
Air mata Lia pun menetes, tat kala ia mendapati seseorang disana. Namun bukan papah yang ia lihat, melainkan tuan muda Leo yang nampak duduk di tepi ranjang, seraya mengusap-usap lembut bantal yang terletak disana.
Terlihat raut wajahnya yang nampak sayu dengan tatapannya yang begitu sendu. Tanpa bertanya sekalipun, Lia mengetahui isi hati pria yang telah menjadi suaminya tersebut.
Jika tuan muda Leo yang terkenal dengan keangkuhannya, saat ini merasa bersalah karena telah kehilangan orang yang rela menyerahkan putrinya untuk menjadi kekasihnya.
Dan lagi kepergiannya begitu naas. Tanpa diketahui siapapun, dan begitu menyiksa baginya dan juga bagi Lia sendiri.
Tapi sepertinya Lia tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah di rasakan oleh Leo, Lia merasa tak adil dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Dengan berjalan mendekati pria itu, Lia segera menghampiri Leo dan mengepal erat kedua telapak tangannya.
Benci. Ia merasa begitu benci kepadanya. Seandainya saja, seandainya saja Lia di perbolehkan untuk menemani papahnya di malam itu, mungkin saja Lia dapat mengetahui lebih cepat keadaan papahnya. Tanpa harus menyaksikan hal yang begitu menyakiti hatinya itu terjadi begitu saja.
"Jika saja. Jika saja anda memperbolehkan saya menemani papah malam itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi." Ucap Lia menahan tangisnya yang kini semakin menjadi.
Ia tak ingin di anggap cengeng dan lemah lagi di hadapan pria ini. Ia ingin keadilan, ia menginginkan ketenangan untuk dirinya meski sesaat.
".." Sedangkan Leo lebih memilih diam.
Ia menyadari kesalahannya. Tapi, mana mungkin masa lalu dapat di ulang kembali. Akan lebih baik jika ia mendengarkan segala unek-unek yang di ucapkan oleh istrinya saat ini.
"Kenapa anda begitu egois, sih? Jangan keterlaluan seperti ini. Bicaralah!! Katakan pada saya jika saya kurang mengerti anda selama ini!!" Seru Lia yang mulai menangis dan tersungkur di dinginnya lantai.
"Jangan seperti ini. Bangunlah." Ucap Leo saat melihat Lia menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.
"Lepas!!" Seru Lia dan menepis tangan Leo seraya beranjak, berdiri dan menatap tajam wajah Leo yang nampak lelah.
Lia tahu jika perusahaan saat ini tengah berada dalam kesulitan, belum lagi urusan rumah tangganya yang kurang baik. Membuat Leo kurang istirahat dan terlihat kantung matanya yang mulai menghitam karena lelah.
"Kamu kenapa?" Tanya Leo yang sebenarnya sadar jika ia bersalah. Tapi ia ingin istrinya mengungkapkan isi hatinya kepadanya.
"Kenapa? Harusnya saya yang tanya. Anda kenapa mencegah saya untuk menemui papah malam itu? Saya tidak menyangka jika anda setega ini kepada saya dan juga papah." Seru Lia dan mulai berjalan mundur, menjauh dari hadapan Leo dan mengusap air matanya.
"Saya nggak mau lagi dengan anda. Antar saya pulang. SEKARANG!!" Bentak Lia dengan nyaring dan membuat Leo terkejut.
Dunia memang tidak adil baginya. Ia telah kehilangan keluarganya, dan kini benarkah ia pun harus kehilangan istrinya juga?
Pedih sebenarnya, tapi Leo adalah seorang pria. Ia tak ingin menampakkan kepedihannya di hadapan wanita yang telah merebut hatinya.
"Baik. Saya akan mengantarmu kembali. Jika ada apa-apa sebaiknya segera hubungi saya." Ucapnya mengiyakan permintaan memaksa dari sang istri.
Lia nampak mengedipkan matanya beberapa kali, mendengar sendiri apa yang baru saja diucapkan oleh sang suami.
Tapi memang itu yang ia inginkan. Menjauh dari orang yang ia benci meski sejenak adalah pilihan yang terbaik. Daripada ia menyiksa dirinya sendiri.
Tanpa berkata sepatah katapun, Lia meninggalkan Leo. Begitu pula dengan Leo yang menyusul, meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bisu atas meninggalnya pak Tomo dalam kesendiriannya.
__ADS_1
***
Mobil itu melesat menyusuri gang yang nampak ramai, dengan hiruk pikuk anak-anak dan para ibu-ibu yang nampak meramaikan gang tersebut.
Namun tatapan mereka semua teralihkan oleh munculnya mobil mewah yang jarang mereka lihat.
Dari mobil itu keluarlah seorang wanita yang nampak anggun, namun penampilannya terasa tak asing bagi mereka.
"Eh, siapa itu?"
