkunya masing-masing. Mereka terlihat begitu fokus dan serius dengan berjalannya meeting ini. Dan mungkin hanya Sierralah yang seakan tidak mendengarkan meeting itu karena pikirannya terbagi kemana-kemana. Sierra sudah kehilangan konsentrasinya.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1