Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Bertemu Tuan Cakra


__ADS_3

Setibanya Lia dan Feri di bandara, tanpa basa basi lagi mereka pun sesegera mungkin bergegas mendatangi rumah sakit tujuan mereka.


"Taksii!!" Seru Feri kepada sebuah mpbil taksi yang berada tepat di hadapannya. Seketika mobil taksi itupun berhenti.


Ia dan Lia pun memasuki mlbil tersebut, dan di sambut hangat oleh pak sopir taksi "mau di antar kemana, pak?" Tanyanya sopan. Meskipun nampaknya sang sopir taksi itu terlihat lebih tua dari pada Feri, namun ia tetap sopan kepada pelanggannya.


"Tolong kerumah sakit pusat kota sekarang!" Titahnya dan di sanggupi oleh sang sopir taksi tersebut.


"Baik, pak." Jawabnya dan melajikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Tak berselang lama, taksi itu pun telah tiba menghantarkan pelanggannya tepat pada lokasinya.


"Terimakasih, pak. Ambil saja kembaliannya." Ujar Feri dengan menyerahkan uang 100 ribuan, tanda ongkos pengantarannya.


"Terimakasih, pak. Semoga hari anda menyenangkan." Balas pak sopir itu sebelum melaju, meninggalkan Lia dan Feri yang telah memasuki area rumah sakit tersebut.


***


Sebuah ruangan yang terbilang cukup nyaman untuk perawatan seorang pasien nampak jelas di hadapan Lia.


Ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, seorang pria tua yang nampak seusia pak Tomo menempati ranjang dari kamar rumah sakit tersebut.


"Ayah." Ucap Feri dengan menggenggam tangan kanan pria itu.


Mendengar panggilan dari seseorang yang ia kenal, pria tua itu pun mengerjapkan kedua matanya.


Menatap dalam diam, satu-satunya anak yang ia miliki saat ini. Tatapannya trrlihat tak bersahabat dengan putranya, Feri.


"Kenapa kamu kesini? Urusi saja pekerjaanmu di perusahaan." Ucapnya dengan dingin. Tidak seperti ayah dan anak, sapaan yang baru saja di lontarkan oleh pria itu membuat Feri terdiam dan memasang wajah sedih.


'Kenapa mereka terlihat tidak akur?' Batin Lia saat melihat interaksi yang di tunjukkan oleh pria tua itu kepada Feri.

__ADS_1


"Perusahaan berjalan lancar saja, pak. Kebetulan ada perusahaan NusaJaya yang bersedia membeli beberapa produk dari perusahaan kita." Ucap Feri dengan suara yang bergetar.


"Hm. Baguslah." Sahutnya. Pandangannya kini tertuju kepada Lia yang berada di sebelah Feri.


Mengernyitkan kedua alisnya yang telah memutih, pria itu pun menatap Lia dengan tajam.


"Siapa wanita ini? Apakah pacar mu?" Tanyanya, yang jelas saja membuat Lia dan Feri salah tingkah atas kesalahpahaman yang di lontarkan oleh pria tua itu.


"Bu-bukan, tuan. Saya adalah sekretaris pribadi tuan Feri. Nama saya Adelia, salam kenal tuan." Ucap Lia dengan membungkukkan tubuhnya.


"Nama saya Cakra. Kamu.. terlihat cantik." Pujinya dan membuat Lia bersemu, sementara Feri yang melihat itu pun langsung terkejut.


"Kenapa anda mengatakan hal memalukan seperti itu kepada seorang karyawan?" Tanya Feri dengan nada kesal.


"Kenapa memangnya? Dia kan wanita, tentu saja dia cantik. Apa dia terlihat tampan bagimu? Pantas saja kamu masih menjomblo di usia setua ini." Ujar pria tua itu tanpa memasang senyum di binirnya yang mulai keriput.


"Apa?! Anda susah keterlaluan!! Wanita ini sudah menikah, pak!!" Seru Feri membuat pria tua itu langsung menatap Lia dengan pandangan bersalah.


"Apa-apaan anda!! Saya kemari khawatir dengan keadaan anda. Tapi anda malah masih sempat-sempatnya menghoda saya seperti ini. Keterlaluan!!" Bentak Feri dengan membalikkan tubuhnya dan menundukkan wajahnya.