"Kayak kenal, ya? Tapi siapa?"
"Itu anaknya pak Tomo."
"Oh iya.. wah.. jadi orang kaya ya?"
"Lah. Pak Tomo mana? Kemarin kayaknya di jemput orang."
Begitulah bisik-bisik para ibu-ibu yang samar Lia dengar, dari halaman rumahnya yang nampak berantakan.
Namun semua itu tak dihiraukan oleh Lia. Yang ia fikirkan sekarang hanyalah kesedihan.
"Apa kamu yakin?"Tanya Leo yang berada di sebelah Lia dan menatapnya dengan kacamata yang masih menempel di wajahnya.
Kemunculan Leo benar-benar mwmbuat riuh keadaan sekitar.
"Iya ya. Kaya opa opa korea gitu."
"Kayaknya mereka lagi berantem, tuh."
"Sayang banget ya. Kalau Lia nggak mau, kasi ke aku aja Lia. Hahahaha."
Kekeh tawa para ibu-ibu yang terdengar jelas membuat Lia semakin tak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak ada pilihan lain selain mendengarkan obrolan ibu-ibu tetangganya yang semakin menjadi.
"Sebaiknya anda segera pergi sebelum semakin parah keadaan disini. Daah." Ucap Lia dan meninggalkan Leo yang masih berdiri disana.
Merasa di abaikan, Leo segera menyusul Lia dan meraih tangannya. Membalik tubuhnya dan menghimpitnya diantara pintu rumah tersebut.
"A-apa yang anda lakukan? Ini tempat umum." Ucap Lia tergagap.
"Apa perdulimu. Seharusnya yang kamu perdulikan adalah saya. Apa benar caramu berpamitan dengan saya?" Ucap Leo dan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Lia.
"Ja-jadi maunya bagaiamana?" Tanya Lia yang semakin merona.
"Salam perpisahan." Ucap Leo dengan menempelkan jari telunjuknya kerah pipi sebelah kakan miliknya.
"Genit sekali anda." Kata Lia dengan mendorong pelan tubuh Leo yang nampak hangat.
__ADS_1
"Sebaiknya ada segera pergi. Malu sama tetangga." Pinta Lia dan semakin mendorong tubuh Leo.
"Ini dulu." Ucap Leo sekali lagi.
"Huuhh.. Ada-ada aja." Gumam Lia dengan memutar bola matanya.
"Nggak mau nih? Yasudah. Hati-hati di rumah. Jika ada apa-apa segera hubungi." Kata Leo dengan wajah yang di tekuk tak karuan.
Merasa kecewa, ia pun beranjak meninggalkan Lia yang nampak terdiam dengan wajah sendu.
Baru benerapa langkah, Leo merasakan tangannya di tarik oleh seseorang dan membuatnua berbalik secara sepontan.
"CUP.."
Sebuah kecupan lembut dilayangkan oleh Lia kepada Leo dan segera ia menjauhkan dirinya dsri pria di hadapannya.
Nampak wajahnya yang semakin merona itu tertutup oleh helai rambutnya yang terurai.
"Sudah sana pergi. Ngapain disini lama-lama?" Ucap Lia yang masih menunduk.
"Ngusir, nih?"Tanya Leo dan mengangkat dagu istrinya.
Ia mendekatkan wajahnya dan hendak mengecup bibir penuh milik Lia. Namun hal tersebut ia hentikan tat kala suara ibu-ibu yang merusak suasana saat ini.
"Lia. Cari kamar sono. Yang liatin jadi baper nih."
"Lia. Jangan disitu dong. Haduh.. Anak jaman sekarang gini ya?
Hahahah
Begitulah guyonan para ibu-ibu yang mulai meledek sepasang kekasih tersebut, dimana keduanya tengah di mabuk asmara.
Melihat hal itu pun, Leo segera meninggalkan Lia dengan mengecup pelan dahi Lia, sebelum akhirnya mengendarai mobilnya dan benar-benar pergi meninghalkan Lia.
Sementara itu, Lia kini menjadi bahan gurauan oleh Ibu-ibu yang melihatnya. Dengan wajah yang memerah seperti tomat, kini sosok Lia menghilang di balik pintu yang ia tutup dengan rapat.
Menyenderkan tubuhnya di daun pintu tersebut dan menutup wajahnya yang memerah.
Bersambung..
‐-----------》》》》》》》》》》》》》》》---------
Halo teman-teman semua, jaga kesehatan selalu ya.
Meskipun belum banyak pembaca yang minat dengan novel ku ini, aku benar-benar menghargai kalian yang telah bersedia membacanya meskipun hanya beberapa bab saja.
Terus dukung aku untuk melanjutkan novel ini hingga tamat ya teman-teman. Satu komen dan satu like dari kalian sangat berharga bagi saya.
__ADS_1
Terimakasih. See you da da bye bye.. 🥰🥰