Suasana diruangan itu terasa menyesakkan, seperti ada yang menekan pasokan udara di tempat itu. Ditambah dengan keheningan yang ada, membuat Lia menelan ludah pun terasa sulit.


Hingga suara Feri memecah keheningan itu, "padahal saya sudah sangat khawatir hingga terburu-buru kemari. Dan saya pun baru pulang dari kota B, hingga nona Lia pun turut menjenguk anda. Hanya untuk mengetahui bagaimana kondisi anda sebenarnya saat ini." Ucap Feri di sela-sela suaranya yang mulai menderu.


"Tapi ketika melihat anda seperti saat ini, saya jadi ragu. Apakah anda benar-benar sakit atau hanya tipu-tipu saja?!!" Bentak Feri di saat bersamaan ia membalikkan tubuhnya dan menghadap sang ayah, dengan air mata yang berderai.


"Hanya anda yang saya miliki, dan tidak ada lagi siapapun yang melihat saya sebagai keluarga. Apakah anda tahu, bagaimana khawatirnya saya?!" Ucapnya lagi, dengan tangisan layaknya Lia tempo hari ketika sang papah tidak memberitahukannya atas penyakot yang ia derota selama ini.


"Tenanglah, pak." Ucap Lia dengan menghampiri Feri.


"Bukan begitu." Tiba-tiba suara pria itu mengejutkan Lia dan juga Feri.

__ADS_1


Menyimak, mereka hanya menyimak apa yang akan di katakan oleh sang ayah.


"Saya pun ingin terlihat sebagai seorang ayah di mata mu. Tapi sepertinya kebencianmu telah menutup saya sebagai sosok ayah yang kamu idamkan selama ini." Sambungnya dengan berusaha membangkitkan tububnya, tubuh kurus nan rentanya membuat Lia tak tega untuk melihatnya lebih lama lagi.


Dengan segera Lia menopang tubuh pria renta itu dan memberinya sebuah senyuman tulus yang telah lama ia simpan untuk pertemuannya dengan keluarga aslinya hari ini.


"Uhuk!! Uhuk!! Uhuk!!" Menutupi mulutnya dengan tangan, pria itu pun menatap Lia dan membalas senyuman Lia.


"Terimakasih, nona. Anda baik sekali." Ucapnya dengan memposisikan tubuhnya agar duduk menyender dengan nyaman.


"Tidak apa-apa, tuan. Saya hanya membantu. Apa ada yang anda inginkan, tuan? Saya akan ambilkan." Ucap Lia.


Mendengar kalimat itu membuat pria tua itu tersenyum bahagia. Telah lama ia tak mendapatkan perlakuan seperti ini.


"Tidak, nona. Saya tidak lapar. Terimakasih atas pengertiannya." Ucapnya.


Perlahan tapi pasti, Lia menatap Feri dan tuan Cakra secara bergantian. 'Mereka ini saling menyayangi, tapi kenapa mereka jaim begini?' Batin Lia saat melihat Feri yang tak kunjung menatap sang ayah, begitu pula dengan tuan Cakra yang masih asyik menatap Lia.


"M-maaf, tuan. Apakah ada yang aneh dengan wajah saya? Kenapa amda melihat saya seperti itu?" Tanya Lia yang mulai tak nyaman di tatap seperti itu sedari tadi.


"Ayah!! Anda sungguh tidak sopan!!" Seru Feri saat Lia mengatakan hal tersebut.


Merasa malu karena memkliki ayah seperti itu, namun sikap tengilnya itu berubah saat tuan Cakra mebgatakan sebuah kalimat yang membuat Feri dan Lia tercengang.


"Kamu terlihat mirip dengan mendiang istri saya. Karenanya saya melihat kamu terus." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya kepada Lia.


Namun kalimat selanjutnya lebih mencengangkan, tat kala air matanya mengalir menyusuri pipi tirusnya tepat ketika kalimat itu keluar dari mulutnya.


"Seandainya anak perempuan saya masih hidup, mungkin kinj dia sudah sebesar kamu, nona. Saya.. benar-benar seperti melihat mereka di dalam diri anda." Ujarnya yang tak dapat lagi membendung tangusnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2